\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 6\part1

Bagian 6

_Lochus

 

 

“Kau bertemu dengan Noa, dan-dan” ucapan Alice terdengar gagap.

Kein hanya mengangguk “kau putri mahkota WindGhoul kan?” Ujarnya kemudian dengan pertanyaan.

“Syukurlah ayah berhasil lolos dan selamat” tak dapat ditahan lagi air mata Alice mengalir yang kemudian langsung dipeluk oleh Winnie.

Semua hanya dapat diam melihat gadis itu menangis dalam pelukan Winnie, terlihat telah lama sekali ia ingin menumpahkan air mata yang sebegitu banyak ia tahan.

 

  Mereka mendirikan tenda dihutan diantara perbatasan Vion dan persemakmuran Morra. Semua cukup lelah kali ini, karena mereka jarang berhenti untuk beristirahat agar dapat mengejar malam di luar perbatasan Morra.

“Kein, boleh saya bertanya? Sedari kemarin saya penasaran” bisik Nico setelah disaat ia dan Kein sedang membongkar perbekalan menjauh dari para gadis.

“Kenapa aku melibatkan diri dengan mereka?” Tebak Kein yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Nico “apakah kau tak merasa aneh? Sekarang kita bertemu dengan orang dari dua kerajaan yang berbeda. WindGhoul dan Bhasanta” tambahnya “dan juga aku merasa tertarik dan penasaran dengan Summoner bernama Picsi itu”

“Oh, Summoner di Telem itu?” Nico tampak mulai paham maksud Kein yang ingin mencari tahu lebih tentang Summoner yang dikenal dengan Picsi The Autum, sekaligus mencari tahu apakah ada hubungannya dengan WindGhoul.

 

“Boleh kutahu mengapa kalian ke Aksa?” Tanya Kein disela makan malam mereka mengeliling api unggun.

“Kami akan menuju ke salah satu kerabat Alice di Aksa” jawab Winnie yang sudah terang-terangan tanpa menyembunyikan apapun sekarang.

“Helena Fuercruiz?” Tebak Nico kemudian, yang dijawab dengan anggukan oleh Winnie.

Kein menatap Nico seolah butuh penjelasan.

“Beliau adalah adik perempuan ke tiga dari raja WindGhoul yang menikahi seorang Fuercruiz. Jonah Fuercruiz, bangsawan Narva yang kini tinggal di kastil keluarganya di Aksa. Tepatnya di daerah pertanian Ferig bagian utara Aksa. Sebenarnya pernikahan ini juga termasuk aksi dari perjanjian perdamaian Morra-Narva” jelas Nico panjang lebar.

Semua orang hanya terdiam menatap Nico bercerita panjang lebar. Tak juga Kein ataupun para gadis.

“Hey ada apa dengan temanmu itu?” Tanya Sophie kepada Kein.

Kein hanya diam dengan senyuman “kemudian bagaimana kalian yang dari Bhasanta bisa bersama dengan putri mahkota ini?” Tanya Kein kemudian kepada Sophie.

“Panjang ceritanya. Yang jelas kami adalah orang yang salah disaat yang tidak tepat” jawab Sophie acuh tak acuh.

“Kurasa aku juga pernah merasakah hal tersebut” jawab Kein dengan senyuman yang di respon tawa ringan oleh yang lain.

Namun tiba-tiba Sophie berdiri dengan mendadak menatap tajam berkeliling, seolah sedang mencari sesuatu diantara gelap disekitarnya. Tak ubahnya Kein, ia pun segera meletakkan tangannya ke gagang pedangnya dan memutarkan pandangannya kesegala arah walau masih dalam posisi duduknya semula.

“Soph?!” Tampak Winnie terkejut meliat reaksi Sophie.

“Nic” ucap Kein pelan memperingatkan Nico.

“Enam lebih” saut Sophie yang kini sudah siap dengan kuda-kuda bertahnnya.

Kein menatap gadis Getzja itu. Ia bahkan belum dapat menentukan jumlah orang yang sedari tadi mengintai mereka. Benar-benar orang Getzja memiliki ketajaman indra yang sangat hebat pikirnya.

“Jangan gegabah” ucap Kein kemudian kepada Sophie.

Sophie menatap Kein “mereka mengelilingi kita. Gerakan dan nafas mereka teratur. Mereka bukan orang biasa” ucapnya kemudian memberikan penjelasan pada Kein.

