\\Perkenalan_

Si peracau yang skeptis tapi juga penikmat hidup yang pantang menyerah. Hallo, namaku Jauh. Lets Write! Write! Write! 

Advertisements

\\Akhir\Volume 1\Chapter 1\part3

Loka

“Jan, ada telephone buatmu” teriak ibu Janus dari ruang tengah, saat Janus sedang mengerjakan tugas Matematika nya beberapa hari setelah pertemuannya dengan Jessica yang membawanya ke kejadian aneh yang serupa dengan saat dia menjabat tangan Tiara untuk pertama kalinya. Dan ujung dari pertemuan kemarin adalah pengembalian topi Janus dan permintaan tolong Jessica untuk membantu nya melarikan diri dari pihak management dan fans nya di kemudian hari kelak.

Dan entah kenapa sejak saat itu Janus selalu merasa ada keterkaitan Jessica dan Tiara.

“Iya, aku datang. Dari siapa bu?” saut Janus seraya keluar kamar.

“Ah, ibu lupa nanya. Suaranya sih cewek”jawab ibu Janus yang kini sudah berada didapur.

“Halo?”

“Halo, Janus?”

“Benar, ini siapa?”

“Tiara”

Janus terkejut setengah mati mendapati Tiara menelephonnya. “Bagaimana kau bisa tahu nomer telephone rumahku?”

“Erin yang kasih tahu”

“Ouw, terus ada apa ya?”

“Cuma mau tanya, apakah kamu diundang untuk hadir di acara Kiran?”

“Iya” jawab singkat Janus.

“Kalau bisa apakah kau mau mengantarkan aku membeli hadiah untuk Kiran?” tanya Tiara yang disambut kesunyian oleh Janus. Janus masih tak percaya dan tak habis pikir. Tiara menelephone nya dan memintanya mengantarkan membeli hadiah untuk Kiran. Pasti ada yang tidak beres dengan semua ini. Firasat yang tiba-tiba terlintas begitu saja di pikiran Janus.

“Janus?” panggil Tiara yang mengejutkan Janus.

“Oh, iya. Maaf. Tapi a-aku tidak bisa. Aku harus, aku harus belajar untuk test percobaan masuk perguruan tinggi negeri. Dan lagi aku, aku berencana untuk tidak hadir” jawab Janus tergagap dengan kebohongan.

Dan sekarang balik kesunyian terjadi di ujung Tiara berada. “Oh, baiklah bila begitu. Maaf telah mengganggu mu. Te-terima kasih ya” suaranya tiba-tiba terdengar dan menjawab dengan terbata. Kemudian menutup telephone nya setelah berpamitan.

Janus masih saja terdiam di depan meja telephone dengan masih mencoba memahami kenapa dia menolak ajakan Tiara. Selalu ada perasaan takut bila terlalu dekat dengan gadis itu. Tapi sebagian lain perasaannya terasa sebalik nya. Seolah sudah sekian lama Janus mendamba untuk bersama Tiara.

Malamnya Janus kembali bermimpi setelah sekian hari Janus tidak terbangun tiba-tiba dengan basah kuyup oleh keringat dan nafas yang memburu. Mimpi Janus berhenti setelah pertemuan kedua nya dengan Jessica. Namun malam ini ia mulai kembali mendapat mimpi-mimpi anehnya itu. Janus kembali terbangun sebelum subuh dengan nafas terengah. Dia nyaris lupa apa yang dia impikan. Kecuali kali ini dia yakin tengah melihat sosok Kiran dalam mimpinya. Apa yang sebenarnya terjadi Janus benar-benar tidak mengerti. Namun ini hal baru bagi nya. Kali ini ada hal yang dia ketahui dari rentetan gambar dalam mimpi aneh nya itu.

ø

“Apa kau bilang?!” Reaksi berlebih dari Kenny yang membuat anak-anak yang ada dilorong itu berhent dan berpaling menatapnya. Saat Janus menceritakan Tiara menelphone nya kemarin.

“Stt.. kamu apaan sih?”

“Ada perlu apa dia menelphone mu? Dapat dari mana dia nomor telephone rumah mu? Kemudian apa yang kalian bicarakan?”

“Kau ini apaan sih Ken?” Jawab Janus dengan buru-buru meninggalkan lorong sekolah untuk masuk ke kelas.

