\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 5\part1

Bagian 5

_Putri Seithr

 

 

Terlihat subuh sudah mulai mengeliat keluar. Mereka belum juga sempat beristirahat saat beberapa hewan hutan memulai kehidupan. Mereka sudah cukup jauh dari WindGhoul dan memang itulah tujuan mereka : menjauh secepatnya dari kota yang dapat mengundang masalah bagi mereka. Tampak didepan mereka sebuah kota satelit, kota dagang di perbatasan terluar Morra. Kota Midin.

“Kita bisa beristirahat sementara disana” ucap Kein begitu mereka keluar dari hutan.

“Benar. Aku lapar sekali” timpal Nico yang terlihat sedikit lesu “kurasa kita harus belanja perbekalan untuk berjaga-jaga. Mungkin kita akan sering bermalam ditengah hutan” ucapnya lagi begitu mereka sudah mulai berbaur dengan beberapa orang yang juga hendak menuju ke kota Midin.

Kein tertawa “tenanglah, kau akan bertahan hidup” ucapnya kemudian.

  Tak berapa lama gerbang kota Midin pun terlihat. Matahari sudah benar-benar nampak diujung timur. Jalanan sudah terlihat begitu ramai oleh para pedagang dari berbagai tempat, nampaknya kegaduhan WindGhoul semalam belum berpengaruh besar pada kota ini. Hanya topik pembicaraan tentang kudeta kota para Fulgr itu sangat ramai dibicarakan orang-orang disepanjang jalan yang dilewati Kein dan Nico.

“Kalian tahu, kabarnya kanselir mereka sendiri yang melakukan pemberontakan” ucap seorang pria dengan tas punggung besar dengan beberapa alat-alat pertambangan yang mencuat keluar dari dalamnya.

“Pasti karena hasil dari sayembara kemarin. Tapi kabarnya raja berhasil lolos bersama putrinya” respon pria lain dengan tas anyaman dipundak.

“Benar. Kondisi semakin kacau, mereka mengirim puluhan prajurit dan tentara-tentara bayaran untuk mencari raja dan putrinya” jawab pria yang sebelumnya seraya membenahi tas punggungnya.

“Kita akan kesulitan menuju ke selatan bila kondisinya seperti ini” tutup pria bertas anyaman itu kemudian.

“Kurasa kabar itu cepat menyebar” ucap Nico.

“Kita juga harus cepat-cepat pergi dari tempat ini. Mungkin sebentar lagi penjagaan dikota inipun juga akan ditingkatkan. Dan jelas itu akan menghambat kita” saut Kein.

Setibanya dikota mereka segera mencari penginapan untuk beristirahat sebentar kemudian setelah makan dan membeli perbekalan yang cukup, Kein memutuskan untuk segera keluar dari kota saat sore sudah mulai menjemput. Kein berfikir untuk segera menuju Vion. Karena firasatnya tak lama lagi masalah akan mendatangi kota ini.

 

“Marc de’Vion. Kota dagang terbesar dikawasan Narva. Dulunya. Cukup aman untuk kita beristirahat disana. Meski dikawasan perbatasan, namun kota itu kini termasuk kota perdagangan bebas. Wilayah mereka dianggap netral. Menurut perjanjian perdamaian Morra-Narva, kota itu tidak boleh memiliki tentara. Jadi kota itu memiliki semacam penjaga-kota mereka sendiri, diperbolehkan memiliki kebijakan-kebijakan lokal dan tidak akan memihak saat terjadi peperangan. Jadi banyak orang yang datang ketempat itu” jelas Nico saat mereka bersiap mendirikan tenda mereka ditengah hutan cukup jauh dari kota Midin. Perjalanan dari Midin ke kota Vion biasa ditempuh dalam lima hari dengan berjalan kaki. Sementara itu Kein mendengarkan penjelasan Nico dengan menyiapkan api unggun.

“Tapi walaupun begitu, pihak Eugene diam-diam menempatkan prajurit mereka dikota itu. Kota itu adalah asset yang berharga. ‘Mereka yang bisa memonopoli perdagangan bisa mengatur dunia.’ Setidaknya itulah yang aku dengar dari salah satu masterku di akademi” jelas Nico lagi yang kini sudah mengeluarkan perbekalan mereka dan menyiapkan makan malam.

“Yah, berarti tidak terlalu aman juga bagi kita untuk beristirahat disana” ucap Kein yang kini sudah duduk bersila didepan perapian yang selesai ia buat.

