\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 2\part1

Bagian 2

_Putri Alice

 

 

Hino dan kedua rekannya tersadar didalam sebuah penjara. Berdinding batu sungai yang tampak kokoh, dengan jeruji besi yang terlihat berkarat disana sini merintang diantara mereka dengan jalanan kecil didepannya.

“WindGhoul ya?” Tanya Hino sambil mengamati sekeliling. Dia menduga karena tampak cahaya masuk melalui jendela berjeruji disisi tembok batu yang berhadapan dengan pintu masuk sel. Karena hanya WindGhoul yang memiliki penjara bukan dibawah tanah, melainkan dipuncak tertinggi dari menaranya.

“Ya kurasa, aku bisa melihat Cincin Langit dari sini” saut Sophie yang kini sudah berada di jeruji jendela atas, melihat pemandangan diluar penjara.

“Memang apa yang sebenarnya kita lakukan sampai para Fulgr itu mati-matian mengejar kita sampai ke daratan barat?” tanya Hino sembari terlihat berfikir dan mengingat.

“Kau tidak mengingatnya? Sulit dipercaya” saut Sophie masih menggelayuti jeruji jendela atas.

“Aku juga sudah lupa” saut Winnie.

“Apa gara-gara kita kabur dari rumah makan?” tanya Hino masih terlihat sedang mengingat.

“Bukan. Itu saat kita di Yatir” saut Sophie.

“Ah, jangan-jangan karena kita pergi diam-diam dari penginapan?” tanya Hino lagi.

“Itu saat kita di Belheim” kali ini Winnie yang menjawab.

“Jadi karena apa sebenarnya para Fulgr itu mati-matian mengejar kita?” Hino tampak sudah pasrah.

“Kalian benar-benar tak ingat? Sulit dipercaya kalian ini” ucap Sophie seraya melompat turun mendekati Winnie.

“Aku lapar” ucap Winnie kemudian.

Tak berapa lama terdengar langkah seseorang mendekati ruang sel mereka.

“Hey kalian, ayo cepat ikut!” seorang penjaga datang membuka pintu.

“Mau dibawa kemana kita sebenarnya?” tanya Winnie lesu. Terlihat ia hanya ingin duduk diam ditempatnya sekarang.

“Cepat! Putri ingin bertemu dengan kalian” saut penjaga tadi.

“Putri?” Winnie menatap Sophie kemudian menatap Hino.

“Bukan Alice, kan?” Hino bertanya pada penjaga itu. Wajahnya seolah meminta, ‘tolong katakana bukan’.

“Kurang ajar!” penjaga itu memukul perut Hino dengan tombak yang dibawanya, “panggil tuan putri Alice!”

“Sulit dipercaya” Sophie menggeleng pelan lagi. Kemudian menatap Hino yang kini tampak berlutut dilantai menahan rasa sakit.

“Ayo berdiri. Kalian ditunggu. Jangan sampai membuat putri menunggu lebih lama” penjaga itu mengangkat dan mendorong paksa Hino untuk berjalan.

 

“Kau benar-benar tidak ingat kenapa para ksatria Vaelum ini mengejar kita?” tanya Sophie pada Hino saat mereka sedang menuruni tangga batu memutar.

“Dasar gadis manja itu. Apa sebenarnya yang dia mau?” gerutu Hino dengan berbisik, agar penjaga itu tidak mendengarnya telah tidak sopan terhadap sang putri.

Setelah beberapa tinkungan dan beberapa tangga turun yang memutar, akhirnya mereka tiba didepan sebuah pintu megah dengan ukiran rumit sejarah Vaelum.

Begitu Hino dan kedua temannya memasuki ruangan, tampak berlari seorang gadis dengan pakaian kebangsawanan kaum Seithr. Dan segera memeluk Hino hingga Hino terdorong kebelakang beberapa langkah.

“Hino, akhirnya setelah sekian lama kita bisa bertemu juga” teriak gadis dalam pelukan Hino tersebut.

“Bukannya kamu yang memerintahkan para Fulgr itu mengejar dan menangkap kami” ucap Hino dengan tak acuh.

“Kau terlihat tak senang melihat ku?” tanya Alice kemudian.

Hino segera tersenyum dengan terpaksa, “aku senang bisa melihat mu lagi setelah sekian lama, tuan putri” jawabnya kemudian dengan dibuat-buat.

“Ayo kita makan. Kalian pasti lapar kan?” ajak Alice kemudian.

“Makan?” tampak Winnie mulai terlihat bersemangat.

 

“Dua hari lagi adalah pelantikanku sebagai penerus kedudukan ayahku” ucap Alice saat mereka sudah berada di ruang makan. Meja makan besar itu hanya digunakan sedikit diujungnya.

“Wah tepat sekali” ucap Winnie yang mulai tampak kembali bersemangat.

“Iya, kenapa begitu tepat sekali?” tanya Hino dengan nada yang terdengar menyindir.

“Itu berarti aku akan dicarikan pendamping” ucap Alice melanjutkan bercerita tanpa menghiraukan sindiran Hino.

