\\Akhir\Volume 1\Chapter 1\part2

Hari ini di sekolah, Janus mendadak artis. Semua orang menatapnya saat berpapasan dengannya dan kemudian tampak membicarakan dirinya di belakang. Hal itu sangat mengganggunya. Namun masih tetap dia tak akan memulai bertanya pada yang lain, kecuali pada si Kenny. Karena hanya sahabatnya itu yang membuatnya nyaman untuk tempat dia bertanya.

“Hey Jan, kau sudah baikan?” tiba-tiba saat Janus berencana mencari Kenny, sahabatnya itu sudah muncul saja disebelahnya.

Janus hanya mengangguk, “Ken, aku mau tanya. Mungkin cuma perasaanku saja, tapi sepertinya semua anak menatapku saat berpapasan dan membicarakaanku di belakang. Apa kau juga merasa demikian?” tanya Janus kemudian.

Kenny seperti sedang menimbang jawaban apa yang harus diberikan kepada Janus. Dan kemudian ia mulai berkata-kata, “sebenarnya kejadian saat kau kejang-kejang kemarin telah tersebar luas di sekolahan ini. Eit, jangan menuduhku dulu. Bukan aku yang menyebarkannya. Cuman sepulang sekolah kemarin cerita kau jatuh setelah bersalaman dengan Tiara itu udah dibicarakan hampir semua anak disekolahan ini” jawab Kenny menjelaskan.

Janus menatap sahabatnya itu dengan wajah lesu tak bergairah. Kini disamping dia seorang yang kuper dan anti sosial, gelarnya akan ditambah dengan yang kali ini. Entah si kejang-kejang, entah si cupu yang pingsan saat berkenalan dengan seorang gadis, atau apapun itu.

 

Selama disekolah Janus jadi tak pernah menyapa Tiara sama sekali. Jangankan menyapa, menatap pun ia tidak berani. Bukan karena rasa malu nya pingsaan saat bersalaman dengan gadis itu, tapi ada perasaan ganjil yang selalu mencoba menariknya kearah gadis itulah yang Janus coba untuk hindari. Sementara Tiara nya sendiri semakin terlihat penasaran terhadap Janus.

“Kurasa Tiara mencoba untuk mencari kesempatan berbicara padamu, Jan” ucap Kenny saat jam istirahat berlangsung.

“Hm” respon Janus masih berusaha menyibukan diri dengan buku Kimia dihadapannya.

“Kau harusnya mencoba untuk berbincang dengannya. Mungkin dia mulai bersimpati dengan mu” ucap Kenny meneruskan.

“Dan apa jaminan yang kau ucapkan itu benar” celetuk pesimis Janus.

“Yaelah, cowok apaan seh lu, Jan. Masa ga punya mental ma semangat gitu”

“Sudahlah, biarkan aku belajar. Habis ini ujian Kimia” saut Janus tidak merespon hinaan sahabatnya tadi, “kau juga belajar sana”

 

ø

 

Janus dan Kenny mampir cari makan setelah pulang sekolah beberapa hari kemudian. Mereka bersiap menyantap nasi padang mereka saat tiba-tiba seseorang duduk disebelah Kenny berhadapan dengan Janus. Merenggut piring makan Janus dan kemudian menunduk. Janus dan sahabatnya itu terdiam menatap seseorang gadis aneh berambut pendek dihadapan mereka itu.

Tak lama kemudian gadis itu menganggkat wajahnya sambil celingak-celinguk menatap kiri-kanan, pintu masuk, dan pintu keluar. Seolah sedang memastikan situasi disekitarnya aman. Tak lama baru gadis itu sadar bahwa dia ada diantara dua pemuda yang tengah bingung karena makan siang mereka ter interupsi.

Tapi belum gadis itu berkata-kata, spontan Kenny berteriak tercekat.

“Sika?!”

Setelah teriakan singkat Kenny, telinga Janus tiba-tiba mendengung. Saat tanpa sengaja mata Janus bertemu pandang dengan gadis itu. Cukup lama mereka saling beradu pandang dan selama itu tak terdengar suara apapun selain dengung itu ditelinga Janus.

“Hima”

“Sst” respon gadis yang dikenali Kenny dengan nama Sika itu, seraya mengangkat telunjuk kemulutnya. Meminta Kenny untuk tidak gaduh. Kemudian kembali memastikan bahwa sekitarnya tidak menyadari teriakan Kenny yang baru saja.

“Aku mohon jangan kenceng-kenceng, aku sedang dalam pelarian. Bahaya kalau banyak orang yang mengetahui identitasku” ucap Sika kemudian.

