\\Cerita 1\Castle\part1

Cerita Satu,-

 

—CASTLE

 

Pagi itu kereta HyperExpress jurusan CASTLE melaju tenang diantara hiruk pikuk kota terapolis Rhyme-City, disektor High, distrik Seven, kawasan Dome of Siren 65Km dari ibu kota Quatlantic Federation—Neo Atlantic. Dalam kereta sudah dipenuhi oleh beberapa anak calon murid CASTLE, yang hampir seluruhnya ditemani oleh keluarga mereka. Pemandangan yang biasa terlihat dipertengahan bulan September, awal ajaran baru. CASTLE semacam sekolah pra-militer yang dikhususkan untuk para remaja sebagai langkah pengantisipasian datangnya The Necro untuk yang kedua kalinya. Semacam sekolah menengah kejurusan, dengan pembekalan pengajaran-pengajaran yang menitik-beratkan pada skill-skill dibidang kemiliteran dan tehnik mempertahankan diri, disamping pemberian pelajaran-pelajaran formal biasa.

  Situasi didalam kereta terlihat sibuk. Mulai dari celoteh antar sesama anak yang tak sabar menunggu tiba disekolah pilihan mereka, sampai para orang tua yang sibuk menyiapkan perkakas dan perlengkapan anaknya dan tak lupa memberikan banyak-banyak wejangan dan larangan selama mereka berpisah. Jeft bahkan tidak sempat berkenalan dengan anak-anak yang tampak duduk bersama keluarga mereka didekatnya. Perasaan Jeft bercampur aduk antara gejolak antusias dan rasa grogi yang besar. Sudah bertahun-tahun ia memimpikan dirinya kelak bisa bersekolah di CASTLE, menjadi seorang pahlawan sama seperti almarhum ayahnya, yang mana adalah seorang prajurit yang gugur sebagai pahlawan dunia, dalam perang penghancuran The Necro 10 tahun yang lalu. Terlihat tak sabar, waktu seolah berjalan lambat dalam lamunan Jeft, sampai-sampai ia tidak menghiraukan keadaan sekitarnya. Dan tak sama dengan bayangan dalam benaknya, pemandangan diluar jendela kereta berubah dengan sangat cepat, hampir-hampir tidak dapat dilihat. Kereta ini memang satu-satunya kereta tercepat diseluruh distrik dikawasan Dome of Siren. Yang kecepatanya terhitung hampir mencapai 400Km per jam dititik tercepatnya. Dan merupakan sebuah alat transportasi yang sangat berkelas untuk sekedar sebagai kendaraan penghubung kesebuah sekolahan.

Tak berapa lama kemudian kereta HyperExpress berhenti dipemberhentiannya yang terakhir, yaitu Royal Fortress`s Station—stasiun pribadi milik pihak CASTLE. Rombongan besar menyeruak keluar dari pintu disetiap gerbongnya. Mereka disambut oleh beberapa staf dan guru yang bertugas mengantar mereka sampai ke gedung utama CASTLE, yang berjarak beberapa distrik dari stasiun ini. Jeft yang diantar oleh ibu dan pamannya sudah siap membopong rangselnya keatas bahu, begitu kereta berhenti bergerak. Dia terlalu bersemangat menghadapi kehidupan disekolah barunya kelak. Terlihat ibunya mulai berlinang air mata, menyadari anaknya yang tidak pernah sedetikpun terpisah dengannya, kini akan meninggalkannya seorang diri. Karena dalam waktu empat tahun kedepan Jeft harus tinggal diasrama sekolah, dan hanya bisa dikunjungi dua kali dalam setahun.

“Sudahlah bu jangan menangis lagi. Ibu sudah tiga kali menangis sehari ini. tenanglah aku sudah besar, aku bisa menjaga diri” Jeft mencoba menenangkan hati ibunya.

“Tapi selama 17 tahun ini kau tidak pernah jauh-jauh dariku” ucap sang ibu menyeka air matanya.

“Aku aman disini. Aku disini untuk belajar mempertahankan diri, jadi tak akan ada hal buruk yang bisa terjadi selama aku disini. Toh ibu juga bisa menjengukku” tambah Jeft lagi.

“Justru karena kau bersekolah disini, aku bertambah kuatir. Kenapa kau mau menjadi seorang prajurit dan meninggalkan aku sendirian seperti ayahmu?” Ibunya mulai menangis lagi.

“Sudahlah bu, aku tidak akan apa-apa. Aku sudah besar” untuk kesekian kalinya Jeft berusaha meyakinkan ibunya.

