\\Gadis Saxophone

 

Terdampar dari pelarianku akan kenyataan, 5 malam sudah, selalu aku melewati tempat ini. Semuanya tak banyak berubah, atau bahkan tak ada perubahan sama sekali. Kecuali satu, seorang yg selalu terduduk di sudut jalan ini, yg seolah berjiwa batu, tak bergeming walau butiran salju membekukan apa saja yg mereka sentuh, yg terus memainkan Saxophone nya, seolah begitulah cara ia bernafas didunia ini. Dan sekarang tak dapat kulihat, walau terang lampu silau tertangkap mataku.

Aku berhenti tepat didepan  tempat orang itu biasa duduk, cukup lama memandang tempat kosong itu, dan mencoba menjawab duga apa yg ditanyakan hatiku. Tapi tak satupun pasti.

“Maaf” Tiba-tiba tersentak telingaku akan suara yg memanggil akalku dari lamunan kembali.

Aku mencari sumber suara tadi, dan tampaklah seorang gadis dgn senyum, yg memanggil ingatanku tentang indah yg terlupakan. Wajahnya berseri di antara balutan emas lampu-lampu jalanan. Tampak berkilauan. Bahkan baju dan topinya yg kumal pun tersamar oleh kilaunya, namun tiba-tiba mataku menatap satu benda pada tangannya, benda yg terbiasa pada mataku, sebuah  Saxophone.

“Kau siapa?” Aku mulai bertanya pada saat selesai sudah anganku berfikir tentangnya.

Gadis itu tidak menjawab, hanya dgn senyuman yg tak dapat ku tangkap artinya, ia melangkah dan duduk di tempat pemain Saxophone itu biasa duduk. “Kau anaknya?” Aku bertanya lagi untuk meyakinkan keraguanku, tapi gadis itu hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian ia menengadah memandangku. Benar! Wajah itu mengingatkanku tentang kenangan yg selama ini aku hindari.

“Dia terlambat” Gadis itu berucap. Aku menjongkokkan tubuhku meratakan dgn tingginya.

“Kau yg menggantikannya?” Aku bertanya lagi. Gadis itu kembali menggeleng, seraya membersihkan Saxophone nya.

Malam makin mendingin. Dapat kurasakan beku menembus tiga lapis mantelku, bagaimana dgn gadis itu, yg hanya mengenakaan selembar baju saja?

“Aku hanya melunasi janjinya” Gadis itu kembali berucap, sambil tetap membersihkan Saxophone nya. Aku tak begitu paham dgn apa yg gadis itu bicarakan.

“Kemana pria itu?” Aku kembali bertanya. Gadis itu menatapku kali ini tanpa senyuman.

“Kembali” Gadis itu menjawab singkat,seraya mengarahkan telunjuknya ke atas. Aku sedikit terkejut.

“Kau bilang ia terlambat?” Aku mencoba membuka simpul Enigma yg gadis itu berikan. Gadis itu membenahi caranya duduk, kemudian bersandar pada dinding jalan, dan mengangkat Saxophone nya kearah dada.

“Ia terlambat mengatakan pada anda” Gadis itu berkata, dan dikejutkan lagi aku oleh kata-katanya. Kemudian ia mulai memainkan Saxophone nya.

Lagu yg biasa di rasa oleh telingaku tiap malamnya. Mengalun seakan mengajak air mata ku menari meninggalkan kepahitan yg di sandang mataku, menjauh. Hingga akirnya lagu itu berhenti, aku tetap berdiri diantara pilar-pilar lampu jalanan. Untung malam ini salju tidak turun.

Ia berhenti, berusaha melawan tubuhnya yg bergetar. Aku terdiam menatapnya.

“Lagu ini menceritakan tentang seseorang yg terlalu takut dan mencoba mengingkari kenyataan hidupnya, namun terlambat saat ia berusaha untuk kembali karena batas kehidupannya menentukan lain.

Terdiam sesaat aku, saat ia berhenti bicara. Kata-katanya seolah mengunci semua system kerja dlm tubuhku. Itulah yg kulakukan sekarang. Menghindar dari kenyataan. Synkronitas kah?

“Ia hanya ingin aku menyampaikan hal ini pada anda” Gadis itu berkata lagi. Melihatku terdiam, kemudian ia menambahi. “Anda baik-baik saja?” Aku terdiam memandang mata gadis itu.

“Ya, saya baik-baik saja” Aku menjawab tanpa memindah pandanganku. Kemudian gadis itu tersenyum.

“Cukup semalam ini aku disini” Gadis itu berucap lagi.

Berfikir aku tentang apa yg telah kutempuh, 2 tahun sudah aku berlari keberbagai tempat, tapi apa yg ku dapat? Aku lelah. Ternyata inilah saat yg tepat untuk mengakhirinya.

“Terima kasih” Aku berucap sebelum akirnya melangkah pergi. Aneh, tertuntun hidupku  oleh gadis ber Saxophone.

     Gadis itu kembali memainkan Saxophone nya., saat beranjak aku dari tempat itu. Sesaat kemudian mutiara-mutiara putih pun mulai berjatuhan, kristal-kristal beku yg bersih, seolah mencari waktu yg tepat utk ditumpahkan. Malam ini begitu dingin, namun dingin yg indah.

Aku kembali kearah gadis itu, kemudian kulepas mantelku, dan ku selimutkan pada tubuh mungilnya. Ia tak bereaksi, hanya tetap bermain Saxophone, seolah begitulah cara ia bernafas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s