\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 6\part1

Bagian 6

_Nirjiwa

 

 

Mereka selesai makan malam. Para wanita mulai membereskan sisa-sisa makan malam. Beberapa pemuda mulai memasang peralatan tidur mereka. Sementara Hino dan Lumier meneruskan percakapan mereka sebelumnya masih didepan api unggun yang sudah mulai sepi.

“Kami pengelana dari Azzure” kali ini dijawab oleh Lumier.

“Pengelana dari Tanah Bebas Azzure? Wah sebegitu jauh kalian dari kampung halaman.”

“Kami adalah salah satu dari suku nomad dibagian selatan Tanah Bebas Azzure” ucap Lumier lagi, “suku kami terdiri dari puluhan keluarga yang selalu melakukan perjalanan sambil berdagang untuk memenuhi kehidupan kami. Kami melintasi Elder. Dari ujung barat ke ujung timur. Dari selatan ke utara” tambahnya lagi.

“Apa kalian tidak pernah merasa lelah dan mencoba untuk berhenti?” tanya Hino kemudian.

“Ya, pernah terlintas pertanyaan itu dalam benak. Mungkin kelak bila tubuh sudah tak mampu lagi berjalan” jawab Lumier dengan tersenyum, “tapi bukankah sebenarnya kehidupan itu adalah perjalanan” tambahnya kemudian, saat nampak beberapa wanita bersiap-siap menidurkan para anak-anak. Terdengar salah seorang pemuda memainkan alat musik-petik nya dari bawah sebuah pohon rindang tempatnya bersandar. Melodinya menghangatkan perasaan. Beradu harmoni dengan nyanyian angin bukit.

“Perjalanan? Saya selalu tidak mengerti dengan istilah-istilah dalam memaknai sesuatu semacam itu” saut Hino dengan senyuman kecil, “mungkin saya orang yang kurang peka”

“Ha,ha,ha… anda lucu sekali tuan Hino. Hidup itu selalu punya tujuan. Dan semua perjalanan selalu punya tujuan. Mereka serupa. Tapi jangan biarkan sampai kehidupan membuat anda berlarian” ujar Lumier seraya menyalakan potongan tembakau kering dalam sebuah pipa pipih yang memanjang, “atau anda yang melarikan diri dari kehidupan” tutupnya dengan senyuman dan kemudian memasang pipa itu dalam mulut.

Hino hanya  tersenyum menjawab senyuman pria brewok dihadapannya itu “Yah, meski saya tak terlalu paham maksudnya, namun saya sedikit mengerti tentang gambaran kehidupan tadi” tutupnya yang di sambut oleh tawa Lumier diantara asab tembakau yang keluar dari mulutnya.

“Hidup itu memang terlalu sempurna untuk diraih dengan satu tangan, namun hidup itu terlalu pahit untuk tidak dihiraukan” ucap Lumier kemudian.

“Sudahlah sayang, cukup dengan filosofi-filosofi mu itu. Sekarang biarkan tuan Hino beristirahat, lihat malam sudah mulai larut” tiba-tiba terdengar suara lembut dari seorang wanita baya disamping Lumier.

“Oh maafkan saya, ternyata sudah selarut ini. Silahkan bila anda ingin beristirahat tuan Hino” ucap lumier kemudian dengan tawa khas nya. Hino membalas dengan senyuman.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan yang keras hingga menggema diseluruh bukit. Seluruh laki-laki yang ada disitu segera terjaga. Tampak para wanita keluar dari dalam tenda dengan kuatir. Anak-anak mulai menangis karena terkejut. Sedang Hino curiga itu adalah ulah prajurit-prajurit kerajaan pusat.

“Apa itu?” wanita baya tadi bertanya.

“Kuharap itu bukan hal yang buruk” ucap Lumier

Terdengar lagi dua ledakan secara beruntun membuat situasi semakin tegang. Beberapa lelaki mengamankan para wanita dan anak-anak.

Mendadak muncul seorang gadis Narva dengan berlari tergesa, dibalik rerimbunan pohon dari arah selatan, yang membuat Hino dan rombongan Lumier terkejut.

Melihat Hino dan para pengelana Azzure, gadis Narva itu tampak lebih terkejut. Seolah tidak percaya, “oh, tidak! Rombongan pengelana” ucapnya yang kemudian menatap kebelakang seolah sedang menunggu sesuatu yang buruk akan terjadi.

Benar saja, tak berapa lama kemudian terlihat sosok tinggi-besar berbulu keluar dari arah gadis tadi keluar. Tak lama menyusul empat lagi, yang menyebabkan kepanikan pada Hino dan rombongan Lumier. Segera mereka bersiaga dengan menyiapkan senjata mereka masing-masing.

Dan setelah terkena cahaya api unggun dan sinar rembulan, tampaklah sosok seperti manusia setengah srigala dengan bulu berwarna nila-kelabu, yang tingginya sekitar dua kali tinggi manusia biasa sedang berdiri memandang kesegala arah penuh waspada. Manusia srigala itu memakai pakaian seorang pemburu dengan beberapa tempat ditutupi lempengan-lembengan besi yang tampak bekas sabetan pedang disana-sini. Tampak pula sebuah lambang kepala serigala tertoreh diatas besi pelindung dada mereka. Lambang serikat petarung yang dikenali Hino dengan Taring Rembulan. Serikat petarung Yllgarian yang baru saja diceritakan oleh Roland padanya. Para petarung Lycan dari ujung timur Elder.

Kemudian tampak satu dari lima Lycan itu mengangkat kapaknya bersiap menebaskannya kearah gadis Narva tadi.

“Awas!” teriak Hino serta merta melihat kejadian itu.

