\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 5\part2

“Aku Kein, dan ini Nico” Kein memperkenalkan diri dan memperkenalkan Nico pada tiga gadis itu seraya mengambil bungkusan perbekalan mereka yang tersisa “dan kalian?” Tanyanya kemudian setelah menawarkan bungkusan perbekalan itu pada gadis yang tadi dalam sergapannya. Gadis Getzja itu masih juga terlihat bingung menerima sepotong roti dari temannya, tak ubahnya gadis yang menerima bungkusan perbekalan dari Kein.

“Apa yang terjadi kalian seperti habis kerampokan?” Tanya Kein lagi yang kini sudah duduk bersila didepan api unggun.

“I-Iya, benar. Kami telah dirampok kemarin dan kami kelaparan karena tidak memiliki sepeser uang pun” jawab gadis Morra yang tersergap Kein tadi seraya mengikuti duduk didepan api unggun “kami dari selatan hendak ke utara. Saya Winnie” tambahnya mengenalkan diri.

  Kein tersenyum “Nic, ambilkan minuman untuk mereka” Kein meminta Nico mengambilkan minuman. Nico mengambil dua kantong kulit berisi cadangan air minum mereka, kemudian memberikannya kepada gadis Getzja tadi.

“Yang ini Sophie” Winnie mengenalkan gadis Getzja itu sebagai Sophie “sedang yang ini Alice” lanjutnya dengan gadis muda yang dikenali Nico memiliki sombol Vaelum itu “namun waktu ditengah perjalanan kemarin kami dirampok” tutupnya kemudian.

“Sophie? Terdengar seperti nama Morra dari pada nama Getzja” respon Kein.

“Eljze. Tapi aku terbiasa dipanggil Sophie” saut Sophie menyikapi ucapan Kein tadi.

“Kami hendak menuju keutara” sela Winnie kemudian mengulangi memberi tahukan arah tujuan mereka.

“Kami juga hendak keutara” ucap Kein kemudian.

Terlihat ketiga tamu mereka itu sedang makan, dan tampak sekali mereka tidak berbohong soal yang kelaparan. Mereka lahap.

“Bagaimana kalau kita pergi bersama” usul Kein kemudian.

Spontan saja ketiga gadis itu terbatuk bersamaan, seolah tersedak makanan. Kemudian terlihat saling berpandang-pandangan.

“Memang kalian akan kemana?” Tanya Kein kemudian.

“Ke… Aksa?” jawaban ragu dari Winnie yang terdengar seolah memberi pertanyaan.

“Benar kita akan ke Aksa” Sophie menegasinya kemudian.

“Kami hendak ke Terafa, jadi setidaknya kita bisa pergi bersama sampai kota Sores” ucap Nico lagi.

“Benar lebih aman bagi kalian. Tiga orang gadis berpergian jauh, percayalah itu akan sangat mengundang maksud buruk. Meskipun aku tak pernah meragukan kemampuan kaum Getzja” tambah Kein.

Ketiga gadis itu saling melempar tatapan pertanyaan satu dengan yang lainnya.

“Baiklah” ucap Winnie.

“Tak perlu” ucap Sophie yang berbarengan dengan Winnie. Kemudian mereka saling berpandangan “eh, maksudku bila merepotkan kalian” tambah Sophie meralat.

“Kalian jangan terlalu sungkan” ucap Kein dengan senyum kecil diwajah yang kemudian disambut oleh senyuman-senyuman canggung dari tiga gadis tadi.

“Kalian dari selatan mana?” Tanya Nico ditengah mereka hendak berkemas ”dari wilayah Morra kan?”

“Benar, kami dari wilayah Morra. Kami berasal dari-“ucap Winnie menjelaskan yang belum selesai langsung dipotong oleh Alice.

“Goldmed. Goldmed Wirrow” ucap Alice.

“Oh, Goldmed. Kota tanah bangsawan di ujung selatan” ucap Nico.

“Kalau kalian?” Kini Winnie yang bertanya.

“Kami juga dari wilayah Morra” jawab Nico.

“Phatonica?” Tebak Sophie tiba-tiba.

“Benar, tau dari mana?” Tanya Nico yang tertarik terhadap tebakan Sophie yang seorang Getzja.

“Itu” Sophie menunjuk lambang kerajaan yang terpahat digagang pedang Kein “lambang kerajaan bagian Phatonica” ucapnya kemudian “kau orang dalam kerajaan?”

“Tak banyak orang awam yang bukan dari Phatonica tahu tantang lambang anggota dalam kerajaan, apa lagi kalian yang begitu jauh dari wilayah kerajaan kami” ucap Kein menjawab “bolehkah saya tahu siapa kalian sebenarnya?” Tanyanya kemudian.

“Sophie memang pernah bekerja sebagai prajurit di kerajaan pusat. Jadi dia biasanya tahu hal-hal yang orang awam tidak tahu” saut Winnie buru-buru seolah sedang menyelamatkan Sophie dari tuduhan.

