\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 3\part1

Bagian 3

_Penyelamatan desa

 

 

Teriakan dari para bandit itu mulai keras terdengar dengan semakin mendekatnya mereka kearah desa. Tercium aroma darah dan kebengisan dari mereka. Kein mulai memasang kuda-kudanya, ia tak akan membiarkan para bandit itu memasuki desa.

“Semuanya bersiap!” Teriak Kein bersiap menahan serangan yang datang. Namun ketika ia menatap kearah belakangnya, hanya ada empat pemuda dengan senjata seadanya dan kurang pengalaman bertempur. Tak sebanding dengan sekitar 25 bandit bersenjata dan baju pelindung yang siap menyerang dari depan mereka. Akan sia-sia semuanya kalau ia tak melakukan sesuatu, pikir Kein.

Kein mengangkat pedangnya ke udara. Tampak ia sedang berkonsentrasi, menyiapkan sebuah serangan “Pr̥thvī garmī!!!” Teriaknya kemudian seraya menebaskan pedangnya ketanah tepat didepan ia berdiri.

Dan seketika itu juga tanah dihadapan Kein tergetar dan seperti lava gunung berapi, tanah dan bebatuan yang panas membara menyembur keluar dari dalamnya dan terus bergerak menuju kearah para bandit didepan. Hal yang mencengangkan dan mengejutkan ini tak sempat direspon oleh para bandit. Barisan bandit itu porak-porandak, beberapa dari mereka terluka. Meski sudah hampir tiga tahun Kein berhenti dari kerajaan, tapi ia selalu berlatih dan mengasah kemampuannya. Melihat hal yang dilakukan Kein barusan membuat para bandit yang lain berfikir ulang untuk maju kedepan.

Kein masih memasang kuda-kuda tepat didepan pintu gerbang yang kini berantakan itu. Menatap dingin kedepan seolah siap menebas semua benda yang melangkah maju. Saat kemudian dari gerombolan bandit itu tampil sesosok pria dengan aura membunuh yang kuat, menantang Kein. Pria itu adalah pemimpin gerombolan bandit ini. Pria yang disebut-sebut dengan julukan Valcon si mata merah. Pria yang membuat Kein ingin menemuinya, membuat Kein membelokan arah perjalanannya dari WindGhoul.

“Tak disangka ada seorang Sverdinal ditempat seperti ini” Ucap pemimpin gerombolan bandit itu sambil bertepuk tangan. Kini sosoknya mulai terlihat ketika ia keluar dari naungan bayang-bayang. Tampak pria dengan tubuh yang tegar dan berwajah bengis. Di kedua lengannya terlihat menempel seperti sebuah besi berbentuk sabit. Dan yang paling mencolok dari sosok Valcon ini adalah bijih matanya yang berwarna merah membara.

Kein mengamati dengan teliti sesosok pria dihadapannya ini. Kemudian teringat ia akan sosok pembunuh istrinya tiga tahun yang lalu.

“Bukan. Bukan dia” ucap Kein dengan sedikit nada kecewa dibalut nada lega. Kemudian kembali Kein mengangkat pedangnya, matanya kembali membara “Sampah. Hanya seongkok sampah” ucapnya lagi pelan.

“Dari kerajaan bagian mana kau Sverdinal? Sudah lama tak pernah kulihat seni Elemental seperti tadi” ucap si Valcon dengan nada meremehkan.

“Apa kau yang memanggil Phonix tadi?” Tanya Kein tanpa menghiraukan pertanyaan Valcon sebelumnya.

“Apa maksud mu? Dasar Sverdinal tak tau sopan-santun, jawab kalau orang bertanya”

“Aku hanya menjawab saat orang yang bertanya”

“Kau! Cukup memiliki selera humor. Hanya kau tak tahu batasannya. Kau tak bisa memilih waktu yang tepat untuk berkelakar” Tampak perubahan mimik wajah Valcon yang menegas.

