\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 6\part2

Dan tak menunggu-nunggu lagi Lycan itu segera menghampiri Hino dan mengangkat palunya tinggi-tinggi bersiap untuk meremukan kepala Hino. Namun tiba-tiba dua anak panah menancap tepat dikepala mahluk itu. Dan dengan praktis menghentikan gerakannya dan merobohkan mahluk itu. Dengan susah payah Hino menatap kearah anak panah itu datang. Tak diduga, tampak Roland dengan busur ditangannya. Berdiri diatas sebuah batu dengan tiga pengawalnya. Hubert telah siap dengan pedang ditangannya, Luijz dengan sarung tangan besinya dan Deuter dengan busur seperti Roland.

“Roland?” Hino terkejut mendapati Roland ada ditempat itu.

  Tidak merespon, Roland segera mengambil anak panah dari sarung kulit yang ia gantung dipinggang, dan mulai membidik sasaran lagi. Diikuti oleh Deuter. Sementara Hubert dan Luijz segera berlari membantu rombongan Lumier yang jelas-jelas tak sanggup menghadapi para Lycan itu.

Melihat hal ini, Hino merasa benar-benar tak berguna. Terlihat Sverdinal tadi mati-matian melawan lebih dari lima Lycan itu sekaligus. Lumier dan rombongannya berjuang mati-matian menjauhkan mahluk-mahluk setengah serigala itu dari para wanita dan anak-anak. Kemudian Roland dan para pengawalnya yang sigap membantu para pengelana Azzure itu, dan bahkan membantu dirinya. Sedang ia hanya mampu melihat, terluka, tak ubahnya para wanita dan anak-anak yang seharusnya ia lindungi itu.

“Sial! Lagi-lagi aku tidak bisa berbuat apapun. Lalu apa gunanya aku sebagai seorang Summoner?” Hino mulai kesal dengan dirinya sendiri, “ayo keluarlah kalian!”

Hino kembali mencoba untuk berkonsentrasi. Kembali ia mencoba memanggil Zephyr. Salah satu Animanya yang pernah ia panggil. Namun sekuat dan selama apa ia berkonsentrasi memanggil, Anima itu tidak datang.

“Sial! Apa yang harus ku lakukan untuk memanggil kalian? Coba katakan!” Hino berteriak-teriak sendiri saat ia melihat satu wanita terpelanting karena pukulan salah satu Lycan-Lycan itu dan kemudian tampak seorang anak kecil disamping wanita tadi yang siap untuk jadi sasaran berikutnya. Melihat hal itu membuat Hino merasa berang.

Tiba-tiba kejadian yang seperti terjadi di WindGhoul terulang. Tubuh Hino mulai bersinar. Kali ini berwarna putih pucat. Seraya berteriak kencang yang menjadi perhatian semua mahluk yang ada disitu. Angin berubah menjadi beku menerpa semua benda diatas daratan dengan suara bergemuruh.

“Hino?” Roland menatap Hino yang kini berdiri dengan rongga mata yang penuh dengan cahaya putih seperti saat di WindGhoul.

Summoner itu?” Ray yang berada jauh diujung pohon itu tampak terkejut, tak ubahnya Urg’ash, si pria Sverdinal, dan gadis Narva itu.

Sementara kini Hino sudah berdiri tegak. Muncul dari ketiadaan seperti asab yang berkumpul menjadi sesosok serigala kelabu. Nyaris sebesar beruang, dengan gelang perak disetiap kaki-kakinya. Bergerak pelan mengelilingi Hino dengan tatapan tajam kearah para Lycan yang kini mulai waspada terhadap Hino. Perlahan Hino mengangkat tangan kanannya kedepan yang direspon oleh serigala itu dengan lolongan yang memekakan telinga dan posisi seperti hendak melakukan ancang-ancang untuk menerkam.

