\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 3\part2

 

Dan setelah berhasil memadamkan api dari rumah-rumah warga, akhirnya Kein dan Nico bisa beristirahat. Sedangkan para penduduk yang kehilangan tempat tinggal menginap dirumah-rumah yang tidak terbakar sampai besok pagi mereka membenahi rumah-rumah mereka yang rusak.

“Picsi” Kein menyebut nama Summoner yang ia dapat dari pemimpin bandit tadi, saat mereka sudah kembali berada dalam kamar mereka.

“Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Seorang Summoner ya?” Terlihat Nico mencoba berfikir dan mengingat dimana dia pernah mendengar nama itu.

“Benar itu nama Summoner yang memanggil Phonix tadi” tambah Kein.

“Oh iya, aku ingat! Nama dari Summoner besar kerajaan pusat” ucap Nico kemudian dengan bersemangatnya.

Summoner Bhasanta?”

“Benar tidak salah lagi. Julukannya Picsi The Autum. Dia adalah Summoner besar kerajaan Bhasanta.

“Kerajaan pusat punya seorang Summoner? Kenapa aku tak pernah mendengarnya?” Tanya Kein yang terlihat seolah meragukan jawaban Nico.

“Bukan seorang, melainkan empat. Mereka mulai diangkat tiga tahun yang lalu, tepat pada tahun-tahun anda mengundurkan diri” Nico tampak berapi-api menjelaskan.

“Masuk akal. Mungkin itu sebabnya aku tak mengenal mereka. Aku sudah tak mengikuti kabar atau kejadian ditanah ini mulai dari tiga tahun yang lalu”

“Tapi mereka hanya bertahan selama dua tahun saja. Setahun yang lalu para Summoner itu meninggalkan kerajaan. Ada yang bilang karena perbedaan visi antar mereka yang sulit untuk disatukan, ada juga rumor yang berkata mereka kembali melakukan perjalanan peziarahan mereka ke kuil-kuil para Anima. Tapi dari semua itu tidak ada yang pasti, bahkan pihak kerajaan pun tidak mengeluarkan penjelasan apapun mengenai perihal tersebut”

Kein tampak diam berkonsentrasi mendengarkan penjelasan Nico dengan menganguk-angkuan kepalanya.

“Kau tahu latar belakang dari para Summoner itu?” Tanya Kein lagi.

“Kalau yang itu saya kurang begitu tahu. Tapi dulunya mereka berempat dari Perserikatan Kuil Zurson, dipanggil ke kerajaan pusat atas rekomendasi kanselir kerajaan, Master Logos” jelas Nico lagi.

“Kuil Zurson?”

“Salah satu dari perserikatan para Summoner Morra. Pada waktu itu penasehat raja merasa kerajaan butuh pelindung, karena besarnya potensi ancaman dari anggota kerajaan serikat lainnya. Kerajaan-kerajaan Morra sedang memasukin masa perang dingin kala itu, yang belakangan ini semakin menjadi-jadi saja”

“Pemikiran yang menarik. Bukan mencari Sverdinal, mereka memanggil Summoner dan empat sekaligus, bukankah itu semakin menambah potensi ancaman dari luar” Kein nampak mengemukakan pandangannya.

“Memang Bhasanta sempat menjadi semacam ancaman baru bagi kerajaan-kerajaan Morra yang lain termasuk Phatonica. Dan itu semakin memperburuk keadaan, namun tidak bertahan lama”

“Entah apa yang dipikirkan Logos, memiliki satu saja sudah sangat mematikan. Bagai mana dia bisa membujuk empat Summoner ini? Terlebih kebijakan perserikatan yang seperti itu?”

“Kurasa bujukan Master Logos tidak terlalu berhasil. Buktinya dua tahun setelahnya mereka pergi dari kerajaan”

“Iya aku tahu itu, tapi masih susah dipercaya” Kein berucap lagi.

“Kuil Zurson adalah perserikatan yang non-kerajaan, berdiri sendiri, jadi tidak menyalahi kebijakan manapun ketika mereka membiarkan anggota mereka memihak ke salah satu kerajaan atau golongan tertentu kalo itu yang meresahkan anda” jelas Nico lagi.

Kein kembali merespon penjelasan Nico dengan anggukan kepala, terlihat ia sedang berfikir dan menganalisa keadaan. Kenapa mantan Summoner besar mau merendahkan diri untuk membantu para bandit kelas teri merampok desa. Hal itu sangat tidak masuk akal bagi Kein.

“Apa yang sedang anda fikirkan, hm… Kein?” Tanya Nico sedikit cangung menyebut nama Kein.

“Tidak, lupakan saja. Dari mana kau bisa tau hal-hal semacam itu? Apa itu salah satu pelajaran yang diajarkan di akademi?”

“Tentu tidak. Saya hanya tertarik dengan hal-hal semacam itu”

“Kabar burung?”

“Bukan kabar burung, melainkan informasi. Karena informasi adalah kekuatan” jawab Nico sedikit berang.

“Oh…” Kein mengangguk kecil dengan wajah yang mengisyaratkan bahwa dia menyesal telah meremehkan Nico “Baiklah, besok kita harus kembali melakukan perjalanan. Sekarang lebih baik kita beristirahat” tutupnya.

 

Paginya seluruh warga desa berkumpul didepan gerbang desa yang porandakan itu untuk melepas kepergian Kein dan Nico-sang penyelamat mereka. Ucapan terima kasih banyak terucap dari warga desa, bahkan Kein dan Nico harus bersusah payah menolak pemberian-pemberian warga sebagai rasa terima kasih mereka yang berupa perbekalan makan, pakaian, dan beberapa bahkan hendak menjodohkan putri-putri mereka.

“Jadi kalian akan melewati desa Bet-Zur di kaki bukit Kematian. Setidaknya tinggal seharian dari desa itu untuk sampai WindGhoul” Jelas Sebastian memberi arahan tujuan Kein dan Nico.

“Benar kalian tidak ingin tinggal barang semalam lagi didesa ini?” Tanya Lia untuk yang kesekian kalinya.

Kein hanya tersenyum “Terima kasih. Sebegitu kami selesai dengan tugas kami ini, kami akan berkunjung kemari” jawabnya dengan sopan menolak.

“Desa ini selalu terbuka untuk kalian” ucap Sebastian kemudian.

“Baiklah kalau begitu kami pergi” ujar Kein seraya melompat keatas kudanya.

Dan kemudian mereka berdua dengan perbekalan secukupnya mulai berkuda kearah barat laut menuju ke bukit Kematian sebelum menuju kearah WindGoul diiringi lambaian tangan para warga desa.

Kein melihat senyum diwajah Nico, “Kenapa Nic?” Tanyanya kemudian.

“Oh, tidak. Bukan apa-apa” Nico tergagap mendengar pertanyaan dari Kein.

“Ada gadis yang kau taksir diantara mereka tadi?” Tanya Kein sengaja menggoda.

“Bukan. Bukan itu” jawab Nico buru-buru dengan wajah yang berubah merah.

“Lalu?”

“Hanya perasaan nyaman saja melihat senyum bahagia mereka, apa ini rasanya menjadi pahlawan?” jawab Nico yang tidak disangka-sangka oleh Kein.

Kein ikut tersenyum “bukan, jelas bukan karena itu” jawabnya kemudian seraya menatap bentangan sabana yang nampak luas sepanjang horizon dihadapannya.

~0~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s