\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 7\part2

Sementara Nico dan Winnie bertahan menghadapi empat Lochus sisanya. Praktis hanya Nico saja yang bertahan menghadapi empat lawannya itu. Sementara Alice masih tergeletak tak sadarkan diri diluar kandang.

“Kau tak apa-apa Win?” Tanya Nico ke Winnie sementara matanya tak lepas dari ke empat lawannya yang terlihat sedang mencari celah menyerangnya.

“Aku baik-baik saja, tapi Alice,” ucap Winnie dengan nada kuatir “aku harus segera memeriksanya sebelum semuanya terlambat” ucapnya lagi.

“Kurasa kau harus mengkawatirkan yang ini dulu” ucap Nico yang telah siap untuk sekali lagi melancarkan serangan kearah para lawannya itu.

Terlihat kemudian ketiga dari empat Lochus itu memasang kuda-kuda dan mulai dengan perlahan menyebar memutari Nico dan Winnie. Sedang satu diantara nereka berjalan menuju tubuh Alice yang tergeletak diluar.

“Nic” terlihat Winnie mulai takut.

“Waspada dan tetap dibelakangku” ucapan Nico kemudian langsung dipotong dengan serangan mendadak dari ketiga lawannya itu dari segala arah. Sepontan Nico melemparkan bola api kearah penyerang yang datang dari depan. Menghalau serangan Nico satu Lochus membatalkan serangannya dan mengelak kebelakang. Namun sisanya masih tetap melancarkan serangan mereka, dan serangan itu telak mengenai Nico dan Winnie.

Dalam sekejap saja tubuh Nico dan Winnie terpelanting menjauh satu sama lain. Tubuh Nico terlempar menghantam dinding sebelum akhirnya terjatuh ditumpukan jerami. Segera rasa sakit menjalari tubuh Nico dengan cepat. Luka sayatan baru nampak tertoreh sepanjang dada Nico, dan terus mengeluarkan darah. Tapi Nico tahu ini belum berakhir, hingga dia harus segera berdiri lagi menyiapkan pertahanan sebelum para lawannya kembali meyerang. Begitu Nico berhasil berdiri dan menyiapkan tongkat sihirnya dengan sebuah rapalan untuk menyerang, terlihat tubuh Winnie tergeletak mengerang kesakitan diujung ruangan dengan tiga Lochus berada tak jauh darinya dan sudah siap dengan pisau-pisau besar mereka. Sedang yang tadi berjalan kearah Alice sudah berdiri didekat tubuh gadis Seithr itu diluar. Tampak memastikan keadaan Alice sebelum kemudian mulai mengeluarkan pisau kipas nya.

Melihat situasi seperti ini membuat Nico harus melakukan sesuatu. Ia harus segera menyelamatkan Winnie dan Alice sebelum terjadi hal yang tidak diinginkannya. Nico merasa ia harus mengerahkan segala yang dipunyai untuk menyelamatkan gadis-gadis itu. Kemudian terfikir olehnya untuk menggunakan sihir pamungkasnya. Dengan segera ia menggenggam tongkat sihirnya lebih erat kemudian dengan tak menghiraukan satu dari lawannya yang mulai berjalan pasti menuju kearahnya, Nico segera berkonsentrasi merapal sebuah sihir yang lebih serius.

“Alih-alih menyelamatkan para gadis itu, kau akan menghancurkan seluruh desa ini kalau kau menggunakan sihir itu” tiba-tiba terdengar suara diantara sunyi Nico berkonsentrasi.

Nico terkejut, segera ia memandang berkeliling dan membuyarkan konsentrasinya merapal mantra sihir. Tak terlihat apapun dihadapan Nico kecuali para Lochus. Tapi tampaknya bukan dia saja yang mendengar suara itu, karena jelas sekali para Dual Stahler itu juga kebingungan mencari asal dari suara yang tadi terdengar.

“Jangan panik, menggunakan Alfira bisa membuat kehancuran yang besar. Kurasa kau tak terlalu bisa memperkirakan jarak ledakannya kan?” Suara tadi kembali terdengar. Kali ini dibarengi dengan munculnya sosok siluet besar setinggi hampir tiga meter dari arah pintu setelah satu Lochus yang ada didekat tubuh Alice tadi terlempar masuk ke dalam kandang “Kau pasti akan menyesalinya nanti setelah semuanya habis terbakar” ucapan itu terdengar lagi yang kini diyakini Nico sebagai suara perempuan.

“Siapa?” Nico bertanya dengan memincingkan matanya mencoba melihat sosok dibalik bayangan hitam yang kini mulai bergerak mendekat. Nico penasaran dengan siapa sebenarnya sosok itu, karena tak banyak yang mengetahui tentang sihir Alfira, dan terlebih lagi bagaimana sosok itu bisa mengetahui apa yang sedang ia rapal.

“Apa mereka mengejar Arian dan Vivian?” Tiba-tiba terdengar suara berat dan serak menyeruak.

“Bukan Ar, mereka mengejar gadis yang pingsan diluar itu” jawab suara perempuan tadi.

