\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 1\part2

Malam itu badai semakin menggila. Terdengar angin seolah mengedor-gedor setiap pintu dan jendela dengan penuh amarah.

Sophie yang sedang merebahkan tubuhnya ditempat tidur tiba-tiba terduduk. Membuat Winnie yang tidur disebelahnya terkejut.

“Ada apa Soph?” Tanya Winnie terlihat cemas.

“Stt….” Sophie mulai mencoba berkonsentrasi dengan pendengarannya “Fulgr!” Serunya kemudian. Melihat dari kemampuan panca indra kaum Getzja yang diatas rata-rata, tak heran jika ia mampu membedakan teriakan binatang dalam gemuruh badai seperti itu.

“Kita beri tahu Hino” saut Winnie dengan cepat beranjak keluar kamar diikuti Sophie.

Fulgr!” ucap Sophie setelah menerobos masuk kekamar Hino tanpa permisi.

Segera Hino berdiri dan melompat dari ranjangnya, “kita lewat pintu belakang” jawabnya langsung.

Diluar badai benar-benar sedang mengamuk. Hujan menampar setiap bentuk yang ada didaratan. Membuat Hino dan Winnie kewalahan untuk berjalan. Tapi tidak dengan Sophie, gadis Getzja itu masih bisa melompat untuk memastikan medan dihadapannya.

“Soph, kurasa kita tidak mungkin meneruskan pelarian dengan situasi seperti ini. Winnie tampak tidak sanggup berjalan lagi” ucap Hino yang juga kualahan bahkan untuk menatap Sophie, karena hujan yang menusuk matanya.

“Baiklah aku cari tempat persembunyian. Kalian bergerak lurus saja kedepan dulu” ucap Sophie sebelum kembali melompat kedepan dengan lincah, seolah badai tidak mempengaruhinya.

Tidak lama setelah Hino dan Winnie berjuang mati-matian untuk melangkah maju, dari arah belakang mereka terdengar suara-suara teriakan dan kepak sayap beberapa ekor burung.

“Hurracun!” Teriak Hino “Ayo lebih cepat Win” segera ia menarik lengan Winnie dan berlari lebih kencang melawan badai.

Suara-suara itu semakin mendekat di belakang Hino dan Winnie. Sesekali Hino melihat kebelakang, tampak walau hanya siluet tapi jelas itu seekor burung raksasa yang mengepakkan sayapnya melayang rendah dipermukaan tanah. Dan tampak dalam bayangan itu seseorang dengan tombak atau semacamnya berdiri setengah jongkok diatas burung tersebut. Dan terlihat mereka menembus badai dengan mudah.

“Kemari” Sophie tiba-tiba sudah berada disamping Hino, menarik lengan Hino menuju bangunan yang terlihat seperti sebuah kandang.

Hino dan Winnie susah payah mengikuti Sophie dan akhirnya merekapun dapat bernafas dengan lega. Walau keringat mereka bercampur dengan dinginnya air hujan yang membasah kuyupkan tubuh dan baju mereka.

“Sial, mereka datang terlalu cepat” Hino terengah bersembunyi diantara lembaran dinding kayu agar tak terlihat dari luar.

“Apa mereka tidak terpengaruh dengan badai ini?” Winnie juga tampak lebih terengah duduk disebelah Sophie.

“Mereka kaum Seithr. Para Sky Elemental. Sama seperti kaum Nitha. Jadi cuaca tidak berpengaruh pada mereka” jawab Hino yang duduk didepan Sophie dan Winnie, merunduk dan mengatur nafas dengan tatapan waspada kearah pintu masuk kandang itu.

“Tapi tenang saja Hurracun tidak dapat mencium jejak dalam hujan” lanjut Sophie kemudian tanpa terlihat lelah atau nafas yang tersenggal, melihat sedari tadi ia melompat-lompat ditengah badai seperti itu.

Fulgr yang mengejar mereka itu adalah ksatria khusus dari WindGhoul, kota Vaelum dalam perserikatan Morra yang terletak digaris batas Morra-Narva. Ciri khas mereka adalah menunggangi seekor burung serupa elang sebesar kuda yang disebut Hurracun.

 

Serempak Hino, Winnie, dan Sophie terdiam tercekam saat terdengar diluar disela suara hujan, suara-suara orang yang sedang berteriak-teriak. Dibalut suara kecipak genangan air yang terinjak dan juga dengusan-dengusan Hurracun dengan sesebentar berteriak dan seperti menggeram.

“Kau yakin mereka ada disini?” Terdengar suara seorang Fulgr bertanya kepada temannya untuk memastikan.

“Percayalah, dalam badai seperti ini mereka tak akan bisa pergi jauh. Kecuali yang Getzja” saut yang lain.

Hino sampai-sampai menahan nafas agar tidak mengeluarkan suara-suara yang dapat mencurigakan para Fulgr itu “Andai aku bisa memanggil Animaku” gerutunya dalam hati.

Dan disaat yang sangat genting itu, tiba-tiba saja Winnie bersin. Hal bodoh yang membuat kedua temannya terkejut setengah mati, tak ubahnya dua Fulgr yang ada diluar.

“Sulit dipercaya” ucap Sophie pasrah menatap Winnie.

Tampak raut wajah Winnie yang terlihat takut, merasa bersalah, dan seperti mau menangis dengan penyesalan yang teramat mendalam, “maafkan aku” dan kini ia mulai benar-benar menangis.

Hino hanya menggeleng pelan sambil menutupkan tangan kanannyan kearah wajah saat dua Fulgr menodongkan tombak mereka kearahnya dan kedua temannya.

~0~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s