\\Akhir\Volume 1\Chapter 1\part 1

Akhir

Tiga Bulan Sebelumnya

Riam

  Janus terbangun mendadak dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya. Nafasnya terburu, jantungnya berdetak dengan cepat. Ia seolah baru saja menyelesaikan satu kali sprint 100m dalam waktu 5 detik saja. Perasaannya bercampur aduk, antara perasaan kaget, takut, dan lega yang menjadi satu. Tak lama kemudian terasa tubuhnya yang tadi mengejang mulai terasa melemas. Tarikan nafasnya yang tadi terasa menusuk dada, mulai melembut. Matanya tampak menjelajah keseluruh ruangan, mencoba menganalisa dan memahami posisinya saat ini. Lampu duduk yang masih menyala diatas meja belajarnya, tampak cahaya pagi menerobos jendela yang masih tertutup korden hijau muda, dan terlihat jam dinding Manchaster United tepat di hadapannya. Setengah enam. Ia yakin sekarang ia berada di kamarnya.

  “Mimpi itu lagi” Janus terduduk diatas tempat tidurnya. Mengatur nafasnya hingga benar-benar normal kembali. Ini sudah seminggu berturut-turut Janus terbangun karena mimpi yang sama tiap malamnya. Ia menelungkupkan kedua tangannya ke wajah mencoba mengingat kembali mimpi yang selama tujuh malam ini selalu mengganggu tidurnya.

  Entah apa maksud nya. Janus melihat banyak sekali potongan gambar yang seolah dijejalkan dengan serentak kekepalanya. Begitu banyaknya hingga membuat kepalanya serasa meledak. Gambaran-gambaran yang tak pernah dilihat Janus sebelumnya itu, masuk tanpa ada pola atau makna yang dapat dimengerti oleh nya. Dan setelahnya, Janus berada diruang kosong, gelap, dan sunyi, yang seolah menariknya dari keberadaan kedalam ketiadaan yang tanpa batas, seolah membuatnya tak pernah ada dan tak pernah nyata sebelumnya. Dan sebegitu menakutkannya, hingga membuat Janus terbangun dari tidur dengan kondisi seperti tadi.

  Janus bangkit dari tempat tidurnya, kemudian membuka korden jendelanya. Cahaya mentari yang hangat menyapa tubuhnya. Membuatnya kembali merasa nyata. Begitu segar dan hidup. Ia membuka jendelanya dan menarik nafas dalam-dalam. Paru-parunya mengeliat lega.

  “Genap satu minggu sejak mimpi itu muncul. Apa yang sedang terjadi padaku?” ucap Janus seraya berjalan menuju kamar mandi. Ia yang mulai frustasi oleh mimpi aneh yang selalu mengganggunya itu, masih tidak juga membicarakan nya ke orang lain. Sifatnya yang tertutup dan kebiasaannya untuk sebisa mungkin menyelesaikan segalanya sendirian itulah yang menjadi sebab utamanya.

ø

  Pukul tujuh kurang sepuluh menit Janus tiba di sekolah. Baru saja ia tiba didepan gerbang, terdengar suara memangil namanya.

  “Jan! Hey Jan!” terdengar suara pemuda berlarian dari arah belakang.

  “Ken” Janus menyapa Kenny, pemuda yang berlarian menyusulnya itu. Kenny adalah teman sekelas Janus, kelas 2B disalah satu SMA negeri di kota mereka, dan juga satu-satunya teman yang akrab dengan Janus. Janus memang nyaris tidak memiliki teman, hal itu dikarenakan pembawaan Janus yang pemurung dan kurang ekspresif, yang membuatnya mudah untuk dijauhi oleh lingkungannya.

  “Hari ini ada pe-er bahasa indonesia kan?” ujar Kenny terengah-engah mencoba mengatur nafasnya kembali.

  Janus hanya mengangguk tanpa ekspresi.

  “Boleh aku pinjam? Aku lupa mengerjakannya” tambah Kenny dengan wajah yang terlihat panik.

  Kembali Janus hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Dan mereka pun kemudian berjalan menuju ke kelas.

  “Eh, tahu ngga Jan, kalo hari ini akan ada murid baru dikelas kita” ujar Kenny ditengah perjalanannya melewati lapangan upacara.

  “Tahu dari mana?” timpal Janus.

