\\2.2

Ini hari sabtu ternyata. Terlihat ia memakai celana pendek biru lautnya. Ia terlihat sangat bersemangat. Aku tak bisa tegar melihat semangat seperti itu. Mata yang bersinar, senyum mengembang, dan gerak yang penuh energi. Sedang aku mati tiap malamnya dan terlahir kembali tiap subuhnya. Hanya itu. Berputar namun tak dapat merasakan apapun. Tapi aku masih belum iri atau cemburu dengan segala kepositifan yang mengauli dan mengawininya itu.

Kini ia bergerak. Berjalan. Marla, nama itu kini memiliki arti baru. Keindahan gerak. Seolah ia lahir dengan bawaan essensi gerak yang selaras. Dan aku akan menghabiskan separuh waktuku untuk mengapresiasinya. Mungkin kami memang berjalan bersamaan, tapi kami berjalan dijalur yang berbeda. Dengan tujuan yang tak pasti. Mungkin jalurnya akan bersinggungan, tapi tak akan pernah sejajar. Dan aku juga tak mencoba untuk itu.

  “Kau sudah selesai dengan pekerjaanmu?” Tanyanya dengan ringan dan ceria.

Ia langit dimusim panas. Aku hanya Jauh si hujan rintik­—engan-engan merintik. Ia hidup dalam kemewahan. Sedang aku tak mungkin dalam kemewahan. Karena bagiku kemewahan ialah kebebasan dan itu hanya mimpi saat aku ada dihadapannya. Karena aku adalah seorang tawanan. Tawanan dari keindahaan.

“Kenapa tidak kau sudahi dulu saja pekerjaanmu itu. Ini weekend” ujarnya lagi.

Sanguinis popular juga Plegmatis yang damai disaat yang bersamaan. Meluap-luap tapi kau masih tak akan bisa membaca emosinya. Mendengar ia dapat bicara dengan begitu mempesona, namun juga seorang pendengar yang setia membuatku sadar bahwa kita terlahir tanpa bingkai. Dia telah menunjukan bahwa kita bisa menjadi apa saja yang kita mau. Tuhan menciptakan kita serupa gambaranNya. Mungkin aku mulai bisa melihat maksudnya.

“Sudahlah, hentikan dulu” kini ia menarikku dari depan laptopku. Menghadapkanku ke arahnya. Kemudian kembali matahari muncul dari wajahnya yang berseri. Memang sudah berapa lama kami bersama? Tapi sampai sekarang aku masih saja terkagum-kagum oleh senyuman itu.

“Lihat, kau sudah mulai punya kantung mata”

“Aku harus selesaikan ini sebelum Date line-nya”

“Aku tau, tapi kau juga harus beristirahat. Lihat hari ini begitu cerah” ia menarikku berdiri dan menuntunku paksa menuju ke jendela “bagaimana kalau kita pergi main? Liburan”

Ah, kata yang sudah lama tak kudengar. Liburan. Hanya dengan mendengarnya saja sudah membuatku begitu rileks. Kurasa aku memang membutuhkannya. Tapi tidak saat ini. Aku harus berjuang keras untuk segera melalui hal ini. Pekerjaan ini memberiku tekanan yang menyita segala yang bisa kunikmati. Aku harus segera menyudahinnya.

“Marla, aku tak bisa. Aku harus segera menyelesaikannya”

“Cium, kau bau. Sana mandi dulu” ia menyanggahku dengan elegannya. Menarik tanganku dan mendorong ku ke kamar mandi. Selalu tak ada perlawanan untuknya. Ia melemparkan handuk kewajahku.

 

Air mulai kembali membangunkan seluruh otot-ototku yang lama memar. Meringkuk tertidur. Mengejutkan tapi juga menyegarkan disaat yang bersamaan. Entah kenapa setiap aku berada dalam badtub, aku merasa baru saja terbangun dari tidur lamaku. Dan kemudian berfikir tentang sejak kapan aku mulai hidup dan untuk apa aku menjalaninya. Setelahnya aku selalu teringat Marla. Dan pertanyaan baru pun muncul : Siapa aku sekarang? Apa yang ku punya? Apa yang telah ku terima? Apa yang bisa ku bagikan?

Pakaianku telah siap saat ku keluar dari kamar mandi. Ia memilihkan polo shirt, kali ini berwarna hijau muda. Warna kehidupan. Celana krem. Perpaduan warna yang hidup dan menghangatkan. Aku suka cita rasanya dalam memilih paduan warna.

“Lihat kau tampak hidup kembali” ucapnya begitu ia masuk. Ia bahkan sudah serupa malaikat dengan kaos dan jeans baggy nya.

