\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 7\part1

Bagian 7

_Penolong Misterius

 

 

Terlihat malam mulai menyelimuti desa. Kein terlihat memperhatikan berkeliling. Desa kecil dengan hutan membatasi dibagian belakangnya. Tempat yang salah untuk bermalam. Para Lochus itu akan susah ditebak akan muncul dari arah mana, dan akan sangat mudah bagi mereka mengintai dari dalam hutan. Kein terus berfikir bagaimana dia bisa meminimalis kekacauan didalam desa bila terjadi pertarungan nantinya. Bagaimana caranya menjauhkan para Lochus itu dari desa? Fikirannya terus melayang sampai kemudian seseorang membuyarkannya.

  “Menurutmu mereka akan muncul dari hutan?” Sophie berucap tepat disamping Kein berdiri dengan tatapan kosong kearah hutan.

“Kurasa kemungkinan besar dari arah hutan, mengingat menurut asumsi kita sekarang mereka bersembilan dan tak ingin orang lain mempergokinya. Jadi  kurasa besar kemungkinan mereka akan bersembunyi dalam hutan itu” jelas Kein kemudian.

“Terlalu luas, susah ditebak dari mana mereka akan muncul” ucap Sophie menganalisa.

“Kau bisa melacak keberadaan mereka sekarang?” Tanya Kein berharap Sophie akan berkata bisa.

“Untuk tempat seluas itu aku tak bisa. Dan kurasa mereka akan pintar untuk memilih bersembunyi jauh didalam hutan sebelum menyerang karena mereka tahu ada Getzja disini” jelas Sophie yang direspon anggukan kepala oleh Kein.

“Apa lebih baik kita halau mereka disini?” Tanya Kein kemudian.

Sophie segera menoleh kearah Kein dengan tatapan butuh penjelasan.

“Aku tahu kita tak bisa memperkirakan apakah mereka akan muncul dari depan atau dari hutan, tapi bila kita tunggu mereka didalam kandang itu kita tak akan bertahan saat mereka mengepung kita seperti sebelumnya, dan itu juga akan berujung kerusakan yang tak terhindarkan untuk desa ini” jelas Kein kemudian.

“Masuk akal, tapi apa yang membuatmu berfikir kita harus menunggu disini dan bukan didepan gerbang desa? Bagaimana bila semua perkiraanmu salah? Kau akan membiarkan gadis itu dengan mudah dibunuh oleh para Dual Stahler itu.

Kein terdiam ia sedang berfikir “Kau seorang Getzja. Instingmu melebihiku, bagaimana perkiraanmu?” Ia balikan pertanyaan itu pada Sophie.

Sophie terdiam seolah sedang memilah-milah atau mempertimbangkan sesuatu, namun kemudian dia mengelengkan kepalanya. “Entahlah, aku juga tak bisa yakin sepenuhnya”

Kein menghelai nafas, “baiklah kalau begitu, bagamana kalau kau awasi gerbang depan dan aku berjaga disini. Biar Nico bersama Winnie dan Alice” ujarnya memberi keputusan.

“Bila kita terpisah, kita akan mudah dijatuhkan oleh mereka”

“Kita tak punya pilihan, inilah satu-satunya cara yang terfikir olehku”

Kali ini Sophie yang ganti terdiam “Yah, semoga Zelta melindungi kita” ucapnya kemudian.

 

“Nic, kau tinggal disini dan lindungi Alice dan Winnie” Kein memerintah Nico untuk tinggal saat ia sudah kembali lagi kedalam kandang.

“Anda mau kemana?” Tanya Nico tampak kuatir melihat tampang Kein yang serius.

“Aku dan Sophie akan berjaga di luar. Jaga para gadis ini, bila kau rasa kau tak mampu bertahan kuminta kau melarikan diri bersama mereka” ucap Kein menjelaskan.

“Tapi anda?”

“Ini perintah Nic, kau harus menurutinya”

Nico hanya menggangguk paham. Dan kemudian Kein dan Sophie keluar kandang. Kein menuju ke arah mulut hutan dibelakang desa, sedang Sophie menuju gerbang desa untuk berjaga. Sophie melompat ke atap salah satu bangunan tertinggi yang adalah sebuah gedung pertemuan warga desa. Dari situ ia bisa melihat lebih luas, bahkan area yang seharusnya dijaga oleh Kein. Namun Sophie lebih mengutamakan area bagian depan desa. Sedang Kein menunggu dibelakang sebuah gudang seseorang yang merupakan bagian terluar dari desa sebelum memasuki jalan ke mulut hutan, mengamati kearah hutan yang tampak seperti pilar-pilar hitam berdiri saling silang diantara rimbunan dedaunan gelap. Ia masih berharap para Lochus itu keluar dari arah hutan.

 

Dan benar juga perkiraan Kein, tak lama setelah itu tampak pergerakan dari arah mulut hutan. Melihat hal tersebut, Kein segera bergerak cepat maju menuju mulut hutan sebelum para Lochus itu mencapai desa. Kein berlari secepat mungkin dan bersamaan dengan itu nampak ia juga sedang merapal sesuatu. Begitu terlihat salah satu dari Lochus  itu muncul dari naungan bayangan hutan, Kein segera menebaskan pedangnya horisontal kearah mereka dari jarak yang masih jauh dari jangkauan pedangnya. Namun dari bekas sabetan pedang Kein itu muncul seperti pisau api yang melaju membakar segala bentuk yang ada dijalur lajunya. Satu Lochus yang pertama muncul tak sempat mengelak dan telak terdorong kembali masuk kedalam hutan yang secara bersamaan menumbangkan pohon-pohon besar yang terlewati oleh pisau api Kein tadi.