Tiba-tiba kapak yang siap ditebaskan kearah gadis Narva tadi terjatuh ketanah dengan berdebam. Kemudian terlihat Lycan tadi melolong kencang sembari memegang pergelangan tangan kanannya yang sekarang sudah tidak ada ditempatnya semula. Hino belum mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.

Tak lama berselang dari belakang lima Lycan tadi melompat seseorang lain dengan pedang siap menebas. Dan tak lebih dari dua menit lima Lycan itu tumbang tanpa perlawanan yang berarti. Semua orang yang ada disitu menatap kagum.

Pria itu menyarungkan pedangnya sebelum berjalan balik menuju gadis Narva tadi berdiri. Tampak tanda kerajaan pada pedang pria itu. Hino mengenalinya sebagai lambang kerajaan bagian Phatonica. Seorang ksatria dari Phatonica namun berperawakan Seithr. Hino mengenalinya sebagai seorang Sverdinal. Sang Sverdinal kilat.

“Maaf kan kami, karena telah membuat kalian terkejut dan takut” ucap gadis Narva itu, “tapi sekali lagi maaf kami harus segera pergi” tambahnya.

“Tunggu dulu” ucap Hino yang kemudian dipotong oleh suara-suara keras lagi dari arah gadis dan Sverdinal itu tadi muncul. Kemudian terdengar suara pepohonan yang tumbang dan getaran-getaran yang mengiringinya.

“Sial mereka datang lagi” ucap Sverdinal tadi seraya memasang kuda-kuda dengan pedang siap pada genggaman tangan.

“Apa itu?” Hino tampak kuatir. Bahkan Lumier kini telah menggangkat tombaknya.

Muncul dengan penuh perusakan, sesosok binatang berkaki empat setinggi tujuh kaki. Tampak seperti kuda nil dengan pelana untuk dua orang dipunggungnya. Beberapa jirah besi terpasang di bagian kepala, kaki dan sisi samping tubuhnya.

“Hyporride?!” tampak Hino terkejut melihat binatang ini. Karena umumnya binatang ini hanya dapat hidup dirawa-rawa saja.

“Bukan, ini Hypossult” ucap Lumier lebih tak percaya akan pengelihatannya.

“Hypossult?”

“Biasa dipakai oleh orang-orang Giagale untuk membuka jalan saat hendak membuat lahan baru dihutan. Atau sebagai alat penarik bebatuan tambang di bukit-bukit. Sejenis dengan Hyporride, namun ia hidup didaratan kering” jelas Lumier.

Binatang besar itu berhenti. Dari atas pelana dipunggungnya melompat sesosok yang sama dengan Lycan yang telah dikalahkan oleh ksatria Phatonica sebelumnya, hanya yang ini memiliki pakaian dengan pelindung besi lebih banyak. Dan begitu melihat lima temannya mati, ia segera melolong kencang yang membuat bulu kuduk orang yang ada disekitar tempat itu meremang.

“Kalian semua harus menerima akibatnya” ucap Lycan itu dengan suara berat dan penuh kemarahan, “kalian semua harus mati!” tutupnya seraya mengangkat kapaknya siap menyerang sang Sverdinal.

“Hentikan Urg’ash” terdengar suara yang menghentikan Lycan itu menyerang.

“Siapa?!” ucap Lycan yang dipanggil Urg’ash itu dengan kesal.

“Ingat, Hera mengiginkan mereka hidup-hidup” terdengar lagi suara itu, yang kali ini terlihat berasal dari jauh dipuncak sebuah pohon pinus. Berdiri seorang gadis berpakaian serba hitam, dengan rambut yang dikuncir kuda melambai tertiup angin.

“Ray?!” terdengar Urg’ash terkejut, “mengapa kau ada disini? Bukankah kau ditugaskan menjaga Bilanos?” ucapnya kemudian.

“Tutup mulutmu. Tak usah berkata yang tidak perlu. Tangkap saja gadis itu hidup-hidup” ucap gadis bernama Ray itu memerintah.

“Aku tahu itu” jawab Urg’ash dengan kesal. Dan kemudian Lycan itu melakukan lolongan panjang sekali lagi.

Tak lama kemudian puluhan Lycan lain menyeruak dari balik hutan dengan tampang beringas dan senjata yang diacung-acungkan ke udara.

“Tangkap gadis dan Sverdinal itu!” ucap Urg’ash memerintah anak buahnya untuk menyerang, “dan bunuh sisanya”

Mendengar hal tersebut segera Hino melangkah mundur dan segera mencari sesuatu untuk senjata.

Terlihat para lelaki suku nomad Azzure itu berjuang mati-matian menghadapi mahluk-mahluk yang tak seimbang dengan mereka, untuk menyelamatkan para wanita dan anak-anak. Sementara nampak satu Lycan dengan palu besar berlari menuju kearah Hino. Jelas tak sepadan palu besar itu dengan tongkat kayu yang sekarang digenggam oleh Hino. Dengan segera Hino berkonsentrasi untuk memanggil salah satu Animanya untuk keluar.

“Zephyr keluarlah!” teriak Hino kemudian. Namun tidak tampak perubahan apapun disekitarnya. Anima yang dipanggilnya tidak muncul. Sedangkan Lycan berpalu itu semakin mendekat. Tanpa berpikir lagi, Hino segera berlari menghindar. Namun dengan selangkah saja mahluk setengah srigala itu sudah dapat mengimbangi dua langkah Hino. Maka dengan sangat mudah Lycan itu berhasil menyusul Hino. Dan dengan palunya, mahluk itu berhasil melempar Hino dengan sekali tebas. Hino terpelanting jauh dan sulit untuk bergerak lagi. Tangan dan rusuk kirinya terasa sakit. Mungkin patah karena hantaman palu tadi, pikirnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s