\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 5\part1

Bagian 5

_Komunikasi

 

 

Sinar mentari terlihat menerobos masuk melewati celah jendela kamar Hino. Menerpa wajah dan menyilaukan matanya, yang kemudian membuat Hino terbangun. Ia berjalan menuju ke jendela dan membukanya. Seketika udara segar menyeruak masuk bersama gambaran langit cerah dan bentangan hutan El’Asa yang menyejukkan. Hino memejamkan matanya dan merasakan sesuatu diudara. Ketentraman yang berbalut dengan suara kicau burung dan riuh orang dibawah. Sudah dua hari semenjak ia siuman dari pingsannya. Kini dia berada didesa Bet-Zur, dikaki bukit Kematian. Hino diselamatkan oleh Roland dari peristiwa di WindGhoul tiga hari yang lalu. Mereka tinggal dirumah salah satu kenalan Roland di desa ini. Mereka aman disana karena tampaknya Nutor tidak mengerahkan pencariannya kearah selatan. Dan juga karena setelah kudeta itu, pasukan kerajaan pusat mulai dikerahkan untuk menjaga agar tak satupun pasukan Nustor melewati gerbang dalam.

Sekarang Hino masih merasa belum pulih benar. Memanggil Anima setelah sekian lama sangat-sangat menguras tenaganya.

Tiba-tiba terdengar pintu kamarnya diketuk yang membuat Hino terjaga dari lamunan.

“Hino, kau sudah bangun?” terdengar suara dari balik pintu.

“Ya, masuklah Roland” ucap Hino kemudian.

Pintu terbuka, tampaklah Roland dan tiga pengawalnya. Tampak pula seorang pelayan dengan nampan berisi makanan, “bagaimana keadaanmu sekarang? Lebih baik?” tanya Roland seraya duduk disatu-satunya kursi yang ada dalam ruangan itu. Para pengawalnya kembali berjaga diluar setelah pelayan yang membawakan makanan itu keluar.

“Ya jauh lebih baik. Sekali lagi terima kasih” ucap Hino seraya duduk di ranjangnya.

“Bukan apa-apa. Andai kau dalam posisiku, pasti kau juga akan melakukan hal yang sama” jawab Roland, “tapi tak semua bisa kuselamatkan” tambahnya dengan senyum hambar.

Hino ikut terdiam, “jangan kuatir. Sophie dan Winnie, mereka petarung. Mereka tidak akan semudah itu tertangkap. Dan mereka pasti akan menjaga Alice baik-baik” ucapnya kemudian menenangkan Roland juga dirinya sendiri.

“Tak kusangka akan terjadi pemberontakan seperti itu di WindGhoul” ucap Roland mengganti topik pembicaraan, “kurasa, kita harus secepatnya menjauh dari daratan tengah ini. Bagaimana kalau kau ikut kami kembali ke Goldmed Wirrow?” tambah Roland “karena kemarin pemberontakan juga terjadi di kerajaan pusat” tambahnya kini dengan suara setengah berbisik, seolah takut kalau-kalau ada yang mendengarkan percakapan mereka.

“Bhasanta? Pemberontakan?” Hino terkejut. Sudah lama ia tak mendengar kabar tentang kerajaan tempatnya dahulu mengabdi.

“Begitulah yang kami dengar dari para pedagang yang lewat. Apa kau tidak berpikir ini hal yang aneh, setelah WindGhoul sekarang Bhasanta?” ucap Roland.

“Aku tidak tahu” jawab Hino masih terlihat menerawang. Ia kembali mengingat kejadian buruk sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan kerajaan itu.

“Sedang rencanamu setelah ini? Hino?”

“Aku akan ke kerajaan pusat” jawab Hino kemudian kembali dari lamunan.

“Ide yang buruk. Akan sangat berbahaya berada di Bhasanta saat-saat seperti ini. Kau tidak tahu mana lawan dan mana kawan”

“Benar, hanya saja aku harus tahu apa yang sedang terjadi. Dan aku harus mencari tahu kabar tentang Sophie, Winnie, dan Alice”

Roland terdiam sejenak, “sebenarnya kemarin aku sudah menghubungi informanku yang berada di Bhasanta. Mungkin nanti malam kita bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi disana” ucap Roland seraya berdiri “jadi kita bicarakan saja kepergianmu setelah nanti malam, bagaimana?” tanyanya kemudian.

Hino tersenyum, “baiklah” jawabnya kemudian sebelum akhirnya Roland menghilang dibalik pintu. Hino kembali ke jendela dan menatap jauh pemandangan yang begitu mempesona meski dilihat berkali-kali. Kemudian dia melihat lengan kirinya yang tampak seperti sebuah tato samar berbentuk tarikan-tarikan garis yang tajam. Tato itu adalah bentuk fisik dari sihir pengikat. Menandakan bahwa seorang Pemanggil memiliki ikatan dengan Anima.

“Jadi ikatan ini bisa dikembalikan” ucapnya kepada diri sendiri, terdengar harapan dalam ucapannya “sekarang apa yang harus kulakukan?” tampak Hino mulai menatap nanar kearah hutan, “kurasa aku akan berbicara dengan mereka” tambahnya kemudian seraya berjalan keluar.