Terlihat dua Lochus yang berada didekat Winnie merubah posisi kuda-kuda mereka kearah siluet itu, saat kemudian tampak wujud sebenarnya dari asal suara tadi. Terlihat sesososk tinggi besar hampir dua setengah meter, berbulu tebal berwarna putih kebiru-biruan, dan wajah angker seekor singa dengan taring bawahnya menonjol keluar hampir dua inci dari mulutnya. Sedangkan tampak pula dipundak kanan pria setengah singa itu, yang mana asal dari suara perempuan tadi, duduk seorang gadis mungil berwajah setengah kelinci lengkap dengan telinga yang menjulang melewati topi antik berbentuk bundar dengan bagian tengahnya mengkrucul keatas. Gadis kelinci itu terlihat seperti seorang Hexe-sebutan bagi seorang penyihir yang memiliki tingkat kemampuan yang tinggi, karena terlihat menggenggam sebuah tongkat kayu para Eda yang lebih panjang dari tubuhnya yang mungil.

“Harees?” Saut Nico spontan karena terkejut. Jarang sekali ia melihat kaum Yllgarian, kaum setengah Fauna itu, berada diluar hutan Tua diselatan. Apalagi berada didaratan tengah Elder.

“Dasar Morra, kalian selalu kasar dan seenaknya menyebut kaum selain kaum kalian” ucap lembut perempuan kelinci itu menghardik Nico. Sosok Yllgarian yang dikenal Nico dari klan Harees.

“Apa Arian dan Vivian harus membantunya?” Tanya sang pria singa dengan suara berat dan garang. Yang dikenal Nico adalah Yllgarian dari klan Feline.

“Kasar, apa kau tak punya hati Ar?” sanggah balik sang kelinci dengan pertanyaan.

“Arian dan Vivian tidak boleh terlihat di tanah ini” jawab sang singa memperingatkan.

“Maka dari itu, bukan kah para Dual Stahler itu akan melaporkan tentang keberadaan kita disini?” jawab si kelinci memberi penjelasan masuk akal.

Terlihat sang singa terdiam tampak berpikir sambil mangut-mangut.

“Maafkan kami para Dual Stahler tapi kami tak bisa membiarkan kalian kembali ke tanah kalian dengan pengetahuan dua Yllgarian ada di tanah perbatasan ini” ucap kelinci itu dengan senyuman kecil ke arah Lochus dihadapannya.

Belum Nico habis pikir tentang dua kaum Yllgarian itu, tiba-tiba angin mendorong ketiga Lochus dihadapan mereka hingga terpelanting kebelakang dan kemudian angin itu berubah menjadi sedingin es secara tiba-tiba. Ketiga Lochus itu membeku seperti patung sebelum akhirnya hancur berkeping-keping begitu saja menghantam tembok. Belum juga semuanya mencerna apa yang tengah terjadi, satu Lochus yang tersisa disitupun tiba-tiba membeku secara bertahap mulai dari kaki hingga menutupi seluruh tubuhnya dengan cepat. Dan begitu seluruh tubuh Lochus itu sudah tertutup es yang tidak memerlukan waktu lama, dengan cepat pria Feline itu melesat dan mendaratkan kepalan tangannya menghancurkan Lochus itu berkeping-keping tak menyisakan apapun.

Bahkan Nico tak sempat berkedip saat semua bahaya yang mengancamnya tadi lenyap begitu saja bersama dengan sirnanya kepingan-kepingan es disekitar tempatnya berdiri.

“Baiklah anak muda, kami rasa kami sudah tidak perlu berlama-lama disini” ucap perempuan kelinci itu membuyarkan kekosongan pikiran Nico melihat hal yang baru saja terjadi.

“Masih ada mereka yang melihat Arian dan Vivian ditanah ini” saut pria singa itu dengan suara beratnya.

Perempuan kelinci itu melihat berkeliling “kurasa hanya pemuda itu yang melihat kita” ucapnya kemudian setelah melihat Alice yang tergeletak tak sadarkan diri diluar sementara Winnie juga tergeletak pingsan di ujung ruangan “dan kurasa pemuda itu akan segera melupakan kita, jadi itu bukan masalah” tambahnya dengan senyum menatap Nico “ayo Ar kita segera pergi dari sini, sebelum pengaruh sihirku habis dan para penduduk desa menyadari kita disini” tutupnya dengan ajakan sebelum akhirnya pria singa itu berpaling arah dan berjalan menuju pintu keluar.

Nico masih tak bisa bergerak atau berkata apapun mendapati hal ini, sampai akhirnya ia berhasil membuka mulutnya dan berteriak “eh, tunggu dulu!”

Pria singa itu berhenti dan berpaling menghadap Nico saat ia sudah beberapa langkah dari pintu keluar.

“Maafkan atas kelancangan ucapan saya tadi” ucapnya tergagap “tapi, terima kasih atas pertolongan kalian” tambahnya masih terlihat gugup dengan sedikit membungkuk.

