\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 4\part1

 

Bagian 4

_Kekacauan

 

 

Nico tampak menyipitkan mata saat bertatapan dengan sinar mentari yang terbias diantara gerbang kota WindGhoul yang begitu megah dengan pintu besi besar yang terbuka lebar. Gerbang bagian selatan dari kerajaan WindGhoul ini sering disebut juga dengan gerbang dalam. Sedang gerbang sisi yang lain, bagian yang utara sering disebut dengan gerbang luar. Gerbang itu adalah gerbang perbatasan yang sudah ditetapkan dalam perjanjian perdamaian antara Morra-Narva.

“Kota para Fulgr” ucap Kein turun dari kudanya dan mulai menuntunnya masuk kedalam gerbang diikuti Nico dibelakang.

  Kota ini cukup ramai, dilihat dari salah satu kota besar setelah kota kerajaan Bhasanta dalam kawasan perserikatan Morra. Namun karena berupa kota militer di garis paling depan maka para pedagang tak banyak terlihat seperti pada kota-kota satelit disekitar WindGoul. Hanya beberapa saja yang tampak memajang dagangan mereka dijajaran pinggiran gerbang.

Para Fulgr dan Hurracun nya simpang siur dilangit yang meninggalkan bayangan-bayangan berkelebatan dijalan. Fulgr adalah sebutan para ksatria khusus WindGhoul, mereka adalah seorang Sky Elemental, penyihir langit. Mereka memiliki ciri khas yang selalu menunggangi seperti seekor elang, sebesar kuda yang disebut Hurracun.

 

“Kurasa setelah perang Vaelum, WindGhoul benar-benar dalam situasi politik yang terus berkecamuk. Pewaris tahta kaum Seithr selalu bermusuhan dengan rakyat atau golongan bukan bangsawan” jelas Nico setiba mereka disalah satu penginapan didaerah pusat kota “Perubahan pemerintahan semenjak WindGhoul masuk menjadi salah satu dari angota kerajaan serikat Morra lah yang menyebabkan hal ini” tambahnya kemudian.

“Kita sedikit terlambat. Tadi siang baru saja diadakan sayembara untuk mencari pendamping bagi sang putri mahkota. Acara yang jarang sekali diadakan. Kurasa hal itu yang membuat kota ini jadi lebih sibuk dan ramai dari biasannya” Nico kembali menjelaskan, “Padahal aku ingin menontonnya” tambahnya kemudian.

“Sayembara?” tanya Kein penasaran.

Nico mengganguk, “karena penerus tahta adalah seorang perempuan, maka akan dipilih pendamping yang akan menjadi raja kelak dari kalangan bangsawan. Biasanya diikuti oleh para bangsawan Seithr. Tapi tidak menutup kemungkinan bangsawan diluar darah Seithr juga ikut” jelas Nico.

“Bangsawan bukan Seithr?”

“Benar. Tapi masih tetap harus bangsawan. Konon sayembara itu diadakan agar tidak ada rasa iri atau sakit hati antar keluarga bangsawan yang tidak terpilih” jelas Nico lagi, “baru kali ini sejak 70 tahun terakhir, WindGhoul tidak memiliki penerus tahta seorang laki-laki” tambahnya.

Kein hanya mengangguk kecil menyimak penjelasan Nico dengan seksama “kau itu seperti buku sejarah berjalan. Bagaiman kau bisa tahu semua itu di akademi?” Tanya Kein kemudian menyikapi rasa penasarannya.

“Jangan salah. Akademi adalah salah satu pusat dari segala informasi yang sedang terjadi di seluruh penjuru Elder. Mereka punya satu bagian yang bertugas merekam semua kejadian diseluruh Elder ini dalam sebuah catatan sejarah. Mereka menulis secara lengkap, detail, dan akurat” jelas Nico “Anda percaya Kein, mereka membukukan kejadian yang terjadi dalam satu dekade. Coba anda bayangkan seberapa tebal dan besarnya buku itu. Belum lagi kejadian-kejadian penting yang terjadi di sepanjang sejarah Elder” tambahnya menjelaskan.

“Ya-ya, aku paham” Kein segera menghentikan rentetan penjelasan Nico yang panjang lebar sambil melangkah mendekati jendela, menatap keluar kearah taman kota yang indah dengan patung perunggu Tūphāna, dewa badai kaum Seithr berdiri ditengahnya. Serupa pria gagah menatap angkasa dengan tangan kanan menggengam petir, dan tangan kiri memegang gelang sebesar kepalanya.

“Kita akan ke Vion setelah ini” ucap Kein kemudian.

“Kenapa kita tidak melewati Eugene saja? Ke Vion berarti kita memutar” Tanya Nico kemudian.

