\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 4\part2

Tak berapa lama mereka telah keluar dari gerbang utara WindGhoul. Gerbang ini disebut gerbang luar dikarenakan bagian utara terluar wilayah WindGhoul adalah garis perbatasan Morra dengan wilayah netral Marc de’Vion dan wilayah Narva.

Kein dan Nico bersama dengan beberapa rombongan orang yang juga hendak keluar dari kota itu mulai meninggalkan WindGhoul.

“Benar-benar kacau” ucap Kein sambil menatap kearah kastil “apa yang dimaksud dengan bencana oleh Oracel itu seperti ini?” tambahnya kemudian.

  “Apa ‘perang 200 bulan’ yang lalu akan terulang?” Nico berbisik pada Kein “Anda fikir apa yang sebenarnya diketahui oleh Oracel?” Tanyanya lagi begitu mereka bersiap untuk kembali berjalan lagi.

“Dia tidak bercerita apapun padamu sebelum berangkat?” Tanya Kein pada Nico.

Nico hanya menggeleng “Oracel hanya memintaku untuk mendampingi anda ke utara, kemudian membuatku berjanji untuk tidak meninggalkan anda oleh karena sebab apapun” jawabnya kemudian.

“Memang perempuan itu, meminta orang seenaknya saja tanpa penjelasan apapun” saut Kein.

“Jadi beliau juga tidak mengatakan apapun tentang perjalanan ke utara ini pada anda?” Tanya Nico tampak tak percaya juga.

“Percayalah, dia hanya datang minta bantuan kemudian bicara tentang  Dawn of Crystar dan bencana besar pada Elder” jawab Kein sembari berjalan menjauhi gerbang. Mereka memasuki hutan, sengaja menjauh dari jalan besar.

Dawn of Crystar?!” Tampak Nico mengenali perkataan Kein barusan.

“Kau tahu tentang Dawn of Crystar?” Tanya Kein terlihat terkejut.

Nico hanya mengganguk “Kurasa begitu. Aku pernah membacanya di perpustakaan akademi” jawabnya kemudian.

“Oh iya, kenapa aku harus terkejut. Baiklah Nic, jelaskan untuk ku” ucap Kein kemudian.

“Jadi menurut yang saya baca, Dawn of Crystar adalah piala harta leluhur kaum Aeron. Ada yang menyebutkan piala itu adalah media untuk memanggil ‘Sayap Api’ kekuatan yang dulu pernah mengutuk peradaban Symirr, kaum Pharos. Namun menurut rumor sebenarnya ‘Sayap Api’ itu hanya sebagian kecil dari kekuatan Dawn of Crystar itu sendiri. Kuat kemungkinan bahwa itu adalah senjata yang diciptakan kaum Chron untuk mengalahkan para Ancient ribuan tahun yang lalu, walau memang sampai sekarang belum benar-benar terbukti” jelas Nico panjang lebar.

Kein terlihat berfikir ia terdiam dengan wajah serius “Kau tau apa lagi tentang pemanggilan sayap api?” Tanyanya kemudian.

“Tidak terlalu banyak sih. Karena memang tidak pernah ada buku yang benar-benar menulis tentang pemanggilan sayap api. Tapi setahuku perlu lima ritual yang disebut ‘penyambutan pelindung’ untuk membuka segelnya” jawab Nico menjelaskan.

“Dan lima ritual itu?”

“Tidak ada yang tahu pasti juga, apa dan bagaimana ritual itu sebenarnya. Tapi beberapa literatur lama mengatakan lima ritual itu memiliki lima tempat tertentu untuk membuka segelnya” jelas Nico lagi “Apa menurut anda semua hal ini ada sangkut pahutnya dengan pemanggilan sayap api?” Nico balik bertanya pada Kein.

“Entahlah. Aku masih tidak bisa membacanya, hanya saja Nubie bilang semua ini tentang piala Dawn of Crystar itu.” jawab Kein “oya, kau tau sekarang piala itu ada dimana?”

“Piala itu harta leluhur milik kaum Aeron, jadi harusnya benda itu tersimpan aman diperkampungan mereka di dalam hutan El’Aran di sebelah barat kota besar para penyihir-Aksa” jelas Nico lagi.

Kein menatap Nico seolah tak percaya “kau tau Nic? Mungkin ini yang dimaksud Nubie kau akan sangat membantuku” ucapnya kemudian.

“Apa benar Oracel bilang saya akan sangat membantu?” Tanya Nico kemudian dengan wajah yang berseri-seri.

“Sudahlah aku tidak akan mengulanginya” jawab Kein sambil lalu.

Mereka berjalan kaki ke utara menuju Vion. Mereka terpaksa meninggalakan kuda-kuda mereka karena hal ini.

Tiba-tiba terdengar suara-suara didepan mereka, dibalik kegelapan diantara semak belukar. Tampak mencurigakan.

“Apa itu Kein?” Tanya Nico terlihat waspada “apa hewan liar?” Tanyanya lagi.

“Entahlah” saut Kein singkat dengan tangan siap digagang pedangnya seraya berjalan mendekat.

