\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 7\part1

Bagian 7

_Pengejaran

 

 

Hino tersadar dalam sebuah tenda. Diatas alas kulit hewan yang berbulu lembut. Berselimut dan nyaman. Ia mencoba untuk bangun. Kepalanya masih pening. Rusuk kirinya masih terasa nyeri. Ia menatap berkeliling.

“Pasti aku berada dalam tenda orang-orang Azzure” pikirnya. Tampak pula cahaya terlihat menerobos dari sela-sela kain tenda. “Apa kemarin aku pingsan lagi?” tapi yang jelas Hino sadar bahwa kemarin dia mengalami Nirjiwa. Terdengar mustahil, melihat sudah berapa lama ia menlakukan sihir pengikat dan sudah seberapa banyak Anima yang telah diikatnya. Karena Nirjiwa biasa dialami oleh para Summoner pemula yang masih belum mampu benar menaklukan Animanya. Tak bisa dipercaya ia mengalaminya kini, padahal ia tak pernah mengalaminya saat ia masih seorang pemula. Ia dengan segera memeriksa pundak kirinya. Terlihat sebuah tato baru disana. Seperti sulur berduri yang tergambar rumit. Ikatannya dengan Bewulf sang srigala kelabu itu telah kembali. Kemudian Hino kembali teringat gadis yang ada dalam alam Animanya kemarin. Segera ia berdiri dan berlari keluar untuk meminta penjelasan. Hino yakin gadis ini dapat menjawab semua pertanyaannya tentang sihir pemanggil dan mungkin lebih baik dari pada ia arus mencari tahu dari Logos atau Picsi. Tampak Roland dan para pengawalnya sedang berbincang dengan Lumier disebuah tanah lapang. Tampak cahaya siang menerangi kerusakan hutan tempat para Lycan kemarin datang. Terlihat juga beberapa pemuda sedang membetulkan caravan yang mungkin rusak dikarenakan olehnya kemarin. Genangan air di sana-sini, sisa dari es yang telah mencair. Hino sadar dialah penyebab nya.

“Hino?” sapa Roland begitu mendapati Hino keluar dari tenda.

Hino tersenyum samar. Kemudian berjalan menuju Roland dan Lumier. Beberapa wanita dan laki-laki menatapnya dengan sedikit waspada. Terlihat ketakutan dalam mata mereka. Hino tahu alasan mereka begitu. Pasti karena kejadian kemarin.

“Apa anda sudah baikan tuan Hino?” tanya Lumier begitu Hino sudah didekatnya.

Hino mengangguk, “iya. Maafkan saya atas kejadian semalam” tambahnya kemudian.

“Tak kusangka anda adalah seorang Summoner” balas Lumier, “anda telah menyelamatkan kami tuan Hino” tutupnya dengan anggukan terima kasih.

Hino terdiam tak ada kata-kata untuk diucapkan. Jauh dalam hatinya ia terluka. Ia harusnya menyelamatkan mereka bukan malah menambah kerusakan yang diderita rombongan ini, “dan Roland. Sekali lagi aku berterimakasih padamu” ucap Hino kemudian pada Roland. Ia berhutang dua nyawa terhadap Roland.

“Sudahlah jangan terlalu dipikirkan” jawab Roland dengan senyum ramah.

“Dan pada kalian” kali ini Hino menujukan pada tiga pengawal Roland “terima kasih”

Dengan serempak ketiga pengawal Roland itu mengangguk.

“Oya, omong-omong gadis Narva dan Sverdinal kemarin kemana?” tanya Hino kemudian.

“Oh, mereka baru saja pergi” jawab Lumier.

“Benarkah? Baru saja? Kemana perginya?” tanya Hino mendera pertanyaan.

Lumier menatap Hino aneh, “iya baru saja mereka ke lembah menuju hutan El’Asa” jawabnya kemudian.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan menyusul mereka” ucap Hino lagi tanpa berfikir dua kali.

“Hey, kau baru saja siuman, kau harus beristirahat dulu” ucap Roland kali ini.

“Ya, setidaknya makanlah dulu” kali ini Lumier yang menawarkan.

Hino terlihat berpikir lagi, “yah, kurasa aku memang lapar” ucapnya kemudian.

