\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 2\part2

Mereka makan ditempat mereka makan siang tadi. Cuma kali ini semua bagian meja terpakai. Tampak banyak kursi yang disiapkan hampir semua terisi. Terlihat lima belas orang duduk berjajar dimeja itu. Menyisakan empat kursi kosong untuk Alice, Hino, Winnie, dan Sophie. Tampak semua yang ada ditempat itu kurang lebih seusia dengan Alice. Tampak mereka adalah anak-anak bangsawan Seithr, dan beberapa bangsawan Morra. Karena tampak Hino mengenal satu-dua diantaranya.

Hino, Sophie, dan Winnie disambut dengan semangat oleh orang-orang yang sudah ada didepan meja makan tersebut.

“Dia adalah Summoner besar kerajaan pusat” ucap Alice kemudian mengenalkan Hino saat mereka sudah duduk didepan meja makan, bergabung dengan yang lain.

Hino berdeham, “mantan Summoner kerajaan” tambahnya kemudian.

“Sekali bangsawan akan selamanya bangsawan. Dan sekali seorang Summoner kerajaan, akan selalu menjadi Summoner kerajaan” ucap seorang pemuda Seithr yang terlihat angkuh, dengan tampak semacam lambang bergambar bunga terlihat di dada baju kebangsawanan yang ia kenakan. Hino mengenalinya sebagai lambang keluarga Celes salah satu dari bangsawan berpengaruh Vaelum.

“Itu ksatria” timpal seorang gadis Morra dengan baju dan tatanan rambut yang tampak meriah.

“Apa bedanya Ksatria dengan Summoner? Mereka sama-sama pelindung kerajaan balas pemuda Seithr tadi.

“Benar” sela pemuda yang lain. Seorang Seithr berwajah menarik yang duduk di sebelah Winnie.

“Tidak ada bedanya apakah ksatria atau bukan. Karena setiap mereka yang berjasa bagi kerajaan adalah ksatria” saut seorang gadis Seithr dengan bijak. Hino mengenali gadis itu. Silvia Rhedsun. Keluarga bangsawan Rhedsun. Salah satu dari keluarga bangsawan Seithr yang  hampir selalu memegang posisi kepala pemimpin Fulgr WindGhoul.

“Berarti para pembersih dinding di kerajaan pusat juga termasuk ksatria? Mereka berjasa menjaga kebersihan dinding benteng” celetuk pemuda Morra yang duduk disebelah Hino. Hino juga mengenalnya. Dia adalah Harvy Scerst, anak ketiga dari keluarga Scerst, bangsawan yang di hormati di kerajaan pusat.

Yang lain tertawa mendengar ucapan pemuda itu, sedang Hino hanya tersenyum kecil mendengarnya.

“Sudahlah, kita sudahi perdebatan ini. Mari kita bersulang untuk Summoner besar kita” saut pemuda yang duduk paling ujung dengan baju khas ksatria Morra. Hino bisa mengenali lambang di bahu kanannya. Kepala Rusa. Keluarga Sayer. Keluarga bangsawan Morra yang memiliki perserikatan ksatria pribadi. Kerajaan pusat sering mengandalkan para ksatria mereka disaat terdesak.

 

Selesai acara makan malam dengan teman-teman Alice tadi Hino sebisa mungkin segera meninggalkan ruangan itu. Ia jengah dikelilingi anak-anak bangsawan yang selalu berbicara tentang hal yang tak pernah ia minati. Hino tampak berjalan sendirian menyusuri lorong yang memiliki pemandangan yang indah. Kemudian ia menemukan ruangan yang tampak seperti perpustakaan namun tak terlalu besar. Kemungkinan itu adalah ruang kerja seorang bangsawan atau mungkin sang raja, namun Hino tak perduli. Ia masuk kedalam ruangan itu. Tampak rak-rak buku berderetan apik disepanjang dindingnya. Ditengah tampak sebuah meja besar dengan bertumpukan buku diatasnya, dan sebuah kursi yang terlihat nyaman. Dibelakangnya tampak sebuah balkon yang menghadap ke kota.

Hino terlihat lebih santai saat ia berada diruangan itu. Ia duduk didekat balkon menikmati angin malam yang berhembus cukup kencang. Bintang terlihat jelas dilangit yang tampak memucat karena cahaya purnama. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Tampak masuk seorang pemuda tampan dengan pakaian indah para bangsawan, berwarna hijau lembut dengan jubah berwarna perak. Terdapat lambang kecil pada ujung jubahnya. Lambang yang dikenal Hino sebagai lambang keluarga bangsawan Roldian.