“Kau benar-benar ingin kita pergi?”

“Mengapa tidak?” Yah, mengapa tidak? Aku tak pernah siap untuk menjawab bila setiap pertanyaanku ia balikan. Ia begitu sederhana menanggapi hidup ini. Ia tak akan repot memikirkan pertanyaan yang dirasa tak perlu dicari jawabannya. Tapi ia adalah sumber dari segala karyaku berasal. Kesederhanaannya tentang segala hal itu membuatku terus berfikir. Ia seolah google inspirasi pribadiku.

“Lalu kita akan pergi kemana?”

“Pantai? Kebun binatang? Taman hiburan?”

“Bukankah tempat-tempat seperti itu akan sangat penuh pada akhir pekan seperti sekarang? Kau akan semakin stress begitu melihat sebegitu banyak orang hilir mudik tak ada habisnya” Dan ia pun hanya tersenyum seperti biasa.

 

Entah kenapa sampai hari ini aku tak habis pikir tentangnya. Kami bersama hampir tujuh tahun, lengkap dengan masa perkenalan kami. Apa yang sebenarnya ia cari dariku? Seorang pengecut yang selalu coba berlari dari segala hal yang mengikat. Penakut yang selalu mencoba menyangkali tangung jawab. Apa ini semacam cara Tuhan untuk memberi sebuah mukzijat pada hidupku? Atau ini memang adalah sistem alam yang berusaha menyeimbangkan segala sesuatunya dengan otomatis? Mengapa ia bisa menjadi sebegitu ordinary nya dalam kehidupan sehari-hariku? Padahal ia berasal dari pecahan bumi yang lain. Diluar Bimasakti  kehidupan sosialku. Planet lain yang tak pernah menyebutkan bahwa keberadaanku layak untuknya. Seperti kaum Israel didaratan Afrika. Apa yang sebenarnya ia kejar dariku? Kesenangan? Kesamaan? Kenyamanan? Rasa aman? Atau hanya untuk membunuh waktu luangnya?

 

Dan akhirnya kami hanya berjalan-jalan di taman kecil didepan komplek. Cukup menenangkan. Cukup menyenangkan. Dengan segala hal yang hijau dan biru itu sangat menyejukkan fikiran, tubuh, dan jiwa. Kami kemudian duduk dibangku taman menatap bentangan landscape dibelakang gedung apartemen kami.

“Begini juga boleh” ucapnya menatap pertemuan langit dan garis horizon dengan ekspresi puas. Yah, kadang kepuasan kami memiliki level yang setingkat. Apakah ini tentang kesenangan? Atau kesamaan? Apapun boleh asal ia tak jauh dariku.

Tapi masih aku dibelenggu oleh beban pekerjaanku yang belum terselesaikan. Kelegaanku masih setengah jalan. Namun tiba-tiba ia meletakan kepalanya menyandar dibahuku.

“Lama aku tak melihatmu melukis” ia memejamkan matanya dan mulai meletakkan seluruh berat tubuhnya padaku “Angin ini mengingatkan ku pada hari-hari kemarin” Harum shampoo yang dipakainya tak pernah berubah. Aroma yang selalu memenuhi ingatanku.

“Sudah berapa lama kita tidak melakukan hal seperti ini” Berapa lama? Aku bahkan baru saja ingat akan pertanyaan itu “mungkin sekitar 3 tahunan yang lalu. Masa-masa yang indah”

“Kita baru saja berlibur 2 bulan yang lalu, kan?!”

“Maksudku bukan tentang berliburnya. Tapi yang seperti ini. Hanya menikmati alam tanpa melakukan apapun. Kenapa kau tak mulai melukis lagi?”

“Kurasa aku tak punya waktu”

“Kau tak akan pernah punya waktu bila kau tidak menyisihkannya” Menyisihkannya? Aku sudah terlalu banyak menyisihkannya untuk hal yang tak berguna. Kini biarkan aku mengejar semua yang terlewat di hari lalu.

“Aku lapar”

“Oh, aku lupa. Sudah setengah sembilan ya” dan kami pun beranjak.

 

Perlahan ia mulai menakutkanku. Keiklhasannya sedikit demi sedikit menyugesti alam bawah sadarku untuk melakukan feed back padanya. Mengontrol kebebasanku dan kemudian kembali aku seorang tawanan. Tawanan dari keindahan. Entah apa yang ia nikmati dari duduk diam mengamati semua tindakanku dari meja makan. Menungguku mulai dari memasak hingga menghidangkannya dimeja makan tanpa melakukan apapun. Benar-benar hanya menunggu. Kenyamanan? Atau hanya untuk membunuh waktu luangnya?

