\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 8\part2

Tak terlalu pagi juga tak terlalu siang, setelah berbelanja segala kebutuhan, rombongan Kein berangkat meninggalkan Vion menuju utara. Diperjalanan mereka tak terlalu sering berpapasan dengan orang. Karena memang jarang orang atau para pedagang yang menuju ke utara. Di utara hanya ada kota industri seperti Sores, kota para penyihir Aksa, daerah pertambangan Terafa, dan Seinaru yang hanya para peziarah yang datang kesana.

Kota Sores dari Vion memakan waktu seharian dengan berjalan kaki. Tepat saat matahari terbenam diujung barat, gerbang Sores terlihat diujung jalan. Kota ini hanya sebuah kota industri yang tak terlalu besar. Namun cukup ramai oleh para pekerja pabrik dan tambang. Sekilas kota ini tampak lusuh, berdebu, dan tak nyaman dalam pandangan mata. Mungkin karena banyaknya kereta barang yang besar yang beratnya melebihi kapasitas yang seharusnya, bejalan setiap detiknya hingga menyebabkan jalanan kota ini hancur, dan banyaknya tempat-tempat pengolahan bahan tambang, seperti tempat penempaan besi juga membuat kota terlihat panas, tidak cerah dan makin tak nyaman. Mungkin julukannya selama ini memang tepat. Sores, kota Jelaga.

  Begitu tiba rombongan Kein langsung di sambut dengan debu-debu yang berasal dari serpihan-serpihan mineral mentah saat kereta-kereta yang mengangkutnya bergoncangan melewati jalanan buruk. Dengan tangan menutup mulut dan hidung menghidari sebanyak mungkin debu yang terhisap, mereka berjalan mencari penginapan. Mereka memilih yang tak terlalu jauh dari kota di sebuah persimpangan jalan yang masih didominasi oleh kereta-kereta pengangkut bahan tambang. Kein merasa sedikit kuatir dikarenakan pada dasarnya kota ini bukan kota dagang, jadi begitu malam tiba tak banyak kehidupan dikota ini. Jadi kemungkinan para Lochus itu datang lagi menyerang, sangatlah besar.

Mereka sengaja memilih yang tak terlalu jauh dari pusat kota. Tak terlalu besar seperti penginapan-penginapan yang pernah mereka tinggali dikota-kota sebelumnya.

“Apa mungkin para Lochus itu akan datang lagi malam ini?” Tanya Nico pada Kein begitu mereka sudah berada dikamar penginapan.

“Entahlah? Melihat Sores kota kecil mungkin saja mereka akan melakukan penyerangan dikota ini, karena setelah ini mereka akan kesulitan menghadapi tiga gadis itu di tanah Aksa. Tapi kemungkinan untuk mereka tidak menyerang juga besar. Disamping karena kini mereka sudah kekurangan anggota, mereka juga akan berfikir apa yang kita miliki yang mereka tidak ketahui, hingga menyebabkan ke empat rekan mereka tidak pernah kembali.

Nico mengangguk paham “yah, ku harap mereka tak menyerang malam ini” tambahnya.

 

“Kudengar barusan dari para pedagang diluar sana, Eugene disusupi oleh seorang pemburu bayaran” Ucap Sophie membuka pembicaraan saat mereka sedang makan malam “Pria Kitte, pengguna Stern” tambahnya kemudian.

“Dan apa itu Stern?” Kemudian terdengar Alice bertanya penasaran, ia merasa asing dengan kata itu.

“Itu adalah senjata milik kaum Kitte” Saut Nico segera ketika Winnie hendak menjawab “sebenarnya itu adalah senjata kuno, pengetahuan para Ancient yang diharamkan” menarik nafas sebentar untuk menyiapkan penjelasan panjang berikutnya “tongkat sihir yang dapat digunakan semua orang, meskipun mereka yang tak berbakat sihir sekalipun.”

“Benarkah?” Terlihat Alice tak percaya dengan penjelasan Nico.

