\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 8\part1

Bagian 8

_Pusaka Aeron

 

 

Hal yang ditakutkan mereka muncul juga akhirnya. Mereka mengusik para Aeron yang tinggal didalam hutan El’Asa. Dan tak berapa lama muncul hampir dari setiap pohon yang bisa Hino lihat disekelilingnya, para Aeron dengan busur yang telah direntangkan siap untuk melepaskan anak panah yang ada diantaranya, kearah rombongan Hino.

“Kami tidak bermaksud buruk” ucap Hino kemudian.

“Benar kami tidak bermaksud mengusik kediaman kalian. Jadi biarkan kami pergi” ujar Roland kali ini.

Tampak sosok Aeron yang pertama kali muncul tadi, yang dikenali Hino sebagai Sirsa Aeron itu mengangkat pisau lengkunya keatas dan kemudian berucap nyaring, “Hatya!”

Stainda” tiba-tiba muncul dari belakang, gadis yang sedang mereka kejar menghentikan Sirsa Aeron itu.

Hino terkejut sekaligus lega melihat Sabrina itu muncul dari belakang sang Sirsa yang berteriak tadi. Tampak pula sang Sverdinal berdiri dibelakang mereka. Pikiran Hino bergerak cepat berusaha menganalisa kejadian yang berlangsung disekelilingnya ini. Apa memang tujuan gadis ini adalah ketempat para Aeron? Tanya Hino dalam hati.

“Apa yang kalian lakukan ditempat ini?” kali ini Sabrina bertanya pada rombongan Hino.

“Aku ingin bertemu dengan mu” jawab Hino tanpa basa-basi. Tampak Sabrina terdiam menunggu Hino melanjutkan ucapannya.

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Tentang bagaimana kau bisa ada didalam Rat ku?” tambah Hino kemudian.

Gadis itu masih terdiam menatap Hino lalu menatap orang-orang dibelakang Hino, kemudian menatap Sverdinal dibelakangnya, dan lalu ke arah Sirsa Aeron, “kurasa kau memilih waktu yang tepat untuk bertanya Summoner” sautnya kemudian.

  Sabrina terlihat berbicara dengan pemimpin Aeron, tampak seperti mengatur kesepakatan. Sementara beberapa Aeron yang tadi mengelilingi Hino dan yang lain dari kejauhan mulai mendekat.

“Kau pikir apa yang sedang mereka bicarakan?” Tanya Roland.

“Entahlah aku tidak mengerti bahasa para Aeron itu” saut Hino.

“Semoga bukan hal buruk”

“Yah, kurasa bukan hal buruk”

Tak lama Sabrina mendekati rombongan Hino, “kalaupun aku menyuru kalian pergi, kalian tak akan beranjak dari sini tanpa jawaban dariku kan? Sedang para Aeron itu sedang resah. Jadi apa kalian mau mengikuti kami? Aku akan menjawab pertanyaanmu begitu kita tiba di tujuan”

“Dan hendak kemana kalian?”

“Ke kota suci Seinaru”

“Seinaru?” tampak Hino terkejut. Kemudian menatap ke arah Roland.

“Aku akan ikut kemanapun kau akan pergi” jawab Roland terhadap pertanyaan Hino yang tak diucapkannya itu.

“Namun dengan satu kondisi” ucap Sabrina lagi.

“Dan apa itu?”

“Kalian akan ikut kami sebagai tahanan. Kalian akan dijaga oleh Aeron-Aeron itu”

Hino menatap Roland dan ketiga pengawalnya, kemudian menatap kearah delapan Aeron berbusur disekelilingnya, dan lalu menatap Sabrina dihadapannya.

“Kami tak punya pilihan lainkan?” ucap Hino kemudian.

Sabrina hanya mengangguk, “kemungkinan kalian tak akan diikat”

“Melegakan mendengarnya” saut Hino kemudian.

“Kuharap kalian sudah cukup beristirahat sepagian ini. Karena kita akan segera melanjutkan perjalanan ini” ucap Sabrina kemudian.

“Kurasa kita cukup beristirahat sepagian ini mengejar jejak kalian” jawab Hino dengan senyuman.

 

Mau tak mau mereka berjalan mengikuti rombongan para Aeron dan gadis itu. Tampak sekali para Aeron itu tak suka melihat keberadaan Hino dan teman-temannya ada dalam rombongan mereka. Bahkan para Aeron yang diutus untuk menjaga Hino dan teman-temannya itu tampak jijik. Mungkin mereka memilih menjadi prajurit yang berada paling depan di medan tempur dari pada harus menjaga para manusia seperti dirinya, tebak Hino dalam hati.

“Apa yang sedang terjadi sebenarnya?” Tanya Roland dalam bisik saat ia, Hino, dan tiga pengawalnya mengikuti rombongan Aeron itu.

“Ada puluhan Aeron berjalan bersama kita sekarang, malah mungkin ratusan. Tak mungkin mereka hanya mengawal kita melewati hutan” Hino menatap berkeliling, tampak puluhan Aeron berjalan bersama-sama mereka, baik itu pria atau wanita, muda maupun tua.

“Apa mereka hendak meninggalkan hutan?” Hino tampak mulai menduga-duga.

“Tidak masuk akal para Aeron meninggalkan El’Asa” saut Roland sangsi.

“Benar, dan juga menurut Sabrina kita hendak menuju Seinaru” timpal Hino kemudian.

“Apalagi kesana. Satu-satunya daerah yang diharamkan diinjak oleh kaum keturunan elf. Bisa memicu perang besar kalau itu terjadi” tambah Roland.

“Apa semua ini karena gadis Narva itu?” Roland tampak bertanya lirih kearah Hino.

“Bukan. Setelah melihatnya sekali lagi dan mengamatinya, aku semakin yakin dia bukan Narva. Narva tidak memiliki mata seperti mata para elf” jawab Hino setelah sedari tadi berusaha mengamati keanehan pada diri gadis bernama Sabrina itu.

Karena memang Sabrina memiliki warna retina mata senada dengan para Aeron. Yaitu hijau kekuningan. Sedangkan warna mata Narva adalah biru terang, warna mata Seithr hitam mengkilat, warna mata Morra coklat muda, dan warna mata Getzja adalah kuning kecoklatan.

“Benar. Dia bukan kaum Narva. Dia adalah kaum Isgra” kali ini Deuter yang berucap.

“Benarkah? Bukankah kaum itu hanya mitos. Cerita-cerita kuno” terdengar Roland tak percaya dengan ucapan Deuter baru saja.

“Kau sendiri tahu, kan? Tak ada ras manusia yang mempunyai mata seperti elf. Tak satu kaum pun” tambah Hino lagi.

Meski ditengah hari yang terik, namun keadaan didalam El’Asa tak terlihat begitu berbeda dari pagi hari. Apalagi ketika berada jauh didalam belantara tanpa terlihat langit cerah karena tertutup kanopi rimbunan pohon-pohon yang menjulang. Hino, Rolan, dan para penjaganya bersama Sabrina dan Brian masih terus berjalan bersama dengan para rombongan Aeron, terlihat belum ada tanda-tanda mereka akan beristirahat. Entah kearah mana mereka berjalan, Hino sudah tak dapat memperkirakannya. Namun menurut Luijz mereka menuju ke utara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s