\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 2\part2

 

“Nama saya Bastian kepala desa Telem. Selamat datang di desa kami” Ucap pria separuh baya dengan kaca mata mungil di atas hidungnya itu menjamu Kein dan Nico dirumahnya.

“Terima kasih. Perkenalkan nama saya Kein Strafold” Kein memperkenalkan diri.

“Saya Nico Nibihel” Nico memperkenalkan diri.

“Apakah benar tuan-tuan adalah para pelindung kerajaan seperti yang saya dengar banyak dibicarakan penduduk?” Tanya Bastian kemudian.

Kein dan Nico saling berpandangan “Benar saya adalah salah satu dari pelindung kerajaan Phatonica, tapi itu tiga tahun yang lalu. Saya sudah mengundurkan diri. Jadi sekarang saya hanya orang biasa” jawab Kein dengan jelas. “Kami hendak melakukan perjalanan ke barat, dan kebetulan lewat daerah sini” ucapnya kemudian.

“Tuan Kein merendah. Sudah pasti sekali bangsawan akan selamanya bangsawan. Sekali ksatria akan selamanya ksatria” ucap Bastian kemudian.

Kein sudah tak bisa berkata-kata. Ia hanya tersenyum menanggapi ucapan kepala desa ini.

“Baiklah tuan-tuan, malam ini tuan-tuan bisa menginap dirumah saya. Ada kamar kosong dilantai dua” tambah pria tua itu lagi sebelum Kein dan Nico mulai berucap lagi.

“Terima kasih sekali pak” jawab Kein.

Kein dan Nico naik menuju kamar yang sudah disediakan oleh Bastian dilantai dua.

“Ehm, Kein. Apa anda yakin bahwa para bandit itu akan datang malam ini juga?” Tanya Nico sesaat setelah mereka berada dalam kamar, beristirahat.

“Aku kurang yakin, tapi yang pasti mereka akan menuju ke desa ini” jawab Kein seraya membongkar barang bawaannya.

“Bila mereka tidak kemari malam ini apa kita akan tetap tinggal sampai besok, maksud saya apa kita akan menunggu sampai para bandit itu datang?” Tanya Nico lagi dengan nada kuatir dalam bicaranya.

“Aku paham maksud mu, aku hanya memastikan saja dan tidak akan menunda permintaan Oracel kalo kau kuatir tentang hal itu. Kita tetap akan pergi besok, baik bertemu atau tidak dengan para bandit itu” jawab Kein kemudian.

Nico hanya menganggu “aku tidak kuatir” jawabnya kemudian berbohong.

 

Malamnya diruang makan, Kein, Nico, Bastian dan istri Bastian-Lia, sedang berbincang setelah mereka selesai makan malam.

“Jadi sebenarnya kami juga tertolong karena ada kalian disini” Bastian membenahi letak kaca matanya “Kalian yang setidaknya tau cara membela diri bisa membuat kami merasa tenang” tambah pria tua itu.

“Benar. Apa kalian tidak berminat tinggal disini barang seminggu?” Tambah Lia, Istri Bastian dengan tawaran.

Kein hanya tersenyum.

“Hey Lia, kau tidak boleh memaksa mereka seperti itu. Mereka ada misi perjalanan ke barat” saut Bastian.

“Mungkin bila kami sudah selesai dengan tugas kami, kami akan mampir kemari lagi kapan-kapan” jawab Kein dengan sopan.

“Kapanpun kalian suka, pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian” Nyonya rumah menjawab dengan senyuman ramah.

“Oya, bolehkan saya bertanya sedikit?” Tanya Kein kemudian pada Sebastian.

“Apa yang ingin anda tanyakan?”

“Maaf bila pertanyaan saya mengganggu, saya hanya ingin tau tentang para bandit yang akhir-akhir ini kerap mengganggu keamanan daerah sekitar sini”

“Oh itu. Yah seperti yang mungkin pernah kalian dengar sebelumnya, dalam kurun tiga bulan terakhir ini terjadi perampokan didesa-desa kecil perbatasan. Mulai dari ujung timur desa Bealot, kebarat hingga terakhir terdengar desa Yitnan. Mereka menamai kelompok mereka Burung api, banyak yang bilang kedatangan mereka akan diawali dengan munculnya seekor Phonix yang akan menghancurkan pertahanan pertama dari semua benteng atau pintu gerbang desa yang hendak mereka serang.

Phonix?” Tampak Nico memastikan apa yang ia dengar benar.

“Benar, Phonix” Bastian mempertegas.

“Ilusi atau Anima?” Nico bertanya tapi lebih kepada dirinya sendiri “Tak banyak Summoner mampu memanggil Phonix, namun bila hanya sihir ilusi saja mungkin banyak pengguna sihir yang menguasainya” Tambahnya lagi dengan analisa yang masih ditujukan kepada diri sendiri.