“Benar Gei, Jeft sekarang sudah besar dia bisa menjaga dirinya sendiri. Sudahlah tenangkan dirimu” pamannya membantu menenangkan ibunya. “Sudahlah nak, pegilah sana aku akan menjaga ibumu” tambah Pamannya.

Kemudian Jeft meletakkan rangselnya. Wajahnya terlihat sedih dan berat hati ketika berjalan mendekati ibunya, dan kemudian memeluknya. Ibunya mendekap balik erat-erat tubuh Jeft beberapa waktu, yang kemudian melepaskannya dengan berat hati.

“Jaga diri baik-baik ya. Aku akan mengunjungimu” ibu Jeft kembali menyeka air matanya.

“Ibu juga hati-hati” Jeft kembali mengangkat rangselnya, “dan paman, tolong jaga ibu”  Jeft berpaling kearah pamannya.

Pamannya mengangguk. “Kau juga hati-hatilah”

Jeft mengagguk dan kemudian segera berjalan menuju kesalah seorang staf yang ada disitu untuk melapor. Banyak sekali anak-anak seumurannya, dan yang diyakininya memiliki tujuan yang sama dengan tujuannya. Mereka berbondong-bondong menuju ke staf-staf terdekat dengan menjinjing berbagai bawaan mereka masing-masing. Tak berapa lama kemudian orang tua dan para pengantar sudah berada dalam HyperExpress, dan lalu melesat hilang dari pandangan.

Para calon murid yang telah melapor digiring kesebuah hanggar yang lumayan besar, yang dipenuhi dengan banyak sekali TripleVi (Vast Velocity`s Vehicle)—sebuah kendaraan otomatis sejenis mobil seukuran mini-bus yang dapat melayang beberapa senti saat berjalan. Jeft masuk kesalah satu yang terdekat oleh arahan seorang staf. Tampak TripleVi itu tidak cukup besar, hanya mampu memuat sekitar 10-12 anak saja, tak heran mereka memerlukan sebegitu banyaknya TripleVi—mengingat begitu banyaknya para calon murid yang ada. Suasana dihanggar tersebut lumayan riuh. Para staf mencoba mengarahkan para calon murid untuk segera masuk, dan tampak para staf yang lain—yang terlihat mengenakan seragam yang berbeda—sibuk mencoba mengecek TripleVi sebelum akirnya diberangkatkan. Dan setelah sekitar 20 TripleVi didepan berangkat, TripleVi milik Jeft berangkat. Jeft duduk dekat jendela sebelah kiri diurutan keempat dari pintu depan. Terlihat dari kaca jendela banyak sekali High-Way—jalan layang yang tersepuh metalik—berjajaran simpang-siur diatas jalan yang dilewatinya, dan juga dipenuhi oleh TripleVi-TripleVi dengan model dan ukuran yang beraneka ragam. Tampak juga dilangit puluhan SHOCK—mesin tempur berbentuk semacam robot—hilir-mudik diantara gedung-gedung pencakarlangit disekeliling jalan. Jeft tampak kagum melihat sekolahan yang telah ia impikan bertahun-tahun lamanya itu.

“Hey aku Hoppy” tiba-tiba terdengar suara dari tempat duduk disamping Jeft.

Jeft menoleh dan mendapati seorang gadis—berambut pirang berponi dengan senyum dan lesung pipi yang menyenangkan—duduk dikursi disebelahnya. “Oh aku Jeft” saut Jeft buru-buru. Ia menyodorkan tangannya.

“Senang berkenalan denganmu Jeft” kemudian dijabat oleh Hoppy “Dari mana asalmu?” tanya Hoppy masih dengan senyuman yang menyenangkan.

“Ah, aku cuma dari distrik kecil dikawasan Dome of Gigan. Kamu tau Drill-City?” Jelas Jeft, yang berharap Hoppy pernah mendengar kota kecil tempat tinggalnya itu.

Tampak Hoppy mencoba berpikir kemudian terlihat seolah memilah dan mengingat-ingat dimana ia pernah mendengar nama kota itu. Tapi, “aku ngak pernah dengar tu” Hoppy menggeleng. “Tapi kalau Dome of Gigan terletak diregion barat kan?” tambahnya kemudian.

Jeft mengangguk. “Sudah kukira. Kota itu memang kota sektor Deep. Kalau kamu?” Jeft ganti bertanya pada Hoppy.

“Aku dari Moonzel-City, distrik Eleven, sektor High, dikawasan Dome of Poseidon” Jelas Hoppy.

