\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 8\part1

Bagian 8

_Tambahan Teka-teki

 

 

Ternyata dua gadis yang pingsan itu: Alice dan Winnie, hanya mengalami luka memar saja. Dan begitu siuman Winnie yang seorang penyembuh dengan mudah menyembuhkan luka-luka luar yang diderita Nico, Kein, maupun Sophie. Dan pagi harinya saat mereka handak berpamitan sekaligus memberi penjelasan atas kerusakan pada kandang milik kepala desa itu, mereka dibuat heran. Kepala desa itu atau bahkan seluruh penduduk desa tak mendengar suara apapun semalam, meskipun diyakini oleh Kein dan Sophie bahwa mereka telah menimbulkan keributan yang akan terdengar keras oleh para penduduk yang memiliki rumah dipinggiran terluar desa yang dekat dengan hutan. Tapi tak seorangpun mendengar apapun saat Kein bertanya pada mereka.

Kemudian rombongan Kein pun berpamitan untuk meneruskan perjalanan mereka meskipun masih ada tanda tanya besar mengenai hal ini. Namun Kein dan Nico bersepakat semua ini pasti ada hubungannya dengan kaum Yllgarian semalam. Sementara para gadis beranggapan Nico lah yang telah menyelamatkan nyawa mereka. Alice dan Winnie tak henti-hentinya berterima kasih disaat mereka ada kesempatan. Hal yang lama kelamaan membuat Nico jengkel, karena sebenarnya ucapan terima kasih itu bukan seharusnya untuk dirinya. Namun memang ia berencana tak akan mengatakan hal yang sebenarnya pada para gadis itu.

Hari belum terlampau siang ketika rombongan Kein dan yang lain memasuki kawasan Marc de’Vion, kejadian semalam benar-benar telah membuat mereka semakin letih. Hanya Alice dan Winnie yang masih terlihat segar, namun mereka juga tak terlalu bersemangat. Mereka hanya ingin segera tiba di kota besar dan segera beristirahat. Meskipun Alice masih saja tidak setuju dengan hal bertemu banyak orang ini, namun mau tidak mau, mengingat kemungkinan besar mereka masih diikuti oleh para Lochus, membuatnya harus setuju dengan ide itu.

Tampaknya ada sesuatu yang sedang terjadi di Marc de’Vion. Beberapa orang atau para pedagang yang lalu lalang membicarakannya. Tema pembicaraan mereka mengusik keingintauan Kein. Kein dengan sengaja mencuri dengar pembicaraan seorang yang sedang menarik gerobak penuh tumpukan kain dengan seseorang tua yang memanggul tumpukan kayu bakar dipunggungnya.

“Benar-benar sulit dipercaya” ucap yang menarik gerobak penuh kain itu.

“Iya, lalu sekarang jalur Vion-Eugene akan terpotong?” Respon pria tua yang tampak bertumpuk-tumpuk kayu bakar di punggungnya.

“Wah sulit sekali kalau kita harus memutar ke bukit Kematian untuk sampai ke Eugene. Memakan waktu”

“Benar, kuharap pihak kerajaan segera melakukan sesuatu mengenai hal ini”

Kein yang mendengar pembicaraan ini sudah tak tahan untuk segera mencari tahu.

“Maaf tuan-tuan” Kein segera menyapa, “tak sengaja saya mendengar percakapan tuan berdua, kami pengelana dari selatan, kalau boleh kami tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi?”

“Kau tidak tahu?” Respon yang memanggul kayu “menara Kerubian hancur kemarin”

“Maksud anda menara ditengah hutan El’Asa itu?” Saut Nico kemudian.

“Iya benar. Kemarin, entah bagaimana tapi kata mereka yang melihatnya hancur dengan sendirinya. Saat tiba-tiba ditengah siang yang cerah tanpa mendung dan hujan terdengar suara guntur yang menggelegar” jelas pria yang menarik gerobak itu panjang lebar.

“Suara Guntur tanpa awan mendung?” Terlihat Kein bingung “aneh sekali”

“Entahlah, tapi itu yang kami dengar dari mereka yang menyaksikannya” jawab pria ber gerobak tadi.

Nico dan Kein saling berpandangan, mereka berdua mempunyai pemikiran serupa. Ini mungkin ada hubungannya dengan dua Yllgarian itu.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Semuanya jadi makin aneh” saut Sophie seraya melirik Kein dan Nico.

