\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 6\part2

Candramā jala” ucap Kein pelan namun bertekanan. Dan dari pusat pedang Kein menancap ke tanah muncul api yang membakar segala hal yang ada di atas tanah dengan cepat, membentuk area seperti lingkaran dan terus membesar dalam hitungan detik dalam sepi.

Bhaṛkanā bhakṣaka!” Teriak Nico seraya mencabut tongkat sihirnya dari tanah, sebelum api yang menyebar kesegala arah itu mengenai dirinya. Dan terciptalah lingkaran berwarna kuning cerah di area sekitar Nico.

  Sophie masih sempat melompat mendekat dan masuk dalam jangkauan sihir yang dikeluarkan Nico itu, saat ia melihat satu dari Lochus yang tadi menyerangnya terbakar dengan cepat, akibat dari kekuatan sihir yang dikeluarkan Kein. Menghancurkan namun terlihat memukau, api itu hanya dalam hitungan setengah menit saja mampu membuat dataran menjadi kosong dan gersang berbentuk lingkaran seluas puluhan meter. Tak ada benda apapun berdiri diatas tanah yang gosong itu. Tidak juga para Lochus tadi. Tampaknya sisa dari para Lochus itu berhasil meloloskan diri sebelum sihir api Kein membakar mereka.

Winnie, Alice, dan Sophie berdiri diantara Nico diatas tanah yang masih berumput berdiameter dua meter saja. Sisanya hangus dengan hanya meningalkan asap dan arang.

Kein akhirnya berdiri dengan tubuh yang penuh asap, kemudian mencabut pedangnya dari tanah. Tampak sedikit terengah kemudian menatap kearah Nico dan yang lain, yang berhasil selamat dari dampak kekuatan yang dikeluarkannya.

“Kurasa ini saat yang tepat untuk kita melarikan diri” ucap Kein kemudian memecah sunyi teman-temannya yang hanya menatapnya dengan wajah terheran-heran.

“Oh, Kein. Kau membakar perbekalan kita” ucap Sophie menimpali setelahnya.

 

“Mengapa Giagale?” Ucap Nico kepada Kein saat mereka kembali dalam perjalanan mereka menuju kota terdekat untuk beristirahat.

“Mungkin karena ini sudah mulai memasuki wilayah Narva, jadi mereka perlu mengirim ‘pemburu’ yang tak terlalu mencolok” jawab Kein menduga.

“Apa benar ini kudeta? Bagaimana pasukan khusus Giagale bisa ikut dalam masalah ini? Bagaimana mereka bisa mengirim Lochus untuk mengejar gadis itu?” Respon Nico, “apa menurut anda ada sangkut pahutnya dengan kejadian-kejadian diperbatasan Morra-Narva yang lain, Kein?”

“Kau yang beri tahu aku, Nic. Apa yang kau tahu tentang Lochus?” jawab Kein dengan ringan.

“Mereka pasukan khusus kerajaan, saya tak tahu banyak tentang mereka. Tapi mereka jelas bukan pasukan bayaran” jelas Nico kemudian.

Kein tampak terdiam sebentar menimbang sesuatu “kurasa kini para Lochus itu tahu ada kita diantara buruannya, kurasa itu akan merubah strategi mereka dalam menghadang kita kelak” ucapnya kemudian.

Mereka merubah strategi mereka yang tadinya menghindari kota, menjadi mencari keramaian. Karena setelah kejadian semalam, Kein beranggapan bahwa para Lochus itu tak akan bodoh untuk muncul beramai-ramai ditengah-tengah kota. Jadi mereka setidaknya bisa beristirahat dengan sedikit tenang di tengah kota. Walau Alice begitu ketakutan saat berpapasan dengan banyak orang.

“Kurasa instingku benar tentang kalian” ucap Sophie memulai perbincangan saat mereka sudah berada didalam rumah makan di pinggiran jalan diluar kota.

“Ya, kurasa kau memang benar” jawab Kein dengan pasrah.

“Jadi apa cerita kalian?” Tanya Sophie lalu.

“Yah kurasa mau tak mau kami harus bersikap adil untuk menceritakan hal yang sebenarnya” ucap Kein.

Nico hanya menatap Kein dalam diam, sementara Kein mulai bercerita tentang dirinya dan Nico yang sebenarnya dan alasan mengapa mereka menuju ke utara.

Oracel? Jadi kalian mendapat tugas dari Oracel untuk menuju ke utara?” Tanya Sophie terlihat tak percaya “Wow, sulit dipercaya” tambahnya dengan tampak begitu bersemangatnya

“Orang Getzja selalu menganggap para Seer adalah jelmaan para dewa, jadi kalian jangan heran akan tingkahnya” ucap Winne menerangkan saat wajah Kein seperti membutuhkan penjelasan atas kelakuan Sophie yang berlebih ketika mendengar kata Oracel.

“Jadi Oracel tidak memberi tahu kalian siapa yang akan kalian temui disana?” Tanya Winnie penasaran.

“Percayalah, dia memang seperti itu orangnya. Suka perintah-perintah seenaknya tanpa memberi detil penjelasan” jawab Kein sekenanya yang dibalas dengan tatapan sinis dari Sophie “Hey, dia memang seperti itu, kau akan tahu saat kau bertemu dengannya, meski hanya beberapa menit saja” tambah Kein lagi merespon tatapan Sophie tadi yang kini di jawab Sophie dengan membuang muka.