“Lalu?” Lanjut Kenny menagih jawaban atas pertanyaannya saat mereka sudah duduk di meja mereka masing-masing. Limabelas menit sebelum jam istirahat usai.

“Dia mendapat nomer telephone rumah ku dari Erin. Dan dia menelephone untuk memintaku mengantar cari hadiah buat Kiran” jawab Janus kemudian seraya mulai mempersiapkan buku untuk pelajaran selanjutnya.

What the… Terus kapan kamu akan mengantarnya?” Kenny terlihat tak percaya, “wow, ini sesuatu yang sangat langka Jan. Kau tau itu?” tampak Kenny sangat bersemangat mendapati semua hal yang terjadi pada temannya itu.

“Aku menolak permintaannya”

“Apa?”

“Aku menolak permintaan untuk mengantarnya mencari hadiah” jawab Janus kemudian. Dia sudah menyiapkan diri terhadap reaksi yang akan datang dari temannya ini.

“Aku tidak butuh kau menjelaskan apa yang kau tolak. Tapi apa kau sudah kehilangan akal? Kau ini Jan, benar-benar membuatku geregetan” seperti prediksi Janus, Kenny mulai menaikan nada suaranya.

“Karena aku merasa aneh. Kenapa dia mau susah-susah meminta nomor telephone ku ke Erin hanya untuk meminta tolong ku mengantarnya mencari hadiah? Yang mana jauh lebih mudah bila dia langsung meminta tolong ke Erin saja untuk mengantarnya mencari hadiah. Toh, itu hadiah untuk seorang gadis dan pendapat Erin adalah yang paling relevan, ya kan? Bukan kah itu mencurigakan?”

“Oh, teman. Kau benar-benar satu didunia ini”

“Apa kau tau sebab yang lain selain hal mencurigakan yang kusebutkan tadi?”

“Sudahlah aku lagi tidak ingin berdebat dengan mu tentang masalah begini di jam Matematika” Kenny terlihat menggeleng pelan merelakan bahwa seperti itulah adanya Janus. “By the way, sebagai ganti semua kebodohanmu itu, tidak ada alasan kau ga dateng ke acara Kiran besok malam. Titik.”

Janus kembali teringat tentang Kiran dalam mimpinya semalam. Kemudian entah kenapa ia merasa seharusnya ia datang ke acara ulang tahun Kiran itu. Tapi apa yang akan di pikir Tiara tentang ucapannya yang tidak akan hadir ke acara tersebut? Janus mulai resah.

ø

Janus sangat tak nyaman saat tiba ditujuannya. Ia tak biasa berada ditengah banyak orang seperti ini. Dan setelah menyerahkan hadiah dan memberi selamat pada Kiran, Janus segera mencari tempat yang tepat untuknya bersembunyi. Meninggalkan Kenny yang mulai sibuk dengan teman-temannya yang lain, Janus duduk disudut area kolam renang yang menjadi tempat pesta ulang tahun itu diselenggarakan. Di halaman belakang rumah Kiran yang besar itu.

Janus berangkat bersama Kenny setelah sahabatnya itu berehasil di herankan oleh keputusan Janus yang ingin menghadiri acara ini saat pulang sekolah tadi siang. Janus sudah memikirkannya semalaman untuk akhirnya memilih hadir di acara ini. Firasat nya yang kuat mengatakan ia harus hadir, dan mengalahkan ketakutannya tentang apa yang akan dipikirkan oleh Tiara tentang nya nanti.

Terlihat sosok Tiara dengan baju pestanya yang begitu menawan diujung ruangan. Sebenarnya ada hasrat dalam diri Janus untuk menghampiri Tiara dan memujinya. Namun ia urungkan. Apa yang akan dipikir oleh Tiara kalau aku tiba-tiba mengajaknya berbincang setelah kejadian di telephone kemarin, batin Janus. Memang setelah kejadian itu Janus tak pernah berbincang dengan Tiara di sekolah. Bahkan menurut Janus, Tiara selalu menghindari tatapan muka dengannya.

Namun tiba-tiba Janus merasakan perasaan yang tak karuan. Saat tampak seorang pria muda dengan rambut sepanjang bahu, dan berpakaian seperti waiter berdiri dihadapannya. Saat Janus hendak bertanya, ada perlu apa orang itu dengan nya, serta merta pria itu mengarahkan tangan kanannya kewajah Janus.