  “Nah, kan udah dari tiga hari yang lalu tuh cewek bolak-balik ngurus kepindahannya kemari. Dan denger-denger akan ditempatkan dikelas kita” jawab Kenny kemudian menjelaskan.

  “Oh, dia cewek?” respon Janus tanpa perubahan ekspresi.

  “Hah! Kemana aja kamu dari kemaren? Kan banyak yang ngomongin juga” Kenny bertambah sewot mendengar jawaban dari temannya itu.

  Janus hanya merespon dengan angukan kepala paham. Yang dibalas Kenny dengan gelengan kepala dan wajah pasrahnya.

  “Sudahlah, mana pe-er nya?”

  Ditengah-tengah pelajaran fisika jam pertama, mereka dipotong oleh kepala sekolah yang masuk bersama dengan seorang gadis dibelakangnya. Pasti itu gadis yang dimaksud Kenny tadi pagi, pikir Janus. Si anak baru. Anak-anak dalam kelas terlihat mulai kasak-kusuk dan berbisik-bisik. Janus memperhatikan gadis yang berdiri setengah malu-malu dibelakang pak Kepsek, menunggu untuk diperkenalkan pada teman-temannya.

  “Wah, kalo diliat dari deket gini, jadi kelihatan cakep banget. Pasti jadi incaran banyak cowok tuh nanti” ucap Kenny nyeletuk dari meja belakang Janus.

  Janus hanya terdiam. Dia setuju dengan ucapan sahabatnya itu. Gadis itu memang punya paras yang cantik, berambutnya panjang sepunggung dengan poni yang rata menutupi dahinya. Senyumnya tampak manis. Benar-benar gadis yang menarik. Tapi ada hal yang mengganggu Janus mengenai gadis itu, dia seolah pernah melihat gadis itu sebelumnya. Wajahnya begitu familiar bagi Janus, tapi entah dimana dia tak dapat mengingatnya.

  “Anak-anak, kenalkan ini teman baru kalian” ucap pak Kepsek kemudian, “namanya Tiara” lanjut pak Kepsek memperkenalkan.

  “Riam”

  Janus menoleh kebelakang. Tampak Kenny menatap Tiara dengan pandangan terpesona.

  “Apa?” tanya Janus kemudian pada Kenny.

  “Apanya yang apa?” tanya Kenny balik.

  “Yang Riam tadi?”

  “Hah? Apaan?” tampak Kenny bingung dengan ucapan Janus.

  “Bukannya tadi kamu ngomong Riam kan? Apa maksudnya?”

  “Hah? Aku ngga ngomong apa-apa kok” jawab Kenny yang masih bingung.

  Kali ini Janus yang jadi bingung, seraya kembali menghadap kedepan menatap Tiara. Dia yakin mendengar suara menyebut Riam. Apa itu hanya perasaan saja, atau aku mulai jadi benar-benar stress? Pikir Janus kemudian.

  Gadis itu duduk dibangku yang tadinya kosong diujung kiri depan kelas. Perhatian Janus kembali terarah pada anak baru itu. Dia mulai menjadi penasaran dengan Tiara seperti teman-temannya yang lain. Bukan hanya karena parasnya yang cantik itu, namun dia merasa ada hal dari gadis itu yang menariknya dengan cara yang tak bisa dijelaskan. Seolah mereka sudah seharusnya untuk bersama.

  “Cinta pada pandangan pertama” ucap Kenny mantap saat mereka sudah berada dikantin pada jam istirahat. Itu adalah reaksi dari Kenny saat Janus mencoba menjawab pertanyaan Kenny tentang, apa yang dirasanya pada saat pertama kali melihat Tiara.

  Janus menatap Kenny dengan wajah malas yang dibuat-buat, dan kembali melanjutkan acara makan mie ayamnya. Perasaan cinta? Janus mulai berpikir lagi, mungkin saja apa yang diucapkan sahabatnya itu benar. Dia tak pernah mengalami perasaan cinta sebelumnya. Mungkin bisa jadi seperti ini rasanya.

  “Apa jantungmu berdebar-debar saat melihatnya?” Tanya Kenny dengan antusias. Baru kali ini dia melihat sahabatnya-Janus tampak seperti ini.

  Janus terlihat diam menatap langit-langit kantin, mencoba mengingat-ingat sesuatu. Dan kemudian dia menggelengkan kepalanya.

