\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 1\part2

 

Malam harinya Kein tidak bisa tidur. Ia kembali mengingat kejadian tiga tahun yang lalu. Saat ia masih seorang ksatria kerajaan dengan gelar Sverdinal api nya yang tersohor. Masa dimana hari-harinya masih cemerlang dengan posisinya dalam kerajaan, hidup sebagai seorang bangsawan bersama dengan istrinya tercinta. Lalu terjadilah hal itu. Percobaan pembunuhan terhadap raja. Ia berhasil menggagalkannya namun Diana, wanita yang sangat dicintainya, terbunuh oleh karena itu. Ia tak mampu berbuat apapun pada saat istrinya kehilangan nyawa tepat didepan matanya. Ia berhasil melindungi rajanya namun ia tak mampu melindungi orang yang paling dikasihinya.
Masih teringat sorot mata berwarna merah diantara wajah yang terbungkus cadar dan dua pedang unik berbentuk bulan sabit milik pembunuh itu. Semuanya masih terus membayanginya. Ketidak mampuannya, kegagalannya, dan kelemahannya.

Ia mencoba sekuat tenaga untuk melupakan peristiwa itu dengan meninggalkan semua hal yang bisa mengingatkannya tentang Diana, termasuk keluar dari kerajaan. Namun hal itu masih terus menghantui hari-harinya, hingga kini tiba-tiba jalan menuju kearah masalah yang belum terselesaikan ini kembali. Sepanjang hari ia terus berfikir tentang hal ini. Dan tiba-tiba seorang Seer sang pembaca masa depan datang kemudian memintanya melakukan hal yang ada kaitannya dengan kematian istrinya. Kein tak mungkin menolaknya, ia merasa harus memenuhi permintaan itu. Bukan karena ia menganggap ini permintaan para dewa-karena bagi orang-orang Morra, Seer adalah juru bicara para dewa-tapi karena ia yakin dan ingin hal ini menjadi kesempatannya untuk menebus segala hal yang telah gagal ia lakukan sebelumnya.

Kein mengeluarkan sebuah peti besar dari bawah ranjangnya. Tampak sangat lusuh dan berdebu. Ia membukanya, terlihat sebuah pedang tertata rapi dalam sarungnya yang masih bersih. Gambar lambang kerajaan Phatonica digagang bagian ujung bawah, kemudian tampak goresan berbentuk lidah api dibagian gagang yang bersinggungan dengan mata pisaunya. Tampak pula motif beraksen merah pada sarungnya yang terbungkus kulit lembu kualitas tinggi dan tulisan dalam bahasa Morra: Bhara, indah melintang dipenampang besi disarung tersebut.

Ia mengangkat pedang itu. Itu adalah pedang api nya sewaktu ia masih bagian dari kerajaan. Pelindung raja. Kein mulai menatap penampang besi pedang itu dengan tatapan membara sama seperti hari-hari lalunya. Tampak ia sudah bertekat untuk menerima permintaan Nubie dan mencoba mencari siapa pembunuh istrinya tiga tahun silam.

“Apa kabar teman lama, sudah saatnya kita melakukan banyak hal lagi bersama” ucap Kein pada pedang yang ada ditanggannya “Karena aku tak akan gagal untuk yang kali ini” ucapnya lagi sambil mencabut pedang dari sarungnya dengan cepat hingga menimbulkan bunyi nyaring dua logam bergesek. Tampak mata pedangnya mengkilat indah.

 

Esok paginya Kein menanti kedatangan Nubie didepan rumahnya. Tak lama kemudian tampaklah kereta kuda Nubie dan Luca mendekat.

“Baiklah aku akan pergi” jawab Kein tenang pada Nubie, setelah mereka sudah berada dalam ruang tamu rumah Kein.

“Ya, aku sudah mengetahuinya” Ucap Nubie kemudian.

Terlihat Kein sedikit kesal mendengar ucapan Nubie. Ia merasa mudah ditebak.

“Hey, ingat. Dia Oracel” Luca menambahi “Oya Kein, kau tau Relkvermu kemana sekarang?” Ucapnya lagi menyambung dengan pertanyaan.

Kein tersenyum pada Luca “Thessa pulang kekampung halamanya. Entah bagaimana kabarnya sekarang? Mungkin ia sudah menikah atau bahkan sudah memiliki anak” tampak Kein sedang mengenang masa lalu “Relkvermu sendiri kemana?” Kein balik bertanya.