“Kau harus lebih membatasi makanan kolesterol seperti ini. Apa lagi caffein seperti itu” benar-benar jalur yang berbeda. Walau memang kadang bersinggungan, tapi tetap jauh dari kata sejajar dan berdampingan.

Melihatnya lahap seperti sekarang membuatku merasa berguna. Memang hanya dia yang bisa membuatku merasa menjadi orang yang bisa diandalkan. Mungkin kesederhanaannya lah yang seolah membuatku melihat mantra-mantra seperti itu. Apakah ia merasa aman? Merasa terlindungi? Atau itu adalah tipuan pikiranku yang menginginkannya tampak seperti itu?

“Kapan-kapan coba bikin masakan yang berserat” ujarnya lagi “Ciak cai, gimana? Bisakan?” aku hanya mengangguk. Dan ia menyuapkan omelet terakhirnya itu kedalam mulut. Kemudian ia berdiri dan mulai membereskan sisa-sisa piring kotor. Lalu bersiap untuk cuci piring.

 

Aku kembali kesinggasanaku. Terenyak nyaman dihadapan laptopku lagi. Mungkin bila aku jatuh cinta dengan pekerjaan ini, sekarang aku akan benar-benar menikmati akhir pekan. Entah apa yang telah membuatku, seorang Ronin liar ini menjadi bersusah payah mengingkari ego untuk sebuah kemapanan status. Marla? Mungkin nama itu juga berarti hipnotis atau semacam sihir nujum bagiku.

Norah Jones. Sunrise. Dan ia merebahkan tubuhnya disofa sebelahku. Memejamkan mata menikmatinya. Persamaan? Bagaimana ia bisa menikmati Jazz, sedang aku cukup dengan Alternative dan Britpop. Seolah membandingkan tokoh Hamlet dengan Lucy in the sky. DVD horror dengan romance Bollywood. Dan akan kau temukan jedah panjang diantaranya. Ah, setidaknya kami masih sama-sama suka mendengarkan musik, membaca, dan nonton.

Surprise. Never something I could hide. When I see we make it trough anotherday. And I say…

  Theme song yang tepat. Kini ia sudah kembali dengan celana pendek dan tanktop sebelumnya. Memanjangkan tubuhnya diatas sofa. Lihat apa yang salah dengan susunan gambaran seperti ini? Kami tak pernah terikat satu sama lain. Tapi kami tak pernah mencoba keluar dari kebiasaan ini.

“Apa malam ini kau ada rencana?” tanyanya kemudian dengan menengadahkan wajahnya kearahku. Sunrise. Sunrise. Look like morning in your eyes.

“Malam ini aku tak ada rencana”

“Bagaimana kalau Candlelight dinner?”

“Entahlah? Tapikan hari ini mobilku kebengkel sampai besok”

Candlelight dinner dirumah” Dirumah? Lalu apa bedanya dengan kita makan setiap malam?

“Disini? Bukankah setiap hari kita makan dirumah” dan kembali ia hanya tersenyum.

16.21 Musik masih mengalun dan sudah ketiga kalinya gelas kopiku terisi ulang, 85% kerjaanku sudah beres. Tampak kini wajahnya yang pulas disebelahku. Lihat apa yang salah dengan susunan gambaran seperti ini? Memang masalah hati tak pernah bisa di akal kan. Biarkan ia tidur sebentar lagi. Ku bereskan semua pekerjaanku, lalu menuju dapur dan membuat teh yang biasa untuk menemani kami berbincang disore hari. Kali ini terdengar masih Norah Jones–Don’t Know Why, ketika aku kembali dengan se-poci teh dan dua gelas–bersiap membangunkannya. Sinar emas matahari menembus celah-celah kelambu jendela. Membuat garis-garis emas merintangi ruangan. Aku terpaku melihat pemandangan dihadapanku yang entah kenapa begitu tampak indah. Gambaran yang membuatku begitu merindukannya. Membuatku seolah pernah melihatnya jauh-jauh hari sebelum ini. Dan kini yang terasa hanya perasaan haru karena rindu yang telah terbayarkan.

Kuletakkan poci teh dan gelas diatas meja dan segera berlari menuju kamarku. Segera kuambil sketch book dan pensilku, kemudian menarik satu kursi dari meja makan dan kembali menuju keruang tamu. Dan setelah mendapat posisi yang baik segera ku tuangkan gambaran apa yang tampak dihadapanku ini kedalam sketsa. Lama aku tak merasakan seperti ini. Sungguh emosional. Lihatlah walau dengan tertidurpun ia masih sangat inspiratif. Ia padang bunga dimusim semi, berdendangan riang. Aku hanya sisa kerak es yang terlalu keras kepala untuk mengikuti musim dingin pergi. Dingin yang tak terlalu.

