\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 7\part2

Mereka melewati hari dengan terus berjalan memasuki hutan El’Asa. Hingga malam yang semakin melarut. Hino, Roland, dan ketiga pengawalnya mulai bersiap untuk bermalam. Suasana malam di dalam hutan cukup membuat orang bergidik. Juga mengingat rumor hutan El’Asa memiliki banyak sekali misteri didalamnya. Mulai dari hewan-hewan buas yang tak pernah keluar dari dalam hutan, atau tentang banyaknya roh-roh yang tak membiarkan orang untuk keluar dari dalam hutan setelah mereka memasukinya, dan juga yang paling terkenal, tentang para Aeron yang menghuni dalam El’Asa ini. Bulan pucat sempurna membuat penerangan alami disekitar mereka sebelum akhirnya digantikan oleh cahaya jingga api unggun.
“Kau belum tidur?” tanya Roland yang terlihat keluar dari tenda, kepada Hino. Tampak Hino duduk sendiri didepan api unggun.
“Aku belum bisa tidur” jawab Hino.
“Apa yang membuatmu tidak bisa tidur?”
Hino hanya tersenyum, kemudian berucap seraya mengangkat bahu, “entahlah”
“Apa kau sedang menghawatirkan Alice dan kedua temanmu itu?”
“Entahlah. Tapi kurasa tidak juga. Aku percaya mereka akan baik-baik saja, karena mreka yang biasanya menjagaku”
“Benar juga, aku juga merasa mereka lebih baik dariku dalam hal bertahan hidup. Getzja dan Cleric perpaduan yang pas untuk bertahan hidup”
Hino hanya tersenyum mendengar ucapan Roland baru saja.
“Aku tau mereka akan baik-baik saja. Dan kau, kurasa kau juga tak kalah dengan mereka. Kau sudah menyelamatkan nyawaku dua kali” balas Hino.
Roland hanya tersenyum kecut menatap perapian dihadapannya, “maafkan aku tak bisa menyelamatkan mereka” ujarnya kemudian.
“Tenanglah. Untuk seseorang yang telah menjadi pemicu pemberontakan disebuah kerajaan, kau tak perlu terlalu memaksakan diri” tambah Hino kemudian yang dibalas dengan tawa oleh keduanya.
“Apa ini tentang Bhasanta?” Tanya Roland kemudian.
“Mungkin juga. Aku masih penasaan dengan Summoner yang pernah kau bicarakan membantu kanselir” jawab Hino kemudian.
“Kenapa dengan itu? Picsi. Kau mengenalnya kan?”
Hino mengangguk, “aku mengenalnya. Maka dari itu aku merasa penasaran mengapa dia mau membantu Logos melakukan pemberontakan” ujarnya kemudian, ia masih dipenuhi pertanyaan tentang kenapa Picsi kembali bekerja dengan Logos kembali. Apakah ia sudah memperoleh ikatannya kembali? Tanya Hino untuk kesekian kali nya kepada diri sndiri.
“Aku sendiri tidak percaya saat mendengarnya dari informanku. Tapi begitu dia menceritakan bahwa kastil dijatuhkan oleh Anima berwujud pemuda berjubah merah yang sempat membakar seluruh komplek bangsawan dalam waktu semalam, barulah aku mempercayainya” jelas Roland kemudian.
“Evariel. Memang itu adalah Anima miliknya. Sukar dipercaya dia menghianati kerajaan” seolah tertohok, dengan tanpa sengaja Hino mendapat jawaban akan pertanyaan yang baru saja ia tanyakan dalam hati nya. Picsi sudah mendapatkan kembali ikatannya.
“Dan untuk sekedar informasi, bahwa terror yang dilakukan oleh bandit-bandit yang sangat meresahkan diwilayah tengah Morra belakangan ini selalu diawali oleh kemunculan Phonix” tambah Roland kemudian.
“Tidak masuk akal dia melakukan hal-hal rendah seperti membantu para bandit-bandit kecil seperti itu” tampak kali ini Hino tidak percaya akan penjelasan Roland baru saja. Picsi yang ia kenal memiliki harga diri yang sangat tinggi. Tak mungkin ia membantu bandit kecil melakukan terror-terror murahan seperti itu.
“Apakah mungkin ada Summoner lain yang memiliki kemampuan memangil Phonix dan Evariel selain Pici?” kali ini Roland bertanya.
“Setahu ku hanya dia yang bisa mendapatkan ikatan Phonix dan Evariel itu” jawab Hino dengan masih terlihat mengingat dan berharap ada yang terlewat olehnya.
Kemudian keadaan jadi hening. Yang terdengar hanya retakan ranting-ranting yang terbakar. Hino terlihat sedang berfikir.
“Kalau boleh aku tahu, sebenarnya apa yang terjadi pada kalian setahun yang lalu? Hingga akhirnya kalian ber empat bisa mengundurkan diri dari kerajaan pusat secara bersamaan?” Tanya Roland menghentikan keheningan.
Tampak tak siap dengan pertanyaan Roland, Hino terdiam seolah mencari jawaban yang benar-benar tepat untuk ia lontarkan, “itu karena masalah pribadi masing-masing kami yang tak mungkin untuk bisa disatukan” jawabnya kemudian dengan terburu.
“Yah, aku sekedar ingin tahu saja. Bila memang sangat pribadi, lupakan saja pertanyaan ini”
“Maaf kan aku. Bukannya aku tak ingin menceritakannya pada mu”
Roland hanya mengangguk paham.
“Kau pernah dengar cerita-cerita tentang hutan El’Asa ini?” Roland kembali bertanya mencoba mengalihkan tema.
“Iya. Kabarnya ada beberapa mahluk gaib yang bertempat tinggal didalam hutan ini. Mereka akan memakan semua manusia yang masuk dalam hutan ini” saut Deuter yang tampaknya sudah sedari tadi menyimak percakapan Hino dan Roland dari balik tenda.
“Juga konon kabarnya hutan ini memiliki kekuatan mistis, seperti kebanyakan hutan-hutan kuno didaratan Elder ini, yang akan memperangkap manusia-manusia yang masuk kedalamnya dan tak bisa keluar lagi hingga mereka menemui ajal” kali ini Hubert yang berucap ketika dia dan ke dua rekannya ikut bergabung dengan Hino dan Roland di luar tenda mereka.
“Tapi sebenarnya semua hal itu adalah kelakuan para Aeron hutan ini. Konon kabarnya mereka selalu memantau semua hal yang memasuki hutan ini. Membuat bingung dan menyesatkan orang-orang yang tidak mereka inginkan ada dalam hutan ini. Dan bila kita tanpa sengaja melihat sosok mereka, sudah pasti kita tak akan keluar dari hutan ini hidup-hidup” jelas Deuter kemudian.
“Semoga kita tidak menjumpai mereka” saut Roland. Ucapan Roland di iya kan oleh yang lain. Dan kemudian obrolanpun berlanjut hingga akhirnya mereka memutuskan untuk terlelap setelah malam benar-benar sudah sangat larut.

