\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 2\part1

Bagian 2

_Burung Api

 

 

Mereka tiba ditepi barat hutan pinus perbatasan wilayah Bhasanta, setelah dua hari perjalanan. Dari wilayah Phatonica mereka menuju kearah barat, kepintu gerbang perbatasan Narva-Morra. WindGhoul.

Tampak mereka sedang beristirahat dibawah sebuah pohon rindang, dan membiarkan kuda-kuda mereka merumput. Mulut hutan didaerah itu memang adalah sabana yang luas.

“Kita sampai mana, Nic?” Kein menatap horizon dengan menyipitkan mata, mengangkat tangannya keatas alis untuk meredam silau cahaya siang itu.

“Mungkin daerah perbatasan timur Bhasanta, master” Nico tampak membuka gulungan kulit lembu yang adalah sebuah peta.

“Kau!” Kein menoleh kearah Nico “Berapa kali kuperingatkan jangan panggil aku master” Kein geram.

“Maaf mast.. eh, Kein” Ralat Nico buru-buru.

“Kita masih harus kebarat lagi” ucap Kein kemudian seraya menunjuk jauh kearah depan. Sedang Nico hanya merespon dengan anggukan dalam.

Tujuan mereka adalah kota suci Seinaru di atas gunung Gryni diutara Elder. Sebenarnya tempat itu tidak terlalu jauh dari desa Libna bila langsung keutara, namun karena utara Phatonica adalah bagian timur dari jajaran gunung berapi Krakha yang mustahil untuk ditembus, membuat mereka harus memutar kebarat terlebih dahulu, melewati wilayah Narva sebelum bisa menuju ke utara. Hal ini membuat perjalanan mereka akan memakan waktu lebih lama.

Tak berapa lama Kein dan Nico beristirahat, tampak beberapa orang lewat dan sedang berbincang. Tak sengaja Kein dan Nico mencuri dengar perbincangan mereka yang terdengar sangat menarik.

“Dibarat Bilanos sampai selatan Eugene, mereka membakar setiap perkampungan dan desa yang ada” seorang pria tua bertopi jerami yang menarik seekor keledai berbicara.

“Apa sebentar lagi mereka juga akan sampai disini? Benar-benar menakutkan” ucap seorang wanita baya yang sedang memikul segentong air dengan wajah ngeri.

“Lalu apa kerajaan pusat tidak turun tangan melihat hal ini?” Saut seorang pemuda dengan garpu raksasa dipanggul diatas pundaknya.

“Entahlah, kerajaan serikat sekarang tidaklah seperti dahulu. Dimana semua kerajaan Morra bersatu bahu-membahu untuk saling melindungi. Tapi kini mereka saling bermusuhan, saling mencurigai, saling berebut daerah. Tapi semua itu hanya untuk pajak. Kini saat kita perlu perlindungan mereka berlaku tuli dan buta” pak tua tadi tampak berkeluh kesah.

“Dan apa kalian tahu, pemimpin mereka?” sela pemuda bergarpu raksasa itu “Valcon si mata merah, konon kabarnya orang itu sangat kejam. Tak berbelas ampun” tambah pria itu.

“Benar, dia bukanlah manusia. Matanya berwarna merah seperti iblis. Dan memiliki sabit tajam di kedua lengannya” saut si perempuan kali ini “Amit-amit, semoga aku tidak sampai bertemu dengannya.

Setelah mendengar perkataan perempuan itu Kein teringat kejadian tiga tahun yang lalu. Terbayang sosok yang serupa dengan yang digambarkan perempuan itu. Sosok yang telah mengambil istrinya dari sisinya.

“Benar-benar menakutkan” saut pria bergarpu tadi.

“Semoga saja mereka tidak melewati desa kita” ucap pria tua tadi berharap.

“Maaf” Tiba-tiba Kein menyela perkataan mereka.

“Ya?” Si pria tua menjawab.

