\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 5\Part2

Hampir menjelang sore Hino kembali ketempatnya menginap. Ia merebahkan tubuhnya keatas ranjang. Memejamkan mata seraya berpikir tentang hal tadi. Apa yang belum cukup? Bagaimana cara memangil mereka? Pertanyaan itu terus berulang dalam benak Hino.

“Hino, apa kau tidur? Makan malam sebentar lagi siap” terdengar suara Roland setelah ketukan kecil dipintu.

“Iya aku akan segera kebawah” jawab Hino masih dalam posisi berebah.

 

“Kau kemana saja se-siang-an tadi?” tanya Roland saat mereka sudah berada dimeja makan.

“Oh, aku berkeliling desa ini” jawab Hino.

“Desa ini jadi sepi gara-gara kejadian ditanah Morra akhir-akhir ini” ucap Roland.

“Apa kau sudah punya kabar tentang apa yang terjadi di kerajaan pusat?” tanya Hino kemudian.

Roland mencondongkan tubuhnya kearah Hino, “menurut informanku, Master Logos yang melakukannya” ucapnya seraya berbisik.

“Kanselir?”

Roland mengangguk menjawab pertanyaan tak percaya Hino. Logos. Nama itu seolah memaksanya mengingat kejadian yang tak bisa ia lupakan setahun yang lalu. Meski Hino selalu menyembunyikannya pada yang lain, tapi karena orang bernama Logos inilah ia dan ketiga Summoner kerajaan yang lain melakukan ritual yang menyebabkan mereka harus kehilangan kemampuan mereka memanggil.

“Dua Kanselir melakukan kudeta?” Tanya Hino kemudian mencoba menepis ingatan itu dari kepalannya.

“Logos menyewa dua serikat petarung bukan-manusia untuk membantunya menduduki istana”

“Serikat petarung bukan-manusia?”

“Benar. Menurut informanku mereka adalah, Kabut Merah dan Taring Rembulan”

“Serikat petarung Yllgarian?”

“Benar. Dua klan tersadis yang dibuang dari kaum Yllgarian” jelas Roland, “Mugger dan Lycan” tambahnya.

“Berbahaya sekali menggunakan jasa dua klan terbuang itu” ujar Hino. Memang dari pertama Hino mengenal sang kanselir ini, ia adalah seorang yang memiliki ambisi besar untuk mendapatkan kekuatan. Apaun akan dilakukan oleh Logos demi memperoleh kekuatan itu.

“Oh, dan satu lagi. Ia juga dibantu oleh Summoner. Mantan Summoner kerajaan. The Autum” tambah Roland yang langsung membuat Hino lebih terkejut.

“Picsi?!” Tampak Hino memastikan yang dimaksud Roland.

Roland hanya mengangguk. Hino hanya terdiam seolah sedang mengingat sesuatu. Kenapa Picsi mau kembali bekerja kepada Logos setelah kejadian yang mereka alami setahun yang lalu? Hino tampak dipenuhi dengan tanda tanya yang semakin membesar.

“Aku akan pergi besok” saut Hino tiba-tiba.

Roland menghentikan makannya, “kau masih tetap ingin kesana?”

Hino hanya mengangguk. Tampak tekatnya sudah tak dapat dirubah lagi. Ia merasa harus mencari tahu tentang hal ini. Dan juga memastikan apakah Picsi sudah berhasil mengemblikan ikatannya dengan para Anima.

“Dan kenapa terburu-buru? Apa kau merasa sudah baikan?” tanya Roland kemudian.

“Tenanglah, aku sudah sehat. Dan aku sudah tidak punya waktu lagi” jawab Hino, “aku harus segera mencari tahu tentang kebenaran kabar ini. Dan lagi kemungkinan besar Nustor dan Logos, mereka bersekongkol. Jadi berbahaya juga bagiku, juga bagimu untuk tetap disini” karang Hino karena ia tak mau menceritakan alasan sebenarnya kenapa ia harus segera menuju Bhasanta untuk menemui Logos dan Picsi.

Roland masih belum melanjutkan makannya. Terlihat ia juga berpikir tentang perkataan Hino, “baiklah kalau begitu” ucapnya kemudian, “tapi aku masih harus menunggu kabar selanjutnya dari informanku” tutupnya kemudian.

“Sekali lagi terima kasih atas segala pertolonganmu. Aku berhutang padamu” ucap Hino kemudian.

Roland hanya tersenyum, “akan kuminta pelayan untuk menyiapkan bekal perjalananmu besok”

“Terima kasih” jawab Hino kemudian mengiringi Roland yang kembali makan.

 

Dalam tidurnya Hino kembali masuk dalam dimensi Animanya. Seorang diri berdiri diantara cahaya putih yang menyilaukan. Terlihat Hino memanggil-manggil para Animanya, namun tak satupun muncul.

“Kenapa? Keluarlah kalian. Beri aku petunjuk untuk memanggil kalian. Jangan tinggalkan aku sendiri”

Namun masih tak satupun dari Animanya muncul.

“Undine! Nymph! Eteriel! Falst! Fafnr!” Hino berteriak-teriak memangil.

Tiba-tiba cahaya yang menyilaukan tadi lenyap. Gelap tiba-tiba membuat mata Hino mendadak buta, tak mampu melihat apapun. Bahkan tidak juga tangannya sendiri.

“Apa kau tidak menyadari?” tiba-tiba muncul gaungan suara yang terdengar serak dan berat.