Namun tiba-tiba angin mulai berubah arah. Terasa suhu udarapun menurun dengan sangat cepat. Kemudian terjadilah badai salju dengan mendadak. Angin menderu dengan kencangnya dari arah belakang Hino berdiri meniup kedepan, kearah para Lycan-Lycan itu berada. Dan juga rombongan Lumier, gadis Narva, dan Sverdinal itu. Udara-udara yang membeku berubah menjadi butiran-butiran es yang menyengat. Menghantam tanpa ampun dan membekukan semua benda dalam lajunya. Para Lycan mulai kualahan menghadapi badai ini, juga dengan rombongan Lumier.

“Hino!” teriak Roland yang melihat Hino menyerang tanpa pandang bulu. Kemudian ia berlari menuju kearah Hino berada. Namun tak sampai lima langkah dari posisi Hino berdiri, Roland dihentikan oleh srigala kelabu tadi.

Para pengawal Roland mencoba membantu para pengelana Azzure itu untuk berlindung dari badai yang mengamuk tanpa ampun itu. Beberapa orang bersembunyi dibalik bebatuan atau pohon-pohon yang besar. Sebagian mencoba merebahkan diri serendah mungkin diatas tanah.

“Hino! Cukup!” terikan Roland tak digubris oleh Hino.

Melihat hal ini, sang Sverdinal berlari menuju kearah Hino dengan pedang terhunus. Ia hendak menghentikan Hino. Pria itu melompat mendekat dan menebaskan pedangnya ke arah Hino. Belum sempat menyentuh tubuh Hino, tiba-tiba serigala kelabu tadi melompat dan menangkis pedang Sverdinal itu dengan gigitannya. Sang Sverdinal itu melompat mundur dan menyiapkan kuda-kuda untuk kembali menyerang. Sementara serigala kelambu itu juga sudah berdiri dihadapannya memasang ancang-ancang untuk melakukan terkaman.

“Sialan! Bagaimana bisa ada Summoner disini?” ucap Urg’ash seraya bertahan dalam badai yang semakin mengganas. Melihat para anak buahnya yang berpostur besar dan sangat sulit untuk berlindung dengan bersembunyi, maka Urg’ash memilih untuk melarikan diri, “Ray, aku tak bisa membiarkan anak buahku jatuh lebih banyak lagi” teriaknya kemudian kepada Ray. Tampak beberapa anak buahnya sudah terlihat membeku tak bernyawa, “aku akan mundur dulu. Terserah kau mau bilang apa pada Hera” tambahnya seraya melompat kembali ke Hypossultnya.

“Mundur!” teriak Urg’ash memerintahkan anak buahnya, seraya menarik kekang Hypossult nya dan pergi dari tempat itu. Diikuti para Lycan-Lycan yang lain dengan susah payah.

“Cih, dasar pengecut. Mahluk tanpa otak” ucap Ray, “apa yang harus kukatakan kepada Hera?” gerutunya sebelum lenyap begitu saja seperti ditelan malam.

Sementara Sverdinal itu menghadapi srigala kelabu tadi, Roland secara diam-diam membidik lengan Hino. Ia berpikir mungkin ini bisa menghentikan Hino.

“Maafkan aku Hino” ucap Roland sebelum ia melepaskan anak panahnya kearah Hino. Namun mengecewakan. Belum juga menyentuh Hino, anak panah itu itu berbelok arah karena terpaan angin yang berputar disekeliling Hino.

Tubuh gadis Narva tadi mulai tak mampu bertahan dalam kondisi seperti ini. Tidak juga para pengelana Azzure. Walau mereka sudah mencoba untuk bersembunyi sejauh mungkin dari Hino.

Summoner itu tampaknya tak mampu mengendalikan kekuatan Anima nya” ucap gadis itu setelah lama mengamati Hino, “Nirjiwa! Brian! Tak ada gunanya, Summoner itu tak akan tersentuh. Aku akan mencoba melakukan mediasi dengan nya” teriak gadis itu kepada sang Sverdinal.

  Mendengar ucapan gadis tadi, sang Sverdinal bernama Brian itu mundur ketempat gadis tadi bersembunyi.

