\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 7\part2

Sementara Nico dan Winnie bertahan menghadapi empat Lochus sisanya. Praktis hanya Nico saja yang bertahan menghadapi empat lawannya itu. Sementara Alice masih tergeletak tak sadarkan diri diluar kandang.

“Kau tak apa-apa Win?” Tanya Nico ke Winnie sementara matanya tak lepas dari ke empat lawannya yang terlihat sedang mencari celah menyerangnya.

“Aku baik-baik saja, tapi Alice,” ucap Winnie dengan nada kuatir “aku harus segera memeriksanya sebelum semuanya terlambat” ucapnya lagi.

“Kurasa kau harus mengkawatirkan yang ini dulu” ucap Nico yang telah siap untuk sekali lagi melancarkan serangan kearah para lawannya itu.

Terlihat kemudian ketiga dari empat Lochus itu memasang kuda-kuda dan mulai dengan perlahan menyebar memutari Nico dan Winnie. Sedang satu diantara nereka berjalan menuju tubuh Alice yang tergeletak diluar.

Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 7\part1

Bagian 7

_Penolong Misterius

 

 

Terlihat malam mulai menyelimuti desa. Kein terlihat memperhatikan berkeliling. Desa kecil dengan hutan membatasi dibagian belakangnya. Tempat yang salah untuk bermalam. Para Lochus itu akan susah ditebak akan muncul dari arah mana, dan akan sangat mudah bagi mereka mengintai dari dalam hutan. Kein terus berfikir bagaimana dia bisa meminimalis kekacauan didalam desa bila terjadi pertarungan nantinya. Bagaimana caranya menjauhkan para Lochus itu dari desa? Fikirannya terus melayang sampai kemudian seseorang membuyarkannya.

Continue reading

\\Cerita 1\Castle\part2

Kemudian terdengar suara-suara tidak jelas dari speaker-speaker yang menggaung diluar. TripleVi milik Jeft perlahan mengurangi kecepatanya. Dan tak berapa lama berhenti lagi disebuah hanggar lain didekat gedung utama, terparkir rapi mengikuti pola-pola TripleVi yang datang lebih dulu. Kemudian kelompok Jeft yang baru datang segera turun menyusul beberapa kelompok yang sudah berbaris dalam bentuk kompi-kompi kecil didepan sebuah entrance, menanti instruksi selanjutnya.

Jeft berdiri dibagian kiri barisan, disebelah kiri Spark. Tampak pula Maya disebelah kanan Spark dan Hoppy disebelah Maya. Keadaan masih terlihat ramai sebelum kemudian terdengar dari sebuah speaker diatas entrance.

“PERHATIAN!! PERHATIAN!!”

Continue reading

\\Cerita 1\Castle\part1

Cerita Satu,-

 

—CASTLE

 

Pagi itu kereta HyperExpress jurusan CASTLE melaju tenang diantara hiruk pikuk kota terapolis Rhyme-City, disektor High, distrik Seven, kawasan Dome of Siren 65Km dari ibu kota Quatlantic Federation—Neo Atlantic. Dalam kereta sudah dipenuhi oleh beberapa anak calon murid CASTLE, yang hampir seluruhnya ditemani oleh keluarga mereka. Pemandangan yang biasa terlihat dipertengahan bulan September, awal ajaran baru. CASTLE semacam sekolah pra-militer yang dikhususkan untuk para remaja sebagai langkah pengantisipasian datangnya The Necro untuk yang kedua kalinya. Semacam sekolah menengah kejurusan, dengan pembekalan pengajaran-pengajaran yang menitik-beratkan pada skill-skill dibidang kemiliteran dan tehnik mempertahankan diri, disamping pemberian pelajaran-pelajaran formal biasa.

Continue reading

\\Cinta itu memang tidak ada

Cinta itu memang ada, tapi dimana aku saat semua orang jatuh cinta? Terbaring, terlelap, tak tersadarkan, oleh keadaan yang memaksaku bermimpi. Dan saat ku katakan, cinta itu tidak ada. Kau datang, bukan dengan segenggam penjelasan dan alasan, tapi sebuah pengajaran tentang hal yang membingungkan, yang mereka sebut-sebut dengan cinta.

Masih bersandar diatas ketidak pastianku. Rindu yang meneteskan air mata, membisikan telingaku tentang kesendirian yang dingin. Memaksaku melangkah walau gontai, meraih keberadaan mu diluar duniaku. Tersenyum kau, dan meraih ku saat ku ulurkan tanganku, ku harap. Tapi satu takutku yang tak terbayangkan untuk ku sandang, telah kau pakaikan pada mahkotaku. Jatuh ke bawah. Tanpa kusadari, aku sudah berada di luar dengan menggigil di bawah dingin nya kekecewaan. Dan bila ku katakan sekali lagi, bahwa cinta itu tidak ada. Kau dengan anggun berkata, ketidak percayaan ku akan selalu memburu benak ku dengan kepicikan. Entah mengapa kau lakukan hal itu padaku. Memaksa ku untuk sadar bahwa cinta itu memang ada, dan nyatanya sangat menyakitkan.

Lama dalam luka kepedihan, kuputuskan untuk menyerah pada kenyataan, dan melupakan kelelahanku menanti. Aku kembali mengemas semua rasa yang telah kuberikan padamu, dan beranjak. Tapi satu dari sekian keindahan mu datang memohon padaku, untuk selalu diam dalam sisi kesepianmu. Entah siapa yang terluka dan entah siapa yang di lukai. Kini aku menenukan sunyi bagianmu. Namun terlalu jauh, ia tak mampu dijangkau. Walau lenganku terjulur kuat. Dan tertata janggal dalam susunan warna hidupmu, yang tak pernah berhenti untuk tersenyum.

Cinta itu memang ada, tapi dimana aku saat semua orang jatuh cinta? Terbaring, terlelap, tak tersadarkan, dalam impian cinta orang lain. Berharap itu mimpiku, yang telah lama peraduanku menantinya.

Continue reading

\\2.2

Ini hari sabtu ternyata. Terlihat ia memakai celana pendek biru lautnya. Ia terlihat sangat bersemangat. Aku tak bisa tegar melihat semangat seperti itu. Mata yang bersinar, senyum mengembang, dan gerak yang penuh energi. Sedang aku mati tiap malamnya dan terlahir kembali tiap subuhnya. Hanya itu. Berputar namun tak dapat merasakan apapun. Tapi aku masih belum iri atau cemburu dengan segala kepositifan yang mengauli dan mengawininya itu.

Kini ia bergerak. Berjalan. Marla, nama itu kini memiliki arti baru. Keindahan gerak. Seolah ia lahir dengan bawaan essensi gerak yang selaras. Dan aku akan menghabiskan separuh waktuku untuk mengapresiasinya. Mungkin kami memang berjalan bersamaan, tapi kami berjalan dijalur yang berbeda. Dengan tujuan yang tak pasti. Mungkin jalurnya akan bersinggungan, tapi tak akan pernah sejajar. Dan aku juga tak mencoba untuk itu.

Continue reading