“Apa kau yang memanggil Phonix tadi?” Masih tak mengacuhkan pertanyaan lawannya Kein mengulangi pertanyaannya.

“Kau, Sverdinal yang sombong” Kini wajah pria bermata merah itu benar-benar kehilangan senyum angkuhnya. Wajahnya penuh tarikan keras, matanya mulai menampakan kebencian mendalam “Kita lihat seberapa lama kesombonganmu akan bertahan” ucapnya kemudian seraya memasang kuda-kuda untuk menyerang. Kein juga mulai memasang kuda-kuda siap menghadang serangan lawannya.

Sementara didalam desa Nico membantu Bastian mengungsikan orang tua, wanita dan anak-anak untuk berlindung sementara yang lain mencoba memadamkan api yang membakar rumah-rumah mereka. Para orang tua, wanita dan anak-anak itu dikumpulkan kerumah Bastian, karena rumahnya lah satu-satunya didesa ini yang memiliki ruang bawah tanah. Dan disitulah mereka disembunyikan untuk sementara.

Nico mengangkat tongkat sihirnya, ketika memastikan semua wanita, orang tua, dan anak-anak sudah masuk semuanya kedalam ruang bawah tanah itu. Dan kemudian mulai memberi mantra pelindung disekitar rumah itu.

“Untuk sementara kalian akan aman dalam jangkauan mantra pelindung ini” Ucap Nico pada Bastian dan beberapa penduduk yang tampak berjaga di pintu depan rumah Bastian.

“Tak kusangka anda seorang Elemental, kami benar-benar tertolong” saut Bastian dengan wajah penuh syukur dan rasa lega tersirat.

“Simpan terima kasih itu nanti, sekarang saya akan membantu kedepan gerbang. Kurasa pasti mereka memerlukan bantuan” ucap Nico kemudian seraya berlari menuju kearah pintu gerbang desa.

Sementara situasi didepan gerbang masih mencekam. Valcon masih menunggu saat yang tepat untuk melancarkan serangannya kearah Kein. Sementara Kein masih belum bergerak dari tempatnya. Ia masih menunggu lawannya untuk membuka serangan.

“Kenapa kau hanya diam saja tuan Sverdinal? Tak perlu malu-malu” Celoteh Valcon diantara gerakannya mencari waktu lengah lawannya untuk menyerang.

Kein menatap tajam kearah lawannya “Siapa yang memanggil Phonix tadi? Kemana orang itu sekarang?” Tanyanya masih dengan pertanyaan yang sama pada Valcon.

“Kenapa kau masih meributkan hal itu? Kenapa kau jadi sangat tertarik dengan Phonix tadi?” Valcon mulai merasa aneh kenapa sedari tadi Kein hanya meributkan masalah Phonix.

“Karena sampah sepertimu tak pantas memanggil Anima” ucap Kein dingin.

“Kau! Kau akan menyesal pernah bertemu aku!” Teriak Valcon seraya maju menyerang Kein dengan frontal.

Dan kejadian berjalan dengan begitu cepat. Tak terdengar suara pedang beradu, namun terlihat Valcon sudah berlutut di tanah dengan lengan kanan yang sudah terlepas dari tubuhnya.

“Arg!!!” Jerit Valcon sesaat kemudian setelah ia mulai sadar bahwa lengannya sudah tak lagi menempel pada tubuhnya.

Semua orang dibuat terdiam tak bergerak. Tak hanya para pemuda desa tapi juga seluruh bandit-bandit yang ada disekitar tempat itu. Tegang melihat kejadian yang belum sepenuhnya mereka pahami. Darah segar tampak tertumpah di tanah. Terlihat lengan Valcon yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berlutut.

“Sekarang aku tanya padamu sekali lagi” Ucap Kein yang kini mulai berjalan mendekat Valcon “Siapa yang memanggil Phonix tadi?”

Valcon hanya merintih menahan rasa sakit di pangkal lengannya yang banyak mengeluarkan darah.