Mendadak perasaan yang dikenal sekaligus dibenci Janus itu hadir dengan serentak, seolah pria tadi mendorong tubuhnya kebelakang. Tersungkur Janus karena tak siap dengan hal itu. Ia terduduk diatas tanah basah. Segera ia mengamati sekelilingnya. Ia berada dipekarangan luas, dibawah langit malam tanpa bintang. Ia melihat seseorang sedang mengubur sesusatu.

Seorang anak laki-laki lima belas tahun sibuk melemparkan tanah kedalam lubang dihadapannya dengan sekop. Janus mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya sedang bocah itu kubur. Dan terkejutlah Janus saat mendapati apa yang ada didalam lubang itu. Seorang anak laki-laki yang tampak lebih muda dari bocah tadi, tergeletak tak bernyawa dibalik gundukan tanah yang masih setengah terbuka. Bocah itu sedang mengubur seseorang.

Janus bahkan tidak sanggup berkata-kata sangking kagetnya. Ia hanya dapat diam melihat bocah itu menyelesaikan pekerjaannya, hingga kemudian bocah itu mengambil sebuah linggis dan menancapkannya di tanah diatas kuburan yang telah ia buat. Kemudian duduk membelakangi linggis itu. Beberapa kali menatap kebelakang, menatap kearah batangan besi tersebut, kemudian membenahi posisi duduknya. Janus yang sedari tadi diam memperhatikannya tiba-tiba menjadi ketakutan melihat tingkah bocah itu. Bocah itu sedang mengukur. Menempatkan posisi duduknya dengan benar. Dan begitu bocah itu merasa ia sudah mendapat posisi yang tepat, dengan segera Janus berlari ke arah bocah itu, “tidak. Hentikan!” teriaknya saat tampak bocah itu menjatuhkan tubuhnya kebelakang.

Sempat terlihat oleh Janus bocah itu tersenyum sebelum tiba-tiba tanah yang Janus pijak seolah menghilang, dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh kebelakang dengan cepat. Pandangannya berubah menjadi langit hitam yang bergerak cepat, seolah kini dia berada diposisi bocah itu, dan sedang terjatuh kebelakang. Kemudian terasa tengkuknya menyentuh besi dingin. Janus kembali berdiri didepan pria waiter tadi dengan menarik nafas dalam dan panjang. Jantungnya seolah baru saja berdetak setelah sedari tadi berhenti. Dengan spontan Janus menyentuh leher dan tengkuknya, menelan ludahnya, kemudian berusaha memahami apa yang baru saja ia lihat. Keringat dingin mengucur dengan cepat pada seluruh tubuhnya. Kemudian baru Janus sadar bahwa tangan pria tadi masih berada di pipinya. Dan segera ia menepisnya. Rasa lemas dengan segera menyusupi seluruh tubuhnya. Seolah menghilangkan semua tulang-tulangnya, Janus menjatuhkan tubuhnya keatas kursi di dekatnya.

“Apa yang kau lihat?” tanya pria itu dengan senyum aneh yang hampir menyerupai seringai, “kenapa dengan tenggorokanmu?” senyum pria itu tak asing bagi Janus.

“Si-siapa kau?” tanya Janus membalas pertanyaan pria tadi.

“Loka” suara bergaung dalam kepala Janus.

“Loka?” tanya Janus memastikan.

Pria itu tampak terkejut menatap Janus menyebut kata ‘Loka’, “wow, tak kusangka kau benar-benar sudah tiba” ucap pria itu kemudian.

“Siapa sebenarnya kau? Apa maksudmu dengan semua tadi?” tanya Janus begitu panik karena ketakutan dan kebingungannya.

“Sang Natta sudah datang” ucap pria tadi, “dunia yang ini akan segera selesai” tambahnya kemudian dengan setengah berteriak penuh suka cita.

Masih belum juga Janus selesai dengan kebingungannya, pria tadi meletakan tangannya di bahu Janus dan tiba-tiba sesuatu terjadi. Udara disekitar Janus terasa berubah dan menekan. Pandangan Janus akan sekelilingnya pun jadi memudar secara cepat. Bersamaan seperti sebuah pukulan yang mendarat tepat pada perut Janus, kini ia sudah berada di pekarangan depan rumah Kiran denga tiba-tiba. Tak mampu menahan rasa sakitnya Janus pun jatuh berlutut.

