\\Cinta itu memang tidak ada

Cinta itu memang ada, tapi dimana aku saat semua orang jatuh cinta? Terbaring, terlelap, tak tersadarkan, oleh keadaan yang memaksaku bermimpi. Dan saat ku katakan, cinta itu tidak ada. Kau datang, bukan dengan segenggam penjelasan dan alasan, tapi sebuah pengajaran tentang hal yang membingungkan, yang mereka sebut-sebut dengan cinta.

Masih bersandar diatas ketidak pastianku. Rindu yang meneteskan air mata, membisikan telingaku tentang kesendirian yang dingin. Memaksaku melangkah walau gontai, meraih keberadaan mu diluar duniaku. Tersenyum kau, dan meraih ku saat ku ulurkan tanganku, ku harap. Tapi satu takutku yang tak terbayangkan untuk ku sandang, telah kau pakaikan pada mahkotaku. Jatuh ke bawah. Tanpa kusadari, aku sudah berada di luar dengan menggigil di bawah dingin nya kekecewaan. Dan bila ku katakan sekali lagi, bahwa cinta itu tidak ada. Kau dengan anggun berkata, ketidak percayaan ku akan selalu memburu benak ku dengan kepicikan. Entah mengapa kau lakukan hal itu padaku. Memaksa ku untuk sadar bahwa cinta itu memang ada, dan nyatanya sangat menyakitkan.

Lama dalam luka kepedihan, kuputuskan untuk menyerah pada kenyataan, dan melupakan kelelahanku menanti. Aku kembali mengemas semua rasa yang telah kuberikan padamu, dan beranjak. Tapi satu dari sekian keindahan mu datang memohon padaku, untuk selalu diam dalam sisi kesepianmu. Entah siapa yang terluka dan entah siapa yang di lukai. Kini aku menenukan sunyi bagianmu. Namun terlalu jauh, ia tak mampu dijangkau. Walau lenganku terjulur kuat. Dan tertata janggal dalam susunan warna hidupmu, yang tak pernah berhenti untuk tersenyum.

Cinta itu memang ada, tapi dimana aku saat semua orang jatuh cinta? Terbaring, terlelap, tak tersadarkan, dalam impian cinta orang lain. Berharap itu mimpiku, yang telah lama peraduanku menantinya.

  Cinta itu memang ada, tapi dimana kau saat semua orang memimpikannya? Terbaring, terlelap, tak tersadarkan, oleh keadaan yang memaksamu untuk jatuh lebih dalam pada cinta? Entah siapa yang terluka dan entah siapa yang dilukai. Namun kini yang tinggal hanya kehampaan, karena luka itu perlahan telah menjedah kita dengan jarak yang bahkan suara pun tidak mampu lagi menjangkaunya. Dan saat sekali lagi aku terluka dan melangkah kebelakang, satu dari sekian keindahmu datang memohon ku untuk sekali lagi diam dalam sisi kesepianmu. Membiru dalam bisu. Menghitam dalam kehangatan yang tak terasa lagi. Entah muak, bosan, atau marah, penat menyeret kakiku menjauh dari mu. Meninggalkan indah yang kan selalu ku rindukan. Dan terpaksa menatapmu tanpa mencoba untuk merengkuh mu.

Kini dimana cinta, saat aku sedang jatuh cinta? Terbaring, terlelap, tak tersadarkan oleh keadaan yang memaksanya berhenti bermimpi. Dan untuk kesekian kalinya saat ku katakan, cinta itu tidak ada. Kau dengan air mata keyakinan mu merintih padaku, bahwa aku terlalu naïf untuk dengan cepat menghakimi keberadaan cinta.

Namun dimana cinta. Saat kau sedang jatuh cinta? Terbaring, terlelap, tak tersadarkan, oleh keadaan yang memaksanya bermimpi lebih dalam, hingga tak satu kesadaran pun mampu membuatnya terjaga? Kenapa kau tetap berada dalam keyakinanmu, bahwa cinta itu ada. Walau telah pedih keteguhanmu di khianatinya. Terlihat dibalik tirai tegar yang coba kau jubahkan pada dirimu sendiri, kaki itu rapuh akan kehilangan, tangan itu akan patah saat melepas kepergian, dan dengan senyum harga dirimu yang besar, nyaris bagai angkuh, kau memerlukan penopang. Entah siapa yang terluka dan entah siapa yang dilukai. Semua kini membutuhkan waktu untuk berhenti berfikir, dan menyembuhkan diri.

Cinta itu memang ada. Tapi bagaimana kau melihatnya, saat semua orang hanya cukup dengan merasakannya? Mencoba terbaring, terlelap, tak tersadarkan, oleh keadaan yang memaksamu untuk berhenti bermimpi? Sedangkan mimpi itulah yang sekian lama menambal koyakan waktu hidupmu, yang terpahat kasar, dengan relif-relif yang menyakitkan.

Kini saat kau berkata, bahwa cinta itu memang ada. Dimana kau saat semua orang jatuh cinta? Terbaring, terlelap, tak tersadarkan, oleh keadaan yang memaksamu menyadari bahwa, sisi lain dari mata pedang itu telah membuatmu merah dengan cucuran rasa kehilangan?

Dan kini saat kukatakan, bahwa cinta itu ada. Dimana kenyataan menempatkanmu pada sisi gelapnya? Bisakah kau membuktikannya padaku? Dan harus ku katakan bahwa cinta itu tidak ada. Namun kau hanya terdiam dengan pandangan menghardikku, penuh sorot meremehkan yang selalu yakin bahwa cinta itu ada. Walau memang, pisau dengan mata ganda itu akan selalu terluka dan selalu melukai, karena semesti itulah langkahnya dalam kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s