\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 4\part3

Kemudian secara tiba-tiba, jendela tepat dibelakang sang raja berdiri hancur berkeping-keping. Dan sesosok pria melompat menerjang Nutor yang tengah merapal. Tak dapat diantisipasi pria itu mampu mendorong Nutor kebelakang dan berhasil menyelamatkan Alice.

“Noa” raja tampak mendapatkan sebuah harapan baru.

Noa segera memasang kuda-kuda didepan sang raja dan putrinya. Bersiap akan serangan lawan.

“Sang Fulgr Nocturne. Aku hampir melupakanmu” ucap Nutor seraya membersihkan jubah peraknya setelah ia kembali berdiri.

“Dasar penghianat! Tak tahu diuntung” teriak Alice dibelakang sang raja.

“Penghianat?! Tak tahu diuntung?! Apa yang kau ketahui tentang semua hal itu gadis manja?!” teriak Nutor tiba-tiba, ucapan Alice merubah sikapnya. Kini ia terlihat sangat marah “Kalianlah yang tak tahu diuntung! Kalianlah yang penghianat! Kalian para bangsawan yang mengaku memiliki darah murni Seithr, merasa seolah dewa” masih dengan wajah penuh emosi Nutor kembali berkata-kata “kalian ingin mendengar sebuah cerita?”

“Dua puluh tahun yang lalu, ada seorang pemuda setengah Seithr yang dengan sangat bangga bisa menjadi seorang Fulgr. Pemuda ini mempertaruhkan jiwanya demi membela kaum ini. Kerajaan ini. Dengan rela berkorban, pemuda ini berangkat ke medan perang. Tapi ketika ia kembali dengan kemenangan, apa yang ia dapat? Apa? Pemuda ini diabaikan hanya karena dia bukan seorang Seithr asli. Sedang mereka yang berdarah murni di elu-elukan seolah para penyelamat utusan dewa. Dan kemudian karena sebuah kesalahan kecil yang ia lakukan terhadap para ‘utasan dewa’ itu, ia harus mendekam dipenjara untuk sekian lama”

Nutor berputar kebelakang, mencabut kemudian mengangkat tongkat peraknya ke atas yang kemudian mulai bersinar hijau kekuningan. Melihat tindakan Nutor, semua bersikap waspada. Terlebih sang jendral besar WindGhoul.

“Pemuda itu tak mampu lagi menahan rasa kekecewaannya, kemudian ia melempar dirinya sendiri dari atas menara” Nutor membalik tubuhnya, tongkatnya masih bercahaya terang “pemuda ini meninggalkan seorang perempuan dan anak laki-laki. Bagaimana menurut kalian?” tambahnya lagi, kemudian kembali ia berjalan mendekat.

“Ironis kan? Seseorang yang berjuang mempertahankan kerajaan dan kaum yang merasa dimilikinya ini, namun hanya karena bukan dilahirkan dari rahim seorang Seithr, ia tak pernah dianggap dan harus mati sia-sia. Pemuda yang bodoh. Atau kerajaan ini yang bodoh?” Nutor mulai meredam emosinya.

“Semua orang tak ada yang bisa memilih harus dilahirkan sebagai apa. Itu rahasia Sang Pencipta” ucapan Nutor berhenti sebentar lalu menatap satu persatu wajah sang raja, Noa, dan Alice dengan seksama kemudian tersenyum “lalu sekarang apa yang kau ketahui tentang kesetiaan dan penghianatan?” tutup Nutor yang kemudian melakukan serangan sihir dari tongkatnya yang tak terduga kearah Noa.

Tak sempat mengelak dari serangan sihir Nutor yang tiba-tiba itu membuat Noa terpelanting menjauh.

Nutor tertawa lantang, “dan sekarang yang mulia ingin memberikan kerajaan ini untuk orang lain. Sekarang siapa yang harusnya disebut penghianat?” ucap Nutor seraya mengangkat tangannya ke atas. Kali ini dia tak mengunakan rapalan seperti sebelumnya. Ia kembali menancapkan tongkat peraknya kelantai. Kini ia mengunakan sihir Langit. Sihir kaum Seithr.

“Nutor kau gila? Kau juga akan mati bila menggunakan sihir itu” saut sang raja yang sadar bahwa Nutor sedang bersiap mengeluarkan sihir yang berbahaya, saat tampak ditangan Nutor yang terangkat keudara itu kini telah muncul seperti lidah api berwarna hijau.

“Api Tūphāna? Bodoh, apa yang dipikirkannya?” ucap Noa yang mencoba untuk segera bangkit dan menuju kearah sang raja dan putrinya.

“Kastil ini tidak akan mampu menahan sihir itu. Hentikan Nutor!!!” teriak sang raja yang tidak digubris oleh Nutor.

“Andai aku bisa memanggil para Animaku” ucap Hino lebih pada dirinya sendiri, “aku butuh kekuatan untuk menyelamatkan mereka. Kumohon berikan aku kekuatan itu” ucapnya kemudian yang diperuntukan ke para Animanya.

Sementara api hijau Nutor semakin membesar.

“Kumohon sekali ini saja!” teriak Hino sekencang-kencangnya. Roland yang masih bersembunyi didekatnya terkejut. Tak urungnya yang lain juga langsung menatap kearahnya. Namun kemudian sesuatu terjadi. Tubuh Hino tiba-tiba bersinar jingga. Dan udara disekitarnya berubah menjadi aliran angin yang kencang.