“Bahkan Getzja seperti Sophie pun bisa menggunakannya” timpal Winnie.

“Benar, meski hanya sihir jenis ledak dengan daya hancur rendah saja yang mampu dihasilkan, namun semua orang bisa menggunakannya. Tanpa kecuali” jelas Nico lagi lebih meyakinkan.

“Namun tetap saja benda itu memerlukan tenaga” kali ini Kein yang menimpali.

“Benar, Stern itu digerakan oleh semacam mineral yang ditambang oleh para Moler sebagai gantinya sihir” jelas Nico “tapi sebenarnya mineral itu diproduksi oleh beberapa penambang Kitte ditenggara Elder. Bukit Bulan” tambahnya.

“Aku jadi penasaran seperti apa bentuk Stern itu” Tampak Alice bertambah penasaran.

“Seperti tongkat sihir, benda itu bisa dipegang dengan satu tangan. Bentuk dan ukurannya pun bervariasi. Ada yang panjang hingga perlu dua tangan memegangnya, ada yang begitu kecil hingga tersamar dalam genggaman. Terbuat dari perpaduan kayu dan logam, dan memiliki pemicu yang bertugas sebagai pengganti rapalan mantra” jelas Nico lagi panjang lebar.

Kein hanya tersenyum melihat Nico menerangkan Stern hingga sedetil-detilnya pada Alice. Tapi ada hal yang mengganggu pikirannya. Bagaimana seorang Stern halter-Pengguna Stern, bisa berada ditengah-tengah Elder? Apakah dia dibayar untuk ikut memperkeruh suasana saat ini? Atau dia memang bagian dari rencana besar yang mungkin akan terjadi? Kaum Kitte adalah kaum yang tinggal jauh di ujung selatan benua Elder, mereka memang sengaja dibuang oleh kaum lainnya, karena terlalu memuja pengetahuan kaum Ancient diatas para dewa. Mereka tak pernah diijinkan untuk kembali ketengah Elder, namun beberapa orang dari mereka kembali ke daratan tengah, dengan menjadi pemburu bayaran. Namun meski mereka terkenal sebagai prajurit-prajurit yang bisa ‘dibeli’, namun untuk ukuran menyusup kota raja Eugene ini adalah hal yang tidak biasa. Kein semakin tak habis pikir dengan semua hal yang muncul secara berurutan dan terlihat berhubungan ini.

“Para Vanguard mengejar penyusup itu hingga ke El’Asa, tapi tak ada kelanjutan beritanya setelah itu” tambah Sophie lagi.

“Apa yang dilakukannya hingga para Vanguard turun tangan mengejarnya?” tanya Kein kemudian.

“Entahlah? Tapi kurasa hal yang sangat buruk, hingga membuat para Vanguard itu marah besar” saut Sophie dengan santai.

Tampak Kein terdiam sebentar dan kemudian bertanya “kalian berdua dari Bhasanta kan? Bolehkah aku bertanya sesuatu pada kalian?” Kein memaksudkan kepada Winnie dan Sophie.

“Kau ingin bertanya apa?” Winnie tampak penasaran karena Kein yang mendadak bertanya dengan tampang serius.

“Bisakah kalian menceritakan para Summoner dari kerajaan kalian itu?” Tanya Kein tanpa basa-basi.

Sophie dan Winnie tampak terkejut, mereka tak menyangka Kein akan bertanya tentang hal ini.

“Mengapa tiba-tiba kau menanyakan hal ini?” Tanya Winnie balik karena penasaran.

“Pada waktu kami berada di sepanjang perbatasan Timur, kami bertemu dengan para bandit yang kerap meneror desa-desa disepanjangan perbatasan tersebut” jelas Kein “dan dalam upayanya merampok desa-desa tersebut mereka dibantu oleh seorang Summoner” tambahnya kemudian.

Sophie dan Winnie terdiam lebih serius, seolah mereka sedang menanti kata-kata yang mereka takutkan akan diucapkan oleh Kein.