 

Tepat saat matahari diujung horison, mereka tiba di mulut sebuah desa, sudah tiga hari berlalu sejak pertemuannya dengan para Lochus sebelumnya, dan mereka belum melihat para Dual Stahler itu lagi. Itu karena mereka bermalam disebuah kota yang cukup ramai kemarin malam Nezib dan sebelumnya Bet-Dagon. Namun kali ini mereka tak mendapatkan kota besar dan malam sudah mulai menjemput. Didepan hanya ada sebuah desa, En-Ganim. Tak beda dengan desa Telem, desa ini jelas sangat tidak ramai. Hal yang mereka cemaskan mungkin akan menjadi kenyataan malam ini, yaitu : para Lochus akan muncul kembali dihadapan mereka.

“Menurutku disini tak akan ada penginapan” ucap Kein saat mereka sudah memasuki gerbang desa yang hanya terbuat dari beberapa potongan bambu yang ditancapkan ketanah.

“Tempat ini sama seperti desa-desa kecil disepanjang perbatasan Morra dengan hutan El-asa. Kurasa kita harus menginap ke salah satu rumah penduduk sini” ucap Nico terlihat menganalisa.

“Dan itulah yang ku takutkan” saut Sophie.

“Kita cari kepala desanya” ucap Kein kemudian, saat beberapa orang mulai mengamati mereka memasuki desa.

 

“Kurasa kalian bisa bermalam di desa ini. Tapi saya minta maaf sebelumnya, karena rumah saya terlalu kecil jadi bila tidak keberatan kami punya bekas kandang kuda, tapi tenang saja itu sudah lama tidak kami pakai. Jadi kalian bisa memakainya jika kalian mau, lumayan menghangatkan dimusim seperti sekarang ini” ucap sang kepala desa panjang lebar saat setelah Kein dan rombongan memperkenalkan diri dan meminta izin untuk bermalam didesa tersebut.

Sang kepala desa berperawakan pendek, berkarisma meski wajahnya ditutupi berewok yang tebal. Albera namanya, terlihat seorang kaum Narva dengan sangat didominasi oleh gaya kaum Morra diseluruh tubuhnya. Kebudayaan seperti itu sering juga disebut dengan ‘Perarahan’, kebudayaan yang biasa terdapat di desa-desa perbatasan macam ini.

“Kurasa itu lebih dari cukup pak Albera, kami sangat berterima kasih untuk hal itu” jawab Winnie dengan sopan.

Pria tua itu menggangguk “biar istriku menunjukan pada kalian tempatnya” ujar Albera seraya menatap wanita paruh baya yang tersenyum manis disampingnya.

 

“Kurasa Lochus itu akan kembali malam ini” ujar Sophie saat mereka sedang menyiapkan tempat untuk mereka tidur ditumpukan jerami didalam kandang kuda yang dimaksud kepala desa tadi. Bersebelahan dengan rumah, kandang ini cukup nyaman untuk tempat beristirahan dan menghalau dingin nya cuaca dimalam hari.

“Kalau boleh ku tahu putri, sebenarnya siapa yang melakukan semua ini pada kerajaanmu?” Tanya Kein kemudian setelah ia selesai mempersiapkan tempat untuk nya beristirahat.

“Maksudmu yang melakukan kudeta itu? Dia adalah si bajingan licik Nutor, salah seorang jendral yang dipercayai oleh ayahku untuk menjadi kanselir kerajaan” jawab Alice dengan nada getir berbalut emosi “manusia tak tau balas budi, orang yang serakah” tutupnya.

Kein hanya diam berpikir setelah mendapat jawaban dari Alice, namun kemudian mulai bertanya lagi “apa dia seorang Seithr? Maksudku apakah latar belakang kehidupannya seorang bangsawan atau malah orang dari luar kerajaan mungkin?”

“Maksud mu apa Kein?” Tanya Alice terlihat bingung dengan detail pertanyaan Kein.

“Aku tahu maksudmu Kein, kau pasti heran mengapa ada Lochus yang mengejar-ngejar kita kan?” Saut Winnie kemudian.

“Benar, aku masih tak habis pikir seorang Morra yang mengkudeta rajanya bisa mengirim pasukan khusus kerajaan Narva untuk menghabisi pewaris tahtanya” jawab Kein.

“Setahuku ia seorang Seithr, bukan dari kalangan bangsawan tapi dia lahir dan besar di WindGhoul. Tapi ada yang aneh dengannya” jawab Alice, “Nutor menggunakan tongkat sihir dan sihir Morra”

“Sihir Morra?” Nico terlihat tak percaya.

“Benar, pria bernama Nutor itu merapal seperti kita” saut Winnie ikut membenarkan.

“Aneh” respon Nico dengan wajah yang terlihat sedang berpikir, “tapi kurasa ada hal lain dibalik kudeta ini. Semacam plot yang sengaja dibuat untuk menutupi tujuan yang sebenarnya” ujar Nico menebak-nebak.

“Dan apa itu?” tanya Winnie pada Nico.

“Kurasa semacam bantuan untuk mendapatkan tahta dengan imbalan sebuah perjanjian yang saling menguntungkan mungkin” jelas Nico.

“Bisa jadi, kalau menurutmu Kein?” Kali ini Winnie bertanya pada Kein yang sedari tadi diam tampak berpikir keras.

“Entahlah, mungkin ada seseorang yang sedang merencanakan sesuatu yang besar untuk daratan ini” jawab Kein kemudian.

 

~0~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s