\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 3\part2

 

“Kuharap raja menganulir hasil dari sayembara tadi. Dia bukan orang Seithr. Apa yang dipikirkan raja?” terdengar seorang Seithr berbicara dimeja diujung ruangan dengan seseorang yang ada dihadapannya.

“Benar. Apa raja sudah gila”

“Huss, jaga ucapanmu” hardik yang satunya dengan sedikit berbisik.

“Tapi benarkan? Bahkan pemenangnya bukan seorang Seithr. Apa kita akan dipimpin oleh orang Morra?”

“Benar-benar menjijikan. Mereka benar-benar menjajah kita. Sekarang mereka masih mengiginkan tahta WindGhoul. Dasar orang-orang serakah”

Hino hanya tersenyum mendengar ucapan mereka saat ia dan kedua temannya mampir kesebuah kedai untuk makan siang. Jelas hasil dari keputusan tadi siang akan jadi tema pembicaraan yang hangat diseluruh kota.

“Dasar. Mulut mereka benar-benar seperti petir” ucap Winnie kemudian.

“Mereka tidak salah berkata demikian” ucap Hino.

“Benar. Kalian orang Morra memang terlalu serakah” timpal Sophie disela makannya.

“Tapi ada hal yang aneh pada pemuda Seithr tadi” ujar Hino kemudian.

“Aku juga merasa demikian” timpal Sophie.

“Apa yang aneh?” Tanya Winnie tampak penasaran disela makannya.

“Kurasa pemuda itu lebih tangguh dari kelihatannya” pendapat Hino.

“Aku juga merasa tak mungkin pemuda Rhedsun itu mudah didesak oleh Roland, hingga lepas kendali seperti itu” timpal Sophie lagi.

“Dia mengalahakan Nvent yang adalah salah satu keluarga kesatria handal dengan sangat mudah. Namun tampak terdesak menghadapi Roldian itu”

“Jadi menurut kalian ada kemungkinan Irias sengaja melakukan hal tadi?” Tanya Winnie lagi.

“Entahlah?” Hino mengangkat bahu.

“Tak masuk akal, karena hanya dia sendiri yang mewakili kaum Seithr dalam sayembara ini. Dan sengaja membiarkan orang luar memenangkannya?”

Hino kembali hanya mengangkat bahu nya saja menjawab pertanyaan Winnie.

“Kurasa ini tak akan berakhir hanya sampai disini saja. Masalah ini akan jadi sangat panjang” ujar Winnie kemudian.

“Sangat-sangat panjang bahkan” sahut Hino.

“Kurasa kita tak ingin berlama di kota ini dan terlibat hal yang mungkin akan bertambah buruk bukan?” Tanya Sophie yang juga sebagai ajakan untuk tidak berlama-lama berada di kota ini.

“Iya. Kita sebaiknya segera pergi dari tempat ini” Winnie tampak setuju.

“Baiklah setelah ini kita pergi dari tempat ini” ujar Hino kemudian.

 

Setelah makan siang Hino dan kedua temannya itu kembali ke istana. Mereka akan kembali mengambil perbekalan mereka dan segera pergi dari kerajaan kaum Seithr ini seperti yang telah mereka rencanakan sebelumnya.

Tampak Alice berjalan didampingi oleh sang jendral besar Noa, saat mereka tanpa sengaja berpapasan disebuah persimpangan lorong dilantai kamar Hino berada.

“Noa, kenalkan ini adalah Hino, Summoner besar kerajaan pusat”

“Mantan Summoner kerajaan” saut Hino mengkoreksi. “Jendral” ucapnya kemudian menyapa Noa seraya menjabat tangannya.

“Tuan Hino” ucap sang jendral dengan julukan Fulgr Nocturne ini kemudian mengangguk kecil sebagai tanda hormat untuk Hino.

“Dan yang ini, Winnie dan Sophie”

Noa menjabat tangan Winnie dan Sophie seraya menggangguk sopan.

“Baiklah Noa, sampai disini saja, aku akan berjalan dengan mereka”

“Baik putri” Noa menjawab dengan tenang, “selamat malam” ucapnya lagi sebelum melangkah mundur dua langkah kemudian berbalik dan berjalan pergi.

“Bagaimana tadi?” Tanya Alice pada Hino.

“Yah kurasa cukup menghibur. Meski mungkin setelah ini akan banyak yang tak setuju dengan hasil nya” Jawab Hino.

“Yah kurasa kau benar. Ayah memang sedikit berani dalam hal ini. Hanya saja tak ada seorang pun yang memikirkan perasaanku” ucap Alice yang membuat yang lain terdiam. “karena orang-orang yang mereka bicarakan, mereka dukung, mereka tentang, itu adalah calon suamiku kelak” tambahnya lagi.

“Kurasa” jawab Hino singkat.