Pemuda itu berjalan diikuti oleh tiga pria yang tampaknya pengawal pribadinya. Satu diantaranya seorang Getzja.

Mendapati Hino berada diruangan itu membuat pemuda tadi terkejut, meski berhasil ia tutupi.

“Maaf. Apa ini ruanganmu? Aku tak bermaksud untuk tidak sopan masuk tanpa ijin” ucap Hino kemudian yang segera beranjak dari tempatnya duduk

“Oh, bukan. Ini bukan ruangan saya. Saya sedang mencari kakak saya. Maaf bila saya mengganggu, saya kira dia ada disini” ujar pemuda itu kemudian.

“Begitu ya. Baiklah kalau begitu, permisi” ucap Hino seraya berjalan menuju pintu keluar.

“Perkenalkan nama saya Roland Roldian IV” pemuda itu menghentikan langkah Hino dengan mengulurkan tangannya kearah Hino dengan kesopanan para bangsawan.

“Aku Hino” ucap Hino seraya menjabat tangan Roland.

“Iya, saya tahu. Hino Tethra, Summoner besar kerajaan pusat. The Winter. Saya sangat mengagumi anda” ucap Roland kemudian.

“Mantan. Dan tolong jangan memakai tata cara kebangsawanan seperti itu bila berbicara padaku. Maaf, tapi aku bukan bangsawan” timpal Hino.

Roland masih menatap Hino seperti tidak percaya dengan apa yang ia pandang, “baiklah bila itu membuat anda tidak nyaman. Maksudku membuat mu tak nyaman” ucapnya kemudian.

“Perkenalkan juga para pengawal saya. Pengawal ku, maksudnya” ucap Roland, “Hubert, Deuter, dan Luijz “ seraya menunjuk ke seorang pria Morra dengan perawakan yang kekar sebagai Hubert, kemudian ke pria Morra yang bertampang cerdik sebagai Deuter, terakhir ke arah pria Getzja berambut panjang diikat kebelakang sebagai Luijz, “mereka adalah kebanggaanku” tutupnya kemudian dengan senyuman puas.

“Oh, senang berkenalan dengan kalian” ucap Hino yang direspon dengan anggukan kepala oleh ke tiga pengawal Roland itu.

“Apa kau juga hendak mengikuti sayembara besok?”

Hino tertawa ringan mendengar pertanyaan Roland, “tidak. Kau bisa tenang karena aku tak akan mengikuti sayembara itu” jawab Hino kemudian, “kau mengikutinya?” tanyanya kemudian.

Roland mengangguk menjawab pertanyaan Hino.

“Kau tak terlihat senang dengan mengikuti sayembara besok?” tanya Hino karena melihat senyum getir dari pemuda itu saat mengangguk.

“Mungkin karena aku pecinta damai” jawab Roland kemudian.

Hino menatap Roland, “kurasa memang benar. Kau terlihat seperti itu” ucapnya kemudian menimpali lelucon Roland.

“Aku sebenarnya tak berniat ada ditempat ini” ucap Roland tiba-tiba, “aku tak pernah mau mencoba untuk mencuri” ucapnya kemudian.

“Maaf?”

“Mencoba mencuri tahta dari kaumnya”

Mendengar ucapan Roland itu membuat Hino spontan tertawa.

“Maaf kalau aku terdengar konyol” saut Roland kemudian.

“Tidak-tidak. Aku suka caramu berpikir dan melihat suatu hal” jawab Hino seraya mencoba menghentikan tawanya, “kalau begitu kenapa kau mengikuti sayembara ini?” tanya Hino kemudian.

Roland tersenyum, “akan terasa berat kalau kau adalah seorang yang selalu menjadi bayang-bayang saudaramu sendiri” jawabnya.

Hino terdiam menatap Roland dan tampak menanti kelanjutan penjelasan darinya.

Roland tertawa kecil, “aku adalah putra ke dua dari keluarga Roldian yang tinggal dan berkuasa di ujung selatan tanah Morra. Dan karena kakak ku akan menjadi pemimpin Goldmed Wirrow, maka ayah ku mengutusku mengikuti sayembara ini” jelas Roland.

“Aku tidak begitu mengerti soal itu. Tapi kuharap kau bisa mendapatkan hal yang benar-benar kau inginkan” jawab Hino setelah terjadi kesunyian sebentar.

“Maaf aku jadi bercerita yang tidak-tidak, dan terima kasih” saut Roland kemudian.

“Semoga kau beruntung besok pagi” ucap Hino kemudian, “baiklah Roland aku pergi dulu” tutupnya seraya pergi.

~0~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s