\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 1\part1

Bagian 1

_Akhir Pencarian

 

 

Kota kecil disisi timur pantai Samudra Langit, jauh di barat-laut dataran Elder, kota Philuburg. Kota pemukiman kaum Nitha yang paling tua. Tampak Hino sedang menatap panorama laut dari sebuah tebing. Tampak langit mendung dengan warna kelabu indah diatas samudra gelap yang tenang.

“Akan segera datang badai” Seoarang pria setengah baya menghampiri Hino yang membuatnya terjaga dari lamunan.

“Ah, El-Grande. Tetua, anda mengejutkanku” Hino menoleh dan menyadari bahwa ternyata El-Grande yang ada disampingnya. El-Grande, adalah sebutan untuk tetua kota atau semacam wali kota.

“Apa yang kau lamunkan?” Pria tua itu duduk disamping Hino.

“Ah, tidak. Aku hanya mencoba mengagumi keindahan alam ini” Hino kembali menatap laut.

“Apa kau tak berhasil mengambilnya kembali?” tanya sang tetua kota itu kemudian.

Hino terkejut dengan pertanyaan itu, “tidak” jawabnya kemudian masih belum memalingkan pandangan dari samudra luas dihadapannya.

Tetua itu ikut menatap kearah laut “Hm, memang indah bukan. Tenang namun terasa hampa. Ini yang disebut keheningan sebelum badai” kemudian pria baya itu menunjuk kearah sebuah mercusuar dibawah, “lihat mercusuar itu. Semua cahayanya tertelan oleh kelabunya awan.

Hino menggangguk pelan mencoba memahami perkataan tetua itu.

“Sama seperti mu. Terlihat tenang namun hampa” ucap sang tetua kota itu perlahan setelahnya.

Hino kembali terkejut. Ia segera menatap pria tua itu dengan pandangan penuh tanya.

“Hal itulah yang menyebabkan kau gagal” jelas sang tetua kota yang masih menatap lautan.

“Apa maksud anda?” Hino bertanya.

“Kau melupakan sesuatu yang berharga” ucap pria tua itu “ingat-ingatlah”

“Apa yang telah saya lupakan, tetua?”

“Kau harus coba untuk menyadari apa yang tidak pernah bisa kau lepaskan, maka kau akan mendapatkan”

“Hm?” Hino terlihat sedikit bingung “anda mengunakan ungkapan-ungkapan yang terlalu tinggi dalam menerangkannya kepada saya, jelas saya orang bodoh ini, tidak bisa dengan mudah mengerti ucapan semacam itu” ucap Hino kemudian.

“Kau mengerti apa yang aku maksudkan” jawab sang tetua dengan tersenyum, yang dibalas Hino dengan senyuman balik.

Angin berhembus mengibarkan jubah mereka. Hino membenahi rambut panjangnya.

“Kurasa kita harus segera kembali ke kota, sebentar lagi badai akan datang” akhirnya El-Grande berucap.

Mereka berdua bangkit berdiri saat dari jauh seorang gadis berteriak-teriak “Hino! Ayo cepat kembali. Sebentar lagi badai akan datang” teriakan gadis itu timbul tenggelam di antara angin yang mulai terasa bergejolak.

“Ya kami akan segera turun” saut Hino menjawab panggilan gadis itu juga dengan teriakan.

“Cobalah untuk mengingatnya, dan ganti tatapan mata hampa itu dengan semangat” Ucap El-Grande sebelum mereka berpisah ditengah kota.

Hino hanya tersenyum menanggapi ucapan tetua itu. Hampa? Hino masih tak dapat mengerti maksud sang tetua.

“Ada apa Hino?” Gadis yang tadi memanggilanya bertanya.

“Ah biasa, wejangan orang tua kepada pemuda yang masih memiliki masa depan yang cerah” ucap Hino dengan bercanda.

Gadis itu menatap Hino dangan tatapan sinis, menyipitkan matanya seolah tak percaya “kau sedang tidak melakukan tipuan lagi kan?”

“Jelas tidak”

“Kau tak sedang berbuat ulah lagi kan?”

“Winnie, kau tak percaya padaku?” ucap Hino mencoba menyakinkan gadis bernama Winnie dihadapannya itu.

“Jangan sampai kita kena masalah lagi kali ini. Kita sudah cukup banyak masalah” jawab Winnie kemudian.

“Oh iya, Sophie mana?” tanya Hino kemudian mengalihkan perhatian Winnie.

“Dia sudah dipenginapan. Kita belum bisa pergi hari ini, Karen…” Duar!! Belum selesai Winnie berucap guntur mulai berdeham tegas.

“Maksud mu karena itu?” Hino memaksudkan suara guntur itu.

Winnie hanya menggangguk.

 

“Kita harus sesegera mungkin keluar dari kota ini sebelum para Fulgr mencium jejak kita disini. Dan lagi kita sudah tak ada urusan lagikan disini?” Ucap seorang gadis Getzja setelah Hino dan Winnie tiba dipenginapan. Gadis Getzja itu yang dimaksud Hino dengan Sophie.

“Benar juga, jangan sampai merepotkan El-Grande. Dia sudah baik sekali kepada kita” Winnie membenarkan.

Hino tampak berpikir “Benar kita sudah tak punya urusan di kota ini, kita pergi setelah badai ini reda”

Memang kepentingan mereka sudah selesai di kota ini. Namun masih sama seperti sebelumnya, mereka belum berhasil mendapatkan apa yang mereka cari. Tepatnya apa yang Hino cari.