 

Marla bangun ketika aku sudah menyelesaikan sketsaku. Terlihat wajahnya mengingatkan betapa aku harus bersyukur pada Yang Maha Sempurna, yang telah mempertemukan ku dengannya. Dia mengusap matannya sebelum kembali tersenyum saat melihatku. Dan keindahan senja tergusur oleh senyumnya.

“Apa aku tertidur?” Aku hanya menggangguk. “Wah sudah sore, kita harus buru-buru mempersiapkan makan malamnya” ucapnya setelah ia sadar jam memperlihatkan setengah enam sudah.

“Kau masih mau kita dinner dirumah?” Terlihat gadis itu berlarian kecil menuju ke dapur.

“Kenapa tidak?” Kembali aku tak siap dengan pantulan pertanyaan ini.

“Kita bisa delivery order” Dia tak menjawab, hanya mulai menuliskan sesuatu pada secarik kertas.

“Ini list yang harus kau beli” ucapnya memberikan secarik kertas itu seraya mengibaskan tangannya seolah mengusirku. Ternyata daftar yang harus ku beli di minimart depan komplek.

 

“Sekarang saatnya memasak” ujarnya begitu aku tiba dari pintu depan. Begitu mempesonanya gadis itu menggunakan apron biru laut nya dengan centong dan spatula di kedua tangannya menyambutku. Begitu ceria, tulus, dan aku akan kembali merelakan sisa waktuku untuknya.

Aku hanya tersenyum saat dia menghambur dengan apron yang lain kearahku. Memasangkan apron hijau itu padaku setelah kuletakan belanjaanku diatas meja dapur.

“Kita mau masak apa?”

Steak and pasta jelas” jawabnya dengan ringan.

“Kau serius? Kita tidak akan selesai tepat waktu makan malam” kemudian ia kembali tersenyum.

“Tenang, kau akan dapat bantuan” ujarnya dengan nada congkak yang ia sengaja, seraya mengarahkan jempol pada dirinya sendiri. Dan akhirnya kami memulai memasak. Lihat apa yang salah dengan gambaran seperti ini? Semua orang pasti tak akan pernah mengerti. Mereka selalu mengagungkan ikatan yang kasat mata, tapi tidak dengan ikatan jiwa. Meskipun ia seperti apel, rasa masam dan manis yang serasi, dan aku ibarat kayu manis, hanya beraroma kuat tanpa rasa yang mengikuti. Namun entah bagaimana kami bisa membaur menjadi sajian yang tepat. Jiwa memang adalah rahasia Tuhan.

 

Melihatnya begitu bersemangat mencoba memasang alat panggangan, seolah ia telah mengalihkan makalah-makalah J.D.Palmer, Gymnosperms, dan segala hal tentang ranting-ranting dan dedaunan itu darinya. Hal-hal yang sangat-sangat ia minati itu, dan menggantinya dengan memasak. Tapi entah kenapa sosoknya begitu familiar dilingkungan ini sekarang. Gadis itu memang sungguh mengagumkan. Bersenandung riang, kegembiraan dan pesonanya menular pada jagad raya.

Musik mengalun pelan dari ruang tengah, suaranya sayup diantara retakan-retakan minyak diatas penggorengan. Melihatnya berjibaku dengan pisau dan segenggam wortel membuatku tersenyum dan menyadari, betapa ia selalu serius melakukan segala hal dalam hidupnya, tidak sepertiku yang hanya meledak-ledak dipermukaan saja. Sama seperti kembang api yang meledak dasyat dan meriah dalam waktu sekejap saja. Meninggalkan sekecap takjub dan lalu dilupakan.

“Kenapa kau tak jadi Chef aja?” Tanyanya tiba-tiba. Tidakah kau tahu ego tak akan membuatmu kenyang? Dan kenapa aku tidak jadi pelukis sekalian?

“Kurasa minatku bukan disini” kujawab tanpa menatapnya.

“Kau berbakat memasak” Dan itu jelas bukan alasan kuat untuk merubah ku jadi seorang idialis.

“Kurasa bakatku meramu, jadi mungkin aku tak akan sukses menjadi koki” aku masih sibuk dengan pasta diatas panci dihadapanku.

“Sayang sekali. Yah, setidaknya kau selalu memasak untuk aku” dan apa lagi yang kau minta selain hal itu. Karena aku tak bisa melakukan hal-hal lain selain yang seperti ini untuk mu. Berhentilah membuatku sadar, bahwa aku adalah orang gagal. Kumohon.