Sedang Sophie yang mendengar suara gaduh dari arah belakang desa segera memincingkan matanya mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Jangkauan pandang kaum Getzja memang diatas rata-rata orang normal, bahkan seekor elang yang mampu mengintai tikus dari ketinggian pun kalah olehnya.

“Demi Zelta! Kein benar mereka menyerang dari arah hutan” ucap Sophie begitu ia mendapati Kein yang tengah menghadang serangan dari 3 sosok dengan pedang-pedang kipas dikedua tangan mereka berlompatan kesana kemari. Tak menunggu waktu untuk memastikannya, Sophie segera melompat dan berlari menuju kearah Kein yang sedang bertarung.

Sementara didalam kandang, Nico, Alice, dan Winnie tengah tertidur. Namun sebenarnya Nico tidak benar-benar tidur. Ia hanya tergeletak namun dengan tangan pada pedang dan tongkat sihirnya. Tampak waspada akan segala suara dan gerakan yang berhasil ia tangkap. Ia mendengar jauh dan sayup suara seperti angin kencang yang membanting-banting dahan pohon dengan kerasnya. Tapi dalam hati, Nico meyakini itu bukan suara angin, melainkan suara pertarungan Kein dan Sophie dengan para pengejar mereka.

 

“Sebisa mungkin dorong mereka kedalam hutan” ucap Kein pada suatu kesempatan ia berada dibelakang Sophie, setelah menghantam satu lawan hingga terdorong kebelakang.

“Aku tahu, tapi ini tak semudah seperti saat kau mengatakannya” ucap Sophie yang terdengar terengah “dan kau tahu Kein, kuharap aku salah tapi sedari tadi aku menghitung mereka hanya ada berlima” ucapnya lagi.

“Sial, mereka membagi serangan. Mereka berhasil mengecoh kita berdua kemari” ucap Kein yang terlihat mulai panik.

“Sulit dipercaya” ucap Sophie yang kemudian melompat lagi untuk menghindari serangan.

“Kita selesaikan secepatnya dan segera kembali kekandang” ucap Kein.

“Yah, dua lawan lima, kurasa ucapanmu tentang selesaikan secepatnya tadi akan terasa indah saat nanti kau menceritakan hal ini ke anak cucumu” jawab Sophie sinis.

 

Kembali kedalam kandang tempat Nico, Alice, dan Winnie beristirahat. Disadari oleh Nico, bahwa ada gerakan dari arah atap. Dengan masih perlahan dan sedikit mungkin melakukan gerakan, Nico menghadap kearah langit-langit dengan tongkat sihir erat digenggaman dan siap akan sebuah rapalan. Tak lama menunggu, sesuatu jatuh dari atas kearah Alice, dan Winnie yang terlelap tak jauh dari posisi Nico pura-pura tertidur.

Kṣētra Bhaṛkanā!” Teriak Nico dengan melempar bola api ke sesosok yang tampak sedang terjun menukik kearah para gadis itu. Blar! Suara ledakan yang keras terdengar saat salah satu dari Lochus itu terhantam bola api Nico dan terpelanting menghantam temannya menuju tembok. Ledakan tadi segera mengejutkan Alice dan Winnie, yang dengan serta merta membangunkan mereka. Dan Nico yakin bukan hanya Alice, dan Winnie saja yang akan terbangun dari tidur mereka setelah mendengar ledakan seperti itu. Seluruh penghuni desa ini pasti akan mencari tahu asal suara yang baru saja terdengar itu.

“Winnie! Nico!” Alice berteriak kaget seraya berlari menghampiri Winnie dan Nico yang menuju kearahnya. Namun belum dua langkah Alice beranjak, kelebatan bayangan menghadang didepannya. Dan dalam sekejap saja Alice terlempar kearah pintu kandang dengan keras hingga menjebolnya. Tubuh Alice kini terkulai lemah tak bergerak di luar kandang diantara serakan pintu yang telah hancur.

“Alice!” Teriak Winnie melihat Alice terlempar keluar. Dan baru kemudian disadarinya empat sosok berjubah putih itu sudah berdiri dihadapannya dan Nico.

Dan Nico sadar meski hanya empat dari mereka, kini nyawa nya dan teman-temannya dalam bahaya besar.

 

“Kurasa mereka mengulur waktu Kein, karena sedari tadi tampak mereka tidak benar-benar ingin menjatuhkan kita” ucap Sophie terengah setelah berhasil memukul mundur satu Lochus.

“Kurasa putri Seithr itu yang diincar mereka” ucap Kein “aku berharap Nico berhasil melindungi mereka” tambahnya.

“Kita harus segera kembali ke desa” ucap Sophie kemudian.

“Sial mereka sengaja membuat kita sibuk dan tak memberi sela untuk kita bisa kembali menuju desa” ucap Kein berkeliling menatap kelima Lochus sambil mengamati celah untuk melarikan diri. Karena Kein yakin ia akan kehabisan tenaga sebelum bisa mencari tahu keberadaan Nico dan para gadis, bila ia terus menghadapi kelima lawannya ini tanpa berbuat sesuatu.

“Andai saja ada Nico disini, mungkin aku akan menggunakan tehnik sihirku yang kemarin tanpa takut harus melukaimu dan para penduduk desa” ucap Kein yang kembali siap dengan pedang ditangannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s