“Maafkan saya, tapi tadi tanpa sengaja kami mendengar percakapan kalian. Bolehkan kami tahu siapa yang sebenarnya sedang kalian bicarakan?” Kein bertanya.

“Apa anda seorang pengelana?” Yang perempuan bertanya. Kein hanya menggangguk.

“Anda harus berhati-hati. Belakangan ini ada kelompok bandit berjulukan Burung Api, yang kerap merampok dan membakar desa-desa sekitar sini” pria tua itu menjelaskan.

“Apa mereka akan menuju kemari?” Tanya Nico menyusul Kein.

“Sehari yang lalu desa Yitnan, tetangga kami di selatan telah dibakar. Asapnya membumbung tinggi, dan beberapa yang berhasil selamat dari sana mengungsi kedesa kami di utara” Perempuan itu menjawab.

“Dan kata mereka yang selamat, rombongan itu menuju ke barat daya. Mungkin menuju ke Telem, desa kecil didekat mulut hutan El’Bara di selatan” jawab pria bergarpu.

“Oya, kalian segeralah pergi dari daerah ini sebelum terlambat” Pria tua itu menyarankan.

“Iya kami akan segera pergi. Terima kasih” Ucap Kein seraya berjalan meninggalkan tiga penduduk itu menuju kuda-kudanya merumput.

“Ada apa master?” Nico bertanya melihat tampak Kein sedang berfikir keras.

“Dengarkan Nic, aku ingin kau menuju ke barat ke WindGhoul dan tunggu aku disana” ucap Kein kemudian dengan wajah serius.

“Tapi master, anda hendak kemana? Kenapa kita tidak bersamaan ke barat?” Tanya Nico penasaran.

“Karena aku harus memastikan sesuatu terlebih dahulu. Dan ini masalah pribadi, jadi aku akan melakukannya sendiri” jawab Kein kemudian.

“Tidak. Saya ikut bersama anda. Saya tidak tahu apa masalah pribadi anda tapi saya yakin anda akan menuju ke Telem bukan?” Saut Nico kemudian “dan Oracel berpesan pada saya untuk tidak sedetikpun meninggalkan anda. Dan saya harus mematuhi itu bagaimanapun caranya” tutupnya dengan tegas.

Kein menatap Nico yang terlihat tak akan membiarkanya pergi sendirian begitu saja. Dan dia tak punya pilihan lain selain membawanya serta “baiklah” ucapnya kemudian “tapi dengan sarat. Kau harus benar-benar mendengar apa yang akan kuperintahkan padamu. Apapun itu!” Kein menekankan nada bicaranya pada kata ‘apapun itu’

Nico mengangguk dalam.

“Untuk perintahku yang pertama” ucap Kein lagi “Berhenti memanggilku master”

“Oh, baiklah… Kein” Jawab Nico terburu-buru dan gugup.

Dan kemudian merekapun kembali menaiki kuda-kuda mereka dan melaju pergi menuju ke barat daya, menyimpang dari tujuan semula yaitu ke barat.

 

Mereka bergerak dengan cepat. Karena mereka harus tiba di desa Telem sebelum senja tiba. Dan akhirnya memang sebelum senja benar-benar jatuh mereka telah tiba di gerbang Telem. Desa ini memiliki gerbang yang tinggi dan terlihat kokoh berdiri. Terbuat dari kayu-kayu pinus seragam dengan dinding benteng buatan yang juga terbuat dari kayu tersebut. Tampaknya desa ini telah waspada dengan apa yang akan mengancam mereka. Kein dan Nico berjalan menuju kearah pintu gerbang tersebut.

“Berhenti! Siapa kalian? Dan mau apa datang kemari?” Seorang Pria dengan tombak ditangan menahan Kein dan Nico.

“Kami seorang pengelana. Sudikah kalian memperbolehkan kami menginap didesa kalian untuk malam nanti?” Ucap Kein kemudian setelah ia turun dari kudanya.

“Siapa nama kalian? Dari mana dan hendak kemana sebenarnya kalian?” Pria yang lain pun ikut mendekat menuju Kein dan Nico.