Paginya setelah berkemas, mereka melanjutkan perjalanan mereka. Masih mengikuti petunjuk dan insting dari Luijz untuk mengejar Sabrina dan sang Sverdinal. Udara masih lembab dan matahari belum nampak diatas langit, saat mereka mulai kembali berjalan.
“Harusnya kita akan dapat mengejar mereka sebelum siang ini” ucap Luijz memperkirakan.
Mereka berjalan semakin masuk kedalam hutan. Kedalam belantara tanpa arah, namun setidaknya kini mereka telah menemukan jejak gadis dan Sverdinal yang mereka kejar. Luijze berhasil menemukan jejak yang dilewati dua orang itu. Mereka hanya tinggal mengikuti jejak itu untuk sekarang.
Tiba-tiba tampak Luijze berhenti mendadak ditengah perjalanannya, saat mereka sudah setengah hari berjalan memasuki hutan, mengikuti jejak itu. Tampak pria Getzja itu memandang berkeliling seolah mencari sesuatu disekitarnya. Segera Roland, Hubert, dan Deuter memasang kuda-kuda bertahan mereka. Kemudian terdengar suara dengungan pendek ditambah angin yang mulai bertiup tak tentu arah. Hal ini membuat Hino dan yang lain lebih waspada. Tak lama dari balik sebuah pohon diujung jauh muncul sesosok yang jelas-jelas mengejutkan Hino, Roland, dan ketiga pengawalnya. Bahkan Roland mengucek matanya karena tak percaya dengan pengelihatannya. Sosok dengan baju berbahan kain mengkilat kuning, ber daun telinga meruncing, berkulit putih pucat, tinggi jenjang, dengan rambut berwarna kuning emas serupa Narva, berdiri dengan sebuah pisau melengkung dengan bilah pisaunya yang terbuat dari emas berada dalam genggaman tangannya. Menatap tajam kearah Hino dan rekannya. Hino mengenali itu adalah Sirsa Aeron. Pemimpin para Aeron. Mereka adalah keturunan ras elf yang tinggal didalam hutan-hutan daratan Elder. Mereka terkenal tak pernah suka dengan ras manusia. Dan dalam segala segi mereka memang berada diatas rata-rata ras manusia. Mereka memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan hutan.

~0~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s