Dengan sigap dan masih dalam posisi yang sama, Kenny menutup mulutnya dengan tangan kanannya sambil mengangguk kaku seperti sebuah robot.

Sedang Janus masih bingung dan merasa aneh dengan siapa gadis dihadapannya yang telah mencuri waktu makan siangnya dan membuat Kenny tampak takjub seperti itu. Juga perarasaan apa yang baru saja dia rasakan tadi. Perasaan serupa yang pernah dia rasakan saat menatap Tiara. Dan apa itu Hima?

Namun Janus sengaja tidak bertanya tentang siapa gadis itu sebenarnya sekarang. Dia akan menunggu gadis itu pergi dan dia akan bertanya kepada Kenny setelahnya. Tampaknya hal itu akan lebih sopan pikirnya.

“Apa kau punya topi atau jaket untuk kupinjam? Agar aku bisa tersamar sampai pulang ke hotel” tanya Sika kemudian, “tenang saja, aku akan kembalikan nanti”

“Oh, kami punya” ucap Kenny dengan cepat seraya membuka tas Janus dengan paksa dan mengeluarkan topi Janus kemudian menyodorkan ke Sika.

Janus tampak tak terima melihat sahabatnya itu dengan seenaknya menyodorkan topi kesayangannya kearah Sika, seraya mencoba merebut topi dari tangan Kenny. Namun belum ia berhasil mengambilnya, Kenny malah memaksanya untuk melepas jaketnya untuk diberikan ke gadis itu.

“Kamu, harus yang Gentle dong sama cewek” ucap Kenny kemudian menutup tarikan-tarikan resistent dari wajah Janus.

“Terima kasih. Bila sudah selesai akan aku kembalikan” ucap Sika sebelum kemudian dia berdiri dan berlalu sekejap kilat kearah pintu keluar.

“Ken! Apa yang kau lakukan? Itu topi kesayanganku” ujar Janus tampak tidak terima, “dan lagi siapa sebenarnya gadis itu?”

Kenny menatap cepat kearah Janus dengan tatapan tajam menghardik, “kau tidak tahu siapa dia?” tanya Ken yang tampak seperti penegasan dari pada sebuah pertanyaan.

Janus hanya menggelengkan kepalannya ringan.

“Kau tidak tahu Jessica Tiamat?” tanya Ken yang kali ini tampak seperti orang yang sedang menantang berkelahi.

“Memang siapa dia?”

“Kau ini terlalu Jan, ke cuekanmu terhadap sosial itu harus segera dihentikan” ucap Kenny kemudian, “dia adalah Jessica Tiamat. Artis remaja yang sedang naik daun. Dia adalah bintang iklan, model, artis, dan juga vokalis dari band Oyeh” jelas Kenny panjang lebar.

“Dan hubungan dengan topi kesayanganku?”

“Janus!” Kenny tampak tidak kuat menahan emosinya menghadapi tingkah sahabatnya itu, “baiklah, nanti aku carikan kau topi yang baru” imbuhnya seraya kembali ke agenda makan siangnya.

Janus hanya terdiam menatap Kenny. Sebenarnya dia tak terlalu sayang-sayang juga dengan topi yang baru saja diberikan ke Sika tadi. Dia hanya masih penasaran dengan hal yang tak bisa diungkapkannya, yang mengingatkannya terhadap Tiara. Dan setelah Riam kini Hima. Ada yang ganjil dengan gadis itu, sama seperti Tiara, wajahnya juga terlihat familiar. Mungkin karena gadis itu artis. Mungkin tanpa sadar aku pernah melihat gadis itu di tv, pikir Janus.

 

Sesampainya dirumah, Janus masih saja kepikiran dengan gadis bernama Jessica itu. Ia mencoba menyalakan televisi, dan berharap melihat wajah gadis itu sekali lagi. Janus juga bertanya pada ibu nya, memastikan bahwa gadis itu benar-benar seperti apa yang dikatakan Kenny. Dan setelahnya, karena tidak puas dengan jawaban ibu nya yang sama dengan penjelasan Kenny, juga karena wajah gadis itu tidak juga muncul di layar kaca, ia mencoba untuk mencarinya di internet. Dengan komputer ayah nya, Janus mencoba untuk mencari tahu lebih mengenai artis muda itu. Dan benar saja wajah gadis tadi segera bermunculan setelah Janus mengetikan nama Jessica Tiamat pada mesin pencari. Dan kembali perasaan seperti pernah melihat wajah gadis itu muncul lagi. Ia yakin bahwa ia tak pernah sekalipun melihat wajah gadis itu melalui media apapun. Tapi semakin ia melihatnya, semakin Janus merasa sangat dekat mengenalnya. Apa tanpa sadar sebenarnya ia pernah melihat gadis itu disuatu media? Mungkin saja seperti itu, pikir Janus kemudian meyakininya.