Summoner itu bernama Picsi” ucap Kein singkat.

Tampak wajah Winnie seperti berisyarat ‘seperti yang aku takutkan’ merespon nama Summoner yang baru saja disebut oleh Kein.

“Picsi? Dengan para bandit?” Tampak Sophie berucap tak percaya.

“Ketua bandit itu yang mengatakan padaku langsung, dan Summoner itu bisa memanggil Phonix” jelas Kein lagi.

“Setahuku ada Summoner dengan nama Picsi di kerajaan pusat. Ia bergelar The Autum” timpal Nico.

“Benar itu Summoner kerajaan pusat, setidaknya mantan Summoner kerajaan pusat” jawab Winnie kemudian “seperti yang kalian mungkin sudah tau, bahwa para Summoner itu sudah meninggalkan kerajaan setahunan yang lalu. Dan mereka tidak kembali ke perserikatan, melainkan memilih jalan mereka masing-masing” tambahnya.

Kein tampak serius mendengarkan penjelasan Winnie tak ubahnya Nico.

“Sebenarnya sudah kukira Picsi akan melakukan hal-hal seperti itu. Ia memang memiliki kecenderungan melakukan kekerasan, tapi tak kusangka dia akan melakukan hal rendah seperti membantu segerombolan bandit merampok desa” jelas Winnie lagi.

“Dan apa kalian tahu kabar tentang Picsi sekarang? Mungkin dengan siapa sekarang dia bekerja? Atau apa yang dilakukannya setelah keluar dari kerajaan setahun ini?” Kein kembali bertanya.

“Entahlah, karena yang pasti para Summoner itu melakukan perjalanan menuju kuil-kuil Anima mereka masing-masing setelah mengundurkan diri dari kerajaan. Dan setahu ku Picsi juga melakukan hal tersebut. Dia menuju ke timur ke kuil Symirr. Untuk kembali mengikat Phonix, dan kurasa dia telah berhasil melakukannya” kali ini Sophie yang menjelaskan untuk Kein.

“Sebenarnya sebelum ini kami, aku dan Sophie juga sedang dalam perjalanan dengan seorang Summoner yang dikenal dengan sebutan The Winter, sebelum akhirnya kami terjebak di situasi ini. Dan kami terpisah dengannya saat kudeta kemarin” tambah Winnie kemudian.

“Kembali mengikat?” Kein makin penasaran dengan jawaban Sophie yang hanya sepenggal itu.

“Benar, alasan sebenarnya para Summoner itu mengundurkan diri dari kerajaan adalah karena sebuah kejadian yang membuat mereka ber empat kehilangan kekuatan mereka melakukan kontak dengan para Anima mereka. Dan mau tak mau mereka harus melakukan perjalanan ke kuil-kuil tempat para Anima mereka berada dan kembali melakukan pengikatan” jelas Winnie panjang lebar.

“Mustahil. Mereka masih bisa kembali mengikat? Kejadian apa yang bisa membuat seorang Summoner bisa kehilangan kekuatannya memanggil namun masih waras?” Kein kembali bertanya tak percaya. Karena biasanya begitu seorang Summoner kehilangan ikatan dengan Animanya, mereka akan menjadi gila bila tidak mati.

“Entahlah? Aku sendiri tidak pernah tau, sedang mereka juga tak pernah menceritakannya pada kami. Tidak ada orang dikerajaan yang benar-benar mengetahuinya” jelas Winnie lagi.

Nico terlihat berpikir dan mengingat, “tak pernah aku mendengar kejadian seperti itu. Membacanya pun tidak pernah” tambahnya kemudian.

“Jadi kalian benar-benar tidak tau apa yang terjadi dengan Picsi belakangan ini?” Tanya Kein kembali memastikan.

Winnie hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Kein. Dan kembali Kein mendapati jalan buntu tentang penjelasan yang ia butuhkan.

 

~0~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s