Fulgr?” Tanya Alice cemas sembari merapat dalam pelukan Winnie.

“Bukan” ucap Sophie singkat “senjata mereka terdengar berat” tambahnya.

“Nic! Lindungi Alice dan Winnie” perintah Kein yang kali ini sudah dalam kuda-kuda bertahannya. Saling bepunggungan dengan Sophie mengamati kegelapan dihadapannya.

Tanpa ucapan Nico segera mengambil posisi dihadapan Winnie dan Alice seraya mengarahkan tongkat sihir ditangan kanannya kedepan dan menyiapkan sebuah rapalan. Mereka berdiri membentuk segitiga dengan Sophie, Kein, dan Nico sebagai sudut-sudutnya sementara Winnie dan Alice ada ditengahnya.

“Bersiaplah mereka datang!” Ucap Sophie yang membuat suasana bertambah tegang.

Dan dari kegelapan malam disekeliling mereka melompat menerjang dari segala arah, orang berpakaian hitam dengan topeng tengkorak kerbau dan dua pisau besar seperti kipas dikedua tangan mereka.

“Nico sekarang!” Ucap Kein dengan teriakan.

Bhaṛkanā!” Teriak Nico seraya menyentuhkan telapak tangannya ketanah, bersamaan dengan menyemburnya api dari dalam tanah disekeliling mereka membuat tembok yang menyebabkan para penyerang mereka harus melompat menghindar. Dan begitu tembok api itu hilang tampak sepuluh orang dengan pakaian yang sama memasang kuda-kuda mengepung mereka.

Dual Stahler?” Sophie terkejut melihat ada sebegitu banyak Dual Stahler-tipe petarung dengan menggunakan dua senjata pisau dikedua tangan mereka.

Lochus” ucap Kein mengenali siapa sebenarnya para Dual Stahler yang mereka hadapi sekarang.

“Pasukan khusus Giagale?” Terdengar Nico tak percaya “ada urusan apa mereka sampai bisa ada sejauh ini?” Tambahnya.

“Kita cari tahu setelah kita bisa lolos hidup-hidup dari tempat ini” saut Sophie.

Para Dual Stahler yang disebut dengan Lochus itu masih berputar mencari selah untuk dapat melancarkan serangan. Mereka terlihat sangat terlatih dalam pergerakan tim. Mencoba membaca situasi dan pergerakan lawan.

“Bagaimana sekarang?” Tanya Winnie panik sementara Alice hanya terdiam dalam pelukannya.

“Mereka mencari sela untuk melakukan serangan. Waspadalah” peringatan dari Kein yang kini sudah siap menyambut apapun yang akan menyerang dirinya.

Dan benar saja ucapan Kein, tiga diantara mereka melompat menyerang dari arah yang berlainan. Dengan sigap Kein menyambut yang melompat dari arah depan, sementara Sophie menghadang yang dari belakang. Sisanya di respon Nico dengan melempar bola api yang langsung telak menghantam dan melemparkan penyerang itu kebelakang.

Namun hampir tak berselang tiga lagi melompat menyerang dari arah yang berlainan lagi tanpa ada satupun yang bisa menghadangnya.

“Sial! Kein awas!” Sophie berteriak seraya melompat kebelakang dan menendang satu yang akan menyerang Kein dari belakang dengan tendangan salto. Dan saat gadis Getzja itu mendarat terdengar suara keras dan cahaya dari belakangnya. Tampak satu penyerang yang hendak menyerang Sophie dari belakang terlempar mundur oleh sihir Alice dari posisinya disebelah Winnie. Melihat hal tersebut membuat para Lochus itu menjadi lebih waspada. Mereka sedang menghadapi kaum Seithr.

Tidak sama dengan Narva ataupun Morra dalam hal sihir, kaum Seithr tidak mempelajarinya. Mereka memiliki kemampuan sihir itu sejak mereka dilahirkan. Jadi mereka adalah penyihir secara alamiah. Maka bila penguna sihir selain Seithr harus menggunakan media dan rapalan untuk melakukan sihir, kaum yang sering disebut Sky Elemental itu tidak memerlukannya. Mereka juga dianugrahi kemampuan sihir yang tidak dapat di pelajari oleh ras manusia manapun. Sihir langit.