 

Mereka akhirnya sampai didepan gerbang Vion. Kota besar setelah yang terakhir mereka lihat adalah Kota Vaelum, WindGhoul. Tampak dimata Winnie, Alice, dan samar pada Nico kerinduan mereka terhadap peradapan. Marc de’Vion adalah kota dagang dibagian barat dari wilayah Narva, kota ini menghubungkan empat jalur perdagangan yaitu: antara Eugene-kota raja kaum Narva, dengan Aksa-kota para penyihir, kemudian Terafa-kota tambang yang akan dituju oleh Kein dan Nico, dan kota-kota didaerah perbatasan WindGhoul. Kepadatan dan kesibukan kota ini jauh berkali-lipat dibandingkan kota-kota sejenisnya atau malah yang ukurannya lebih dari Vion itu sendiri. Banyak kaum terlihat membaur dijalanan kotanya. Segala macam pedagang ada disini. Hampir seluruh barang dari penjuru daratan Elder terdapat disini, mulai dari bahan mentah, beragam kuliner, barang seni, hingga senjatapun ada tersedia walau dalam sekala pribadi saja.

“Aku pernah melihat kota dagang di Varun, tapi tak sebesar ini” ucap Winnie dengan sedikit kagum.

“Memang Vion adalah kota dagang terbesar di tengah benua ini, tak mengherankan mengingat Eugene yang adalah sebuah kota raja bergantung padanya” jawab Nico dengan penjelasan.

“Sebenarnya ini bukan yang pertama aku datang ke kota ini. Aku pernah kekota ini beberapa kali saat aku kecil” kali ini Alice yang menjawab.

“Dan dengan menara itu tadi?” Tanya Sophie kemudian karena tak bisa menahan rasa penasaran.

“Kerubian maksudmu?” Tanya Alice memastikan dan Sophie hanya menggangguk “kurasa benar kata mereka, karena dari dalam kota pun kita bisa melihat ada menara tinggi menjulang dari dalam hutan di timur sana” ucapnya lagi seraya menunjuk kearah langit timur “menjulang begitu tinggi dan indah.”

“Kalo menurut yang ku baca, Menara itu dibangun sebagai perjanjian antara pihak Eugene dan Aeron hutan El’Asa, pada akhir masa perang sengketa perbatasan Vanguard, karena pihak Eugene membuat jalan memotong hutan” sela Nico dengan rentetan penjelasan “Menara itu berfungsi seperti menara pengawas, tapi ada juga yang mengatakan bahwa menara itu sebagai petunjuk arah saat para pedagang melintasi jalan tengah di hutan itu, mengingat semua hutan para Aeron selalu punya kekuatan untuk menyesatkan orang yang tidak diinginkan” Nico menjedah penjelasannya untuk bernafas “dan kurasa kelamaan menara itu hanya menjadi simbol saja, karena jalur terusan tengah hutan itu kini sudah berupa jalan raya besar, dan sudah tidak pernah menyesatkan orang sama sekali” tutupnya kemudian.

Kein tersenyum menatap wajah ketiga gadis yang ternganga mendengarkan penjelasan Nico “jadi sebenarnya apa fungsi menara itu sekarang, kurasa pihak Eugene tidak akan membangun menara sebegitu tinggi dan megahnya yang akhirnya hanya untuk sebuah monumental saja kan?”

“Benar, bila tidak kenapa ada yang mengiginkan menara itu hancur?” Sophie menambahi.

“Menurut yang kudengar waktu aku masih kecil, menara itu adalah menara penjagaan manusia dari para Aeron atau untuk mengawasi para Aeron, karena pada masa-masa sengketa dulu para keturunan elf itu suka menyerang orang-orang yang melintasi jalan tembusan tersebut” kini Alice yang menjelaskan.

Kein terdiam tampak berpikir.

“Jadi ada kemungkinan menara itu dirubuhkan oleh para Aeron ya?” ucap Nico dengan pertanyaan.

“Mungkin saja iya, mungkin saja tidak” jawab Kein terlihat masih berfikir.

“Apa menurut anda semua ini ada kaitannya dengan kejadian-kejadian yang belakangan ini sedang terjadi Kein?” Tanya Nico dalam bisik kepada Kein.