“Sudah lama sekali semenjak WindGhoul tidak memiliki penerus laki-laki” ucap Winnie disela-sela makannya.

“Berarti akan diadakan sayembara?” kali ini Sophie yang bertanya, dan di respon Alice dengan anggukan kepala.

“Sayembara untuk para bangsawan Seithr” ucap Hino masih dengan nada sedikit melecehkan.

“Bukan. Sayembara itu kini untuk semua bangsawan yang ada ditanah Morra ini”

“Apa, seluruh bangsawan Morra? Bukankah sayembara itu untuk mencari pendamping bagimu? Bagaimana bila bukan Seithr yang memenangkannya?”

“Karena memang seperti itu peraturannya saat pertama sayembara seperti ini diadakan. Untuk seluruh negri. Dan sekarang WindGhoul bagian dari kerajaan serikat Bhasanta. Jadi sayembara ini berlaku untuk seluruh bangsawan dalam kerajaan serikat ini”

“Tapi tetap itu khusus untuk para bangsawan” ucap Hino seraya menyeruput minumannya.

“Sayembara itu memang bukan untuk umum, namun bila kau ingin ikut aku bisa mengaturnya untukmu” ucap Alice ditujukan kepada Hino.

Dengan spontan Hino menyemburkan minuman yang setengah diminumnya. Sementara Winnie dan Sophie serempak terbatuk mendengarnya.

“Ap-apa? Aku?” Hino menyakinkan dirinya. Alice hanya mengangguk ringan dalam senyuman, “kau sedang meledeku ya?”

“Aku tidak meledekmu” jawab Alice kemudian.

“Bagaimana aku yang tak mengerti bela diri ini bisa melawan? Bahkan selama ini ku pasrahkan hidupku ditangan seorang wanita” ucap Hino seraya menunjuk ke arah Sophie.

“Mereka hanya para bangsawan yang lemah. Sedikit dari mereka yang juga memiliki kemampuan bertarung” jawab Alice menyemangati Hino.

“Tetap saja, sedikit dari mereka itu, ada yang sudah berpengalaman dalam bertarung setidaknya berburu atau bahkan memang seorang ksatria” jawab Hino yang kini kembali melanjutkan makannya.

“Setidaknya kau bisa mencobanya” tambah Alice yang masih mencoba untuk meninggikan hati Hino.

Hino menatap Alice dengan tatapan pasrah, “dan untuk apa sebenarnya aku harus ikut sayembara itu?” tanyanya lagi.

“Jelas untuk menjadi suamiku”

“Dan untuk apa pula aku ingin menjadi suamimu?”

Dengan segera Alice terdiam. Mukanya memerah dengan cepat. Ia tak bisa membalas ucapan Hino.

“Hino bodoh!” teriaknya seraya berdiri dan berlari menuju pintu. Tapi sebelum sempat melewati pintu Alice berhenti, berbalik badan kemudian mengayunkan tangannya kearah Hino. Dan dengan mendadak Hino seolah terdorong dengan kencang hingga ia terpental dari kursinya kebelakang. Setelah itu Alice hilang dibalik pintu.

“Ah, gadis manja itu” ucap Hino dengan posisi terjelembab menghantam tembok.

“Kau ini bodoh ya Hino?” ucap Winnie manatapnya dari arah meja.

“Sulit dipercaya” Sophie mengelengkan kepalannya menatap Hino.

 

Setelah makan, mereka diantar ke kamar mereka masing-masing menurut perintah dari Alice. Bukan penjara seperti sebelumnya. Melainkan kamar tamu bangsawan. Ruangan yang sangat besar dan mewah. Penuh dengan ornamen Vaelum yang rumit disetiap sudut ruangan. Terdapat sebuah ranjang yang besar dengan tiang-tiang penyangganya tampak kokoh juga masih dengan ukiran yang rumit. Tampak sebuah meja kecil yang dikelilingi empat kursi didepan ranjang megah tadi. Disisi kiri yang berseberangan dengan pintu masuk, terdapat pintu menuju kamar mandi. Di lain dinding ruangan itu terdapat dua jendela kaca berukuran sangat besar, nyaris sebesar pintu. Menampakan bentangan kota dibawah langit biru yang cerah.

“Lantai berapa ini?” tanya Hino pada pelayan yang mengantarnya.

“Lantai 40 tuan” jawab si pelayan.

“Sedang yang itu bangunan apa? Masih bagian dari kastil ini?” tanya Hino saat ia mendapati sebuah bangunan yang juga tinggi menjulang hingga ujung atapnya tak dapat dilihatnya.

“Itu adalah kastil timur, tuan. Sedang sekarang kita berada di kastil utara” jelas si pelayan.

“Wah, benarkah? Seberapa tinggi dan besar sih sebenarnya kastil ini?” tanya Hino sekali lagi karena penasaran.