  “Hm, begitu ya? Biasanya kalo aku suka sama cewek, jantungku akan berdetak dengan cepat” ucap Kenny kemudian. “Tapi tetap saja ini Progress buat kamu. Emang kapan terakhir kamu merasakan hal seperti itu ma cewek? Ga pernah, kan?” tanya Kenny kemudian, “tapi jadi lega nih, ternyata kamu masih normal” timpalnya lagi dengan tertawa.

  Janus memukul kepala sahabatnya kemudian kembali melanjutkan makannya.

  “Eh, Jan itu si Tiara” ucap Kenny saat tiba-tiba dia melihat si anak baru itu diseberang kantin.

  Dengan spontan Janus mengangkat pandangan dari mangkuk mie ayam nya. Tampak gadis yang dirasa misterius oleh Janus itu sedang berjalan sambil berbincang dengan beberapa cewek-cewek lain dari kelasnya.

  “Tuh, dia mo kemari. Ayo ajakin kenalan” ucap Kenny kemudian.

  “Oh” ucap Janus seraya meletakan sendok garpunya, sedikit terkejut mendengar ide dari sahabatnya itu. Sebenarnya dia bukan tipe orang yang tidak suka bergaul atau bersosialisasi, hanya dia tidak tahu harus berkata apa dan bagaimana harus bersikap. Maka dari itu dia selalu menyerah untuk masalah ‘kenalan’ seperti itu. Tapi ide untuk berkenalan dengan Tiara kali ini merupakan ide yang bagus. Langkah awal untuk mencari tahu tentang perasaan anehnya ini pada gadis itu.

  “Apanya yang ‘oh’?” saut Kenny seraya memukul kepala Janus.

  Tampak Tiara dan dua cewek mulai berjalan menuju kearah kantin, kearah Janus dan Kenny duduk.

  “Tuh mereka kemari. Ayo cepet kenalan sana” tambah Kenny lagi.

  Janus hanya diam menatap kearah Tiara yang mulai mendekat. Dibalik wajahnya yang cantik itu, Janus masih dipenuhi dengan pertanyaan. Kenapa dia seolah pernah melihat gadis itu. Wajah itu seolah pernah ada dalam ingatan Janus.

  “Hey, Tiara kan?” ucap Kenny menyapa dahulu saat Tiara melewati meja mereka.

  “Iya benar” jawab Tiara dengan manis dan sopan.

  “Kenalin. Kenny, pangil aja Ken” ucap Kenny seraya menyodorkan tangannya kearah Tiara. “Yang ini Janus” tambah Kenny mengenalkan Janus begitu tangannya selesai dijabat oleh Tiara.

  Tampak sedikit ragu Janus mengulurkan tangannya kearah Tiara, “Janus” ucapnya kemudian.

  Dengan senyuman kecil, Tiara pun menjabat tangan yang disodorkan Janus padanya. Dan begitu tangan keduanya bersentuhan, Janus tiba-tiba terasa ditarik dari kenyataannya sekarang ini. Muncul perasaan yang sama dengan perasaan yang selalu dia rasakan dalam mimpi buruknya ditiap malam. Rasa takut akan ketiadaan.

  Tiba-tiba udara dingin hadir dengan serentak. Janus kini berada diatas sebuah jembatan. Hujan menguyur dengan deras. Tampak seorang gadis kecil berumur sekitar sembilan tahunan menangis dipagar pembatas jembatan. Gadis kecil itu terlihat menangis sejadi-jadinya dengan tubuh kuyup oleh derai hujan. Belum sempat Janus bertanya, dengan perlahan gadis kecil itu mulai menaiki pagar pembatas jembatan.

  Melihatnya Janus menjadi panik, “hey dik, itu berbahaya. Cepat turun” ucapnya kemudian. Janus berusaha meraih gadis kecil tersebut untuk menahannya, namun sekuat apapun dia berjalan dan meraihnya,  gadis itu tetap tak tersentuh.

  Dan tanpa peringatan sebelumnya, gadis kecil itu melompat kebawah.

  “Jangan!” teriak Janus sekuat-kuatnya melihat gadis itu melompat kebawah. Dan kemudian pandangannya berubah dengan sangat cepat, tubuhnya terasa meluncur jatuh kebawah. Belum dia dapat menyadari apa yang tengah terjadi, tubuhnya tiba-tiba menghantam permukaan air. Seketika itu juga air masuk melalui mulut dan hidungnya. Dia tengelam. Dan walau dengan panik berusaha untuk kembali naik kepermukaan, tapi seolah tidak pernah ada permukaan sama sekali. Saat dada Janus mulai terasa sakit dan mulai kehabisan nafas, Janus tertarik dengan cepat kembali ke kenyataan. Seketika itu juga tubuh Janus terjatuh diatas lantai keras, kemudian mulai muntah-muntah.