Kein hanya menatap Nico dalam diam kemudian menggangkat bahunya tanda bahwa ia pun juga tak bisa menebaknya.

 

Mereka akhirnya menginap disebuah penginapan disisi dalam kota. Mereka menyewa 2 kamar, satu untuk Kein dan Nico, yang lain untuk para gadis.

“Nic, aku ingin tau cerita seluruhnya tentang para Yllgarian itu” tanya Kein pada Nico di kamar mereka tak begitu lama setelah mereka makan siang.

“Mereka berdua. Yang satu dari klan Feline, bertubuh besar dengan perawakan seperti kucing berbulu putih. Sedang yang satu lagi dari klan Harees, berperawakan mungil bertelinga kelinci dangan ciri seorang Hexe, yang pernah saya ceritakan kemarin jawab Nico kemudian “Mereka datang tiba-tiba membantu menyelamatkan kami, kemudian menghilang begitu saja. Saya masih sempat bertanya nama pada mereka, tapi mereka tidak mau menyebutkannya, dan malahan meminta saya untuk tidak menceritakan kepada orang lain tentang kehadiran mereka didaratan tengah ini. Tapi yang berwajah kucing itu sering menyebut-nyebut Arian dan Vivian.”

Kein masih terdiam setelah Nico selesai menceritakan kejadian yang dialaminya semalam.

“Apa menurut anda ada hubungannya mereka berdua dengan robohnya menara Kerubian itu?” Tanya Nico menduga-duga.

“Entahlah ini semua diluar kemampuan berpikirku” ucap Kein kemudian “mungkin juga sebuah kebetulan disaat yang tak tepat seperti ini, atau mungkin saja ada semacam konspirasi multi ras yang hendak menggulingkan sesuatu” tambahnya kemudian. Hal ini menarik Kein dari alasanya semula, saat ia menyetujui permintaan sang Oracle, yaitu tentang kematian sang istri. Semua teka-teki ini lama kelamaan mulai membangunkan sesuatu dalam dirinya yang telah lama tertidur. Gelora petualangnya yang mati suri itu tergelitik untuk kembali mengambil alih dirinya. Ia akan dengan suka rela menuntaskan rasa ingin tau nya itu, meskipun harus lebih lama menemukan jawaban atas kematian istrinya.

“Menggulingkan apa? Siapa? Kita tidak ada tirani di masa ini, atau seorang gila dengan ambisi untuk menguasai dunia” respon Nico kemudian.

“Entahlah, kau beritau aku, kau yang berada ditengah-tengah informasi dunia dibukukan” ucap Kein menjawab.

Nico hanya terdiam sebentar “Saya juga tak bisa melihat apa motifnya”

“Dasar Oracel itu, dia pasti sengaja ingin menyiksaku dengan rasa penasaran ini semua” Kein terdengar marah-marah sendiri kepada Nubie.

“Kemudian para gadis itu?” Tanya Nico kemudian.

“Kurasa kita tetap harus meneruskan tugas dari Oracel ini kan? Jadi biarkan mereka dengan tujuan mereka sendiri” jawab Kein kemudian.

“Para Lochus kemarin?” Tanya Nico sekali lagi.

“Mereka sudah aman begitu lepas dari Sores, daerah barat kota itu sudah bagian wilayah Aksa kan? Kurasa para Dual Stahler Giagale itu tidak akan berani memasuki wilayah para penyihir” jawab Kein sekali lagi.

Malam harinya Kein, Nico, bersama para gadis makan malam disebuah rumah makan tak jauh dari penginapan.

“Mungkin terlihat terburu-buru, tapi kami akan berangkat ke Sores besok pagi” ucap Kein saat setelah mereka selesai makan “kita masih bisa jalan bersama hingga tempat itu sebelum berpisah jalan”

“Ide bagus” ucap Winnie “karena mungkin kami masih dikejar para Lochus itu, jadi lebih baik kita bersama selama mungkin” tambahnya tanpa basa-basi.

“Berarti kita harus segera beristirahat untuk perjalanan besok” ucap Kein kemudian.

“Kurasa aku bisa tertidur berhari-hari, tubuhku sangat letih” saut Nico, yang direspon senyuman dari yang lain.

“Ku rasa kau benar, kita memang kurang istirahat” timpal Sophie.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s