“Penyihir satu itu, ck!” tampak pria itu terlihat tidak senang.

Kepala Janus makin pusing. Pandangannya terlihat berputar dan mulai membayang. Ia masih tidak mengerti kenapa kini ia berada di pekarangan depan, saat setengah tidak percaya ia melihat Tiara berlari keluar dari dalam.

“Tiara?” ucap Janus lirih. Suaranya sudah tak mampu keluar lebih kencang lagi. Janus nyaris tak percaya saat menatap ekspresi Tiara sekarang. Janus sama sekali belum pernah melihat sorot mata seperti itu ada pada wajah manis Tiara.

Pria tadi mengangkat tangan kirinya keudara dan layaknya sebuah kanvas lukisan yang di tarik dari belakang, udara disekitar pria itu tiba-tiba mencekung seolah tersedot masuk oleh sebuah lubang kasat mata. Dan sesaat kemudian keadaan kembali seperti semula, pria itu kini bersama dengan seorang wanita lain yang seolah muncul begitu saja di hadapannya. Seperti dimuntahkan dari ketiadaan.

“Bara” terdengar dengungan suara di telinga Janus bersamaan dengan munculnya wanita itu. Suara itu mulai meresahkan Janus.

“Kau selalu merepotkan saja, Chaos” ucap wanita yang baru saja muncul itu. Perawakannya sedikit berumur, mungkin sedikit lebih muda dari guru Janus. Dilihat dari pakaiannya, tampak seperti wanita kantoran pada umumnya.

“Hahaha… tidak adil kalau aku melawan perempuan, kan?!”

“Sudah, ga usah banyak alasan. Bawa pergi bocah itu”

Pria yang dipanggil Chaos itu tertawa sebelum kemudian berjalan menuju kearah Janus.

“Tidak secepat itu” teriak Tiara kemudian. Janus masih tidak yakin bahwa Tiara yang berteriak seperti itu. Selama yang ia tahu Tiara selalu lembut dan sopan.

Tiara terlihat seperti sedang melakukan sesuatu dengan tangan kanannya saat tiba-tiba tanah terasa seolah bergetar pelan. Dan yang membuat Janus tak percaya dengan apa yang dilihatnya, tiba-tiba saja dari tanah keluar rembesan air yang kemudian bergerak naik dengan cepat melingkupi tubuhnya yang terduduk menjadi seperti pelindung kaca bening. Menghalangi pria bernama Chaos itu yang hendak kembali menyentuhnya.

Tampang sebal Chaos semakin menjadi. Kemudian tampak kejadian yang lebih membuat Janus tak habis pikir. Wanita kantoran tadi mengarahkan tangan kanannya kearah Tiara dan bola api muncul tiba-tiba dari tangannya menghujam Tiara. Dengan gesit Tiara menghindar dengan berguling kesamping, dan pelindung kaca yang mengelilingi Janus tiba-tiba saja lenyap mencair.

Seringaian senang tampak kembali terlihat di wajah Chaos. Dan seperti cahaya blitz dan suara ‘zap’ mendadak, dengan tiba-tiba yang tidak diketahui Janus dari mana asalnya, muncul seorang gadis lain dihadapan Chaos dengan posisi kuda-kuda siap menangkis gerakan tangan Chaos yang hendak menyentuh tubuh Janus.

“Braja” terdengar gaung suara mengikuti munculnya gadis itu. Dengung-dengung yang muncul bersamaan dengan suara-suara itu membuat kepala Janus semakin tidak karuhan.

“Ck, akhirnya kau muncul juga” ucap Chaos seraya melangkah mundur. Wajahnya kembali dongkol.

Lo mau ngapain ma dia?” tanya gadis yang baru saja muncul dihadapan Chaos tadi. Perawakan gadis ini terlihat seumuran dengan Janus. Rambutnya dipotong pendek seperti seorang laki-laki. Baju dan aksesorisnya mengingatkan Janus akan gaya berpakaian Emo. Memakai jaket kulit hitam diluar kaos abu. Memakai celanaketat berwarna hitam dengan sepatu bersol tebal dengan aksen hitam putih. Juga sebuah rantai kecil menggantung di pinggangnya.