  Melihat Janus yang tiba-tiba terjatuh dan muntah-muntah seperti itu setelah bersalaman dengan Tiara, tidak hanya mengejutkan gadis itu, tapi juga seluruh anak-anak yang berada dikanti itu.

  “Janus!” teriak Kenny kaget seraya menghambur kearah Janus yang kemudian kembali terjatuh dan tak sadarkan diri.

  Janus membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa pening, telinganya seperti berdengung. Hidung nya masih terasa sakit, seolah baru saja kemasukan air. Mual di perutnya juga belum hilang. Janus mulai menyadari sekarang dia berada di ruang kesehatan sekolah. Kaki tangannya bergetar pelan meski Janus tak merasa kedinginan, seluruh tubuhnya terasa lemas seolah dia baru saja melewati maut yang menjemput. Ia mencoba mengejap-ngejapkan matanya, membiasakan pandangannya dengan sekitar. Kemudian dengan perlahan mencoba mengangkat tubuhnya duduk.

  “Apa yang baru saja terjadi?” tanya Janus bukan ke siapa-siapa. Dalam benaknya tampak sekali gambaran yang baru saja dia lihat saat bersalaman dengan Tiara tadi. Ia tak mengerti apa maksudnya. Siapa gadis kecil itu, dan apa hubungannya dengan dirinya. Tapi gambaran tadi tampak begitu nyata, seolah itu adalah bagian dari ingatannya.

  Tiba-tiba pintu ruang UKS itu terbuka. Tampak pengurus UKS masuk bersama dengan wali kelasnya, bu Jasmin.

  “Lebih baik kau pulang saja Jan, tampaknya kau tidak sehat. Periksakan kedokter” ucap bu Jasmin kemudian pada Janus, “biar aku minta Kenny untuk mengantarmu pulang”

  Janus pulang bersama Kenny dengan motor pinjaman dari salah satu teman sekelasnya yang lain.

  “Apa kau sudah merasa baikan?” tanya Kenny saat mereka dalam perjalanan pulang.

  “Aku baik-baik saja”

  “Kau benar-benar menakutkanku, Jan. Kau tidak punya penyakit epilepsi kan?” tanya Kenny lagi.

  Janus hanya terdiam tak menjawab.

  “Tidak kan?” Kenny mengulang pertanyaannya untuk memastikan.

  “Tidak” jawab Janus kemudian, “mungkin aku hanya kejang perut karena terlalu banyak makan dan dengan buru-buru” tutupnya.

  “Oh, Jan. Kau sangat ngga cool. Baru salaman ama cewek cakep aja langsung kejang-kejang terus pingsan”

  Janus memukul kepala Kenny.

  Ibu Janus segera panik setelah mendengar cerita dari Kenny, tentang alasan dia mengantar Janus pulang ditengah jam sekolah. Dan setelahnya Janus terpaksa harus mengikuti ibunya ke dokter. Tak ditemukan penyakit apapun pada dirinya. Hanya kemungkinan kram perut atau masalah makanan. Cukup anti biotik dan istirahat yang didapat Janus dari sang dokter.

  Janus berbaring di ranjangnya setelah mereka kembali tiba dirumah. Hari sudah beranjak malam. Janus masih terus berpikir mengenai apa yang ia alami. Apa yang ia lihat. Dan kemudian ia kembali terlelap.

  Janus kembali berdiri ditengah kegelapan. Diantara perasaan tak nyaman yang pernah dirasakan Janus sebelumnya, dia mencoba untuk pergi dari tempat itu.

  “Pembentukan tak akan terjadi tanpa penghancuran” tiba-tiba bergaung suara yang bukan didengar Janus dari telinganya, melainkan terdengar dalam kepalanya.

  “Siapa?” Teriak Janus bertanya dalam kehampaan. Namun tak ada jawaban.

  Tiba-tiba terjadi seolah ledakan cahaya yang menyilaukan hingga membutakan mata Janus. Segera Janus menutup matanya yang sakit karena terang yang datang dengan mendadak itu. Dan ketika ia membuka matanya lagi, hari telah berganti.

ø

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s