\\Cinta itu memang tidak ada

Cinta itu memang ada, tapi dimana aku saat semua orang jatuh cinta? Terbaring, terlelap, tak tersadarkan, oleh keadaan yang memaksaku bermimpi. Dan saat ku katakan, cinta itu tidak ada. Kau datang, bukan dengan segenggam penjelasan dan alasan, tapi sebuah pengajaran tentang hal yang membingungkan, yang mereka sebut-sebut dengan cinta.

Masih bersandar diatas ketidak pastianku. Rindu yang meneteskan air mata, membisikan telingaku tentang kesendirian yang dingin. Memaksaku melangkah walau gontai, meraih keberadaan mu diluar duniaku. Tersenyum kau, dan meraih ku saat ku ulurkan tanganku, ku harap. Tapi satu takutku yang tak terbayangkan untuk ku sandang, telah kau pakaikan pada mahkotaku. Jatuh ke bawah. Tanpa kusadari, aku sudah berada di luar dengan menggigil di bawah dingin nya kekecewaan. Dan bila ku katakan sekali lagi, bahwa cinta itu tidak ada. Kau dengan anggun berkata, ketidak percayaan ku akan selalu memburu benak ku dengan kepicikan. Entah mengapa kau lakukan hal itu padaku. Memaksa ku untuk sadar bahwa cinta itu memang ada, dan nyatanya sangat menyakitkan.

Lama dalam luka kepedihan, kuputuskan untuk menyerah pada kenyataan, dan melupakan kelelahanku menanti. Aku kembali mengemas semua rasa yang telah kuberikan padamu, dan beranjak. Tapi satu dari sekian keindahan mu datang memohon padaku, untuk selalu diam dalam sisi kesepianmu. Entah siapa yang terluka dan entah siapa yang di lukai. Kini aku menenukan sunyi bagianmu. Namun terlalu jauh, ia tak mampu dijangkau. Walau lenganku terjulur kuat. Dan tertata janggal dalam susunan warna hidupmu, yang tak pernah berhenti untuk tersenyum.

Cinta itu memang ada, tapi dimana aku saat semua orang jatuh cinta? Terbaring, terlelap, tak tersadarkan, dalam impian cinta orang lain. Berharap itu mimpiku, yang telah lama peraduanku menantinya.

Continue reading

\\2.2

Ini hari sabtu ternyata. Terlihat ia memakai celana pendek biru lautnya. Ia terlihat sangat bersemangat. Aku tak bisa tegar melihat semangat seperti itu. Mata yang bersinar, senyum mengembang, dan gerak yang penuh energi. Sedang aku mati tiap malamnya dan terlahir kembali tiap subuhnya. Hanya itu. Berputar namun tak dapat merasakan apapun. Tapi aku masih belum iri atau cemburu dengan segala kepositifan yang mengauli dan mengawininya itu.

Kini ia bergerak. Berjalan. Marla, nama itu kini memiliki arti baru. Keindahan gerak. Seolah ia lahir dengan bawaan essensi gerak yang selaras. Dan aku akan menghabiskan separuh waktuku untuk mengapresiasinya. Mungkin kami memang berjalan bersamaan, tapi kami berjalan dijalur yang berbeda. Dengan tujuan yang tak pasti. Mungkin jalurnya akan bersinggungan, tapi tak akan pernah sejajar. Dan aku juga tak mencoba untuk itu.

Continue reading

\\Gadis Saxophone

 

Terdampar dari pelarianku akan kenyataan, 5 malam sudah, selalu aku melewati tempat ini. Semuanya tak banyak berubah, atau bahkan tak ada perubahan sama sekali. Kecuali satu, seorang yg selalu terduduk di sudut jalan ini, yg seolah berjiwa batu, tak bergeming walau butiran salju membekukan apa saja yg mereka sentuh, yg terus memainkan Saxophone nya, seolah begitulah cara ia bernafas didunia ini. Dan sekarang tak dapat kulihat, walau terang lampu silau tertangkap mataku.

Continue reading