“Kau pasti bukan orang biasa kan?” Sophie tak peduli tentang ketegangan di wajah Winnie, ia masih terus bertanya dengan tatapan menantang.

“Ha-ha, kau benar-benar bukan seorang gadis Getjza biasa. Pantas saja kau memakai nama Morra, aku sempat berfikir kau pasti pernah tinggal dalam istana. Ternya kau seorang prajurit kerajaan. Dan aku selalu mengagumi insting dari kalian orang-orang Getzja, tapi sayangnya kali ini kau meleset. Kami hanya pengelana biasa yang hendak ke utara” ucap Kein “dan hanya itu” tutupnya kemudian sambil kembali menuju lembaran kulit yang digulung yang tadi adalah tempatnya tidur “tidurlah kalian besok pagi-pagi kita akan segera berangkat” Kein membongkar tenda sederhana mereka untuk alas dan selimut tiga gadis itu.

“Kein?” bisik Nico sambil menyiapkan tempat tidurnya yang juga berupa lembaran kulit kambing gunung.

“Kita berangkat pagi-pagi, jadi sekarang kau tidur saja” jawab Kein yang telah dalam posisi tidurnya.

 

Pagi-pagi benar mereka sudah kembali bersiap-siap untuk perjalanan. Mereka memulainya bahkan sebelum cahaya mentari terlihat menyebar dilangit. Berlima mereka menuju utara kearah Vion.

Diperjalanan banyak sekali para pedagang yang sedang membicarakan tentang pembrontakan WindGhoul beberapa hari yang lalu.

“Tak lama lagi didepan ada kota. Yatir. Kita bisa membeli perbekalan disana” ucap Kein.

“Masih jauh menuju Vion?” Tanya Winnie.

“Kemungkinan kita akan sampai perbatasan Vion besok petang, karena setelah ini kita masih harus melewati satu kota lagi” jawab Nico menjelaskan.

Tak terlalu siang akhirnya gerbang kota Yatir mulai terlihat. Walaupun tergolong kota kecil namun letaknya yang dijalur perdagangan membutnya tampak sibuk dan ramai. Tiba-tiba ketiga gadis itu seperti ragu-ragu untuk memasuki kota.

“Ayo kita masuk” ajak Kein.

“Apa kita juga harus masuk ke kota itu? Tidak bisakah kita menunggu disini saja?” Tanya Alice tiba-tiba.

“Yah, setidaknya kalian bisa berganti pakaian disana dan berdandan yang rapi. Aku yang bayar” saut Kein langsung mendengar ucapan Alice.

“Terima kasih sebelumnya dan bukan bermaksud tidak sopan, tapi kurasa kami tak perlu berdandan rapi-rapi untuk perjalanan jauh kami. Lebih baik gunakan uang anda untuk membeli perbekalan kita dijalan saja” ucap Winnie kemudian.

“Setidaknya kalian harus menyembunyikan simbol itu” ucap Kein seraya menunjuk pergelangan tangan baju Alice “dan yang ini” sekarang menunjuk keujung kerah baju Winnie “supaya orang percaya kalau kalian dari Goldmed Wirrow” tutupnya sambil berlalu menuju kearah gerbang kota Yatir.

Dengan segera Alice menatap kearah kerah baju Winnie yang terdapat sebuah emblem, setelah dia memastikan pergelangan tangan bajunya. Lalu kemudian ia menatap Winnie yang juga menatapnya dengan tatapan cemas dan tegang.

“Sulit dipercaya” ujar Sophie sambil menggelengkan kepala.

 

Kurang dari empat jam kemudian mereka kembali meneruskan perjalanan. Setelah Nico dan Kein selesai berbelanja perbekalan, kemudian Sophie, Winnie, dan Alice berganti baju, dan tampak lebih segar.

“Sebenarnya kami memang bukan dari Goldmed” jelas Winnie yang dirasanya memang harus ia ceritakan pada Kein, ketika mereka memulai perjalanan lagi.

“Lambang emblem perserikatan Healer-para penyembuh dari kerajaan pusat, dan simbol Vaelum” saut Nico dengan santai.

“Yah kami memang berbohong. Kami bukan dari Goldmed dan kami juga bukan pengelanan” jelas Winnie kemudian “Aku dan Sophie memang dari Kerajaan pusat. Kami dari Bhasanta. Sedang Alice,”

“Winnie!” Alice berucap pelan namun dengan nada menghardik yang seolah tidak memperbolehkan Winnie meneruskan ucapannya.

“Kalian ada hubungannya dengan kejadian WindGhoul kemarin?” Tanya Nico tanpa basa-basi.

“Ap-Apa maksud kalian?” Tanya Alice tergugup.

“Kemarin kami bertemu dengan jendral besar WindGhoul, sang Fulgr Nocturne dan seorang tua bersamannya” ucap Kein yang langsung merubah raut muka ketiga gadis dihadapannya.

~0~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s