“Apa kau sudah yakin, bahwa ini semua sudah selesai?” Tanya Winnie kemudian.

Hino hanya terdiam sebentar kemudian menganggukan kepalannya, “Kurasa kita cukup dengan Kuil Anima yang disini. Falst dan Fafnr sudah tak mungkin di ikat lagi” jawab nya lalu. Anima yang dimaksud Hino itu adalah perwujudan mahluk-mahluk dari alam para dewa yang mempunyai kemampuan untuk menyeberang ke alam ini, meskipun dalam batas waktu tertentu. Mereka hanya dapat dipanggil oleh orang-orang tertentu saja. Summoner atau sang Pemanggil.

“Memang ada apa denganmu? Sudah setahun ini kita meninggalkan kerajaan pusat dan  kembali menuju ke kuil-kuil para Anima itu untuk kau ikat kembali, tapi kenapa tak satupun kau dapat?” Tanya Winnie dengan nada sedikit menyelidik dan juga meremehkan.

“Dan seperti sebelum-sebelumnya, kita akan pergi meski kau tak mendapatkan mereka? Kau seorang Summoner kerajaan Hino. Mana mental itu? Mana semangatmu?” Sekarang Sophie yang menceletuk. Hino memang adalah seorang Summoner, dan seorang Summoner adalah salah satu dari pengguna seni sihir yang unik. Penggunanya bukan diberikan kemampuan seperti kebanyakan sihir pada umumnya, namun dengan melakukan sihir ikatan, seorang Summoner atau Pemanggil ini, memperoleh kekuatan dan pengabdian dari para Anima yang diikatnya.

Hino tersenyum menatap dua rekannya itu, “mantan Summoner tepatnya. Dan mungkin karena mental seperti ini jugalah aku kehilangan kemampuanku mengikat” tambah Hino kemudian. Memang untuk melakukan sihir ikatan, para Pemangil ini harus dapat menaklukan para Anima itu terlebih dahulu di kuil-kuil mereka. Menaklukan para Anima itu bukanlah dalam segi fisik, melainkan menaklukan secara mental. Jadi hanya orang-orang dengan kepribadian dan mental yang kuat yang mampu menjadi seorang Summoner.

“Lagi-lagi bicara seperti itu. Kau menyedihkan sekali Hino” ucap Sophie menjawab perkataan Hino.

“Tapi setahuku Summoner tidak bisa kehilangan ikatannya kecuali ia jadi gila atau mati” sela Winnie mencoba mengungkapkan informasi yang ia tahu.

“Benar. Tapi entahlah, setahu ku hal seperti yang ku alami ini memang belum pernah terjadi, karena saat seorang Pemanggil kehilangan kemampuannya memanggil berarti dia juga telah kehilangan kewarasannya atau bahkan nyawanya” Hino membenarkan penjelasan Winnie.

Misteri mengapa Hino bisa kehilangan ikatannya meskipun masih hidup dan segar bugar itu juga tidak bisa dimengerti oleh dirinya sendiri. Semuanya bermula dari setahun yang lalu, saat ia masih menjadi salah satu dari Summoner kerajaan pusat. Bhasanta. Dan bersama dengan tiga Summoner Bhasanta lainnya, mereka ber empat telah melakukan ritual yang dilarang oleh karena permintaan kanselir kerajaan. Yang akhirnya ketiga rekannya pun mengalami hal serupa dengannya, yaitu kehilangan kemampuan mengikat.

“Dan apakah ini ada hubungannya dengan kejadian setahun yang lalu, saat kalian ber empat mengundurkan diri dari kerajaan pusat dengan serempak?” Tanya Sophie kemudian.

Hino segera menggelengkan kepalanya berbohong.

“Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian saat itu?” Kali ini Winnie yang bertanya.

“Kurasa kami berempat memiliki pandangan berbeda yang tak mungkin untuk disatukan” jawab Hino lagi dengan kebohongan. Alasan tentang kejadian setahun yang lalu di kerajaan pusat itu tak pernah di ceritakannya pada siapa pun, tidak ke orang-orang dalam kerajaan, tidak juga ke kedua sahabatnya, Winnie dan Sophie sekalipun.

“Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu, tapi bila kau tak ingin mengatakannya, ya sudah” saut Sophie kemudian.

“Tapi kurasa badai ini akan cukup lama” ucap Winnie merubah tema pembicaraan yang mulai tak nyaman.

“Ya, mungkin besok kita baru bisa pergi dari sini” jawab Hino seraya mengamati hujan dari balik jendela kaca penginapan dengan menerawang. Kuil Naga Legendaris Elder diselatan kota kaum Nitha ini adalah kuil Anima nya yang ketujuh. Yang terakhir. Namun masih tetap tak satupun ikatan yang berhasil ia kembalikan. Dan ia semakin bertambah putus asa. Ia mulai merasa hampa.

“Kau baik-baik saja kan, Hino?” Terdengar Winnie bertanya saat melihat Hino yang terpaku diam dengan tatapan nanar.

“Ya, aku baik-baik saja” jawab Hino segera kemudian tersenyum.

“Baiklah kalau begitu, ayo kita urus semua keperluan kita” ucap Winnie kemudian seraya menggandeng Sophie menghambur kedalam kamar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s