\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 8\part2

Tak terlalu pagi juga tak terlalu siang, setelah berbelanja segala kebutuhan, rombongan Kein berangkat meninggalkan Vion menuju utara. Diperjalanan mereka tak terlalu sering berpapasan dengan orang. Karena memang jarang orang atau para pedagang yang menuju ke utara. Di utara hanya ada kota industri seperti Sores, kota para penyihir Aksa, daerah pertambangan Terafa, dan Seinaru yang hanya para peziarah yang datang kesana.

Kota Sores dari Vion memakan waktu seharian dengan berjalan kaki. Tepat saat matahari terbenam diujung barat, gerbang Sores terlihat diujung jalan. Kota ini hanya sebuah kota industri yang tak terlalu besar. Namun cukup ramai oleh para pekerja pabrik dan tambang. Sekilas kota ini tampak lusuh, berdebu, dan tak nyaman dalam pandangan mata. Mungkin karena banyaknya kereta barang yang besar yang beratnya melebihi kapasitas yang seharusnya, bejalan setiap detiknya hingga menyebabkan jalanan kota ini hancur, dan banyaknya tempat-tempat pengolahan bahan tambang, seperti tempat penempaan besi juga membuat kota terlihat panas, tidak cerah dan makin tak nyaman. Mungkin julukannya selama ini memang tepat. Sores, kota Jelaga.

Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 8\part1

Bagian 8

_Tambahan Teka-teki

 

 

Ternyata dua gadis yang pingsan itu: Alice dan Winnie, hanya mengalami luka memar saja. Dan begitu siuman Winnie yang seorang penyembuh dengan mudah menyembuhkan luka-luka luar yang diderita Nico, Kein, maupun Sophie. Dan pagi harinya saat mereka handak berpamitan sekaligus memberi penjelasan atas kerusakan pada kandang milik kepala desa itu, mereka dibuat heran. Kepala desa itu atau bahkan seluruh penduduk desa tak mendengar suara apapun semalam, meskipun diyakini oleh Kein dan Sophie bahwa mereka telah menimbulkan keributan yang akan terdengar keras oleh para penduduk yang memiliki rumah dipinggiran terluar desa yang dekat dengan hutan. Tapi tak seorangpun mendengar apapun saat Kein bertanya pada mereka.

Kemudian rombongan Kein pun berpamitan untuk meneruskan perjalanan mereka meskipun masih ada tanda tanya besar mengenai hal ini. Namun Kein dan Nico bersepakat semua ini pasti ada hubungannya dengan kaum Yllgarian semalam. Sementara para gadis beranggapan Nico lah yang telah menyelamatkan nyawa mereka. Alice dan Winnie tak henti-hentinya berterima kasih disaat mereka ada kesempatan. Hal yang lama kelamaan membuat Nico jengkel, karena sebenarnya ucapan terima kasih itu bukan seharusnya untuk dirinya. Namun memang ia berencana tak akan mengatakan hal yang sebenarnya pada para gadis itu.

Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 8\part2

Akhirnya mereka berhenti juga saat rembulan sudah kembali muncul diatas langit. Mereka bermalam di sebuah daerah lapang yang tak terlalu banyak ditumbuhi pepohonan. Para Aeron itu mulai memasang seperti tali dari sulur-sulur diatas pepohonan disekitar daerah itu. Seperti sedang memasang pagar. Sementara beberapa Aeron perempuan yang tadinya terlihat, kini mulai menghilang dibalik pepohonan disekitar. Rombongan Hino sibuk memasang tenda ditengah daerah lapang itu. Dan juga menyiapkan api unggun. Sementara Sabrina dan Brian tampak sedang berbincang dengan pemimpin Aeron jauh dari rombongan Hino.

“Apa yang sedang mereka lakukan?” Tanya Hubert melihat para Aeron itu sibuk dengan sulur diatas pohon.

“Mereka sedang memasang alas tidur mereka” jawab Deuter seraya mengeyakan tubuh pada sebatang akar yang menjuat keluar di depan api ungun yang sudah mulai menyala.

“Menurut yang kudengar memang para Aeron itu tinggal dipepohonan, tapi tak kusangka mereka benar-benar tidur menggantung diatas pohon seperti itu” ucap Hino yang juga sudah nyaman duduk didepan api ungun itu.

“Bukan. Aeron memang membuat bangunan mereka di atas sebuah pohon jenis Akarsia yang memiliki besar lingkar batang puluhan kali lebih besar dari pohon pada umumnya untuk tempat mereka tinggal. Bangunan itu seperti rumah pada umumnya Morra. Hanya menempel berjajar diatas pepohona itu” jelas Deuter kemudian.

“Benar. Yang kudengar juga seperti itu. Namun aneh nya sangat sulit menemukan pohon raksasa itu ditengah pepohonan hutan yang padahal rata-rata hanya sebesar ini” saut Roland menunjuk kearah pohon tempatnya bersandar.

“Kurasa para Aeron itu sengaja menyembunyikannya” sahut Hino.

“Sedang yang mereka lakukan sekarang seperti saat kita sedang berkemah seperti ini” jelas Deuter lagi, yang kali ini di jawab anggukan mengerti oleh Hino.

Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 8\part1

Bagian 8

_Pusaka Aeron

 

 

Hal yang ditakutkan mereka muncul juga akhirnya. Mereka mengusik para Aeron yang tinggal didalam hutan El’Asa. Dan tak berapa lama muncul hampir dari setiap pohon yang bisa Hino lihat disekelilingnya, para Aeron dengan busur yang telah direntangkan siap untuk melepaskan anak panah yang ada diantaranya, kearah rombongan Hino.

“Kami tidak bermaksud buruk” ucap Hino kemudian.