“Apa?” Nutor terkejut melihat Hino seperti itu.

Kemudian Hino membuka matanya. Tampak cahaya jingga memenuhi seluruh rongga matanya. Dan perlahan namun pasti tubuhnya melayang diterbangkan angin. Bersamaan dengan itu dari angin yang bergerak cepat tadi muncul sesosok pemuda dengan sayap terbentang lebar di belakang Hino.

  “Summoner?” Nutor tampak lebih terkejut mendapati Hino adalah seorang Summoner.

Tanpa perintah apapun dari Hino, tiba-tiba saja sesosok manusia setengah burung dibelakangnya itu melesat cepat menuju kearah Nutor.

Dan tanpa pikir panjang lagi, segera Nutor mengarahkan api hijau itu kearah sosok yang dengan cepat menyerangnya itu. Terjadi Ledakan dasyat yang memecahkan semua kaca jendela ruangan itu.

Sedang Hino terpental kebelakang menghantam dinding dan kemudian jatuh pingsan. Sementara Nutor tersungkur kebelakang dengan darah segar keluar dari mulutnya. Terlihat ia melemah. Ia berdiri dengan sempoyongan.

Tak lama kemudian puluhan pasukan Nutor menyerbu masuk ruang singgasana.

“Tuan Nutor?!” tampak pemimpin pasukan mendekati Nutor.

“Tangkap mereka!” Nutor segera menurunkan perintah.

Dengan sigap pasukan Nutor itu menyerbu raja, Noa, Winnie, dan Alice dihadapan mereka.

Dengan sigap pula Noa segera memasang kuda-kuda bertahan, siap menghadang para prajurit yang maju menyerang.

“Tangkap!” pemimpin pasukan itu melepaskan perintah. Dan segera puluhan prajurit yang ada disitu menyerbu maju.

Roland tampak menghampiri Hino meskipun masih merunduk membiarkan keberadaannya tetap tak diketahui oleh semua orang.

“Dia  pingsan. Hubert bopong dia, kita pergi dari sini” perintah Roland kemudian kepada para pengawalnya.

Akhirnya mereka berhasil melarikan diri serta membawa Hino keluar dari ruang singgasana sebelum para prajurit Nutor menyadari keberadaan mereka disana.

Sedang situasi dibawah sangat kacau. Tampak Noa dan sang raja kewalahan menghadapi puluhan tentara yang menyerang mereka seolah tak ada habisnya. Meski tak sedikit dari mereka yang telah dilumpuhkan.

Tiba-tiba disaat genting, terlihat meluncur seekor Hurracun dari salah satu jendela yang kini hanya menyisakan bingkai-bingkai kayunya saja, yang kemudian langsung menangkap satu dari puluhan prajurit Nutor dan melemparkan kearah teman-temannya dibelakang. Hingga merusak formasi mereka.

“Ayo cepat naik sini” terdengar suara Sophie diatas Hurracun tadi.

“Sophie?” tampak Winnie terkejut bercampur gembira mendapati Sophie selamat dan baik-baik saja.

“Selamatkan Alice” ucap sang raja kepada Sophie.

“Tapi bagaimana dengan ayah?”

“Tenanglah, aku akan baik-baik saja”

Winnie mendorong tubuh Alice untuk naik ke atas Hurracun Sophie, dan kemudian ia menyusul duduk dibelakang Alice duduk. Sementara Noa sibuk menahan prajurit-prajurit yang mencoba untuk menyerang.

“Hino masih ada disana” ucap Winnie memberi tahu Sophie.

“Tidak sempat. Kita cari cara menyelamatkannya setelah ini” saut Sophie.

“Jangan sampai mereka lolos. Jangan biarkan putri itu selamat!” teriak Nutor yang berang melihat Alice mencoba untuk kabur.

Dan setelah Alice dan Winnie sudah duduk diatas Hurracunnya, segera Sophie menarik kekang dan meluncurkan Hurracunnya dengan cepat keluar dari jendela.

“Kalian!” Nutor tampak sangat marah “minggir semua!” teriaknya memerintah. Dan kemudian mengangkat tangan kananya dan mulai merapal.

Melihat hal tersebut, Noa segera melemparkan tombak ditangannya kearah Nutor, kemudian menarik sang raja melompat keluar dari jendela, seraya melakukan siulan panjang.

Nutor sempat menghindar dari tombak Noa dan segera melancarkan sihirnya, “Gurutvākarṣana!!!” teriaknya kemudian. Puluhan prajurit yang ada disekitar jendela tempat Hurracun Sophie tadi keluar, tertarik kebelakang seketika, juga dengan puing-puing jendela yang hancur tadi. Namun Hurracun yang ditunggangi bersama sang putri itu sudah tak masuk dalam jangkauan sihirnya.

Sementara Noa dan sang raja yang sengaja melompat keluar jendela tadi tiba-tiba ditangkap oleh seekor Hurracun yang entah muncul dari mana. Itu Hurracun milik Noa.

“Sialan!” Nutor berteriak-teriak kesal, “Hey kau. Tangkap Summoner yang ada dibalkon itu” kali ini Nutor memerintah salah satu prajurit untuk menangkap Hino.

Namun ketika puluhan parjurit dengan segera menaiki balkon itu, mereka tidak menemukan siapapun. Hino dan Roland berhasil melarikan diri.

Terlihat Nutor kembali berteriak-teriak lebih kesal.

~0~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s