“Wah kau dari kota besar ya?” Jeft terlihat sedikit terkesima dengan penjelasan Hoppy. Tapi tidak heran juga kalau dilihat dari yang dikenakannya, Hoppy memiliki corakTera-Style—gaya fasion penduduk Terapolis—pada gaya berpakaiannya.

“Dan aku Joseph. Kau bisa memanggilku Spark,” tiba-tiba seorang anak laki-laki—berkulit hitam dengan banyak kepangan kecil diseluruh rambutnya—menyembul keluar dari sandaran kursi didepan Jeft, menyodorkan tangannya “aku seorang Demi, kalau kau tidak keberatan dengan itu” tambahnya. Kaum Demi ialah ras manusia yang telah mengalami evolusi fisik—karena efek jangka panjang Crash Burned ratusan tahun yang lalu—atau bisa juga disebut bermutasi—manusia yang mengalami perkembangan DNA yang menyimpang—yang menjadikan kaum Demi memiliki postur yang janggal dibanding dengan postur tubuh manusia kebanyakan. Namun memang mereka juga dianugerahi kemampuan fisik diatas rata-rata manusia pada umumnya. Dan karena merupakan kaum minoritas, kaum Demi menjadi masyarakat kelas dua dalam strata sosial diseluruh negara sekarang ini.

“Hey itu bukan masalah bagiku. Aku Jeft. Senang memiliki banyak teman” Jeft dengan antusias menjabat tangan pemuda yang ingin dipanggil Spark itu.

“Joseph, tapi panggil aku Spark” kini Spark mengarahkan tangannya ke arah Hoppy.

Sambil menjabat tangan yang terarah kepadanya, Hoppy memperkenalkan diri “Hoppy. Senang berkenalan denganmu… Spark” Hoppy tampak ragu menyebut nama Spark.

“Yang ini temanku. Kenalkan,” Spark mengangkat tubuh temannya keatas agar terlihat oleh Jeft dan Hoppy “namanya Maya, dia pemalu” tambah Spark saat sudah terlihat seorang gadis—bermata sipit, berkulit putih, dan berambut lurus hitam berkilau terlihat sangat kontras dengan Spark—tersipu disebelahnya “Dia juga seorang Demi” tambah Spark lagi.

Jeft menjulurkan tangannya kearah gadis bernama Maya itu “Aku Jeft” ucap Jeft seraya berfikir, dibagian mana dari tubuh Maya yang bisa dikategorikan dalam kategori kaum Demi. Karena beda dari Spark yang disetiap persendian ditubuhnya tumbuh semacam tanduk yang menonjol keluar walau terlihat samar-samar, pada tubuh Maya terlihat seperti manusia biasa. Cantik lagi.

“Maya” tangan Jeft dijabat.

“Aku Hoppy” kini ganti Hoppy menjulurkan tangannya kearah Maya.

“Maya” jawab Maya singkat lagi sambil menjabat tangan Hoppy. “Senang berkenalan dengan kalian” ucap Maya kemudian sambil sedikit tersipu, dan langsung menghilang dari pandangan Jeft dan Hoppy. Merosot kebawah kembali ketempat duduknya semula.

“Ya udah deh, sampai nanti ya” saut  Spark kemudian mengikuti Maya menghilang dari pandangan.

Jeft menatap Hoppy dengan sedikit bingung dan senang. “Orang yang menyenangkan” tambah Jeft.

“Ya” Hoppy tersenyum mengangguk.

Dan ketika Jeft hendak memulai percakapannya lagi dengan Hoppy yang tadi tertunda, terdengar anak-anak ribut dan separuhnya bangkit berdiri dari tempatnya duduk dan menyeruak menuju ke jendela. Jeft yang penasaranpun akhirnya mencari tau dengan ikut menatap keluar melewati kaca jendela disebelahnya. Yang kemudian diikuti juga olah Hoppy.

Terlihat jauh diantara puluhan High-Way dengan segala kesibukannya yang ada di atasnya dan puluhan pencakar langit yang menjulang simetris disepanjang jalan, terlihat gedung utama CASTLE yang berbentuk lebih mirip sebuah istana megah bergaya medieval—yang terbalut kilauan-kilauan benda metal—dari pada sebuah gedung sekolah.

“Wah megahnya” Jeft kembali terkagum-kagum dibuatnya.

“Benar. Lebih indah dari yang pernah kulihat di tv” saut Hoppy yang kini setengah menjondong kearah Jeft, agar dapat melihat melewati jendela.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s