\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 1\part1

Bagian 1

_Permintaan Tolong

 

 

Pagi yang cerah. Desa Libna. Sebuah desa kecil di ujung selatan wilayah Phatonica, dipingiran bukit Celah Lingkar, disebelah timur-laut kerajaan Bhasanta–Kerajaan pusat perserikatan kaum Morra, dan berbatasan langsung dengan wilayah terluar bagian timur kaum Narva.

Kein yang seperti biasa tengah bekerja dikandang kudanya tampak kedatangan seorang tamu. Sebuah kereta kuda para bangsawan. Sudah lama Kein tidak melihat kereta kuda dengan lambang kerajaan yang dulunya pernah ia puja dan bela dengan segenap hidupnya.

Kein keluar mencari tahu karena penasaran, kenapa setelah tiga tahun berlalu kerajaan datang untuk menemuinya? Kereta kuda itu tampak melambat saat mulai dekat dengan halaman rumahnya. Kein membersihkan sisa jerami dibajunya saat tampak seorang pria keluar terlebih dahulu, kemudian disusul seorang lagi dibelakangnya. Kein mendekat. Ia mengenali kedua orang itu.

“Nu?” Kein tak menyangka akan kedatangan teman lama.

“Senang bertemu denganmu Kein, sang Sverdinal api” Seorang wanita dengan kain penutup mata dan kerudung dikepalanya, memberi salam dengan sedikit membungkuk.

“Hentikan, aku sudah lama meninggalkan julukan itu” Kein berkata seraya menatap pria yang ada didepan wanita berkerudung tadi dan kemudian menepuk pundaknya “aku bukan bagian dari kalian lagi. Benarkan master Luca?

“Seperti biasa, membakar dalam daging” ucap pria yang dipanggil Luca itu seraya menuntun Nubie-wanita dengan penutup mata tadi, mendekat kearah Kein “Aku kini juga bukan Sverdinal, kini aku hanya seorang penjaga Oracel. Tidak lebih” paparnya kemudian.

Kein mempersilahkan Nubie sang Oracel dan Luca masuk.

“Cukup rapi bagi seorang mantan Sverdinal” Luca berkomentar setelah beberapa langkah kedalam dan melihat berkeliling mengamati. Sverdinal adalah sebutan kerajaan bagi ksatria tertinggi pelindung para raja.

Kein mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk “Ada keperluan apa sampai kalian datang kemari?” Kemudian langsung bertanya setelahnya.

“Aku ingin meminta bantuanmu” wanita berpenutup mata itu langsung menjawab tanpa basa-basi.

Kein tampak terkejut “Meminta bantuanku?” Sautnya langsung.

“Benar” Jawab Nubie singkat.

“Bantuan apa?”

Dawn of crystar” jawab Nubie singkat lagi.

Dawn of crystar?” Kein mengulangi dengan pertanyaan.

“Benar. Itulah yang akan membawa bencana besar diatas tanah Elder ini” ucap Nubie tampak serius dibalik kain yang terikat menutupi matanya “Aku ingin memintamu bertemu seseorang di utara. Seinaru” tutupnya kemudian.

“Tunggu dulu, kau bilang bencana? Utara? Kota suci Seinaru? Siapa yang harus ku temui? Dan apa itu Dawn of crystar?” Tanya Kein yang masih belum bisa menerima penjelasan singkat yang diberikan Nubie secara mendadak ini.

“Kau akan tahu saat kau telah sampai disana. Setelah kau bertemu dengannya, aku minta kau mau membantunya dengan segenap hidupmu. Seperti yang dahulu pernah kau lakukan untuk kerajaan.

“Tunggu dulu, siapa yang harus kutemui? Setidaknya jelaskan dulu padaku. Kau tidak bisa datang meminta bantuanku tanpa menyebutkan tujuan dan alasannya kan? Dan lagi apa memang harus aku? Bahkan aku tak memiliki seorang Relkver sekarang” Kein mengeluarkan rentetan pertanyaan yang akhirnya mencoba meyakinkan Nubie bahwa dia bukanlah orang yang cocok.

“Aku juga tidak punya” Luca tampil tak mau kalah.

“Kau seorang penjaga Oracel sekarang” saut Kein sebal “lagi pula itu bukanlah sesuatu yang pantas untuk dicemburui” tambahnya kemudian.