 

Mereka saling bertahan dan melindungi satu dengan yang lain. Namun tidak selamanya. Serangan-serangan para Lochus itu lama kelamaan mulai dapat melukai Kein, Nico, maupun Sophie. Mereka mulai kualahan

Beriring dengan waktu, mereka semakin terdesak. Kehabisan stamina menghadapi lawan yang tak seimbang banyaknya.

“Bagaimana ini?” Tanya Nico meminta jalan keluar dari masalah ini.

“Sial kita tak akan bertahan menghadapi mereka. Kita harus kabur” saut Sophie yang kini baru terlihat terengah kelelahan.

Kein menatap berkeliling. Terpaksa ia harus mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk bisa lolos dari masalah ini. Dan setelah ini mungkin teman-teman barunya tak akan percaya lagi bahwa dia hanya pengelana biasa.

“Bersiap Nic. Kita akan melakukan perusakan besar” ucap Kein yang terlihat memasang kuda-kuda.

Nico menatap Kein kemudian menggangguk. Ia tau Kein akan mengeluarkan serangan dasyatnya. Terlihat kemudian ia juga bersiap-siap mengatur kuda-kuda.

“Soph, sebisa mungkin mendekatlah pada Nico” ucap Kein pada Sophie sebelum kemudian terlihat sama seperti Nico menyiapkan sebuah rapalan.

Sophie hanya menggangguk, ia tahu Kein dan Nico akan melakukan sesuatu. Ia menggiring Winnie dan Alice mendekat ke Nico, sementara dia sendiri masih dengan waspada memperhatikan sekeliling.

Suasan menjadi sunyi. Para Lochus itu tampak menyadari bahwa lawan mereka sedang dalam proses mengeluarkan serangan yang dasyat. Dan secara naluri mereka harus segera menggagalkan hal itu.

Nico menancapkan tongkatnya ketanah dihadapannya, kemudian dengan tanggan kanan, ia menggenggamnya erat-erat. Tampak mulai merapal, namun masih dengan tatapan waspada kesekelilingnya.

“Baiklah, apapun yang hendak kalian lakukan. Lakukan sekarang. Mereka mulai menyerang” ucap Sophie seraya melompat menerjang satu Lochus yang menyerang Kein dari depan. Kemudian belum juga kakinya menginjak tanah, gadis Getzja itu sudah kembali melompat secara akrobatik dan menjatuhkan yang hendak menyerang Nico dari samping. Sementara Alice dari belakang Nico menembakan sihir nya kearah orang-orang yang hendak menyerang Nico dari arah depan dan belakang. Sudah dua terpental mundur.

Dan setelah dapat menjejakan kakinya ditanah, Sophie menekan dalam-dalam pijakannya ketanah, menarik nafas pendek, dan kemudian melesat cepat kearah satu Lochus yang ada dihadapannya, mendorongnya dengan keras hingga terpental kebelakang menghantam satu temanya yang lain. Tidak berhenti sampai disitu, dengan sigap dan masih dalam kecepatan yang sama dengan sebelumnya, Sophie bertolak arah dan meraih satu Lochus yang berlari menyerang Kein dengan batuan dorongan tubuhnya, kemudian ia melemparkannya menjauh.

Melihat hal tersebut sisa Lochus yang masih bersiap menyerang, membagi serangan. Dua dari mereka segera menghentikan gerakan gadis Getzja yang dirasa mengganggu tersebut, sementara sisanya menyerang Kein dan Nico secara bersamaan.

Sadar mereka membagi serangan, segera Sophie melompat dan menerkam satu dari para penyergapnya itu, melumpuhkannya, dan sebelum yang satu lagi mendekat untuk menyerangnya, ia berhasil merebut senjata dari Lochus yang tadi dilumpuhkannya itu dan melemparkan kearah Lochus lain yang sudah berjarak dua langkah dari posisi Kein.

Dengan sigap Lochus yang hanya tinggal melancarkan tebasannya kearah Kein itu, membatalkannya dan menangkis pisau kipas yang terarah padanya. Hampir bersamaan dengan itu Kein menganggkat pedangnya ke atas. Para gadis dan para Lochus itu terhenti sejenak, tercuri perhatian mereka oleh pedang Kein yang kini mulai menyala kuning kemerahan seperti besi yang baru saja ditempa. Dan dengan gerakan yang perlahan namun pasti Kein menancapkan Bhara  ketanah dengan posisi berlutut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s