“Kau sendiri mau apa dengannya?” Chaos bertanya balik.

“Nyelamatin dia dari lo” Jawab enteng si gadis Emo itu.

“Hahaha, jangan buat aku tertawa. Kau menyelamatkannya? Yang ada malah kau yang akan mati-matian menyelamatkan diri darinya kelak” balas Chaos dengan seringai lebarnya.

“Ga beda sama lo sekarang kan? Lo coba menyelamatin diri lo sendiri dengan nyingkirin dia sekarang kan?”

“Hahaha, aku bukan orang yang tidak tahu diri. Aku tak mungkin menyingkirkannya. Aku hanya ingin menjauhkannya dari si penyihir wanita itu. Aku hanya melakukan tugas ku. Tugas kita yang seharusnya” ucap Chaos seraya berjalan mengelilingi gadis itu dan Janus.

“Kita? Lo aja kali” celetuk gadis Emo itu meremehkan, namun masih dengan tatapan siaga mengikuti Chaos.

“Kalian sudah diperdaya oleh penyihir wanita itu. Tidak ada cara lain untuk menyangkali takdir kita”

“Hey, ga ada yang namanya takdir. Itu cuma istilah bagi mereka yang terlalu pengecut untuk menentukan jalan hidupnya sendiri”

“Ck, sangat disayangkan. Tapi aku tidak menyerang perempuan” ucap Chaos dengan senyuman anehnya seraya lenyap begitu saja bersama dengan cekungan udara di tempatnya bediri.

Gadis Emo tadi segera memasang kuda-kuda waspada, seraya menatap berkeliling.

Sedang Tiara dan wanita api tadi masih dengan gesit saling menghindar dan menyerang. Api miliki sang wanita mulai membakar beberapa area di pekarangan rumah Kiran. Sedang Tiara tampak mencoba untuk sebisa mungkin memadamkannya dengan air yang dilemparkan disela-sela ia menyerang si wanita api itu.

Dan saat Tiara melakukan serangan dengan air yang ia bentuk seperti tombak-tombak kearah wanita api tadi, tiba-tiba muncul sosok Chaos menghadang dan saat tombak-tombak itu menyentuh tangannya, tombak-tombak itu lenyap seperti tertelan ruang hampa. Dan kemudian dengan tiba-tiba juga muncul nyaris bersamaan dari berbagai arah menyerang gadis Emo yang sedari tadi mencoba melindungi Janus.

Dengan sigap gadis berambut pendek itu menghindar, namun Chaos muncul dan menghadang tombak-tombak yang meleset tadi menghilangkan dan munculkan nya kembali dari arah lain yang masih menyerang kearah gadis berambut pendek tadi. Karena tak mungkin lagi menghindar dari serangan yang bertubi-tubi itu, tiba-tiba saja­-yang makin tak bisa dipercayai oleh mata Janus-tubuh gadis itu bersinar terang dan ‘zap’ ia berpindah tempat dengan jarak yang jauh dalam sekejap. Masih sedikit tertangkap oleh mata Janus, seolah gadis itu berubah menjadi seperti aliran listrik dan melesat dengan cepat sebelum menjelma kembali ke sosoknya di ujung pekarangan.

Janus mulai meyakinkan dirinya, bahwa kini ia sedang bermimpi. Berhalusinasi. Bahwa yang ia lihat sekarang hanya ilusi belaka. Mungkin efek dari makanan atau obat yang tidak sengaja ia konsumsi.

Melihat sang gadis listrik itu jauh dari Janus, memberi kesempatan Chaos mendekati Janus. Menyentuhkan tangannya ke pundak Janus, dan sensasi yang pernah dirasakan Janus sebelumnya terulang. Sedetik kemudian bersamaan dengan pukulan yang sama kerasnya seperti sebelumnya, yang mendarat tepat di perut Janus, kini ia dan Chaos sudah berada didekat pagar diujung pintu pekarangan. Tampak pula gadis tadi berlutut disebelah Janus dengan tangan mencengkeram lengannya.

“Ck!” terdengar Chaos tidak senang melihat gadis itu berhasil menghalanginya melarikan diri.