“Apa tidak berbahaya melakukan itu?” tanya Brian setibanya ia didekat Gadis Narva tadi.

Gadis itu hanya menggelengkan kepala pelan seraya menggigil. Kemudian memejamkan matanya dan berkonsentrasi memasuki Rat milik Hino.

Tampak Hino berdiri disebuah area penuh cahaya dan berkeliling menatap sekitar. Tiba-tiba terlihat seorang gadis yang entah muncul dari mana menghampirinya.

“Siapa kau?” tanya Hino terkejut.

“Namaku Sabrina” ucap gadis itu, “kau harus berkonsentrasi dan cobalah untuk kembali kedunia nyata” ucap Sabrina kemudian.

“Apa maksudmu?” Hino lebih tak mengerti tentang ucapan Sabrina.

“Sekarang Anima mu sedang mengamuk dan membahayakan banyak orang disekitar” jelas Sabrina, “cobalah untuk tenang dan kendalikan emosimu”

“Apa yang kau bicarakan? Aku sedang tak memanggil Anima apapun sekarang. Dan lagi bagaimana kau tahu aku seorang Summoner?” tanya Hino masih tak mengerti tentang gadis dihadapannya ini.

“Cobalah untuk berkonsentrasi dan keluar dari Rat mu ini” ucap Sabrina tidak menjawab pertanyaan Hino, “tubuhmu didunia nyata mengalami Nirjiwa. Kau akan membahayakan orang lain” tambahnya lagi.

“Apa? Bagaimana mungkin aku mengalami Nirjiwa?” Hino tak percaya.

“Percayalah. Dan sekarang berkonsentrasilah, sebelum semuanya terlambat” pinta Sabrina.

“Siapa kau sebenarnya? Bagaimana kau bisa berada dalam Rat orang lain?”

“Sudahlah nanti saja penjelasannya, sudah tidak ada waktu” saut Sabrina.

Kemudian Hino menutup mata dan mencoba berkonsentrasi untuk keluar dari dimensi para Anima nya ini. Pemandangan dalam benak Hino tiba-tiba memperlihatkan kejadian didunia nyata. Dimana tubuhnya sedang mengalami Nirjiwa. Saat hendak masuk kembali ketubuhnya didunia nyata, ia merasa didorong keluar. Hino membuka matanya dan ia masih berada di alam para Anima nya. Dan mendapati Sabrina masih ada disitu.

“Aku tak dapat kembali ketubuhku. Sesuatu mendorongku kembali kemari” ucap Hino menjelaskan pada Sabrina, “dan bagaimana aku bisa mengalami Nirjiwa?” susulnya tak percaya.

“Kau terlalu melepas emosimu saat memanggil Animamu” ucap Sabrina, “dan sekarang cobalah untuk tenang. Diluar sana semuanya sudah aman. Para Lycan itu sudah pergi. Kau tak perlu kuatir lagi” tambah Sabrina menenangkan.

Hino terdiam menatap Sabrina. Dalam hatinya ada sedikit rasa curiga terhadap gadis dihadapannya ini. Kemudian ia menghelai nafas, “baiklah akan aku coba” ucapnya kemudian seraya menutup matanya dan berkonsentrasi. Ia berusaha mengatakan pada dirinya sendiri untuk tenang. Bahwa semua sudah baik-baik saja.

Dan tampaknya berhasil. Perlahan Hino merasa tubuhnya didunia nyata mulai menerimanya. Dan begitu ia sudah sepenuhnya kembali ketubuhnya lagi, segera badai beku tadi mereda bersamaan dengan serigala kelabu yang menghilang bagai asab tertiup angin. Hino merasa sangat lemah. Seolah ia baru saja berenang ribuan mil tanpa istirahat. Jantungnya memacu terlalu cepat. Paru-parunya membutuhkan udara dengan segera, dan kepalanya perlu oksigen. Tak mampu menahannya, Hino pingsan untuk kesekian kalinya.

~0~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s