“Tapi setidaknya puluhan kaum ada disana, membuat kita mudah untuk berbaur. Dan biarpun Eugene menempatkan prajurit disana, mereka tak akan gegabah dalam melakukan tindakan. Hal itu bisa memicu peperangan” jawab Nico kemudian.

Kein tersenyum “kenapa kau tidak bekerja dibagian pemerintahan kerajaan saja, Nic? Menjadi dewan kerajaan mungkin? Kenapa malah memilih menjadi Elemental? Seorang Relkver malahan” Tanya Kein yang kini sudah siap dengan makan malamnya.

“Mempelajari seni sihir itu hal yang menyenangkan. Dan lagi saya suka hal-hal yang menantang. Saya suka petualangan” jawab Nico dengan tawa, yang kemudian direspon tawa juga oleh Kein.

“Senangnya menjadi remaja” saut Kein masih dengan setengah tertawa. Kemudian ia mulai mengingat masa-masa indahnya di kerajaan. Mengingat teman-temannya dan juga istrinya tercinta, “Nic, bisa kau ceritakan kejadian dikerajaan setelah aku tidak ada disana?” Tanya Kein tiba-tiba setelahnya.

Nico terhenti dari tawanya karena walau senyuman Kein masih terlihat namun mata pria itu tampak serius “Yah setelah anda keluar dari kerajaan, keadaan tidak bertambah baik. Pangeran Belias memaksa yang mulia baginda raja untuk segera melakukan penobatan dirinya sebagai pengganti raja. Beliau beralasan untuk keselamatan yang mulia baginda raja, disamping usianya yang sudah tua, juga karena adanya pihak-pihak yang mengincar nyawa yang mulia. Dan begitu pangeran Belias naik tahta, ia segera mengangkat Pendeta Patrick menjadi kanselir mengantikan Master Luin” Nico berhenti untuk minum dan kemudian melanjutkannya lagi “tak lama setelah itu master Ged dan lady Tracy mengundurkan diri. Mereka pulang ke kampung halaman master Ged di Raba dan menikah, kemudian master Luca mengajukan diri menjadi penjaga Oracel setelah Relkvernya master Garen kembali melanjutkan pendidikan di akademi, beliau hendak mendalami seni sihir Pure-Elemental, penyihir elemen murni” jedahnya lagi membenahi caranya duduk “dan lalu setahun setelahnya master Brian dan master Digzy mengundurkan diri. Terdengar kabar mereka menuju ke selatan, banyak yang mengatakan itu karena permintaan dari Oracel sama seperti kita sekarang”

“Jadi Brian juga diutus oleh Nubie? Luca tidak mengatakan itu padaku” sela Kein terlihat sedikit kesal dengan Luca.

“Oya, kalau anda tidak keberatan saya ingin bertanya, sebenarnya apa yang menyebabkan anda mau menerima permintaan dari Oracel ini? Bukankah anda sudah tak ingin masuk dalam urusan seperti ini?” Tanya Nico yang tidak terduga oleh Kein.

Terlihat Kein terdiam sebentar, seolah sedang menyiapkan kata yang tepat “mungkin karena seorang Oracel datang sendiri kerumahku, kemudian meminta tolong padaku, karena dunia sedang dalam bahaya. Dan kurasa aku cukup berperasaan untuk tidak menolaknya” ucapnya kemudian.

Nico mengangguk pelan. Sedang Kein kembali terdiam. Ia telah membohongi Nico dengan mengatakan hal itu. Karena sebab utama dia menyanggupi permintaan ini adalah, Oracel menjanjikannya penyelesaian akan masalah yang selalu menghantui hidupnya tiga tahun belakangan yaitu kematian Diana.

“Sudahlah ayo kita tidur, besok kita harus melanjutkan perjalanan kita lagi” ucap Kein kemudian menutup percakapan. Mereka kemudian membereskan peralatan makan mereka dan kemudian bersiap masuk kedalam tenda.

 

Ditengah malam Kein tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah suara yang mencurigakan. Instingnya yang sudah terlatih itu membuatnya terjaga dari tidur ketika ada sesuatu yang tidak biasa terjadi disekitarnya. Ia yakin bahwa ada orang yang mendekat kearah tempat mereka beristirahat. Masih dalam posisi tergeletak Kein mencoba melirik kearah api unggun yang mulai meredup, memastikan keadaan. Kemudian makin lama makin jelas terdengar bahwa itu memang suara langkah dan dapat dipastikan lebih dari dua orang mendekat. Kein meletakan tangan kanannya pada gagang pedangnya, masih berpura-pura tidur menunggu orang-orang asing itu mendekat. Begitu nampak sosok dalam naungan cahaya redup api unggun itu, segera Kein melakukan serangan kejutan. Kein melompat berdiri dan dengan cepat berlari kearah sesosok yang tampak dihadapannya, tangan kirinya diarahkan kearah api unggun dan dalam hitungan detik api unggun itu mati, meninggalkan gelap pekat yang mendadak.