“Benar kami tidak bermaksud mengusik kediaman kalian. Jadi biarkan kami pergi” ujar Roland kali ini.

Tampak sosok Aeron yang pertama kali muncul tadi, yang dikenali Hino sebagai Sirsa Aeron itu mengangkat pisau lengkunya keatas dan kemudian berucap nyaring, “Hatya!”

Stainda” tiba-tiba muncul dari belakang, gadis yang sedang mereka kejar menghentikan Sirsa Aeron itu.

Hino terkejut sekaligus lega melihat Sabrina itu muncul dari belakang sang Sirsa yang berteriak tadi. Tampak pula sang Sverdinal berdiri dibelakang mereka. Pikiran Hino bergerak cepat berusaha menganalisa kejadian yang berlangsung disekelilingnya ini. Apa memang tujuan gadis ini adalah ketempat para Aeron? Tanya Hino dalam hati.

“Apa yang kalian lakukan ditempat ini?” kali ini Sabrina bertanya pada rombongan Hino.

“Aku ingin bertemu dengan mu” jawab Hino tanpa basa-basi. Tampak Sabrina terdiam menunggu Hino melanjutkan ucapannya.

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Tentang bagaimana kau bisa ada didalam Rat ku?” tambah Hino kemudian.

Gadis itu masih terdiam menatap Hino lalu menatap orang-orang dibelakang Hino, kemudian menatap Sverdinal dibelakangnya, dan lalu ke arah Sirsa Aeron, “kurasa kau memilih waktu yang tepat untuk bertanya Summoner” sautnya kemudian.

Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 7\part2

Mereka melewati hari dengan terus berjalan memasuki hutan El’Asa. Hingga malam yang semakin melarut. Hino, Roland, dan ketiga pengawalnya mulai bersiap untuk bermalam. Suasana malam di dalam hutan cukup membuat orang bergidik. Juga mengingat rumor hutan El’Asa memiliki banyak sekali misteri didalamnya. Mulai dari hewan-hewan buas yang tak pernah keluar dari dalam hutan, atau tentang banyaknya roh-roh yang tak membiarkan orang untuk keluar dari dalam hutan setelah mereka memasukinya, dan juga yang paling terkenal, tentang para Aeron yang menghuni dalam El’Asa ini. Bulan pucat sempurna membuat penerangan alami disekitar mereka sebelum akhirnya digantikan oleh cahaya jingga api unggun.
“Kau belum tidur?” tanya Roland yang terlihat keluar dari tenda, kepada Hino. Tampak Hino duduk sendiri didepan api unggun.
“Aku belum bisa tidur” jawab Hino.
“Apa yang membuatmu tidak bisa tidur?” Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 7\part1

Bagian 7

_Pengejaran

 

 

Hino tersadar dalam sebuah tenda. Diatas alas kulit hewan yang berbulu lembut. Berselimut dan nyaman. Ia mencoba untuk bangun. Kepalanya masih pening. Rusuk kirinya masih terasa nyeri. Ia menatap berkeliling.

“Pasti aku berada dalam tenda orang-orang Azzure” pikirnya. Tampak pula cahaya terlihat menerobos dari sela-sela kain tenda. “Apa kemarin aku pingsan lagi?” tapi yang jelas Hino sadar bahwa kemarin dia mengalami Nirjiwa. Terdengar mustahil, melihat sudah berapa lama ia menlakukan sihir pengikat dan sudah seberapa banyak Anima yang telah diikatnya. Karena Nirjiwa biasa dialami oleh para Summoner pemula yang masih belum mampu benar menaklukan Animanya. Tak bisa dipercaya ia mengalaminya kini, padahal ia tak pernah mengalaminya saat ia masih seorang pemula. Ia dengan segera memeriksa pundak kirinya. Terlihat sebuah tato baru disana. Seperti sulur berduri yang tergambar rumit. Ikatannya dengan Bewulf sang srigala kelabu itu telah kembali. Kemudian Hino kembali teringat gadis yang ada dalam alam Animanya kemarin. Segera ia berdiri dan berlari keluar untuk meminta penjelasan. Hino yakin gadis ini dapat menjawab semua pertanyaannya tentang sihir pemanggil dan mungkin lebih baik dari pada ia arus mencari tahu dari Logos atau Picsi. Tampak Roland dan para pengawalnya sedang berbincang dengan Lumier disebuah tanah lapang. Tampak cahaya siang menerangi kerusakan hutan tempat para Lycan kemarin datang. Terlihat juga beberapa pemuda sedang membetulkan caravan yang mungkin rusak dikarenakan olehnya kemarin. Genangan air di sana-sini, sisa dari es yang telah mencair. Hino sadar dialah penyebab nya. Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 7\part2

Sementara Nico dan Winnie bertahan menghadapi empat Lochus sisanya. Praktis hanya Nico saja yang bertahan menghadapi empat lawannya itu. Sementara Alice masih tergeletak tak sadarkan diri diluar kandang.

“Kau tak apa-apa Win?” Tanya Nico ke Winnie sementara matanya tak lepas dari ke empat lawannya yang terlihat sedang mencari celah menyerangnya.

“Aku baik-baik saja, tapi Alice,” ucap Winnie dengan nada kuatir “aku harus segera memeriksanya sebelum semuanya terlambat” ucapnya lagi.

“Kurasa kau harus mengkawatirkan yang ini dulu” ucap Nico yang telah siap untuk sekali lagi melancarkan serangan kearah para lawannya itu.

Terlihat kemudian ketiga dari empat Lochus itu memasang kuda-kuda dan mulai dengan perlahan menyebar memutari Nico dan Winnie. Sedang satu diantara nereka berjalan menuju tubuh Alice yang tergeletak diluar.

Continue reading