Dengan senyum simpul yang terkesan meremehkan gadis itu melancarkan tendangan kearah Chaos sebelum kemudian pria itu menghilang.

Janus terjatuh tak kuat lagi menahan tubuhnya. Sedang gadis itu kembali memasang kuda-kuda siaga mengantisipasi serangan Chaos.

Walau dengan posisi tertelungkup lemas, namun pandangan Janus masih bebas dan jelas melihat orang-orang asing itu juga Tiara masih saling bertarung.

Api sudah begitu besar disekelilingnya membakar segala benda. Asab tebal membumbung tinggi. Terdengar walau sayup, teriakan panik teman-temanya dibalik bangunan. Dan kemudian entah karena apa akhirnya Chaos dan wanita api itu pun pergi. Janus tak yakin apakah benar, namun Janus melihat wanita api itu segera mengajak Chaos pergi setelah melihat layar handphone nya yang berdering.

Tak lama kemudian gadis listrik itu pun menyusul lenyap. Masih dengan kepala yang berdengung, Janus mencoba memandang berputar dan mencoba mencari alasan rasional tentang segala hal yang baru saja ia lihat. Dan semakin ia berpikir, semakin kepalanya terasa sakit. Akhirnya Janus mencoba untuk tak berpikir. Ia menarik nafas dalam dan dibuangnya secara teratur. Mencoba untuk mengendalikan degup jantung nya yang tak karuan. Badannya muali terasa melemah. Pandangannya berbayang.

Janus sudah mulai percaya bahwa kini ia sedang bermimpi, saat kemudian sentuhan tangan lembut Tiara membuatnya sadar bahwa ini semua nyata. Terlihat sekilas sebelum Janus akhirnya tak sadarkan diri, Tiara mengangkat tubuh Janus keatas pangkuannya sembari berteriak-teriak memanggil bantuan, meski Janus tak dapat mendengar apapun kecuali dengungan yang menggangu di telingannya.

Tanpa disadari oleh semua orang yang sedang sibuk menyelamatkan diri atau menyelamatkan orang lain, tampak seorang pemuda dengan hoodie berdiri diatas tiang listrik tak jauh dari rumah Kiran. Sedang mengamati kejadian itu, sebelum kemudian melesat ke angkasa seperti seekor burung yang sedang terbang, sebelum keberadaannya disadari oleh seseorang.

ø

\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 8\part2

Tak terlalu pagi juga tak terlalu siang, setelah berbelanja segala kebutuhan, rombongan Kein berangkat meninggalkan Vion menuju utara. Diperjalanan mereka tak terlalu sering berpapasan dengan orang. Karena memang jarang orang atau para pedagang yang menuju ke utara. Di utara hanya ada kota industri seperti Sores, kota para penyihir Aksa, daerah pertambangan Terafa, dan Seinaru yang hanya para peziarah yang datang kesana.

Kota Sores dari Vion memakan waktu seharian dengan berjalan kaki. Tepat saat matahari terbenam diujung barat, gerbang Sores terlihat diujung jalan. Kota ini hanya sebuah kota industri yang tak terlalu besar. Namun cukup ramai oleh para pekerja pabrik dan tambang. Sekilas kota ini tampak lusuh, berdebu, dan tak nyaman dalam pandangan mata. Mungkin karena banyaknya kereta barang yang besar yang beratnya melebihi kapasitas yang seharusnya, bejalan setiap detiknya hingga menyebabkan jalanan kota ini hancur, dan banyaknya tempat-tempat pengolahan bahan tambang, seperti tempat penempaan besi juga membuat kota terlihat panas, tidak cerah dan makin tak nyaman. Mungkin julukannya selama ini memang tepat. Sores, kota Jelaga.

Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Para Api\Bagian 8\part1

Bagian 8

_Tambahan Teka-teki

 

 

Ternyata dua gadis yang pingsan itu: Alice dan Winnie, hanya mengalami luka memar saja. Dan begitu siuman Winnie yang seorang penyembuh dengan mudah menyembuhkan luka-luka luar yang diderita Nico, Kein, maupun Sophie. Dan pagi harinya saat mereka handak berpamitan sekaligus memberi penjelasan atas kerusakan pada kandang milik kepala desa itu, mereka dibuat heran. Kepala desa itu atau bahkan seluruh penduduk desa tak mendengar suara apapun semalam, meskipun diyakini oleh Kein dan Sophie bahwa mereka telah menimbulkan keributan yang akan terdengar keras oleh para penduduk yang memiliki rumah dipinggiran terluar desa yang dekat dengan hutan. Tapi tak seorangpun mendengar apapun saat Kein bertanya pada mereka.