Saat tak lebih dua langkah dari sumber suara itu, tiba-tiba menyeruak keluar dengan cepat menyerang Kein dengan menukik. Kein dengan sigap menarik pedangnya untuk melindungi diri. Suara dua besi beradu terdengar menggema diantara sunyinya hutan. Kein dengan tepat menahan sebuah pedang yang terarah ke pundak kanannya. Tampak dihadapannya seorang dengan seragam Fulgr yang terlihat setengah terkoyak. Dengan penutup mata di mata kirinya, terlihat wajahnya garang.

Dengan sigap Kein mendorong pria asing yang tiba-tiba menyerangnya itu mundur, sambil kemudian memasang kuda-kuda siap bertempur.

“Siapa kau?!” Teriak Kein “kami tidak memiliki masalah denganmu” ucapnya mencoba menghindari pertarungan yang tidak perlu.

Sementara pria bermata satu itu masih terdiam dengan satu matanya yang menatap tajam kearah Kein.

“Kau seorang Fulgr?” ucap Nico bertanya dengan sedikit gugup “Kau-kau Noa?!” Tambahnya “Noa sang Fulgr Nocturne” dengan mantab seraya menunjuk kewajah Fulgr itu.

Mendengar namanya disebut pria bermata satu itu sedikit terkejut, dan menambah kewaspadaanya.

Kein menatap Nico “Fulgr Nocturne? Jendral besar WindGhoul? Kau yakin?” sela Kein kemudian tak percaya.

“Benar, aku tak akan salah. Bermata satu dengan cara berpedang kidal” ucap Nico yang kemudian diikuti Kein dengan memperhatikan cara pria itu memegang pedang yang memang memakai tangan kirinya.

“Kau pernah melihat Jendral besar WindGhoul?” tanya Kein lagi hanya kali ini lebih karena dia kagum pada Nico. Bahkan dia yang seorang Sverdinal saja belum pernah melihat jendral besar yang mereka maksud ini. Itu dikarenakan Jendral besar WindGhoul ini jarang sekali muncul pada acara-acara resmi kerajaan. Namun kisahnya di medan tempur telah menjadi legenda.

“Aku mendengar kisah-kisahnya saat di akademi”

“Oh” ucap Kein sambil kembali menatap lawan dihadapannya. Jadi belum tentu benar bahwa lawannya ini adalah Noa yang dimaksud, pikir Kein dalam hati.

“Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?” Akhirnya pria yang dikenal dengan Noa itu bersuara.

“Hey-hey, harusnya itu pertanyaan kami. Kau yang menyerang kami pertama ingat?” Balas Kein sedikit jengkel.

“Jangan main-main” ucap Noa yang juga terlihat jengkel.

“Kau yang jangan main-main” Kein tidak terima.

“Kau!” Terlihat Noa semakin panas.

Sementara Kein mulai bersiap dan waspada akan serangan mendadak dari lawannya. Ia memberi tanda untuk Nico sedikit mundur kebelakang. Bila memang benar yang dikira Nico pria bermata satu itu adalah Noa sang jendral besar WindGhoul, berarti ini akan jadi pertarungan yang sulit.

“Noa hentikan” tiba-tiba terdengar suara dari belakang Noa berdiri.

Ternyata benar Noa, pikir Kein. Segera dia meningkatkan kewaspadaannya, karena lawannya ini bukan main-main.

Noa menatap kebelakang saat seorang paruh baya keluar dari semak dan kemudian ia menurunkan kuda-kudanya. Pria baya itu terlihat terengah seolah habis berlari puluhan mil.

Pria baya itu memperhatikan Kein “Phatonica? Seorang Sverdinal api rupanya” ucapnya kemudian.

Kein menurunkan Bhara-pedangnya dengan cepat, karena dia sadar pria baya itu dapat mengenali dirinya dari pedang yang dipegangnya.

“Kenapa kalian bisa sampai kemari? Kurasa kalian tak mungkin ada kaitannya dengan kejadian didalam sana” tanya pria baya tersebut.

“Maaf, tapi aku tak harus menjawab pertanyaanmu” jawab Kein tenang.

“Jaga bicaramu!” Noa kembali mengangkat pedangnya.

“Noa!” Pria baya itu mencegah.

“Kalian yang ada diatas salah satu Hurracun yang meluncur dari arah kastil tadi kan?” Saut Kein dengan pertanyaan “lebih baik kalian segera pergi sebelum para Fulgr yang lain menemukan kalian” tambah Kein tanpa menunggu jawaban, kemudian kembali menyarungkan pedangnya “kami tidak mau terlibat lebih dengan masalah kalian. Ayo Nic” ajak Kein kemudian pada Nico untuk segera pergi dari tempat itu.

“Terima kasih ksatria api, semoga kelak kita bisa bertemu lagi dalam kondisi yang tidak seperti ini” ucap pria baya itu melihat Kein berlalu pergi.

“Kein?” Nico berbisik seraya menyusul Kein.

“Iya?” Jawab Kein ringan.

“Anda tau siapa pria tua itu?”

“Hm… entahlah? Tapi menurutmu siapa dia, hingga jendral besar WindGhoul tunduk hanya dengan mendengar sekali saja ucapan darinya?”

Nico terlihat befikir “ah, jangan-jangan dia…”

“Kurasa memang dia” saut Kein yang seolah sudah bisa menebak apa yang akan diucapkan Nico.

“Benar-benar, pemberontakan itu mampu membuat pemimpin besar seperti dia harus melarikan diri” ucap Nico lebih kepada dirinya sendiri.

~0~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s