Dua Yllgarian itu hanya terdiam. Si perempuan kelinci itu hanya tersenyum menatap Nico kemudian mereka berdua kembali berjalan keluar.

“Nama saya Nico, setidaknya bolehkah saya tahu siapa para penolong saya?” Teriak Nico lagi.

“Kami hanya imajinasimu saja, dan biarkan tetap begitu demi kebaikanmu sendiri” ucap si kelinci sebelum sosok mereka lenyap tertelan cahaya diluar ruangan.

Nico terlihat terpesona dengan sosok penolongnya itu “mengapa bisa ada dua Yllgarian disini? Dengan topi itu, tongkat itu, dan pengetahuannya tentang Alfira, pasti yang Harees adalah seorang Hexe” ucapnya pada diri sendiri. Kemudian segera ia ingat para gadis yang sama-sama pingsan tadi. Segera ia berlari menuju Alice yang berada diluar, membopongnya masuk menempatkannya di tumpukan jerami yang empuk. Kemudian membopong Winnie ke sebelah Alice. Setelah memastikan keberadaan Alice dan Winnie baik-baik saja segera Nico berlari keluar menuju kearah hutan tempat Kein dan Sophie mungkin sedang bertarung dengan sisa dari para Lochus tadi.

 

Sementara Kein dan Sophie kini benar-benar sudah dibuat terpojok oleh lawan mereka. Gadis Getzja itu bahkan sudah terlihat kehabisan stamina tak ubahnya Kein, meskipun dua dari lima lawannya berhasil dilumpuhkan.

“Kurasa aku sudah kehabisan stamina” ucap Sophie menyandar kepunggung Kein, memperhatikan sisa Lochus yang masih mengepung mereka.

“Aku sudah mulai kehabisan stamina sedari tadi” ucap Kein.

“Kein!” Tiba-tiba terdengar suara teriakan memanggil dari arah desa.

“Nico?” Kein segera mengenali suara Nico meski sosoknya belum begitu nampak. Hal itu segera direspon Kein dengan kuda-kuda siap mengeluarkan rapalan yang sama saat terakhir mereka berhadapan dengan para Lochus sebelumnya “Hey Getjza, tolong jaga selama aku merapal, setelah itu berlarilah secepatnya kearah Nico” ucapnya lirih kepada Sophie dan kemudian dengan staminanya yang terakhir ia memulai rapalannya.

Sedang Sophie hanya menggangguk dan kemudian menatap waspada kearah para lawannya. Kali ini para Lochus yang sudah pernah menyaksikan kedasyatan jurus milik Kein itu alih-alih mencoba untuk menyerang dan menggagalkan seperti sebelumnya, kini mereka malah secepat mungkin berusaha menjauh dan melarikan diri dari jangkauan ilmu Kein. Dan ketika pedang Kein benar-benar sudah tegak lurus menghunus angkasa dengan nyala terang bagai obor, para Dual Stahler itu sudah tak nampak lagi.

Kein membatalkan rapalan sihirnya, begitu Nico sudah tiba didekatnya dengan nafas tersengal-sengal.

“Kau benar-benar menyelamatkan ku kali ini, Nic” ucap Kein kembali menyarungkan pedangnya dengan nafas yang juga tak teratur.

“Mana Winnie dan Alice?” Tanya Sophie menyambung Kein.

“Mereka ada di kandang, mereka pingsan tapi selamat” jawab Nico kemudian seraya mengatur nafasnya.

“Mereka pingsan? Ayo kita segera kesana” Saut Sophie kuatir yang langsung berlari kedesa.

“Jadi sisa dari mereka menghadang kalian?” Tanya Kein seraya berlari menuju kedesa. Sophie tampak sudah berada jauh didepan.

“Benar, empat Lochus menyerang kami” jawab Nico.

“Dan, bagaimana kau bisa selamat?” Tanya Kein penasaran “bukan bermaksud merendahkanmu, tapi aku dan Sophie saja kualahan menghadapi lima dari mereka” tambahnya kemudian karena takut perkataannya menyinggung Nico.

“Iya tidak apa-apa, saya juga tau bahwa berhadapan dengan satu saja dari mereka saya akan sangat kesulitan” jawab Nico “tapi mungkin anda tak akan percaya ini, tadi kami tertolong oleh dua Yllgarian” ucap Nico yang direspon tatapan lebih butuh penjelasan dari Kein “Iya tadinya saya juga tak percaya dengan apa yang saya lihat, mereka tiba-tiba saja muncul saat Alice dan Winnie pingsan dan saya sudah tak berdaya” jelas Nico melanjutkan, “mereka muncul dan dengan sangat cepat empat Lochus itu musnah. Salah satu dari mereka terlihat seperti Hexe.

Kein terdiam mendengar penjelasan singkat, mengejutkan, dan tak masuk akal ini dari Nico. Ia meminta Nico untuk tidak menceritakan hal ini dulu dari para gadis sebelum mereka tiba dikandang dimana Alice dan Winnie, tergeletak pingsan.

~0~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s