Hino memutar tubuhnya. Tapi ia tak mendapati apapun disana. Semuanya masih gelap gulita. Hino mencoba mencari-cari arah suaranya. Tapi gaung itu berasal dari dalam kepalanya.

“Apa yang telah kau lupakan?” suara itu terdengar lagi.

“Apa yang telah aku lupakan?” ucap Hino mengulangi pertanyaan dari suara tadi, “ingatkan aku” tambahnya kemudian.

“Suara yang berharga yang dulu ada dalam hatimu” suara itu kali ini menampakan wujudnya. Terlihat walau samar, serigala raksasa dengan warna bulu kelabu berdiri dihadapan Hino.

“Bewufl?” Hino sedikit terkejut, “beritahu aku apa yang telah aku lupakan?”

Serigala itu berjalan bolak-balik kiri-kanan dengan tatapan yang tak lepas kearah Hino, “aku tidak tahu. Kaulah yang memiliki ingatan itu” ucapnya lagi dengan suara berat.

“Tapi aku tak mengingatnya. Beri aku petunjuk” Hino masih memohon.

“Kaulah yang harus mengingatnya” ucap serigala itu sebelum perlahan tubuhnya memendar kemudian menghilang seperti asap kelabu yang tertiup angin.

“Tunggu dulu! Bewulf! Tunggu!” teriak Hino yang tiba-tiba sudah terduduk diatas ranjangnya. Nafasnya memburu. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya dan jantungnya berdetak tak karuan. Ia menatap berkeliling kamar tidurnya. Tampak cahaya menerobos sela-sela jendela yang tertutup. Nampaknya pagi sudah tiba. Ia harus segera meninggalkan desa ini.

 

Hari sudah mulai sore sejak Hino berjalan meninggalkan Bet-Zur. Jalanan benar-benar sepi. Biasanya jalur perdagangan antar kota ini sangat ramai dilewati. Kini jalanan besar ini hanya tampak dia seorang. Andai didesa Bet-Zur ada kuda, pasti dia tak akan bermalam di tengah jalan malam nanti. Pikir Hino. Tapi apa boleh buat, setidaknya ia akan sampai kerajaan pusat besok siang.

Tak berapa lama kemudian dari kejauhan tampak rombongan orang. Berpikir akan lebih aman bila bermalam secara berkelompok membuat Hino segera berlari menyusul rombongan tersebut. Ternyata rombongan pedagang nomad. Segera Hino menuju barisan paling depan untuk mencari sang pemimpin dan meminta ijin untuk ikut bermalam nanti.

Tampak dua caravan kecil dengan banyak ornament-ornament dari berbagai tempat dan kebudayaan disekelilingnya. Kemudian terlihat tiga keledai berjalan didepannya. Yang satu ditunggangi oleh wanita setengah baya, yang lain oleh dua anak kecil, dan yang terakhir ditumpuki beberapa karung diatas pelananya. Kurang-lebih empat belas orang ikut berjalan mengiringinya. Dipaling depan tampak seorang pria berwajah penuh brewok dengan badan kekar memanggul sebuah galah dipundaknya, sedang berjalan disamping seekor bison yang juga memikul barang-barang seperti keledai tadi.

“Selamat siang tuan” sapa Hino ke pria itu sembari berjalan menjajarinya.

“Oh, siang” jawab pria itu dengan suara berat.

“Nama saya Hino, saya hendak menuju kerajaan pusat. Bolehkah malam ini saya ikut bermalam dengan rombongan anda?” ucap Hino mengungkapkan maksudnya.

“Ya, silahkan. Kami sangat senang kedatangan seorang teman baru” jawab pria itu dengan ceria, kontras dengan wajahnya yang tampak menakutkan, “perkenalkan namaku Lumier” tambah pria itu mengenalkan diri.

“Terima kasih banyak tuan”

“Ha ha ha ha, jangan sungkan” jawab Lumier masih dengan riang, “benar anda ingin ke Bhasanta?” tanya Lumier kemudian yang dijawab dengan anggukan oleh Hino.

“Berhati-hatilah, kerajaan pusat sedang tidak tenang saat ini” ucap Lumier lagi, “saya sarankan untuk menunggu hingga suasana mereda sebelum memasukinya” tambahnya.

Hino menggangguk paham “ya, tapi ini karena masalah saya sudah tidak dapat ditunda lagi” jawabnya kemudian yang kali ini ganti direspon oleh Lumier dengan anggukan mengerti.

 

Tepat dibukit Kematian, diperbatasan tanah Morra dengan hutan El’Asa, mereka berhenti untuk bermalam. Saat matahari sudah benar-benar tak nampak di ujung cakrawala.

Seluruh rombongan segera menyiapkan perlengkapan untuk bermalam. Ada tujuh belas tepatnya termasuk Lumier. Lima wanita, tiga anak-anak, dan sisanya laki-laki, baik remaja maupun dewasa. Para laki-laki menyiapkan tenda dan tempat untuk tidur. Sementara yang perempuan menyiapkan api unggun dan makan malam.

“Hey tuan, ikutlah makan bersama” tiba-tiba seorang wanita datang menawari Hino saat ia sedang mengenyakan diri diatas sebuah batu besar, menatap merahnya langit sore. Kini matahari sudah benar-benar tengelam.

“Oh, terima kasih” jawab Hino seraya bergabung dengan rombongan didepan api unggun.

~0~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s