\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 6\part2

Dan tak menunggu-nunggu lagi Lycan itu segera menghampiri Hino dan mengangkat palunya tinggi-tinggi bersiap untuk meremukan kepala Hino. Namun tiba-tiba dua anak panah menancap tepat dikepala mahluk itu. Dan dengan praktis menghentikan gerakannya dan merobohkan mahluk itu. Dengan susah payah Hino menatap kearah anak panah itu datang. Tak diduga, tampak Roland dengan busur ditangannya. Berdiri diatas sebuah batu dengan tiga pengawalnya. Hubert telah siap dengan pedang ditangannya, Luijz dengan sarung tangan besinya dan Deuter dengan busur seperti Roland.

“Roland?” Hino terkejut mendapati Roland ada ditempat itu.

Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 6\part1

Bagian 6

_Nirjiwa

 

 

Mereka selesai makan malam. Para wanita mulai membereskan sisa-sisa makan malam. Beberapa pemuda mulai memasang peralatan tidur mereka. Sementara Hino dan Lumier meneruskan percakapan mereka sebelumnya masih didepan api unggun yang sudah mulai sepi.

“Kami pengelana dari Azzure” kali ini dijawab oleh Lumier.

“Pengelana dari Tanah Bebas Azzure? Wah sebegitu jauh kalian dari kampung halaman.”

Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 5\Part2

Hampir menjelang sore Hino kembali ketempatnya menginap. Ia merebahkan tubuhnya keatas ranjang. Memejamkan mata seraya berpikir tentang hal tadi. Apa yang belum cukup? Bagaimana cara memangil mereka? Pertanyaan itu terus berulang dalam benak Hino.

“Hino, apa kau tidur? Makan malam sebentar lagi siap” terdengar suara Roland setelah ketukan kecil dipintu.

“Iya aku akan segera kebawah” jawab Hino masih dalam posisi berebah.

 

Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 5\part1

Bagian 5

_Komunikasi

 

 

Sinar mentari terlihat menerobos masuk melewati celah jendela kamar Hino. Menerpa wajah dan menyilaukan matanya, yang kemudian membuat Hino terbangun. Ia berjalan menuju ke jendela dan membukanya. Seketika udara segar menyeruak masuk bersama gambaran langit cerah dan bentangan hutan El’Asa yang menyejukkan. Hino memejamkan matanya dan merasakan sesuatu diudara. Ketentraman yang berbalut dengan suara kicau burung dan riuh orang dibawah. Sudah dua hari semenjak ia siuman dari pingsannya. Kini dia berada didesa Bet-Zur, dikaki bukit Kematian. Hino diselamatkan oleh Roland dari peristiwa di WindGhoul tiga hari yang lalu. Mereka tinggal dirumah salah satu kenalan Roland di desa ini. Mereka aman disana karena tampaknya Nutor tidak mengerahkan pencariannya kearah selatan. Dan juga karena setelah kudeta itu, pasukan kerajaan pusat mulai dikerahkan untuk menjaga agar tak satupun pasukan Nustor melewati gerbang dalam.

Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 6\part2

Candramā jala” ucap Kein pelan namun bertekanan. Dan dari pusat pedang Kein menancap ke tanah muncul api yang membakar segala hal yang ada di atas tanah dengan cepat, membentuk area seperti lingkaran dan terus membesar dalam hitungan detik dalam sepi.

Bhaṛkanā bhakṣaka!” Teriak Nico seraya mencabut tongkat sihirnya dari tanah, sebelum api yang menyebar kesegala arah itu mengenai dirinya. Dan terciptalah lingkaran berwarna kuning cerah di area sekitar Nico.

Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 6\part1

Bagian 6

_Lochus

 

 

“Kau bertemu dengan Noa, dan-dan” ucapan Alice terdengar gagap.

Kein hanya mengangguk “kau putri mahkota WindGhoul kan?” Ujarnya kemudian dengan pertanyaan.

“Syukurlah ayah berhasil lolos dan selamat” tak dapat ditahan lagi air mata Alice mengalir yang kemudian langsung dipeluk oleh Winnie.

Semua hanya dapat diam melihat gadis itu menangis dalam pelukan Winnie, terlihat telah lama sekali ia ingin menumpahkan air mata yang sebegitu banyak ia tahan.

 

Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 5\part2

“Aku Kein, dan ini Nico” Kein memperkenalkan diri dan memperkenalkan Nico pada tiga gadis itu seraya mengambil bungkusan perbekalan mereka yang tersisa “dan kalian?” Tanyanya kemudian setelah menawarkan bungkusan perbekalan itu pada gadis yang tadi dalam sergapannya. Gadis Getzja itu masih juga terlihat bingung menerima sepotong roti dari temannya, tak ubahnya gadis yang menerima bungkusan perbekalan dari Kein.

“Apa yang terjadi kalian seperti habis kerampokan?” Tanya Kein lagi yang kini sudah duduk bersila didepan api unggun.

“I-Iya, benar. Kami telah dirampok kemarin dan kami kelaparan karena tidak memiliki sepeser uang pun” jawab gadis Morra yang tersergap Kein tadi seraya mengikuti duduk didepan api unggun “kami dari selatan hendak ke utara. Saya Winnie” tambahnya mengenalkan diri.

Continue reading