“Sudah katakan saja dan kau tak akan lebih menderita lagi” ucap Kein seraya mengarahkan ujung mata pedangnya ke arah leher Valcon. Tapi pria bermata merah itu masih tak menjawab, ia masih mengerang kesakitan dengan tangan mencengkram luka yang terus mengeluarkan darah.

Kein menancapkan pedangnya ditanah, kemudian ikut berlutut di depan Valcon “Dengar, kau banyak mengeluarkan darah. Kau tak ada waktu untuk tetap berkeras pada ego mu, atau kau akan mati. Aku bisa menghentikan pendarahanmu sebelum semuanya terlambat” Ucap Kein dengan sedikit pelan pada Valcon, agar yang lain tak mendengarnya.

Valcon menatap Kein dengan keringat dingin yang mulai mengucur dari wajahnya. Bibir dan wajahnya sudah mulai memucat. Meski matanya tetap terlihat merah membara namun sudah tak terlihat semangat didalamnya.

“Picsi” ucap Valcon lirih “Picsi, dia lah yang memanggil Phonix tadi.” Jawab Valcon di balut dengan rintihan.

“Kemana sekarang dia? Apa dia pemimpinmu?”

“En-entahlah. Aku tidak tahu kemana dia pergi. Dia bukan pemimpin kami,” Valcon menjedah penjelasannya dengan erangan, “dia hanya menawarkan bantuan sebagai pembuka jalan bagi kami meranpok desa-desa disekitar sini. Kami tidak tahu apa alasannya, tapi memang itu saja yang aku ketahui tentang dia”

Kein menatap tajam kearah Valcon, seolah mencoba untuk membaca fikirannya.

“Percayalah. Dia hanya muncul begitu kami hendak menyerang sebuah desa, dan setelahnya kami tidak tahu kemana dia berada” ia menjeda lagi ucapannya dengan senggalan nafas “Dia bahkan tidak meminta bagian sepeserpun dari hasil yang kami peroleh. Percayalah. Aku berkata jujur padamju” jawab Valcon tampak bersungguh-sungguh dibalik wajahnya yang bertambah pucat.

Kein mengganguk percaya “Baiklah kalau begitu. Aku akan menghentikan pendarahanmu. Setelah itu pergi dan bawa serta anak buahmu dari sini” ucap Kein “Kau paham?” tambahnya kemudian. Dan tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya, Kein menyentuh luka dipangkal lengan Valcon yang terbuka tadi. Dan dengan cepat muncul lidah api membakar luka dipangkal lengan Valcon.

Segera begitu merasakan luka yang dideritanya membara, pria yang kini berlengan tunggal itu segera terdorong kebelakang dengan erangan yang semakin keras, tepat saat Nico sampai ditempat itu. Nico terperanjat menyaksikan kejadian barusan. Tapi ia tahu kenapa Kein sengaja membakar lengan pemuda bermata merah itu. Untuk menghentikan pendarahan secara instan yang keluar begitu banyak dari luka karena terpisahnya anggota tubuh.

“Sekarang bawa pergi jauh-jauh pemimpinmu itu. Dan jangan sekali-kalinya aku melihat kalian masih berada didaerah sekitar sini, atau kalian ingin nasib kalian lebih buruk dari pemimpin kalian ini” Ucap Kein dengan lantang kepada para bandit dihadapannya dengan tatapan membunuh.

Dengan gugup dan panik, beberapa orang dari bandit-bandit itu mencoba mengangkat tubuh Valcon dan membopongnya pergi, diikuti para bandit-bandit yang lain.

Nico segera berlari menghampiri Kein “Anda tidak apa-apa Kein?” Tanyanya kemudian.

Kein menarik pedangnya dari tanah “Aku tidak apa-apa, jangan kawatir. Bagaimana penduduk desa?” Kein menjawab sekaligus bertanya.

“Tak ada penduduk desa yang terluka, hanya banyak rumah-rumah yang terbakar” Nico melaporkan.

“Kita bantu mereka memadamkan rumah-rumah yang terbakar. Ayo” ajak Kein kemudian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s