“Istana WindGhoul dibagi menjadi lima bagian kastil. Empat kastilnya mengelilingi satu kastil utama dibagian tengah. Dihubungkan dengan 82 jembatan antar kastil-kastil dibeberapa tingkatnya. Memiliki 47 tingkat pada ke empat kastil yang mengeliling, yang mana bagian tertingginya adalah penjara, dan 45 tingkat pada kastil utamanya, yang pada tingkat tertinggi dari kastil utama tersebut terpasang cakram dari perak seukuran kastil utama itu sendiri, yang dikenal dengan sebutan Cincin Langit, yang ditahan oleh ke empat kastil yang mengelilinginya” jelas pelayan itu panjang lebar.

“Oh” ucap Hino seraya mengangguk-anggukan kepalanya.

“Masing-masing kastil punya satu gerbang darat dan sepuluh gerbang udara untuk para Fulgr” pelayan itu masih melanjutkan menjelaskan.

“Baiklah, aku sudah mengerti. Cukup. Terima kasih” potong Hino segera sebelum pelayan itu melanjutkan penjelasan panjangnya tentang seluk beluk kastil ini.

 

“Kurasa kita sedang dikurung dalam kastil ini” ucap Hino saat ia bersama Sophie dan Winnie berada dibalkon dilorong tempat kamar mereka berada. Setelah mereka mencoba mencari jalan keluar dari kastil itu yang tanpa harus melompat. Dan tampaknya semua pintu yang dapat dilalui dengan berjalan kaki dijaga oleh prajurit Windghoul. Jelas saja mereka tidak dibiarkan melewatinya.

“Yah, kurasa ada baiknya juga kita berlibur sebentar di kastil ini. Tidak rugi juga kan” ucap Winnie menimpali.

Hino hanya menghelai nafas panjang seraya memandang bentangan kota yang mulai bersinar berkilauan saat malam mulai menjelang.

“Tapi kurasa gadis itu ingin kau jadi suaminya” celetuk Sophie dengan tertawa.

“Hentikan Soph, tidak lucu” saut Hino kemudian.

“Memang bukan lelucon” jawab Sophie masih dengan tertawa.

“Aku sudah mengenalnya sejak lama. Dan ia sudah kuanggap sebagai adiku sendiri” jelas Hino kemudian.

“Yah, jelas dia tidak menganggapnya begitu. Mungkin alasan dia mengutus Fulgr untuk menangkap kita adalah ini” kali ini Winnie yang berucap.

Hino hanya terdiam.

“Tapi bagaimana kau bisa mengenal seorang putri Seithr seperti dia?” tanya Sophie kemudian.

“Benar. Melihatmu yang seperti ini, baik sebelum atau sesudah menjadi Summoner kerajaan tetap saja mustahil bagiku” timpal Winnie.

“Yah, kalian boleh berkata sesuka kalian” saut Hino acuh “aku bertemu dengannya delapan belas tahun yang lalu. Saat itu aku masih menjadi seroang pelajar di akademi di Aksa” ucapnya lagi.

“Wah? Benarkah kau sempat menjadi pelajar di akademi di Aksa?” terlihat Winnie tak percaya yang dibuat-buat.

“Seperti yang kalian tahu aku berasal dari keluarga petani miskin dilereng Zjua. Aku bisa belajar disana karena aku memiliki teman seorang penjaga perpustakaan disana. Dan dia mengenalkanku pada salah seorang pengajar akademi, yang kemudian mendaftarkan ku untuk belajar disana.

“Aku tidur dalam perpustakaan atau dimanapun aku bisa tidur karena tak punya uang untuk menyewa tempat tinggal di kota itu. Kemudian pada suatu hari tanpa sengaja aku melihat Alice dan menyelamatkannya saat ia hampir tenggelam disebuah danau didekat akademi. Saat itu usianya baru sepuluh tahun. Keluarganya yang ada di Aksa sana sangat berterima kasih padaku. Dan akhirnya sebagai rasa terima kasih, mereka memintaku untuk tinggal dirumah mereka. Alice tinggal dikediaman keluarganya itu semenjak dia berusia lima tahun. Dan setelah saat itulah aku menjadi akrab dengannya. Keluarga merekapun sudah menganggapku sebagi kerabat mereka sendiri” jelas Hino panjang lebar “hingga lima tahun kemudian aku pindah ke perserikatan kuil Zurson, di selatan” tutupnya kemudian.

“Hm, tiga belas tahun. Pantas kau menganggapnya sebagai adik” saut Sophie.

“Dan sekarang apa yang hendak kau lakukan Hino?” tanya Winnie kemudian.

“Mungkin aku akan disini untuk beberapa saat. Setidaknya aku akan datang saat upacara pelantikannya” jawab Hino kemudian.

“Hino!” tiba-tiba terdengar suara Alice menggema disepanjang koridor.

“Terberkatilah dia dan seluruh keturunannya” ucap Sophie begitu mendengar Alice yang sedang mereka bicarakan muncul.

“Oh, disini rupanya kau. Ayo kita makan malam. Aku mau mengenalkanmu pada beberapa orang temanku” ucap Alice begitu ia mendapati Hino, Sophie, dan Winnie berada dibalkon. Dan merekapun beranjak untuk ikut Alice makan malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s