 

ø

 

“Kau pernah mendengar istilah Dejavu?” tanya Kenny saat mereka berada disela-sela jam ekonomi pada mata pelajaran pertama, tiga hari kemudian. Pertanyaan itu adalah reaksi pertama Kenny saat sahabatnya Janus menceritakan bahwa semakin ia melihat wajah Jessica, semakin ia merasa yakin pernah bertemu dengan gadis itu. Tapi ia juga meyakinkan Kenny bahwa ia belum pernah sama sekali melihat gadis itu di media manapun.

Janus hanya menggeleng pelan menjawab pertanyaan Kenny.

“Seperti melihat pengalan masa depan dari dalam mimpi” jelas Kenny dengan tampang yang terlihat serius, “itulah sebabnya kau merasa pernah melihatnya disuatu tempat padahal sebenarnya kau baru saja bertemu untuk pertama kalinya” tambahnya kemudian.

“Melihat dalam mimpi?” Janus bertanya nyaris bersuara. Perkataan sahabatnya itu mengingatkannya akan mimpi buruknya yang setiap malam masih terus muncul.

“Kenapa? Kau ngga percaya?”

“Kau bicara apa sih, mana ada yang kaya gituan. Ga masuk akal tahu” ucap Janus seraya kembali menatap ke bu Olive yang sedang mencoba menerangkan jenis-jenis grafik didepan kelas. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua hal tentang mimpi-mimpinya itu bukanlah sesuatu yang penting.

“Ngga semua di dunia ini yang ngga masuk akal itu berarti ngga ada” jawab Kenny dari bangku belakang. Janus hanya terdiam mendengar ucapan sahabatnya itu.

“Oya, Jan” pangil Kenny lagi.

“Hm?” dengung Janus sebagai ganti jawaban.

“Gimana? Kamu udah ngomongan lagi ma Tiara belum?” pertanyaan Kenny mengejutkan Janus.

Sudah hampir seminggu setelah kejadian kejang-kejang saat bersalaman dengan Tiara itu terjadi. Namun sampai saat ini Janus masih belum juga berbicara lagi dengan gadis itu. Bahkan niatan untuk mencoba berbicara dengan nya pun tidak ada. Entah kenapa Janus jadi merasa ketakutan saat mendekat dengan Tiara. Sesuatu yang baru saja ia rasakan. Rasa penasarannya yang semakin bertambah besar itu menakuti dirinya sendiri.

“Kamu jangan jadi pecundang gitu dong” ujar Kenny lagi saat Janus hanya terdiam.

“Oya minggu depan si Kiran ultah loh. Bakalan ada pesta dirumahnya. Kau dapat undangannya kan?” tanya Kenny.

Janus hanya menunjukan secarik amplop hijau muda dengan gambar seperti carang-carang pohon membingkai disetiap ujungnya.

“Kau datang kan?”

“Entahlah”

“Kau harus datang. Udah berkali-kali kau melewati acara macam begini. Aku samperin besok minggu, ga pake alasan” tutup Kenny dengan jengkel.

Memang Janus selalu mencoba menghindari acara-acara macam itu, karena ia merasa canggung saat berada diantara orang banyak. Ia tak tau harus bersikap bagaimana.

 

Hari ini sahabatnya Kenny sedang ada ekstra kulikuler, namun ia berpesan agar Janus menunggunya sepulang sekolah. Kenny hanya berkata ada seseorang yang ingin bertemu dengan mereka.  Jadi mau tak mau Janus harus menunggu kurang lebih 30 menit setelah bel pulang sekolah. Janus berencana menunggu sahabatnya itu didalam kelas saja, menghabiskan waktu dengan membaca buku yang baru beberapa hari yang lalu ia beli.

Dan tanpa Janus sadari ternyata kini di kelas hanya tinggal dirinya dan seseorang lain yang mengejutkannya. Itu adalah sosok Tiara yang masih terlihat duduk dibangkunya sendiri. Tampak Tiara memperlambat aktifitasnya agar dapat berlama-lama di dalam ruangan itu. Janus merasa aneh, tidak biasanya Tiara berada dalam kelas setelah jam pulang. Biasanya Erin dan cewek dari kelas sebelah akan datang jemput buat pulang bareng.