 

“Bukankah kau hendak ke kerajaan pusat?” tanya Roland saat Hino tengah melahap sup dan roti gandum untuk mengisi perutnya.

“Aku perlu menanyakan sesuatu pada gadis itu” ucap Hino menjawab.

“Namun setidaknya kau harus beristirahat dulu. Bukankah memanggil Anima itu sangat menguras tenagamu. Apalagi seperti yang kemarin itu” ucap Roland.

“Tapi bila tidak dikejar sekarang tak akan bisa” jawab Hino.

“Apa sebenarnya yang ingin kau tanyakan, sampai kau terlihat se memaksa itu?”

Hino berhenti sebentar, menatap berkeliling sebentar “gadis itu yang menghentikan aku saat aku mengalami Nirjiwa kemarin. Dia bisa masuk kedalam alam Animaku” ucapnya kemudian seraya mengecilkan volume suaranya.

“Gadis itu juga seorang Summoner?”

“Bukan. Summoner tidak bisa memasuki Rat Summoner lain”

Ronald terdiam mendengar ucapan Hino barusan.

“Baiklah kalau begitu. Aku juga akan ikut dengan mu” ucap Roland tiba-tiba yang membuat Hino mengehentikan makannya.

“Tapi kau kan harus kembali ke Goldmed” ucap Hino.

“Kurasa pulang kerumah bisa kulakukan nanti-nanti” ucap Roland kemudian, “dan kurasa kau masih butuh pelindung kan?” tambahnya dengan senyuman.

 

Menjelang siang Hino, Roland, dan ketiga pengawalnya berpisah jalan dengan rombongan Lumier. Rombongan Hino akan menuju lembah dan memasuki hutan mengikuti Sabrina, gadis Narva itu dan ksatria Phatonica yang mengiringnya, sedang para pengelanan Azzure itu melewati jalanan menuju ke utara. Ke arah Lingkar Luar Eugene.

Rombongan Hino mulai melewati jalan setapak dipinggiran bukit Kematian yang sedikit terjal dengan sisi luarnya menghadap ke jurang dengan hamparan hijau hutan El’Asa, sebelum akhirnya turun kelembahnya dan masuk kedalam hutan, ke tempat orang-orang yang sedang mereka kejar itu lewat.

“Berapa tinggi sebenarnya menara itu?” tanya si Roland begitu ia mendapati sebuah menara yang menjulang tinggi jauh ditengah hutan begitu mereka sudah berada dibalik bukit hendak menuju ke mulut hutan.

“Menara Kerubian?” tanya Hino memastikan.

“Benar. Dan apa menara itu masih berfungsi?” tambah Roland dengan pertanyaan.

“Entahlah. Dan lagi tak pernah ada yang tahu apa fungsi menara itu sebenarnya” jawab Hino kemudian.

“Bukannya itu pos penjagaan jalur tembus hutan El’Asa? Yang menghubungkan Vion dengan Eugene” Roland mengutarakan yang ia tahu.

“Entahlah. Informasi yang ku dengar sih, menara itu bahkan dibangun jauh sebelum persengketaan jalur tembus itu” kali ini Hino yang mengutarakan yang ia tahu.

Belum juga mereka selesai memperdebatkan fungsi sebenarnya menara Kerubian itu di bangun, tiba-tiba tampak dari jauh terlihat kilatan cahaya cepat dan tampak menara Kerubian itu mengepulkan asab dengan sendirinya. Dan belum Hino dan Roland membicarakannya, terlihat lagi kilatan cahaya dan secara mendadak menara itu roboh dengan sendirinya.

Hino dan Roland saling berpandangan, “Menara Kerubian roboh?” tanya Roland kali ini.

“Apa yang sebenarnya tengah terjadi?” Hino bertanya lebih pada dirinya sendiri.

“Kurasa itu bukan pertanda yang baik untuk kita memasuki hutan” ucap Roland kemudian.

 

Mereka berlima meneruskan perjalanan mereka memasuki hutan. Dan hanya dengan mengandalkan insting Luijz, mereka mencoba menyusul Sabrina dan Sverdinal kilat itu.

“Harusnya mereka akan terkejar esok pagi, asal kita tidak terlalu lama beristirahat” ujar Luijz.

