\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 3\part1

Bagian 3

_Sayembara

 

 

Hino menatap kearah arena yang telah dibangun dari dua hari yang lalu di alun-alun kota. Pagi ini Hino bangun pagi-pagi dan bersama dengan Sophie dan Winnie, mereka akan menghadiri sayembara akbar yang akan diadakan untuk memilih calon pendamping dari pewaris tahta WindGhoul kelak.

“Benar saja, mereka memperbolehkan bangsawan Morra untuk mengikuti sayembara ini” ujar Winnie saat mereka sudah duduk di bangku menunggu upacara pembukaan.

“Sebenarnya mengapa sayembara ini diadakan? Aku masih tidak mengerti” tanya Sophie menimpali ucapan Winnie.

“Agar tak terjadi perang perebutan kekuasaan oleh para saudara raja” jelas Winnie, “para bangsawan Seithr itu adalah saudara-saudara dari raja. Dan saat raja tak memiliki keturunan laki-laki, sebagai saudara yang memiliki darah yang sama dengan sang raja, mereka akan merasa memiliki hak untuk meneruskan tahta tersebut. Jadi untuk meredam kemungkinan perebutan kekuasaan itu, kemudian diadakanlah sayembara seperti ini. Agar penerus tahta dimenangkan dengan cara yang adil dan tanpa harus ada pertumpahan darah”

“Jelas akan ada pertumpahan darah bila seperti ini. Mereka jelas tidak sedarah dengan sang raja” Saut Hino sekenanya.

“Jelas Seithr yang pasti unggul. Mereka Sky Elemental” timpal Sophie.

Winnie tertawa kecil, “entah kenapa dibuat, tapi peraturan sayembara ini tidak boleh menggunakan sihir” ucapnya kemudian.

“Tanpa sihir? Ya kurasa bila ada bangsawan dari Getzja, peraturan itu akan dipikirkan ulang” ucap Sophie kali ini, yang ditimpali tawa oleh kedua temannya.

 

Sayembara ini diikuti dua puluh satu orang, dan kebanyakan adalah bangsawan Morra dari perserikatan. Tercatat hanya delapan keluarga bangsawan Seithr yang ikut. Dan kedelapannya adalah keluarga-keluarga berpengaruh dalam pemerintahan WindGhoul. Dan pasti akan jadi masalah besar bila tak satupun dari mereka yang memenangkan sayembara ini, pikir Hino. Sayembara ini adalah : berupa pertarungan duel dengan atau tanpa senjata, dan senjata yang di gunakan adalah pedang kayu, tongkat, atau varian dari tonfa. Tata cara sayembara adalah : sistem gugur. Peserta akan dianggap menang bila telah menjatuhkan lawan nya hingga tak dapat berdiri lagi. Atau membuatnya meyerah.

Hino dan kedua rekannya duduk ditribun sisi kanan dari pintu gerbang masuk. Arena ini berbentuk lingkaran dengan tribun penonton mengelilingin nya. Sedang tribun utamanya berada tepat berhadapan dengan gerbang masuknya. Ditribun utama itu tampak Alice duduk dikursi disebelah raja. Disisi kanan raja duduk kanselir mereka, Nutor. Kemudian berdiri disisi kiri Alice, jendral besar WindGhoul. Sang Fulgr Nocturne. Noa Azrait. Sedang para peserta sayembara tampak duduk berjajar di bawah tibun di sisi kiri-kanan arena. Para penonton terlihat sangat bersemangat menunggu acara ini dibuka.

 

Dan memang tampaknya para anak-anak bangsawan itu banyak yang tidak mengerti bela diri. Dan sudah dapat dilihat dari awal, mana yang akan bertahan dan mana yang akan gagal, karena perbedaan diantara mereka begitu kentara. Beberapa bangsawan Morra adalah keluarga ksatria. Sedang sedikit dari bangsawan Seithr yang mengerti seni bela diri. Karena mereka kebanyakan mengandalkan sihir. Sayembara berlangsung tidak terlalu lama, juga tidak terlalu seru menurut Hino. Karena dari awal sudah dapat ditebak mana yang nantinya akan menjadi saingan antar para bangsawan muda tersebut.

Tengah hari mereka sudah mendapatkan empat orang yang kemudian nantinya akan menyisakan satu saja. Terlihat pemuda Roldian itu berhasil memenangkan beberapa pertandingan dan manjadi salah satu dari empat besar. Dan tiga yang lain adalah : bangsawan Seithr, Rhedsun, kemudian dua bangsawan Morra lagi, Sayer, dan Nvent. Mereka cukup berimbang bila dilihat dari kecakapan bertarung. Akan susah menilai siapa yang akan bertahan dan siapa yang akan jatuh di babak kali ini.

“Menurutmu siapa yang akan gagal?” Winnie bertanya.

“Yah yang pasti orang-orang WindGhoul akan berharap Rhedsun akan terus bertahan sampai akhir” timpal Hino.

“Hm, tapi kurasa si tuan muda Roldian itu yang akan gagal, baik siapapun lawannya” tambah Winnie lagi memberi penilaian.

“Entahlah, tapi menurut pengamatanku, pemuda Roldian itu punya pengalaman berburu yang baik. Kurasa dia mungkin akan bertahan” jawab Hino lagi.

“Arius Sayer dan Demian Nvent merupakan ksatria-ksatria handal. Sama dengan si Rhedsun itu” Winnie masih mempertahankan pendapatnya.

“Untuk menjadi seorang pemburu yang handal, kita memerlukan otak dan kemampuan fisik yang berimbang. Mungkin para pemburu tak akan menang saat harus berduel satu lawan satu dengan pedang dan tameng, tapi mereka akan menjadi kreatif untuk bisa mendapatkan buruannya dengan keterbatasan yang ada” sela Sophie kemudian.