Sudah lebih dari lima menit berlalu dan gadis itu masih juga belum meninggalkan bangkunya. Janus merasa kikuk dengan situasi seperti ini. Ia tak tahu harus berbuat apa? Apakah tidak aneh kalau dia menyapanya setelah sekian lama mencoba menghindarinya. Tapi apakah sopan bila dia sengaja membiarkan gadis itu pergi keluar begitu saja tanpa di sapa, padahal mungkin Tiara sengaja melakukan hal ini agar dapat berbincang dengannya. Jangan-jangan semua ini disengaja oleh Kenny? Jangan-jangan maksud Kenny dengan seseorang yang ingin bertemu itu Tiara? Apakah Tiara meminta Kenny untuk melakukan hal ini? Janus jadi semakin bingung. Dan akhirnya mau tidak mau dia mencoba menyapa Tiara.

“Hm… kau belum pulang?” suara Janus tersendat oleh tenggorokannya yang kering.

“Iya, sebentar lagi” jawab Tiara yang terlihat kaku. Dan setelah terdiam sebentar, Tiara kembali berucap, “apa, kau sedang menghindari aku?” tanyanya kemudian dengan langsung.

Janus seolah tertohok. Ia tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan Tiara baru saja. Jelas ia sedang menghindari nya.

“Ng-nggak. Kenapa kau bertanya seperti itu?” bohong Janus tergagap.

Terlihat Tiara terdiam menunduk. “Karena terlihatnya seperti itu” ucapnya masih menunduk.

Janus ganti terdiam melihat reaksi Tiara. Dia merasa telah berbuat jahat pada Tiara, hingga gadis itu terlihat begitu sedih.

“Sebenarnya, aku malu” ucap Janus kemudian.

Kali ini Tiara mendongakan wajahnya kearah Janus, “malu?” tanyanya kemudian.

“Benar. Aku sebenarnya malu bertemu denganmu setelah kejadian perkenalan pertama kita kemarin” jawab Janus menghibur Tiara dengan sekali lagi berbohong.

Kini wajah Tiara sedikit lebih cerah. Tampak gadis itu seolah baru saja mengerti sesuatu, dan kemudian tersenyum geli.

Janus terdiam semakin mematung menghadapi senyum Tiara. Gadis itu benar-benar memikatnya. Tapi ada perasaan nyaman dan terbiasa terhadap Tiara yang tak pernah bisa di mengerti Janus.

“Baiklah kalau memang kau tidak mencoba menghindariku” saut Tiara, “berarti kita berteman sekarang?” tambahnya seraya menjulurkan tangannya kearah Janus.

Melihat tangan yang terjulur padanya itu membuat Janus sedikit was-was. Perasaan takut mengingat kejadian sebelumnya muncul kembali. Dengan perlahan dan ragu-ragu Janus mulai menjabat tangan Tiara.

Dan hal yang pernah di alaminya kemarin tidak terjadi kali ini. Hanya perasaan nyaman saat menyentuh tangan Tiara yang lebutlah yang Janus rasakan sekarang.

“Iya. Kita berteman sekarang” ucap janus kemudian. Dan setelahnya Tiara berpamitan kemudian menghilang keluar kelas dengan riang. Meninggalkan Janus yang masih belum bisa menyimpulkan apa yang baru saja ia rasakan.

Apa itu cinta? Apakah benar apa yang dikatakan Kenny? Cinta pada pandangan pertama?

Dan kemundian Kenny muncul dari balik pintu kelas.

“Gimana Jan?” ucap Kenny mengejutkan Janus.

“Kau sengaja melakukan hal itu ya?” Janus langsung sewot. Seperti melimpahkan segala emosinya.

“Apa? Melakukan apaan?” tampak Kenny tak mengerti apa yang sedang dibicarakan Janus, dan mengapa dia marah-marah.

“Yang tentang seseorang yang ingin bertemu” ucap Janus sedikit geregetan, menahan amarah.

“Kenapa tentang itu? Orang nya sih udah nungguin didepan” jawab Kenny santai. “Ayo, kasihan dia sudah menunggu lama” tambahnya seraya mengajak Janus keluar.

Janus terdiam mendengar jawaban Kenny. Bukan Tiara yang dimaksud Kenny. Benar-benar ada orang lain yang ingin bertemu dengan mereka. Janus jadi sedikit malu telah mengira yang tidak-tidak. Untung dia belum sewot panjang lebar. Bisa lebih malu nantinya. Janus kemudian mengikuti sahabatnya itu keluar. Ia jadi penasaran dengan seseorang yang ingin menemui mereka ini.

 

ø

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s