Hari sudah mulai terik. Matahari terlihat hampir sejajar diatas kepala. Hino memutuskan untuk berkeliling desa terlebih dahulu. Karena setelah siuman kemarin, ia hanya berada dalam kamarnya yang membosankan. Dijalan terlihat tak terlalu ramai. Tak banyak pedagang melintas, melihat desa ini adalah jalur perdagangan antara WindGhoul dengan kerajaan pusat. Mungkin karena peristiwa akhir-akhir ini membuat para pedagang menjadi tak tenang dan was-was untuk mulai berdagang di sekitar sini.

“Hutan, sudah lama sekali” ucap Hino saat tiba dipinggiran hutan. Ia berpikir inilah tempat yang tepat untuk melakukan komunikasi dengan para Animanya. Kemudian ia mulai memasuki hutan. Cukup jauh kedalam Hino menemukan tempat yang nyaman. Area terbuka yang tidak terlalu luas ditengah hutan. Ada sebuah akar pohon yang tampak sudah puluhan tahun berada ditempatnya itu. Hino duduk diatas akar tersebut dan memulai komunikasi nya. Ia memejamkan matanya dan berkonsentrasi untuk memasuki Rat-dunia tempatnya berkomunikasi dengan para Animanya. Tak lama kemudian tato yang ada dilengan kirinya menyala jingga.

Udara disekitar Hino tiba-tiba menjadi berat. Pergerakan angin pun berhenti disekitarnya. Suasana menjadi sunyi secara tiba-tiba dan ganjil. Hino masih tetap berkonsentrasi hingga ada tekanan yang membuatnya membuka mata. Kini Summoner itu berada di dunia lain. Rat. Hanya cahaya menyilaukan disepanjang mata memandang.

“Lama kita tak bertemu” terdengar gaung suara bukan dari telingan Hino, melainkan didalam kepalanya.

“Kau Zephyr” ucap Hino mendapati dihadapannya sesosok percampuran manusia dengan seekor elang. Tubuh bagian atasnya serupa pemuda rupawan dengan sayap lebar bertengger dipunggungnya. Sedang bagian bawah tubuhnya tertutup bulu elang, dengan kaki serupa cakar elang. Rambutnya berupa bulu berwarna coklat keputihan. Dan matanya seperti elang berwarna emas mengkilatkan ketegaran. Dia adalah sosok yang muncul saat berada di WindGhoul.

“Sekarang apa Hino?” tanya sosok dengan nama Zephyr itu.

“Apa yang menyebabkan aku bisa memanggilmu?” tanya Hino, “apa aku sudah pantas?” tambahnya kemudian.

Zephyr menatap Hino dengan tajam, meski tak terasa emosi apapun dalam matanya, “menurutmu?” tanyanya balik sebagai jawaban.

“Aku tidak tahu” ucap Hino, “kini aku hanya mencoba untuk berkomunikasi denganmu, dan itupun karena kemarin tanpa sengaja aku berhasil mengembalikan ikatan kita”

“Kami sekali melakukan ikatan tak akan pernah melepaskannya” jawab Zephyr kemudian.

“Apa maksudnya?”

“Kau tinggal memanggil dan kami akan menjawab”

“Ini sama saja dengan kau memintaku menebang pohon tapi kau tak memberikanku kapaknya. Bagaimana caraku memanggil kalian?” tanya Hino kemudian.

“Kita tak pernah terputus. Maka panggilah” ucap Zephyr lagi sebelum kemudian memendar dan hilang ditelan gelap yang datang secara bersamaan.

Hino membuka matanya. Dan kembali suasana hutan tropis terasa disekelilingnya. Lengkap dengan bau lembab dan udara sejuk yang memeluk. Hino memandang lengan kirinya, “memanggil?” ucapnya kemudian.

“Jadi selama ini ikatan kami tak pernah terputus” ucap Hino menyemangati dirinya sendiri. Kemudian kembali ia memejamkan matanya dan berkonsentrasi. Kejadian terulang lagi. Sama persis seperti saat ia hendak memasuki Rat tadi.

“Setelah sekian lama Hino” tiba-tiba terdengar gaung suara sama seperti tadi. Hino membuka mata. Tampak dihadapannya sesosok gadis berwajah dingin. Mengenakan jubah serba putih dan melambai pelan seolah ia berada di dalam air. Warna kulitnya biru laut dan matanya berkerlipan kristal. Rambutnya berwarna kuning coral mencolok yang juga ikut melambai pelan.

“Undine” ucap Hino kemudian.

Gadis biru itu tersenyum menatap Hino, “kau telah berusaha keras. Tapi masih belum cukup, Hino” ucap gadis yang dipanggil Undine itu.

“Apa maksudmu?” tanya Hino bingung.

“Aku harus pergi” ucap Undine yang langsung disambut dengan suasana hutan yang muncul secara tiba-tiba.

“Tunggu!” teriak Hino kemudian. Ia merasa seolah baru saja didorong keluar dari dunia para Anima dengan paksa, “apa yang belum cukup?” gumamnya seraya menatap dada kirinya yang tidak terdapat perubahan apapun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s