“Kau juga bukan seorang Sverdinal lagi sekarang, jadi pantas bila kau tak memiliki Relkver” Luca tampak membela diri. Relkver yang dimaksud mereka adalah seorang pengguna sihir atau Elemental yang ditugaskan sebagai pendamping para Sverdinal.

“Nah itu intinya. Aku bukan seorang Sverdinal, aku hanya seorang petani sekarang” Kein semangat memutar balik ucapan Luca. Kemudian ia menatap Nubie “Bukankah disana masih ada orang-orang yang lebih bisa diandalkan. Masih ada Ged, Brian, dan….” Kein menunjuk kearah Luca “Masih ada Luca”

Luca terdiam tidak merespon. Ia menatap sang Oracel sebentar seperti meminta ijin, dan kemudian kembali menatap Kein lagi “Mereka juga sudah mengundurkan diri” ucapnya kemudian dengan senyum getir tersirat diwajahnya.

“Kini kerajaan benar-benar telah jatuh. Semenjak kau pergi keadaan semakin memburuk, apalagi setelah Yang Mulia turun tahta. Banyak terjadi korupsi didalam susunan para pengurus dan tetua kerajaan. Hingga akhirnya setahun kemudian Ged mengundurkan diri, tak lama disusul Brian” Luca tampak menjeda ucapannya “Istana sudah tidak menginginkan kita. Sedang aku hanya menurunkan jabatanku sendiri dengan menjadi penjaga Oracel, karena aku tak ingin meninggalkan Nubie seorang diri dalam tempat busuk itu.

“Tapi…” Kein Tampak mulai membayangkan keadaan sulit yang dilalui teman-temannya sepeninggalan dirinya “kenapa mesti aku? Aku sudah tak ingin ambil urusan dengan hal-hal seperti ini, apalagi untuk kerajaan” lanjutnya.

“Karena dalam penglihatanku, kaulah garisnya” ucap Nubie kemudian.

Mendengar ucapan barusan membuat Kein terdiam menatap wanita berpenutup mata itu seolah saling beradu pandang, “aku lupa. Kau sang Oracel. Seorang Seer” Kein berkata pasrah dan Luca mengangguk setuju.

Oracel adalah sebuatan kerajaan bagi seorang Seer. Sedang Seer adalah orang yang dianugrahi kekuatan kaum Chron, kemampuan untuk melihat hal yang belum terjadi.

“Ini bukan masalah kerajaan lagi. Melainkan seluruh penghuni benua ini” Nubie berkata lagi.

“Kau selalu seperti ini. Bagai petir disiang cerah, datang mendadak dengan permintan-permintaan mengejutkan seperti ini” Kein menutupkan tangannya kewajah, frustasi menahan emosi yang tak dapat ditumpahkannya, “Jangan! Jangan bilang kalau dia seorang Seer, aku tahu itu” sautnya lagi ketika ia melihat ada indikasi Luca hendak berucap.

“Ayolah Nu, kau bercandakan? Menyelamatkan seluruh benua ini? Aku? Aku seorang yang gagal Nu, jangan kau jadikan status Oracel mu itu untuk mengolokku” Kein berdiri dari tempat duduknya sambil masih menatap kearah Nubie “Bagaimana kalau aku menolaknya?” ucap Kein kemudian.

“Karena jawaban atas kematian Diana akan kau peroleh” Nubie menjawab datar.

Kein seolah benar-benar tersambar petir mendengar ucapan yang lebih mengejutkan lagi dari Nubie, seolah wanita ini tak pernah kehabisan kejutan untuk membuatnya mati berdiri. Mimik mukan Kein seketika berubah serius. Tampak ia berfikir keras. Seolah ada aib besar yang baru saja di teriakan Nubie padanya. Garis mukanya kini menandakan amarah dan kepasrahan disaat yang bersamaan.

Tiba-tiba Nubie berdiri “Baiklah Kein, kami permisi dulu. Pikirkan dengan baik, besok kami akan kembali” ucapnya. Luca berdiri menyusul Nubie, kemudian menuntunnya keluar.

Kein mengikuti mereka berdiri meski masih tak benar-benar memahami maksud dari kata-kata Nubie yang baru saja ia dengar, dan kemudian mengantar mereka berdua hingga masuk ke kereta kuda.

“Sampai jumpa besok” Luca melambaikan tangannya, kemudian kereta kuda itu melaju meninggalkan rumah Kein.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s