\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 4\part2

 

Akhirnya setelah beberapa tikungan dan persimpangan yang membingungkan, Hino, Roland dan para pengawalnya tiba di balkon lantai dua ruang singgasan, di istana tengah. Tapi tampaknya sesuatu telah terjadi. Terlihat sang raja dengan pedang ditangan berhadapan dengan sesosok pria berjubah perak, yaitu Nutor kanselirnya sendiri. Dengan sigap Roland segera menarik tubuh Hino kebawah sebelum orang-orang diruang singgasana dibawah melihat mereka. Dan kemudian dengan waspada mengintip dan memperhatikan keadaan.

“Nutor, teganya kau melakukan ini padaku” sang raja berkata masih dalam keadaan waspada.

“Apa yang kulakukan?” jawab Nutor dengan pertanyaan “apa yang mulia lakukan? Membiarkan WindGhoul diperintah oleh orang-orang Morra?” tambahnya dengan tersenyum menatap tongkat peraknya yang sedari tadi ia putar-putar ditangan.

“Benar-benar kudeta” ucap Hino dalam persembunyiannya.

“Kudeta? Kenapa secepat ini?” saut Roland menimpali Hino.

“Jangan gila Nutor, kau mau mencoba mengambing-hitamkan hal itu untuk alasan semua kelakuanmu ini?” ucap sang raja yang kemudian terdengar suara gerbang ruang singgasana terbuka dengan suara kencang. Puluhan Fulgr menyeruak masuk dengan tombak ditangan, “aku tahu kau menginginkan tahta ku, Nutor. Jangan berlaga bodoh” tutup sang raja kemudian.

Sedang Hino dan Roland tampak sedikit tenang dengan datangnya sebegitu banyaknya Fulgr yang membantu.

“Rakyat menginginkan perubahan yang mulia. Mereka menginginkan pemimpin yang memihak kepada mereka. Bukan yang dapat di atur oleh orang-orang pusat dan para bangsawan” ucap Nutor menjawab. Tak ada rasa takut dalam wajahnya.

“Hentikan semua tindakanmu ini sebelum terlambat” ucap sang raja yang kini sudah mulai diatas angin dengan para Fulgr berdiri mengelilinginya.

“Dan apa anda pikir dengan bantuan para Fulgr itu membuat anda merasa aman?” ucap Nutor tampak meremehkan, “yang mulia, anda harus berpikir ulang” tutupnya dengan senyuman. Kemudian tampak Nutor menganggkat tangan kananya ke depan. Dan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya ia mulai seperti menggambar sesuatu diudara.

“Apa? Dia merapal? Dia akan menggunakan sihir Narva?” tampak Hino terkejut melihat apa yang sedang dilakukan Nutor. Karena berbeda dengan kaum Morra ataupun Narva yang mempelajari seni sihir, kaum Seithr seperti halnya kaum Nitha, terlahir dengan kemampuan sihir. Jadi saat para pengguna sihir melakukan rapal atau memerlukan media untuk menggunakan sihir. Kaum Seithr dan Nitha tidak memerlukannya.

Terlihat puluhan Fulgr mulai mengepung Nutor, waspada dengan tombak ditangan siap menyerang.

Nutor menancapkan tongkat peraknya ke lantai, lalu berteriak “Gurutvākarṣana!” dengan segera permata diujung tongkat perak Nutor menyala hijau terang. Dan tanpa peringatan seluruh Fulgr dan juga sang raja terjatuh kelantai. Seolah gaya tarik gravitasi menjadi berkali-kali lipat beratnya.

“Ap-apa? Dia menggunakan sihir Morra?” terdengar Hino tak percaya. Dan yang membedakan dari kaum Morra dan Narva yang sama-sama harus menggunakan rapalan atau media untuk memicu sihir mereka, adalah : Morra menggucapkan mantra untuk memicu sihirnya, sedang Narva menggunakan rapalan gerak untuk memicunya.

“Bukankah dia orang Seithr?” kali ini Roland yang meyakinan dirinya sendiri.

“Apa yang kau lakukan Nutor? Sihir ini?” Sang raja masih mampu bertahan dibawah tekanan kekuatan sihir Nutor.