Tampak Luca tersenyum. Ia tampak sudah siap untuk pertanyaan tadi “yah, kau tahukan ia memiliki potensi menjadi penyihir besar. Jadi kukirim dia ke akademi.

Kein menyimak dengan seksama “Kalau Ged dan Brian?” ia tampak menekan rasa ingin tahunya.

“Kau merindukan mereka kan?” Luca menggeleng pelan “Ged menikahi Tracey dan pulang kekampung halamannya diselatan Raba” jelas Luca.

“Sudah kukira mereka akan menikah” Kein tampak bahagia.

“Yah, karena itulah dari dulu aku mengiginkan Relkver perempuan” Luca menghelai nafas panjang “sedang Brian dan Digzy melakukan perjalanan keluar dari kerajaan ini dan tak terdengar kabarnya lagi” Luca menutup ceritanya.

“Tiga tahun sudah berlalu” Kein terdiam sebentar “kita benar-benar terpisahkan” tambahnya dengan helaian nafas mengikuti Luca.

“Tidak. Jalan kalian masih akan bersinggungan” Nubie tiba-tiba menyela.

Kein dan Luca saling berpandangan dan kemudian saling tersenyum.

 

Dan akhirnya Luca dan Nubie pun beranjak pulang. Kein mengantar kepergian mereka, menatap kereta kuda itu menjauh. Dan saat ia menatap disamping kanannya, tampak seorang pemuda dua puluh tahunan sedang melambai kearah kereta kuda Nubie dan Luca.

Wajah Kein berubah masam. Ia teringat kejadian beberapa menit sebelum Nubie dan Luca beranjak pulang. Ujung dari pertanyaan Luca tentang Relkvernya adalah pemuda itu.

Tak lama setelah Nubie menyela tadi, ia segera memangil seseorang dari kereta “Ini adalah Nico, muridku. Ia seorang Relkver” Nubie mengenalkan.

“Saya Nico Nibihel. Senang berkenalan dengan anda” Pemuda itu mengenalkan diri dengan sopan santun tata cara kerajaan.

“Jangan bilang ia akan pergi bersamaku?! Melihat caranya berbicara saja aku tahu dia baru saja selesai pendidikan akademi” Kein menatap kearah Nubie, kemudian menatap kearah Luca, lalu menatap pemuda bernama Nico tersebut “Oh, jangan bercanda. Kalian pikir aku bisa melakukan perjalanan dengan mengasuh seseorang?”

“Kau akan lebih maksimal bila bersama dengan seorang Relkver” ucap Nubie.

“Mungkin aku tak akan bisa maksimal bila selalu menyelamatkan nyawanya” ucap Kein kesal.

“Percayalah, dia akan sangat berguna bagimu” jawab Nubie datar.

“Sudahlah kau harus membawanya. Ia pemberian seorang Oracel” ucap Luca dengan senyum.

Kein pasrah setiap kali menyadari bahwa Nubie seorang Oracel. Ia kembali menatap pemuda yang melambaikan tangan disebelahnya itu. Muka masam Kein tidak bisa berubah, tapi apa mau dikata.

“Baiklah Nico” Kein mencoba melakukan pengakraban.

“Ya master?!” Nico menjawab kaku.

“Jangan pangil aku master”

“Baik master! Eh, jadi saya harus memangil anda apa?”

“Namaku Kein, jadi panggil nama ku” Kein menjawab seraya masuk kedalam rumah.

“Tapi Master, bila saya memanggil nama anda itu berati saya telah tidak sopan terhadap anda” Nico mengikuti Kein masuk.

Kein mengacuhkan pertanyaan Nico “Kau bisa terbang?” Tambah Kein dengan pertanyaan acuh tak acuh sambil lalu.

“Terbang?” Nico terkejut “apa saya harus bisa?” Tanyanya lagi ragu-ragu.

“Besok pagi-pagi kita berangkat, kamarmu disebelah kiri” tampak masih tak mengacuhkan pertanyaan Nico, Kein mulai berbenah.

“Tapi master, apa memang Relkver anda sebelumnya menguasai sihir melayang? Apa seorang Seithr?” tampak Nico tak henti-hentinya bertanya tentang jawaban yang tak juga diberikan oleh Kein, walau ia harus mengikuti Kein yang sedang berbenah kesana kemari.

 

~0~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s