“Aku tau akan lebih cepat bila melewati Eugene, tapi sejak dulu Eugene sangat membenci Phatonica, dan oleh karena sebab-sebab itulah keberadan kita akan menimbulkan banyak masalah disana. Kau mengerti?”

Nico mengangguk kecil, kemudian tampak seperti sedang berfikir “jadi setelah Vion kita akan melewati Terafa baru ke gunung Gryni?”

Kein hanya mengangguk “Baiklah aku keluar dulu. Kau bisa disini atau keluar juga bila kau mau” ucapnya kemudian.

“Anda mau kemana?” Tanya Nico penasaran.

“Menikmati suasana kota” saut Kein sambil berjalan keluar.

 

Kein keluar dari sebuah kedai minum hampir mendekati tengah malam. Keadaan diluar tidak terlalu ramai untuk ukuran kota besar, walau pemandangan masih begitu terlihat indah. Kastil WindGhoul terlihat menjulang dengan gerbangnya yang tinggi seolah menantang langit di bagian utara berhadapan dengan patung Tūphāna. Cakram perak di ujung menara tertinggi yang dikenal dengan sebutan Cincin Langit itu tampak berkilauan ditimpa cahaya bulan separuh. Terlihat beberapa orang masih tampak dijalan-jalan kota. Mungkin hanya mereka-mereka yang terbiasa hidup didunia malam yang masih bertahan, sisanya sudah mengunci diri dalam rumah mereka masing-masing. Padahal kota ini sedang mengadakan acara besarnya. Mungkin kota-kota yang rawan akan konflik akan terlihat seperti sekarang ini, pikir Kein.

Tiba-tiba saat Kein sudah berada didepan penginapannya, puluhan Hurracun dengan pekikan yang mengganggu telinga melayang cepat diatas kepalanya menuju kearah kastil. Kein mendongak dan mengikuti dengan tatapannya. Para pengendara Hurracun itu terlihat bukan Fulgr. Kein masih mencoba melihat dari tempatnya berdiri sampai terlihat api dan ledakan dari arah kastil. Dan tak berapa lama terdengar suara-suara pekik Hurracun saling bersautan. Walau posisi jarak Kein yang cukup jauh dari kastil, namun masih bisa terlihat cahaya-cahaya bersautan di langit diantara Cincin Langit. Sihir-sihir dari para Sky Elemental dari atas Hurracun mereka lah yang menimbulkan pemandangan kilat-kilat cahaya itu.

Satu persatu lampu-lampu terlihat menyala dari balik jendela rumah-rumah yang ada disekitar situ dan kemudian disusul suara ribut yang makin lama makin terdengar keras.

“Sial, jangan sewaktu aku ada disini” Kein terdengar mengumpat.

“Kein?” Terdengar suara Nico memanggil dari jendela lantai dua menatap Kein dengan wajah takut dan was-was.

“Kita tak boleh berlama-lama ditempat ini. Apapun yang terjadi disana bisa menyeret kita. Kita menuju gerbang utara” ucap Kein sebegitu dia sudah kembali dalam kamarnya.

“Memang apa yang terjadi?” Tanya Nico kemudian seraya mengambil tas punggungnya yang memang belum sepenuhnya terbongkar.

“Kurasa itu kudeta. Sebegitu banyak Fulgr tanpa seragam kerajaan”jelas Kein yang juga berkemas.

“Kenapa bisa tepat seperti ini?” Keluh Nico seraya mengikuti Kein keluar kamar.

Suasana bertambah mencekam. Jalanan dipenuhi hilir mudik orang-orang yang panik dan ingin menyelamatkan diri sendiri. Dilangit warna jingga dari api yang berkobaran membuat bulu tengkuk berdiri. Ditambah suara-suara ledakan dan teriakan-teriakan Hurracun.

“Lewat sini!” Teriak Kein pada Nico saat mereka melewati jalanan yang ditutup oleh puluhan prajurit dengan seragam Fulgr yang berbeda warna dengan seragam kerajaan. Nico mengikuti Kein yang berlari melewati lorong diantara rumah-rumah penduduk. Dan setelah dua kali berbelok dan melompati pagar tembok, akhirnya mereka kembali kejalan raya menuju ke arah pintu gerbang utara.

“Ya, kurasa kita berhasil” saut Nico gembira dengan balutan wajah lega.

Sementara Kein hanya mengganguk saat dari arah kastil seekor Hurracun meluncur dengan cepat kearah hutan diluar gerbang utara. Tapi belum cukup waktu Kein menduga, disusul satu lagi Hurracun yang meluncur kearah yang sama dengan yang pertama.

“Apa itu Kein?” Tanya Nico yang penasaran dengan wajah Kein yang tampak serius memperhatikan kedua Hurracun tadi.

“Entahlah. Tapi perasaanku mereka orang-orang penting” ucap Kein “ ayo kita segera keluar dari sini” tambahnya sambil kembali berlari, diikuti Nico.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s