Kemudian rombongan Kein pun berpamitan untuk meneruskan perjalanan mereka meskipun masih ada tanda tanya besar mengenai hal ini. Namun Kein dan Nico bersepakat semua ini pasti ada hubungannya dengan kaum Yllgarian semalam. Sementara para gadis beranggapan Nico lah yang telah menyelamatkan nyawa mereka. Alice dan Winnie tak henti-hentinya berterima kasih disaat mereka ada kesempatan. Hal yang lama kelamaan membuat Nico jengkel, karena sebenarnya ucapan terima kasih itu bukan seharusnya untuk dirinya. Namun memang ia berencana tak akan mengatakan hal yang sebenarnya pada para gadis itu.

Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 8\part2

Akhirnya mereka berhenti juga saat rembulan sudah kembali muncul diatas langit. Mereka bermalam di sebuah daerah lapang yang tak terlalu banyak ditumbuhi pepohonan. Para Aeron itu mulai memasang seperti tali dari sulur-sulur diatas pepohonan disekitar daerah itu. Seperti sedang memasang pagar. Sementara beberapa Aeron perempuan yang tadinya terlihat, kini mulai menghilang dibalik pepohonan disekitar. Rombongan Hino sibuk memasang tenda ditengah daerah lapang itu. Dan juga menyiapkan api unggun. Sementara Sabrina dan Brian tampak sedang berbincang dengan pemimpin Aeron jauh dari rombongan Hino.

“Apa yang sedang mereka lakukan?” Tanya Hubert melihat para Aeron itu sibuk dengan sulur diatas pohon.

“Mereka sedang memasang alas tidur mereka” jawab Deuter seraya mengeyakan tubuh pada sebatang akar yang menjuat keluar di depan api ungun yang sudah mulai menyala.

“Menurut yang kudengar memang para Aeron itu tinggal dipepohonan, tapi tak kusangka mereka benar-benar tidur menggantung diatas pohon seperti itu” ucap Hino yang juga sudah nyaman duduk didepan api ungun itu.

“Bukan. Aeron memang membuat bangunan mereka di atas sebuah pohon jenis Akarsia yang memiliki besar lingkar batang puluhan kali lebih besar dari pohon pada umumnya untuk tempat mereka tinggal. Bangunan itu seperti rumah pada umumnya Morra. Hanya menempel berjajar diatas pepohona itu” jelas Deuter kemudian.

“Benar. Yang kudengar juga seperti itu. Namun aneh nya sangat sulit menemukan pohon raksasa itu ditengah pepohonan hutan yang padahal rata-rata hanya sebesar ini” saut Roland menunjuk kearah pohon tempatnya bersandar.

“Kurasa para Aeron itu sengaja menyembunyikannya” sahut Hino.

“Sedang yang mereka lakukan sekarang seperti saat kita sedang berkemah seperti ini” jelas Deuter lagi, yang kali ini di jawab anggukan mengerti oleh Hino.

Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 8\part1

Bagian 8

_Pusaka Aeron

 

 

Hal yang ditakutkan mereka muncul juga akhirnya. Mereka mengusik para Aeron yang tinggal didalam hutan El’Asa. Dan tak berapa lama muncul hampir dari setiap pohon yang bisa Hino lihat disekelilingnya, para Aeron dengan busur yang telah direntangkan siap untuk melepaskan anak panah yang ada diantaranya, kearah rombongan Hino.

“Kami tidak bermaksud buruk” ucap Hino kemudian.

“Benar kami tidak bermaksud mengusik kediaman kalian. Jadi biarkan kami pergi” ujar Roland kali ini.

Tampak sosok Aeron yang pertama kali muncul tadi, yang dikenali Hino sebagai Sirsa Aeron itu mengangkat pisau lengkunya keatas dan kemudian berucap nyaring, “Hatya!”

Stainda” tiba-tiba muncul dari belakang, gadis yang sedang mereka kejar menghentikan Sirsa Aeron itu.