“Maaf bila kami tidak sopan, saya Kein dan teman saya ini Nico. Kami dari Phatonica hendak menuju ke barat, ke WindGhoul” jelas Kein “dan mendengar akhir-akhir ini disekitar daerah ini ada beberapa bandit yang sering menghadang para pengelana, maka kami putuskan untuk berlindung di desa ini barang semalam. Itu pun kalau diperbolehkan” tambahnya.

Tampak penjaga gerbang itu menatap Kein dan Nico dengan menyelidik. Menatap dari atas kebawah dengan seksama “Kalian berbelok arah terlalu jauh dari jalur tujuan kalian ke WindGhoul” ujarnya kemudian “Panggilkan Daniel kemari” perintah penjaga yang membawa tombak tadi pada rekannya. Dan tak lama kemudian muncul lagi satu pemuda yang tampak terlalu muda untuk membawa peralatan perang. Bahkan terlihat lebih muda dari Nico.

“Mereka bilang mereka dari Phatonica. Kau juga berasal dari sana bukan? Jadi kau pasti bisa meminta mereka memberikan bukti bahwa mereka sama-sama sepertimu orang Phatonica” ujar penjaga yang bertombak tadi.

“Dialek mereka adalah dialek Phatonica” ujar Daniel kemudian.

“Bila hanya dialek, mungkin masih bisa ditiru. Cari bukti yang lebih pasti” si penjaga tadi masih belum terima dengan analisa Daniel.

Tampak ragu-ragu pemuda bernama Daniel maju kedepan Kein “Tunjukan bukti padaku bahwa kalian benar-benar dari Phatonica?” Tanya Daniel dengan gugup.

“Bagaimana kalau dengan ini” Kein menunjukan mendali emas yang dikeluarkannya dari balik jubahnya. Mendali dengan lambang kerajaan Phatonica.

Mengenali mendali itu, Daniel sedikit terkejut. Itu mendali para bangsawan “Mereka benar-benar dari Phatonica. Itu gambar lambang kerajaan” ucapnya kemudian.

“Tunggu sebentar. Bagaimana aku bisa yakin kalau kalian tidak mencuri mendali ini dari para pengelana lain yang kebetulan berpapasan dengan kalian?” Tanya si penjaga yang masih meragukan.

“Lalu apa yang membuat kalian bisa percaya kalau kami memang berasal dari Phatonica?” Nico mulai tampak kesal terhadap penjaga itu.

Tampak Kein tersenyum kecil, kemudian menyingkap jubah panjangnya hingga menampakan pedang yang menggantung dipinggang kirinya. Hal itu segera direspon oleh para penjaga dengan mengangkat senjata dan persiapan kuda-kuda menyerang.

“Tenang. Aku hanya ingin menyerahkan senjataku pada kalian agar kalian percaya bahwa kami benar-benar tidak berniat buruk” ucap Kein seraya menarik pedangnya bersamaan dengan sarungnya dari pingganya.

Dan menarik perhatian Daniel, pedang yang ada ditangan Kein itu dikenalinya sebagai pedang Sverdinal. Pedang para pelindung raja.

“Apa itu pedang Sverdinal?” tanya Daniel tergagap “Apa jangan-jangan kau salah satu dari para Swordinal itu?”

“Beliau adalah Kein sang sverdinal api”  Saut Nico dengan sedikit bangga.

“Nico!” Sergah Kein langsung melarang Nico memperkenalakn dirinya sebagai pelindung raja Phatonica.

“Benar-benar seorang Sverdinal, benar-benar seorang pelindung para raja” ucap Daniel semakin sumringah “Kita tertolong. Kita tertolong. Kita punya pelindung para raja” ucapnya sambil berlari masuk mengabarkan berita yang dianggap suka cita ini.

Kein melihat dengan pasrah pemuda itu berlari masuk seraya meneriakan namanya seolah ia adalah seorang juru selamat. Nico menatap Kein dengan tatapan bersalah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s