Nutor tersenyum kecil, “kenapa dengan sihir ini yang mulia?” tanyanya kemudian “anda tahu sesuatu tentang sihir ini?” ucapnya lagi seraya mengangkat tangan kananya ke atas permata yang bersinar hijau terang itu. Dan begitu ia menyentuh permata itu, seluruh Fulgr yang ada disitu jatuh pingsan. Dan kemudian sinar hijau itu padam.

“Itu seni sihir yang berbahaya Nutor. Apa yang sedang kau lakukan?” ucap sang raja memperingatkan Nutor.

Namun tiba-tiba dari pintu gerbang sisi kanan masuk dengan berlarian Winnie, Sophie, dan Alice.

“Ayah!” teriak Alice saat ia melihat ayahnya tersungkur dihadapan Nutor, dan para Fulgr yang tergeletak disekitarnya.

“Alice!” tampak raja terkejut melihat putrinya ada ditempat itu.

“Alice?” Hino dan Roland pun ikut terkejut mendapati Alice ditempat itu.

“Tuan putri, Alice” ucap Nutor dengan senyum yang tampak mulai mengembang.

“Kanselir?” Alice tampak tak mengerti dengan keadaan yang tengah terjadi.

“Alice, lari!” raja berteriak memerintah putrinya untuk melarikan diri.

“Sophie, Winnie, ajak Alice pergi dari sini” teriak Hino yang akhirnya membongkar keberadaannya.

“Hino?” ketiga gadis dibawah berteriak hampir bersamaan, diikuti sang raja dan Nutor yang terkejut mendapati Hino ada di salah satu balkon di lantai dua. Tapi Roland masih mencoba untuk tetap bersembunyi.

“Cepat!” teriak Hino memerintah.

Tak menunggu instruksi dari Hino untuk kedua kalinya, Sophie dengan cepat menarik lengan Alice dan segera berlari keluar bersama Winnie.

Melihat hal tersebut Nutor mengangkat tangan kanannya dan melakukan rapalan seperti yang sebelumnya pernah dia lakukan, kemudian mengarahkannya ke para gadis yang berusaha melarikan diri. “Gurutvākarṣana!”

Tiba-tiba tubuh Sophie dan Alice tertarik kebelakang mendekat kearah Nutor dengan cepat. Nutor mengangkat tangan kirinya kemudian memutar telapak tangannya menghadap keatas. Dan dengan cepat tubuh Sophie terpelanting keatas dan terlempar keluar melalui jendela-jendela besar diatas ruangan, sementara tubuh Alice masih menuju kearahnya.

“Tidak! Sophie!” teriak Winnie melihat Sophie yang terlempar keluar dari ruangan.

“Sophie!” teriak Hino yang hampir bersamaan dengan Winnie.

“Anda tak perlu tergesa-gesa untuk pergi tuan putri” ujar Nutor setelah dia berhasil mencengkeram lengan Alice.

“Nutor! Berani-beraninya kau menyentuhku!” teriak Alice berusaha berontak, namun tampaknya sihir Nutor masih bekerja atas dirinya, hingga putri Seithr itu tak bisa bergerak terlalu banyak.

“Tuan putri, mana sopan santun anda?” Nutor menjawab dengan sabar.

“Nutor lepaskan dia! Yang kau inginkan hanya aku dan tahtaku. Dia tak ada urusan dengan semua ini” teriak raja yang kini berusaha untuk bangkit berdiri.

“Apa anda bilang? Dia adalah Alice Tiberian Vaelum XII” ucap Nutor, “tidakkah anda sadari putri anda ini menyandang nama Vaelum XII?” tambahnya kemudian seraya berjalan mendekat kearah raja sambil menyeret Alice.

“Maaf kalau aku harus membunuhnya lebih dulu dari anda” ucap Nutor kemudian.

“Hentikan!” teriak Hino dari arah balkon.

Nutor menatap Hino dengan senyum sinis mengembang. Dan tanpa memalingkan tatapannya dari Hino, Nutor meletakan tangan kananya keatas kepala Alice, dan tampak mulai merapal.

“Jangan! Hentikan!” teriak Hino yang nyaris bersamaan dengan sang raja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s