Alice terdiam sebentar menatap Hino, “kurasa kau akan pergi sebentar lagi” ucapnya kemudian dengan wajahnya yang sedikit lesu.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar” ajak Hino yang kemudian disambut senyuman dari Alice.

Hino menatap kearah kedua temannya seoalah meminta ijin. Dan tanpa kata-kata, Winnie dan Sophie segera meninggalkan mereka berdua.

Mereka berjalan menyusuri lorong-lorong kastil WindGhoul yang terasa tak akan pernah habis Hino jelajahi.

“Sudah berapa tahun aku tak melihatmu?” Tanya Hino memulai pembicaraan.

“Kurasa mungkin sudah lima tahun. Semenjak kau pergi keperserikatan Zurson”

“Benar. Lima tahun ya. Pantas saja membuatku terkejut, kau sudah sebesar ini”

“Kau yang tak pernah berubah” jawab Alice.

Hino tertawa kecil, “yah, kurasa”

Mereka berdua berhenti disebuah balkon dilantai 43 di kastil selatan. Menghadap kearah patung dewa badai kaum Seithr, Tūphāna, yang berdiri gagah ditengah kota seolah menantang langit. Mereka duduk di bangku yang terbuat dari pualam disisi pagar pembatas.

“Aku bangga padamu. Sekarang kau sudah dewasa” ucap Hino.

Alice hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Hino, “Bagaimana kota Philuburg itu? Aku belum pernah kesana”

“Bisa kubilang kurang bersahabat. Kalau tidak mengingat aku harus ke salah satu kuil Animaku yang ada disana, mungkin aku tak akan pernah mau kesana. Kota itu selalu dirundung badai” jawab Hino kemudian.

“Benarkah? Aku jadi ingin melihatnya” jawab Alice kemudian, “masih banyak yang belum pernah kulihat didunia ini” ucapnya lagi dengan sedikit lesu, “dan mungkin aku sudah tak akan pernah bisa melihatnya lagi”

Mendengar itu Hino merasa sedih untuk Alice. Ia duduk menyebelahi gadis itu kemudian merangkulnya dengan tangan kanan. “ini semua tidak seburuk kelihatannya” ucap Hino kemudian.

“Apa kau akan membiarkanku menikah dengan bangsawan dari selatan itu?” tanya Alice kemudian pada Hino.

Hino diam menatap Alice, “dia tampaknya orang baik” ucap Hino kemudian.

“Tapi aku tak pernah mengenalnya” ucap Alice terlihat seakan ingin menangis.

“Kan masih ada waktu satu tahun untuk mengenalnya sebelum dia menjadi suamimu” jawab Hino kemudian.

“Kurasa kau benar. Masih ada satu tahun” ucap Alice kemudian walau masih dengan wajah yang ditekuk lesu.

“Nah sekarang senyumlah gadis manja. Kau selalu tampak jelek saat seperti ini” ucap

Hino kemudian, yang diambut senyuman oleh Alice.

Alice memeluk Hino, “aku merindukanmu” ucapnya kemudian.

“Aku juga” jawab Hino.

“Suara apa itu?” tanya Alice tiba-tiba seraya mencoba berkonsentrasi dengan pendengarannya.

“Suara?” tanya Hino yang kini juga mulai berkonstrasi untuk mendengar.

Tampak dari kejauhan samar seperti noda diantara langit malam yang terang oleh rembulan yang terpantul pada Cincin Langit.

“Bukannya itu Hurracun?” terlihat Hino mengira-ngira.

“Banyak sekali? Sedang apa mereka?” kali ini Alice yang penasaran.

Suara gaduh pekikan Hurracun itu semakin keras terdengar, dan tiba-tiba terdengar suara ledakan yang mengejutkan Hino dan Alice. Kemudian disusul puluhan Fulgr keluar dari menara-menara kastil dengan suara yang tak kalah gaduh dengan para penunggang Hurracun yang datang dari luar kastil tadi.

Tiba-tiba disaat Hino dan Alice masih belum mengerti tentang apa yang sebenarnya tengah terjadi, muncul Sophie dengan tampak tergopoh. Winnie terlihat kehabisan nafas dibelakangnya.

“Hino, kita harus segera pergi” ucap Sophie langsung.

“Apa yang terjadi?” tanya Hino kemudian.

“Ada puluhan Hurracun dari luar kastil. Dan beberapa Sky Elemental merusaha mendobrak pintu gerbang darat. Apa yang kau pikirkan tentang hal itu” jawab Sophie panjang lebar.

“Tidak mungkin” Alice tampak ketakutan hanya dengan membayangkannya saja.

“Penyerangan? Pemberontakan?” tanya Hino yang lebih kepada dirinya sendiri.

“Kurasa akan sangat bijaksana bila kita sesegera mungkin pergi dari tempat ini” saut Winnie yang tampak disetujui oleh ketiga temannya. Dan kemudian mereka berempat segera berlari masuk.

~0~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s