Hino terkejut sekaligus lega melihat Sabrina itu muncul dari belakang sang Sirsa yang berteriak tadi. Tampak pula sang Sverdinal berdiri dibelakang mereka. Pikiran Hino bergerak cepat berusaha menganalisa kejadian yang berlangsung disekelilingnya ini. Apa memang tujuan gadis ini adalah ketempat para Aeron? Tanya Hino dalam hati.

“Apa yang kalian lakukan ditempat ini?” kali ini Sabrina bertanya pada rombongan Hino.

“Aku ingin bertemu dengan mu” jawab Hino tanpa basa-basi. Tampak Sabrina terdiam menunggu Hino melanjutkan ucapannya.

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Tentang bagaimana kau bisa ada didalam Rat ku?” tambah Hino kemudian.

Gadis itu masih terdiam menatap Hino lalu menatap orang-orang dibelakang Hino, kemudian menatap Sverdinal dibelakangnya, dan lalu ke arah Sirsa Aeron, “kurasa kau memilih waktu yang tepat untuk bertanya Summoner” sautnya kemudian.

Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 7\part2

Mereka melewati hari dengan terus berjalan memasuki hutan El’Asa. Hingga malam yang semakin melarut. Hino, Roland, dan ketiga pengawalnya mulai bersiap untuk bermalam. Suasana malam di dalam hutan cukup membuat orang bergidik. Juga mengingat rumor hutan El’Asa memiliki banyak sekali misteri didalamnya. Mulai dari hewan-hewan buas yang tak pernah keluar dari dalam hutan, atau tentang banyaknya roh-roh yang tak membiarkan orang untuk keluar dari dalam hutan setelah mereka memasukinya, dan juga yang paling terkenal, tentang para Aeron yang menghuni dalam El’Asa ini. Bulan pucat sempurna membuat penerangan alami disekitar mereka sebelum akhirnya digantikan oleh cahaya jingga api unggun.
“Kau belum tidur?” tanya Roland yang terlihat keluar dari tenda, kepada Hino. Tampak Hino duduk sendiri didepan api unggun.
“Aku belum bisa tidur” jawab Hino.
“Apa yang membuatmu tidak bisa tidur?” Continue reading

\\Buku 1 : Kisah Musim Dingin\Bagian 7\part1

Bagian 7

_Pengejaran

 

 

Hino tersadar dalam sebuah tenda. Diatas alas kulit hewan yang berbulu lembut. Berselimut dan nyaman. Ia mencoba untuk bangun. Kepalanya masih pening. Rusuk kirinya masih terasa nyeri. Ia menatap berkeliling.

“Pasti aku berada dalam tenda orang-orang Azzure” pikirnya. Tampak pula cahaya terlihat menerobos dari sela-sela kain tenda. “Apa kemarin aku pingsan lagi?” tapi yang jelas Hino sadar bahwa kemarin dia mengalami Nirjiwa. Terdengar mustahil, melihat sudah berapa lama ia menlakukan sihir pengikat dan sudah seberapa banyak Anima yang telah diikatnya. Karena Nirjiwa biasa dialami oleh para Summoner pemula yang masih belum mampu benar menaklukan Animanya. Tak bisa dipercaya ia mengalaminya kini, padahal ia tak pernah mengalaminya saat ia masih seorang pemula. Ia dengan segera memeriksa pundak kirinya. Terlihat sebuah tato baru disana. Seperti sulur berduri yang tergambar rumit. Ikatannya dengan Bewulf sang srigala kelabu itu telah kembali. Kemudian Hino kembali teringat gadis yang ada dalam alam Animanya kemarin. Segera ia berdiri dan berlari keluar untuk meminta penjelasan. Hino yakin gadis ini dapat menjawab semua pertanyaannya tentang sihir pemanggil dan mungkin lebih baik dari pada ia arus mencari tahu dari Logos atau Picsi. Tampak Roland dan para pengawalnya sedang berbincang dengan Lumier disebuah tanah lapang. Tampak cahaya siang menerangi kerusakan hutan tempat para Lycan kemarin datang. Terlihat juga beberapa pemuda sedang membetulkan caravan yang mungkin rusak dikarenakan olehnya kemarin. Genangan air di sana-sini, sisa dari es yang telah mencair. Hino sadar dialah penyebab nya. Continue reading