\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 8\part2

Akhirnya mereka berhenti juga saat rembulan sudah kembali muncul diatas langit. Mereka bermalam di sebuah daerah lapang yang tak terlalu banyak ditumbuhi pepohonan. Para Aeron itu mulai memasang seperti tali dari sulur-sulur diatas pepohonan disekitar daerah itu. Seperti sedang memasang pagar. Sementara beberapa Aeron perempuan yang tadinya terlihat, kini mulai menghilang dibalik pepohonan disekitar. Rombongan Hino sibuk memasang tenda ditengah daerah lapang itu. Dan juga menyiapkan api unggun. Sementara Sabrina dan Brian tampak sedang berbincang dengan pemimpin Aeron jauh dari rombongan Hino.

“Apa yang sedang mereka lakukan?” Tanya Hubert melihat para Aeron itu sibuk dengan sulur diatas pohon.

“Mereka sedang memasang alas tidur mereka” jawab Deuter seraya mengeyakan tubuh pada sebatang akar yang menjuat keluar di depan api ungun yang sudah mulai menyala.

“Menurut yang kudengar memang para Aeron itu tinggal dipepohonan, tapi tak kusangka mereka benar-benar tidur menggantung diatas pohon seperti itu” ucap Hino yang juga sudah nyaman duduk didepan api ungun itu.

“Bukan. Aeron memang membuat bangunan mereka di atas sebuah pohon jenis Akarsia yang memiliki besar lingkar batang puluhan kali lebih besar dari pohon pada umumnya untuk tempat mereka tinggal. Bangunan itu seperti rumah pada umumnya Morra. Hanya menempel berjajar diatas pepohona itu” jelas Deuter kemudian.

“Benar. Yang kudengar juga seperti itu. Namun aneh nya sangat sulit menemukan pohon raksasa itu ditengah pepohonan hutan yang padahal rata-rata hanya sebesar ini” saut Roland menunjuk kearah pohon tempatnya bersandar.

“Kurasa para Aeron itu sengaja menyembunyikannya” sahut Hino.

“Sedang yang mereka lakukan sekarang seperti saat kita sedang berkemah seperti ini” jelas Deuter lagi, yang kali ini di jawab anggukan mengerti oleh Hino.

Continue reading

Advertisements

\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 8\part1

Bagian 8

_Pusaka Aeron

 

 

Hal yang ditakutkan mereka muncul juga akhirnya. Mereka mengusik para Aeron yang tinggal didalam hutan El’Asa. Dan tak berapa lama muncul hampir dari setiap pohon yang bisa Hino lihat disekelilingnya, para Aeron dengan busur yang telah direntangkan siap untuk melepaskan anak panah yang ada diantaranya, kearah rombongan Hino.

“Kami tidak bermaksud buruk” ucap Hino kemudian.

“Benar kami tidak bermaksud mengusik kediaman kalian. Jadi biarkan kami pergi” ujar Roland kali ini.

Tampak sosok Aeron yang pertama kali muncul tadi, yang dikenali Hino sebagai Sirsa Aeron itu mengangkat pisau lengkunya keatas dan kemudian berucap nyaring, “Hatya!”

Stainda” tiba-tiba muncul dari belakang, gadis yang sedang mereka kejar menghentikan Sirsa Aeron itu.

Hino terkejut sekaligus lega melihat Sabrina itu muncul dari belakang sang Sirsa yang berteriak tadi. Tampak pula sang Sverdinal berdiri dibelakang mereka. Pikiran Hino bergerak cepat berusaha menganalisa kejadian yang berlangsung disekelilingnya ini. Apa memang tujuan gadis ini adalah ketempat para Aeron? Tanya Hino dalam hati.

“Apa yang kalian lakukan ditempat ini?” kali ini Sabrina bertanya pada rombongan Hino.

“Aku ingin bertemu dengan mu” jawab Hino tanpa basa-basi. Tampak Sabrina terdiam menunggu Hino melanjutkan ucapannya.

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Tentang bagaimana kau bisa ada didalam Rat ku?” tambah Hino kemudian.

Gadis itu masih terdiam menatap Hino lalu menatap orang-orang dibelakang Hino, kemudian menatap Sverdinal dibelakangnya, dan lalu ke arah Sirsa Aeron, “kurasa kau memilih waktu yang tepat untuk bertanya Summoner” sautnya kemudian.

Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 7\part2

Mereka melewati hari dengan terus berjalan memasuki hutan El’Asa. Hingga malam yang semakin melarut. Hino, Roland, dan ketiga pengawalnya mulai bersiap untuk bermalam. Suasana malam di dalam hutan cukup membuat orang bergidik. Juga mengingat rumor hutan El’Asa memiliki banyak sekali misteri didalamnya. Mulai dari hewan-hewan buas yang tak pernah keluar dari dalam hutan, atau tentang banyaknya roh-roh yang tak membiarkan orang untuk keluar dari dalam hutan setelah mereka memasukinya, dan juga yang paling terkenal, tentang para Aeron yang menghuni dalam El’Asa ini. Bulan pucat sempurna membuat penerangan alami disekitar mereka sebelum akhirnya digantikan oleh cahaya jingga api unggun.
“Kau belum tidur?” tanya Roland yang terlihat keluar dari tenda, kepada Hino. Tampak Hino duduk sendiri didepan api unggun.
“Aku belum bisa tidur” jawab Hino.
“Apa yang membuatmu tidak bisa tidur?” Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 7\part1

Bagian 7

_Pengejaran

 

 

Hino tersadar dalam sebuah tenda. Diatas alas kulit hewan yang berbulu lembut. Berselimut dan nyaman. Ia mencoba untuk bangun. Kepalanya masih pening. Rusuk kirinya masih terasa nyeri. Ia menatap berkeliling.

“Pasti aku berada dalam tenda orang-orang Azzure” pikirnya. Tampak pula cahaya terlihat menerobos dari sela-sela kain tenda. “Apa kemarin aku pingsan lagi?” tapi yang jelas Hino sadar bahwa kemarin dia mengalami Nirjiwa. Terdengar mustahil, melihat sudah berapa lama ia menlakukan sihir pengikat dan sudah seberapa banyak Anima yang telah diikatnya. Karena Nirjiwa biasa dialami oleh para Summoner pemula yang masih belum mampu benar menaklukan Animanya. Tak bisa dipercaya ia mengalaminya kini, padahal ia tak pernah mengalaminya saat ia masih seorang pemula. Ia dengan segera memeriksa pundak kirinya. Terlihat sebuah tato baru disana. Seperti sulur berduri yang tergambar rumit. Ikatannya dengan Bewulf sang srigala kelabu itu telah kembali. Kemudian Hino kembali teringat gadis yang ada dalam alam Animanya kemarin. Segera ia berdiri dan berlari keluar untuk meminta penjelasan. Hino yakin gadis ini dapat menjawab semua pertanyaannya tentang sihir pemanggil dan mungkin lebih baik dari pada ia arus mencari tahu dari Logos atau Picsi. Tampak Roland dan para pengawalnya sedang berbincang dengan Lumier disebuah tanah lapang. Tampak cahaya siang menerangi kerusakan hutan tempat para Lycan kemarin datang. Terlihat juga beberapa pemuda sedang membetulkan caravan yang mungkin rusak dikarenakan olehnya kemarin. Genangan air di sana-sini, sisa dari es yang telah mencair. Hino sadar dialah penyebab nya. Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 6\part2

Dan tak menunggu-nunggu lagi Lycan itu segera menghampiri Hino dan mengangkat palunya tinggi-tinggi bersiap untuk meremukan kepala Hino. Namun tiba-tiba dua anak panah menancap tepat dikepala mahluk itu. Dan dengan praktis menghentikan gerakannya dan merobohkan mahluk itu. Dengan susah payah Hino menatap kearah anak panah itu datang. Tak diduga, tampak Roland dengan busur ditangannya. Berdiri diatas sebuah batu dengan tiga pengawalnya. Hubert telah siap dengan pedang ditangannya, Luijz dengan sarung tangan besinya dan Deuter dengan busur seperti Roland.

“Roland?” Hino terkejut mendapati Roland ada ditempat itu.

Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 6\part1

Bagian 6

_Nirjiwa

 

 

Mereka selesai makan malam. Para wanita mulai membereskan sisa-sisa makan malam. Beberapa pemuda mulai memasang peralatan tidur mereka. Sementara Hino dan Lumier meneruskan percakapan mereka sebelumnya masih didepan api unggun yang sudah mulai sepi.

“Kami pengelana dari Azzure” kali ini dijawab oleh Lumier.

“Pengelana dari Tanah Bebas Azzure? Wah sebegitu jauh kalian dari kampung halaman.”

Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 5\Part2

Hampir menjelang sore Hino kembali ketempatnya menginap. Ia merebahkan tubuhnya keatas ranjang. Memejamkan mata seraya berpikir tentang hal tadi. Apa yang belum cukup? Bagaimana cara memangil mereka? Pertanyaan itu terus berulang dalam benak Hino.

“Hino, apa kau tidur? Makan malam sebentar lagi siap” terdengar suara Roland setelah ketukan kecil dipintu.

“Iya aku akan segera kebawah” jawab Hino masih dalam posisi berebah.

 

Continue reading