Dan kemudian saat kubalikan wajahku kearahnya, wajahnya sudah beberapa inci dariku. Tatapannya sejajar dengan mataku. Seolah ada tangan-tangan tak terlihat yang selalu menekan tombol Pause ditiap kali kutatap matanya.

“Kenapa?” Tanyaku saat tampak beberapa lama Marla hanya terdiam saja menatapku. Kemudian masih dalam diam dengan wajah yang tak dapat dibaca maksud nya, ia menggerakan tangannya memintaku merunduk. Kulihat ia sudah tampak berjinjit meski wajahnya masih saja setinggi daguku.

Dan begitu aku menurunkan tinggiku sejajar dengannya, dengan cepat ia mengecup bibirku. Ia selalu melakukan serangan-serang yang berulang kali membunuhku di tempat dalam sekejap.

“Ucapan terima kasih” ujarnya centil seraya kembali kedepan meja dapur mengeluarkan daging dari panci yang baru saja mendidih, sebelum aku sempat bertanya mengenai apa sebenarnya itu tadi.

“Terima kasih apa?”

“Selalu memasak untuk ku” Tampak ia mulai menyalakan api di panggangan. Enigma yang satu ini tak pernah habis aku pecahkan.

 

Masakan selesai terlalu jauh dari jam makan malam. Sembilan lima belas. Semua sajian sudah terhidang dengan cantik diatas meja, dihias sedemikian rupa. Tak lupa sepasang lilin, berdiri apik ditengah-tengahnya.

“Baiklah kalau begitu, sana mandi dulu” ucap Marla seraya melepaskan apronku. “Hari ini kita ada kencan jadi jangan lupa pakai jas terbaikmu” tambahnya dengan nada paksaan yang dibuat-buat. Absurd. Aku tak pernah dapat menandai pola pikirnya. Dan memang tak ingin berusaha memahaminya. Malahan sejujurnya aku selalu menikmati saat dimana aku harus menebak-nebak reaksinya. Mystery is always attractive.

 

Aku menantinya diruang makan setelah selesai mandi dan sudah ber tuxedo. Dan tak lama kemudian Marla muncul dari kamar dengan gaun maroon dari lima tahun yang lalu. Melihatnya membuatku dipaksa kembali meraih ingatan masa lalu, saat aku menghadiahkan itu untuk nya. Ia tak pernah berubah sejak saat itu, seolah waktu berhenti berdetik didirinya. Ia bagaikan ledakan stellar di ruang hampa. Anggun namun juga mengagumkan dalam waktu yang bersamaan. Memendarkan keindahan yang bertahan hingga jutaan tahun cahaya. Entah apa jadinya bila Sang Penulis Nasib tak pernah dengan sengaja menuliskannya bersamaku.

Gadis itu tampak berdiri dengan sebotol champagne ditangannya. Entah kapan dia membelinya. Mungkin ketika aku masih dalam pengasingan pekerjaanku. Dia tersenyum seraya mengambil dua gelas mendekatiku. Menyerahkan botol itu kepadaku.

“Kapan kau membelinya?”

Ia tertawa kecil, “apa aku berhasil membuat kejutan untukmu?” Iya, kau berhasil, selalu dan akan terus berhasil meski tiap hari kau lakukan.

“Apa yang sedang kita rayakan?”

“Kau lupa?” Aku selalu tidak pernah peduli dengan penandaan suatu moment pada hari dan perayaannya kembali. Tapi bukannya kau juga tak perduli dengan hal semacam ini?

Happy Anniversary” ucapnya kemudian. Senyumnya kembali menyibak langit malam. Aku dipaksa terdiam mendengarnya. Apa ketidak pedulianku ini sudah keterlaluan? Aku benar-benar tak pernah mengingat hal ini.

Dan kini kami kembali lagi pada hari dimana semuanya bermula. Awal dari kesepakatan jiwa kami untuk terus ada disisi masing-masing. Satu tahun lagi terlewat tanpa kusadari. Mungkin karena tekanan kehidupan yang selalu membuatku berlarian mengejarnya, yang menyebabkan waktu terlewat dengan begitu saja. Kini seperti seseorang baru saja berteriak lantang tepat di telingaku, dan membuatku sadar betapa aku telah menyikan waktu ku. Sekian lama aku disibukan mencari alasan mengapa dia harus ada dihidupku, dan telah kilaf aku melupakan bahwa sebenarnya gadis itu sudah menjadi bagian dari ku sejak pada awalnya. Dan sekarang kenapa aku masih disini? Kuletakan champagne itu keatas meja dan mendekatinya.

“Menikahlah dengan ku”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s