Kemudian terdengar suara teriakan seorang perempuan yang mengejutkan Nico.

“Siapa kalian?” Teriak Kein didalam pekat.

“Hentikan! Hentikan! Kami bukan penjahat” suara perempuan terdengar tergagap menjawab.

Nico yang sudah dalam posisi kuda-kuda bertempur segera merapal “Bhaṛkan” dan membakar api unggun yang tadi dimatikan oleh Kein. Terang yang tiba-tiba membuat semua orang yang ada disitu terkejut, tak ubahnya Kein.

Kini tampaklah seorang gadis dalam posisi terdekap oleh Kein dari belakang dengan Bhara menempel tepat di lehernya. Gadis itu berperawakan seperti Morra. Dan juga tampak seorang gadis lain dihadapan Kein dengan kuda-kuda siap menyerang, gadis itu juga berperawaan Morra seperti Kein dan Nico, namun memiliki rambut berwarna putih dan mata dengan pupil seperti kucing berwarna kuning terang berkilau karena cahaya api unggun. Gadis kaum Getzja. Dibelakang gadis Getzja itu nampak seorang gadis lagi seumuran dengan Nico sedang berdiri ketakutan melihat keadaan yang terjadi. Jelas sekali posture tubuh Narva dengan rambut dan mata berwarna hitam legam. Seorang Seithr.

“Siapa kalian? Dan kenapa kalian ada disini? Apa tujuan kalian?” Tanya Nico kemudian.

“Tenang-tenang, kami bukan penjahat. Kami hanya pengelana yang kebetulan sedang lewat. Kami melihat ada cahaya dari kejauhan makanya kami datang kemari” jawab gadis Morra dalam sergapan Kein.

“Jadi kalian pencuri ya?” Saut Nico.

“Hey jaga bicaramu!” Si Getzja tidak terima.

Hal itu membuat Nico sedikit was-was dan meningkatkan kewaspadaannya. Karena ia sadar sedang berhadapan dengan kaum Getzja, salah satu kaum dari ras manusia yang dianugrahi insting membunuh secara alamiah. Mereka tidak dapat menggunakan sihir, namun seluruh indra mereka berfungsi lebih dari manusia biasa, malahan jauh lebih tajam dari segala hewan pemburu yang pernah ada. Bahkan Kein yang ada disitu belum tentu dapat menyelamatkannya. Perlahan tapi pasti segera ia merapatkan diri kearah Kein.

“Kenapa kalian diam-diam menyelinap saat kami sedang tertidur?” ucap Kein dengan pertanyaan yang belum juga melepas salah seorang dari tiga gadis itu dari sergapannya, walau kini ia sudah tak terlalu kuatir terhadap siapa lawannya sekarang.

Sementara ketiga gadis itu diam tak menjawab.

“Hey, Nic?” Kein mencondongkan diri kearah Nico yang sudah ada didekatnya “Kau amati baju gadis Seithr dibelakang itu” perintah Kein dalam bisik agar perempuan dalam dekapannya itu tidak mendengar.

Nico mengamati gadis yang ada dibelakang gadis Getzja itu. Dari ujung bawah hingga atas. Dan lalu matanya menangkap sebuah simbol kecil dan hampir robek diantara pergelangan tangan bajunya. Simbol yang dikenal Nico dengan simbol Vaelum, simbol kerajaan besar kaum Seithr. Dan berarti gadis itu ada hubungannya dengan WindGhoul “Kein, apa anda sudah tahu?” respon Nico kemudian yang dibalas dengan senyuman kecil oleh Kein.

“Kumohon lepaskan kami, kami hanya tiga gadis yang kelaparan” ucap gadis yang ada dalam dekapan Kein tadi mengiba.

“Bila kalian lapar, kalian tinggal memintanya kepada kami” ucap Kein kemudian seraya menurunkan pedangnya dan melepaskan gadis dalam sergapannya tadi.

Perubahan perilaku Kein yang mendadak lunak itu membuat para gadis sedikit terkejut. Dan sama seperti teman-temannya yang kebingungan gadis Getzja dihadapan Kein itupun menurunkan kuda-kudanya menjawab aksi Kein yang kini telah kembali menyarungkan pedangnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s