“Apa mereka yang merobohkan menara Kerubian itu?” tanya Roland dalam perjalanan mereka melalui hutan yang mulai belantara.

“Kurasa tak mungkin tuan, posisi menara itu bermil-mil dari sini. Setidaknya butuh dua hari untuk sampai kesana. Dan mereka baru berangkat pagi tadi“ jawab Deuter.

“Benar. Tak mungkin mereka melakukannya, tapi aku memiliki dugaan mereka ada hubungannya dengan runtuhnya menara itu” kali ini Hino yang menjawab.

“Iya, aku juga merasa seperti itu. Apa menurut mu mereka juga ada hubungannya dengan kudeta di Bhasanta?” Roland bertanya lagi pada Hino.

“Entahlah, Roland boleh aku bertanya padamu?” Hino balik bertanya pada Roland.

Roland mengangguk, “apa yang ingin kau tanyakan?”

“Bukankah harusnya kau menunggu informasi sebelum meninggalkan Bet-Zur? Mengapa kau menyusulku?” tanya Hino kemudian.

“Benar, aku dengar ada puluhan Lycan yang bergerak menuju bukit Kematian” jawab Roland, “maka dari itulah kami menyusulmu ke bukit Kematian”

“Terima kasih. Kalian mau membahayakan nyawa kalian untuk memastikan keselamatanku” jawab Hino dengan sedikit nada rendah, “harusnya sekarang kalian tak perlu menemaniku mencari mereka”

“Sudahlah Hino, kita sudah tak perlu membahas hal itu lagi” jawab Roland kemudian.

“Baiklah. Dan informasi apa lagi yang sudah kau terima selain hal tadi?” tanya Hino kemudian.

“Tentang kondisi Bhasanta saat ini” jawab Roland.

“Bagaimana kondisi kerajaan pusat saat ini?”

“Tidak baik. Menurut informan ku, kerajaan pusat sudah ditutup dari akses menuju ke kerajaan bagian lainnya. Hal ini menimbulkan keresahan dan memungkinkan akan muncul perpecahan antar kerajaan bagian. Dan memungkinkan pula untuk mereka melepaskan diri dari kerajaan serikat ini. Dan menghancurkannya” jelas Roland panjang lebar.

“Apa yang sebenarnya Logos inginkan dengan semua ini?” Hino memberi pertanyaan pada diri sendiri saat ia teringat akan ucapan Logos ketika kanselir itu memintanya untuk bekerja di kerajaan. Bahwa Logos memerlukan bantuannya untuk memperbarui dunia ini. Hal yang tak pernah Hino mengerti dengan pasti apa maksudnya.

“Kekacauan dan ketakutan” jawab Dueter kemudian.

“Dan apa untungnya dia melakukan hal itu pada Bhasanta?”

“Menurutku untuk menguasai seluruh perserikatan Morra ini”

“Maksudmu?”

“Mungkin. Masih menurutku saja” jawab Dueter, “perserikatan ini terdiri dari tujuh kerajaan bagian. Bhasanta, Phatonica, WindGhoul, Goldmed, Karma, Thranios, dan Galta. Dan beberapa diantaranya pasti masih sangat loyal pada perserikatan ini. Dengan menimbulkan kekacauan dan keresahan diseluruh kerajaan bagian, membuat kerajaan-kerajaan itu terpecah dan sibuk dengan urusan-urusan dalam wilayah mereka sendiri. Disamping sebelum ini, willayah Morra tengah diterror oleh bandit-bandit yang sangat meresahkan”

“Apa kau tidak menyangka ini ada hubungannya dengan Narva?” Tanya Roland kemudian.

“Saya tidak tahu, bila itu adalah plot orang-orang Narva untuk memecah belah kita atau bukan. Tapi yang jelas sekarang Logos yang melakukan itu pada Bhasanta, dan Nustor pada WindGhoul” jawab Deuter.

“Apa mungkin kerajaan bagian lain akan ikut menyusul?” Tanya Roland lagi.

“Bisa jadi. Karena mungkin selama ini Logos sudah menyiapkan orang-orang nya di setiap negara bagian. Semoga saja tidak terjadi di Goldmed Wirrow” tambah Hino.

“Kuharap kejadian itu tak akan pernah benar-benar terjadi” Roland terdengar bersungguh-sungguh dalam ucapannnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s