Kein memegang pundak Nico untuk membuatnya berhenti berkata pada diri sendiri dengan cukup keras. Kein takut keluarga Bastian akan semakin kuatir mendengar lebih banyak penjelasan yang tak sengaja diberikan oleh Nico.

“Baiklah pak, ijinkan kami untuk beristirahat” ucap Kein meminta ijin meninggalkan ruang makan.

“Oh, silahkan-silahkan. Beristirahatlah kalian, jangan biarkan kami menghalangi kalian” jawab Bastian dengan senyuman.

 

“Dengar Nico, kau ingat apa yang kau janjikan saat hendak ikut kemari?” Tanya Kein saat mereka sudah kembali berada dalam kamar dilantai dua.

Nico menggangguk “Anda memintaku untuk menuruti segala perintah yang anda berikan”

“Benar. Dan sekarang dengarkan baik-baik. Malam ini aku akan berada digerbang untuk ikut berjaga. Aku minta kau tetap disini” Jelas Kein yang langsung di respon muka masam dari Nico “Kau bertugas melindungi warga desa sementara aku mungkin akan menghadapi para bandit itu” tambahnya kemudian yang membuat wajah Nico kembali bercahaya.

“Tapi bagaimana dengan Phonix yang diceritakan oleh Bastian tadi?”

“Aku pun juga belum pasti apakah itu benar Anima atau hanya sebuah ilusi dari seorang pengguna sihir, tapi bagaimana pun juga mereka tetap harus dihentikan” Jawab Kein seraya mengikat tali sepatunya.

 

Tampak didepan pintu gerbang empat pemuda tengah berjaga. Kein menghampiri mereka “Selamat malam” Sapa Kein.

“Selamat malam. Oh, bukannya anda kesatria dari Phatonica itu?” Ucap salah satu pemuda yang berwajah tegas.

“Namaku Kein. Aku memang berasal dari Phatonica, tapi mohon jangan panggil aku ksatria dari Phatonica. Cukup Kein” Jawab Kein.

“Nama saya Yoen, anda begitu merendah tuan Kein” pemuda tadi memperkenalkan dirinya.

“Kami merasa tertolong dengan adanya anda didesa kami. Bandit-bandit itu makin meresahkan saja” saut pemuda yang lain.

“Kebetulan saja kami lewat daerah sini” jawab Kein.

“Sebenarnya kalian hendak kemana?” Tanya Yoen memulai perbincangan.

“Kami hendak ke WindGhoul”

“Kearah barat laut dari sini. Anda masih harus melewati dua desa lagi. Baelot, dan Bet-Zur yang terletak di kaki bukit Kematian” jelas Yoen.

“Kurang lebih tiga hari bila kalian berkuda” saut pemuda yang lain menambahkan.

“Bila boleh saya tau ada tujuan apa sebenarnya anda pergi ke WindGhoul?” Tanya Yoen kemudian.

“Kami hendak melakukan ziarah ke utara. Ke Sein…” jawaban Kein tiba-tiba terputus saat tiba-tiba terdengar suara seperti siulan yang sangat keras dan panjang.

Semua orang terdiam mengamati suara tersebut. Cukup lama hingga membuat beberapa penduduk keluar dari rumah mereka. Dan lama kelamaan terdengar suara siulan itu mulai tampak seperti suara pekikan keras. Dan makin lama makin terdengar jelas bahwa itu sebuah pekikan burung yang luar biasa kerasnya.

“Menunduk!!!” Saut Kein seraya menyaut tubuh Yoen yang berada di dekatnya. Kein tau itu bukan suara angin atau sekedar burung biasa. Itu suara burung dalam legenda. Itu suara sosok Anima. Itu suara Phonix.

Dan benar saja sebegitu Kein menarik tubuh Yoen kebawah, pintu gerbang kayu desa Telem hancur bekeping-keping dihantam oleh sesosok burung besar yang berkobaran. Belum selesai burung itu terus meluncur maju membakar semua benda yang ada disepanjang garis lajunya.

“Sial! Itu benar-benar Phonix” saut Kein saat dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan burung pijar itu membakar setengah isi desa.

Tak lama kemudian mulai terdengar suara gemuruh dari luar desa, dan ketika Kein mencari tahu sumber suara itu tampaklah puluhan orang dengan senjata ditangan mereka berhamburan menuju kearah desa. Segera Kein berdiri melihat situasi seperti ini. Menarik pedang dari sarungnya dan bersiap menyambut puluhan bandit yang menuju kearahnya.

Sementara Nico yang ada didalam kamarpun sudah berlarian keluar ketika bunyi siulan Phonix tadi baru terdengar. Sekarang Nico sudah berada diantara warga desa yang panik karena separuh isi desa mereka terbakar.

“Tuan Bastian. Tuan Bastian, bawa para warga ditempat yang aman saya akan melindungi kalian dari belakang” Nico segera meminta Bastian untuk membawa para warga ketempat yang aman.

~0~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s