“Wow, apa itu tadi?”

“Pengamatanku”

 

Para peserta memasuki arena. Tampak empat pemuda memasuki arena kemudian menuju ke ujung kiri-kanan arena. Tampang dari pemuda dengan nama Arius Sayer itu terlihat gagah, berwajah rupawan, dan bertingkah seperti seorang kesatria bangsawan yang penuh percaya diri. Dengan baju yang ditempat-tempat tertentu berpelindung besi, berjubah, dan menenteng pedang dipinggang nya. Sedangkan Demian Nvent tak berbeda jauh dari Arius, perawakannya rupawan dengan senyumnya yang sedikit angkuh terlihat dibibirnya. Pakaian yang dikenakan juga serupa dengan Arius, yaitu pakaian para kesatria bangsawan, hanya jubahnya saja yang lebih pendek. Mereka sama-sama dari keluarga bangsawan berpengaruh di kerajaan pusat. Dan kemudian satu-satunya pemuda Seithr yang dikenal dengan sebutan ‘Kesatria Sihir’ Pemuda dari keluarga Rhedsun, Irias Rhedsun. Pemuda itu berpenampilan layaknya seorang ksatria WindGhoul, para Fulgr. Dengan pakaian yang lebih ringan, lebih seperti seorang pemburu. Sedikit pelindung logam di tubuhnya. Hanya pelindung dari kulit saja yang membalut beberapa sisi tubuhnya. Sedang Roland Roldian hanya mengenakan baju yang dikenal sebagai baju para pemanah Morra. Dengan bahan kulit keras dipasang memanjang dari pundak kanan hingga ujung tangan sebelah kiri. Melingkar diantara lengannya hingga separuh badan kirinya. Tak ada satupun pelindung logam pada pakaiannya.

 

Pertarungan pertama adalah Roland dengan Arius. Pertarungan kali ini sangat menarik karena berbeda dengan cara bertarung seorang kesatria, Roland mampu mengalahkan Arius yang mahir dalam menggunakan pedang dengan dramatis. Karena ia dapat menjatuhkan Arius hanya dengan tangan kosong dan bantingan setelah berhasil bertahan dari serangan pedang kayu lawannya yang mematikan itu.

Pertarungan selanjutnya adalah Demian dengan Irias. Sangat mencolok sekali perbedaan keahlian Demian dengan Irias. Pemuda Seithr itu diatas tingkatan Demian dalam hal bertarung jarak pendek. Dalam dua-tiga langkah saja Demian sudah dibuat terjatuh dan tak mampu untuk bangkit berdiri lagi.

Kemudian terakhir adalah penentuan antara Roland dengan Irias. Banyak penonton sudah dapat meramalkan hasil dari pertandingan setelah melihat kedua pemuda itu bertarung sebelumnya. Pemuda Seithr itu yang akan memegang seluruh pertandingan kali ini. Sudah dapat dipastikan bangsawan Seithr ini yang akan memenangkan sayembara.

Pertarungan tampak sengit, Roland menggunakan dua tongkat kayu dikedua tangannya, setengah panjangnya dari pedang kayu umumnya. Sementara Irias sendiri menggunakan pedang kayu. Namun tampak dimata Hino kalau Roland tidak terlihat serius dalam bertarung. Pasti karena masalah ‘tidak ingin mencuri’ yang ia katakana kemarin, yang menjadikan penyebabnya. Terlihat Roland tak terlihat agresif dalam menyerang. Ia hanya menghindar dari serangan lawannya dan menanti saat-saat yang tepat untuk melancarkan serangan balik. Semua penonton tampak sangat bersemangat, terutama para Seithr. Namun tiba-tiba ditengah pertandingan, tanpa peringatan apapun Irias mengeluarkan sihirnya dan menghantam Roland hingga terpelanting kedinding pembatas.

Seketika hal itu menghentikan sorak sorai kemeriahan yang sedang berlangsung. Semua penonton dibuat terkejut melihat hal itu. Tidak dapat dimengerti kenapa tiba-tiba Irias menggunakan sihirnya. Padahal ia tak terlihat sedang terdesak.

Kemudian kesunyian dipecahkan oleh ucapan sang raja, “pelanggaran sudah terjadi, jadi sebagai mana peraturan yang tengah berlaku, maka pemenangnya adalah Roldian” ucap sang raja yang tidak kalah mengejutkan seluruh orang yang hadir diarena itu.

Beberapa bangsawan yang duduk dikursi-kursi sebelah sang raja segera berdiri satu persatu untuk melayangkan protes pada raja atas keputusannya yang barus aja ia berikan.

“Keputusan ku sudah mutlak” sanggah pria tua bermahkota emas itu menghentikan semua protes seketika. “Dengan ini sayembara saya nyatakan selesai. Karena kita sudah dapat pemenangnya”

Semua orang terdiam tak percaya dengan hasil dari sayembara ini. Tidak juga Hino dan kedua temannya, yang juga terdiam mencoba menebak-nebak ada apa dengan keputusan sang raja. Terlihat Roland pun terkejut saat dia sudah mulai kembali berdiri di ujung arena. Sementara Irias hanya terdiam dengan mimik wajah yang tidak dapat dibaca arah nya. Tidak ada perasaan kecewa atau menyesal dalam wajahnya setelah mendengar keputusan sang raja. Kemudian dengan masih tanpa perubahan air muka, pemuda Seithr itu berjalan meninggalkan arena. Beberapa Fulgr dan petugas kesehatan berlari memasuki arena menuju kearah Roland yang juga mulai berjalan dengan sempoyongan menuju keluar arena.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s